
Memeluk Rindu
Bab. 6
“Sara?” gumamnya menatap nanar bayangan seorang wanita yang berdiri di hadapannya.
“Sara, kamu di sini?” ujarnya lantas bangun dari pembaringan. Pandangannya yang semula sedikit kabur, kini jelas terlihat siapa gerangan wanita yang tengah berdiri di sisi tempat tidurnya dengan wajah kecewa.
“Aku Tania, Danny. Bukan Sara!” Tania berkata menegaskan. Kecewa lantaran Danny kerap memanggil nama itu pasca dirinya terbangun dari koma.
“Tania? Kamu? Sedang apa kamu di sini?” Sedikit kecewa karena wanita yang berdiri di depannya saat ini bukan wanita yang ia harapkan. Rupanya, yang ia lihat beberapa saat lalu ketika matanya terpejam itu hanyalah sepenggal masa lalu, kenangannya bersama Sara.
“Aku datang untuk melihat keadaanmu.”
“Aku baik-baik saja. Tidak perlu cemas.”
“Oh ya, aku membawakan makanan kesukaan kamu. Sudah aku minta Bi Minah menatanya di meja makan. Ayo, kita makan sama-sama.” Melupakan sejenak kekecewaannya, Tania mengulum senyum. Mencoba bersikap manis demi meraih kembali perhatian Danny. Perubahan sikap mendadak Danny itu membuatnya sedikit kepayahan untuk mendekat. Padahal lama mereka menjalin hubungan, semenjak duduk di bangku kuliah. Terasa aneh saja jika perasaan Danny kepadanya berubah secepat ini.
“Aku masih kenyang.”Menolaknya halus, Danny hanya merasa tak berselera saja. Padahal sejak tadi perutnya belum terisi. Ajakan Tania itu malah membangkitkan kembali sepotong kenangannya bersama Sara.
“Danny, ayo kita makan malam. Tante dan Paman sedang menunggumu di meja makan.” Sara berujar, menyembulkan kepala dari balik pintu yang terbuka.
“Aku malas ke sana.” Padahal ia lapar, namun terlalu malas melangkahkan kaki keluar kamar. Game online salah satu penyebabnya malas, bahkan untuk mengisi perutnya.
Sara tidak menyahuti. Gadis itu memilih pergi. Tetapi beberapa menit kemudian, gadis itu kembali dengan nampan berisi sepiring makanan, nasi serta lauk kesukaan Danny. Juga segelas air minum dan segelas susu hangat.
“Taraaa ... Makan malamnya aku bawa ke sini. Ini kan yang kamu mau?” Dengan nampan di tangan, Sara mengambil duduk di tepian tempat tidur. Berhadapan dengan Danny yang duduk selonjoran di atas tempat tidur sambil asik bermain game online di ponselnya.
Danny tak menoleh sekali pun. Pandangannya fokus pada layar ponsel, karena game sedang seru-serunya. Tak perlu mengutarakan kemauannya, toh Sara sudah mengerti. Karena memang seperti itulah ia, yang terlalu bergantung kepada Sara. Apa pun keperluannya, sudah ada Sara yang menyiapkan. Sehingga tanpa Sara ia akan sedikit kesulitan.
__ADS_1
“A...” Sambil tetap fokus, Danny membuka mulutnya, menunggu disuapi.
Sara yang mengerti pun, segera menyuapkan satu sendok makanan itu ke mulut Danny sambil tersenyum.
Sepotong kenangan itu membuat sesak di dada. Danny hanya bisa menghela napasnya panjang. Ia tahu kenangan seperti itu tak kan terulang kembali. Padahal sedikit pun ia tak memiliki perasaan terhadap Sara. Tetapi entah mengapa, tanpa Sara hari-harinya terasa hampa. Seperti ada yang hilang dari hidupnya.
“Kata Tante Mayang kamu belum makan dati tadi. Ayolah, Danny. Aku tidak mau sampai kamu sakit,” ajak Tania, masih berusaha merayu.
“Aku bilang aku tidak lapar, Tania. Kalau kamu ingin makan, makan saja sendiri. Saat ini aku tidak ingin diganggu. Paham kamu?” Tiba-tiba saja Danny menyentak Tania dengan nada meninggi. Membuat Tania terkejut, kecewa, juga sakit hati.
“Danny, kenapa aku merasa, setelah kecelakaan itu kamu berubah.” Tania kecewa, benar-benar tak menyangka akan mendapati perubahan Danny setelah kecelakaan itu. Salah satu diantaranya adalah tentang Sara. Jangankan menyebut namanya, bahkan mendengar helaan napas Sara saja, Danny benci.
Danny membenci Sara sejak almarhum ayahnya malah mewariskan semua saham kepemilikan Venus Hotel atas nama Sara sebelum beliau meninggal dunia. Dan apabila Danny ingin mendapatkan bagiannya, maka Danny harus bersedia menikahi Sara. Untuk itulah mengapa Danny bersedia menikahi Sara walau pun tidak ada cinta di hatinya.
