
Memeluk Rindu
Bab. 39
Bel pintu rumah berbunyi berulang-ulang kali. Bi Inah dengan tergesa-gesa berjalan menuju pintu. Hendak membukakan pintu untuk tamu di tengah malam.
“Siapa sih, Bi?” Mayang bertanya dari ruang tengah begitu melihat Bi Inah kembali dari depan. Ia yang sedang menonton televisi dikagetkan oleh suara bel pintu itu.
“A-anu, Nya. Itu, di-di depan ada ...” Bi Inah tergagap sambil bola matanya merotasi resah. Seolah ia tengah mencemaskan sesuatu.
“Ada apa?”
“Itu, Tuan Danny ... Tuan Danny ...”
“Danny mabuk lagi?”
Bi Inah mengangguk resah. Wanita paruh baya itu kembali hendak mengatakan sesuatu saat terdengar suara seorang pria dari balik punggungnya.
“Selamat malam.”
Terkejut, ekspresi itulah yang terlihat di wajah Mayang ketika mendengar sapaan dari tamunya malam ini. Mayang yang tengah duduk selonjoran di sofa pun lekas berdiri panik.
“Hi-Hilman?” gumam Mayang dengan mata melotot.
Hilman, pria paruh baya itu berdiri di seberang dengan senyum tipis terkembang di wajahnya. Sembari membetulkan letak kacamatanya, ia berkata.
“Apa kabar Bu Mayang. Lama tidak bertemu.”
Mayang jelas terlihat panik. “Se-sedang apa kamu di sini?”
“Saya hanya membantu mengantarkan putra Bu Mayang. Dia mabuk berat. Saya hanya khawatir kalau dia pulang dalam keadaan mabuk. Untuk itu saya membantu mengantarkannya pulang.”
Dari arah depan datang satpam sambil memapah Danny yang dalam keadaan mabuk berat. Keadaan Danny terlihat kacau. Danny meracau tak tentu. Diantara racauannya itu ada nama Sara disebut.
Wajah Mayang pun memerah menahan marah. Diantara banyaknya manusia di muka bumi ini, mengapa harus Hilman yang membantunya. Mayang kesal, hanya bisa mengepalkan tinjunya erat dibalik punggungnya.
“Terima kasih sudah mengantar Danny pulang. Sekarang pulanglah. Ini sudah larut malam,” kata Mayang dengan wajah tak suka. Ya, ia benar-benar tak suka bertemu pria yang satu itu.
__ADS_1
“Baik. Maaf kalau kedatangan saya sudah mengganggu kenyamanan Bu Mayang. Kalau begitu saya permisi dulu.” Hilman pun bergegas meninggalkan rumah itu. Meninggalkan Mayang dengan segala ketegangan dan kepanikannya. Hilman hanya bisa tersenyum memandangi rumah besar itu sebelum akhirnya melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah keluarga Dharmendra.
....
Membuka pintu kamar, Mayang mendapati sang putra tengah terlentang di atas tempat tidur. Mayang kemudian mendekat. Ia membantu Danny melepas sepatunya.
“Sara ...” Danny memanggil-manggil nama Sara. Matanya terpejam, keadaannya kacau.
Dengan wajah kesal, Mayang lantas mendudukkan diri di tepian tempat tidur itu. Ia tak suka mendengar Danny masih memanggil-manggil Sara. Perempuan yang jelas-jelas adalah perusak masa depannya. Perempuan yang akan menjadi ancamannya kehidupannya nanti.
Ada satu rahasia yang tidak Danny ketahui. Dan tidak boleh Danny tahu sampai kapan pun.
Namun, kemunculan Hilman menghadirkan keresahan baru bagi Mayang. Hilman adalah ancaman baru baginya. Padahal Mayang sudah melakukan segala upaya untuk membuat Hilman menjauh dari keluarganya. Tapi pria yang satu itu seolah tak mengindahkan ancamannya dahulu kala. Memaksa Mayang harus memutar otak kembali untuk menyingkirkan si mantan pengacara kepercayaan mendiang Jayadi tersebut.