Dan kini, kepemilikan Venus Hotel telah jatuh ke tangan Danny. Lalu mengapa Danny masih saja menyebut nama Sara? Bukankah telah lama ia menanti kepergian Sara dari hidupnya?
Mata Tania mulai berkaca-kaca. Sungguh ia tak mengerti dengan perubahan sikap Danny kepadanya. Biasanya Danny sangat agresif jika bertemu dengannya. Tetapi kini, Danny menjadi dingin dan terkesan tak peduli. Apakah perasaan Danny kepadanya juga berubah?
“Baiklah. Tapi lain kali, aku ingin kamu meluangkan waktumu untuk membahas hubungan kita. Sampai hari ini, aku masih menunggu.” Tania hanya bisa mengalah. Jika ia terus mendesak, bisa-bisa ia kehilangan Danny. Pria yang dicintainya.
“Menunggu?” Danny mengangkat kedua alisnya bingung.
“Menunggu realisasi dari janjimu dulu. Janji kalau kamu akan menikahiku setelah kamu berpisah dari Sara. Sekarang kamu dan Sara sudah resmi berpisah.”
Danny bungkam sejenak. Memaksa ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, ketika ia berjanji akan menikahi Tania begitu ia dan Sara bercerai. Tetapi sayangnya saat itu ia masih belum punya jalan keluar agar bisa menceraikan Sara dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Sebab pengacara keluarga tidak akan membantu mengurus pengalihan nama jika bukan Sara sendiri yang mengambil keputusan. Begitulah pesan yang ditinggalkan almarhum Jayadi kepada pengacara sebelum beliau berpulang.
Dan kini, jalan telah terbuka lebar untuk hubungannya dengan Tania. Namun entah mengapa ia malah telah kehilangan semangatnya yang dahulu.
“Aku harap kamu tidak melupakan janjimu itu.” Tania menyuarakan harapannya sebelum akhirnya beranjak dari hadapan Danny yang masih membungkam menyelami kenangan masa lalunya. Bukan bersama Tania, melainkan bersama Sara.
__ADS_1
Ia masih ingat ketika itu, saat hujan deras mengguyur bumi. Di tengah malam buta, ayahnya pulang membawa seorang gadis kecil yang sedang menangis sambil memeluk boneka panda. Gadis kecil itu adalah Sara Abimanyu. Gadis kecil yang baru ditinggalkan orang tuanya sebatang kara karena kecelakaan tragis yang menimpa.
Sara sering menangis. Dan ia akan berkata kepada Sara, jika Sara akan terlihat seperti Panda jika terus menangis. Ajaibnya, tangis Sara langsung berhenti.
“Dasar Panda.” Tanpa sadar sudut bibir Danny terangkat membentuk senyuman kala teringat masa itu.
***
Di lain tempat.
Berbaring sambil menatap langit-langit kamar, Sara kesulitan memejamkan mata. Ada Danny yang masih merajai pikirannya sampai detik ini.
Jika boleh jujur, masih berat rasanya ia berpisah dari Danny. Ia yang telah terbiasa dengan kehadiran Danny dalam hidupnya, merasa amat kehilangan. Dadanya serasa sesak jika teringat Danny. Seperti separuh jiwanya menghilang. Semangat hidupnya pun lenyap.
Andai Jayadi tidak mengalihkan semua saham Venus Hotel atas namanya. Mungkin Danny tidak akan membencinya sampai sedalam ini. Ia yang hanya seorang anak pungut, sadar diri jika ia teramat tak layak berada di sisi Danny. Menjadi bayangan Danny, berada di belakang pria itu adalah tempat yang pantas untuknya.
“Sudah larut malam, kenapa kamu belum tidur?”
Suara Oma Widya mengagetkan Sara, membuyarkan lamunannya seketika.
Oma Widya yang berbaring di sebelah Sara memiringkan tubuhnya, menatap Sara nanar. Rumah yang mereka tempati hanya memiliki satu kamar, sehingga Sara harus berbagi kamar dengan wanita tua yang ditolongnya itu.
“Sedang memikirkan Chef Arga?” goda Oma Widya parau, setengah mengantuk.
Sara meniupkan napasnya panjang. “Tidak, Oma. Aku sedang memikirkan hidupku,” ucapnya resah.
“Jangan risaukan soal hidupmu. Kamu itu anak yang baik. Oma yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan balasan atas semua kebaikanmu. Karena kamu berhak bahagia.”
Sara tersenyum kecut. Ia pun berharap hal itu akan terjadi. Tetapi sayangnya, seseorang yang menjadi kebahagiaannya telah sirna dari hidupnya.
__ADS_1
*