Mungkin nanti, Mayang akan memikirkan hal tersebut. Sebab malam telah larut, Mayang hendak kembali ke kamarnya. Ia baru saja berdiri, baru selangkah kakinya berjalan saat tiba-tiba terdengar suara racauan Danny.
“Siapa sebenarnya Sara, Ma. Apa benar dia adalah adik kandungku?”
Mayang terkejut, menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang. Dilihatnya Danny duduk di tepian tempat tidur. Penampilannya memang terlihat kacau, tetapi mungkin tidak dengan kesadarannya.
Padahal baru beberapa saat lalu Danny terlihat mabuk berat. Bahkan untuk berjalan ke kamarnya saja dia harus dibantu satpam. Lalu mengapa sekarang Danny tak tampak seperti orang yang sedang mabuk?
Menelan ludahnya kelat, Mayang lantas memutar tubuhnya. Pertanyaan yang pernah Danny tanyakan sebelumnya ini sejujurnya Mayang pun merasa ragu dengan jawaban yang ia beri. Ia ragu apakah Danny bisa menerima alasannya begitu saja.
“Mama sudah pernah bilang ke kamu tentang ini sebelumnya. Jawaban Mama akan tetap sama. Papa kamu itu sudah gila. Sudah kelihatan kan siapa yang lebih disayangi papa kamu? Papa kamu merahasiakan hal ini dari pihak pengadilan agama. Andai mereka tahu, sudah pasti pengadilan tidak akan menyetujui pernikahan sedarah. Untuk itu, Mama minta sama kamu, ceraikan Sara sekarang juga.”
“Tapi kenapa aku merasa Mama sedang berbohong.”
“Terserah kamu percaya atau tidak.” Mayang salah tingkah. Ia lekas menghindari tatapan Danny. Ia sudah mengira kalau Danny tidak mudah dibohongi. Apalagi jawaban yang ia berikan sungguh tak logis. Tapi, masa bodo. Yang terpenting ia sudah berhasil memisahkan Danny dari Sara.
Danny sudah berbaring kembali setelah bersendawa beberapa kali. Kesempatan itu digunakan Mayang untuk cepat-cepat meninggalkan kamar Danny.
Sementara Danny, memandangi kepergian mamanya dengan wajah pias. Meski ia dalam keadaan mabuk, tapi ia masih bisa mengingat ucapan Hilman saat orang kepercayaan mendiang ayahnya itu mengantarnya pulang.
“Kamu dan Sara bukan kakak adik. Tuan Jayadi sangat menyayangi kalian berdua. Untuk itulah beliau menjodohkan kalian. Tentang kenapa Tuan Jayadi menjadikan Sara sebagai hak warisnya, itu ada alasan yang kamu tidak tahu.”
Masih terngiang di telinga Danny ucapan Hilman. Ia tak menanggapi saat itu. Ia yang sebetulnya tidak dalam keadaan mabuk berat itu pun hanya mendengarkan saja tanpa memberikan respon apa pun. Ia biarkan Hilman bercerita banyak.
__ADS_1
Danny menghembuskan napasnya berat. Menatap langit-langit kamar, tanpa terasa setitik air mata jatuh dari sudut matanya. Di pelupuk matanya masih bermain-main bayang-bayang Sara. Bayang-bayang saat mereka bercumbu, namun gagal memiliki Sara seutuhnya.
Dan kini, mereka malah dihadapkan pada satu keadaan yang membingungkan, namun menyakitkan. Tega-teganya, ibunya sendiri membohonginya. Dengan kehadiran Hilman, rasa keingintahuannya pun mulai terusik.
....
Sinar mentari pagi terasa hangat menerpa. Sepagi ini Arga terlihat gelisah, mondar-mandir di dapur rumahnya. Bi Darmi yang melihatnya jadi terheran-heran.
“Cucu Oma pagi-pagi begini kenapa mondar-mandir di dapur sih? Kayak setrikaan aja deh kamu,” celetuk Oma Widya sambil tersenyum-senyum, datang dari arah depan.
“Sudah dari tadi, Nya, Den Arga seperti itu. Apa Den Arga sedang mencemaskan sesuatu?” tanya Bi Darmi sembari menaruh mangkuk yang berisi sup panas di meja makan.
“Tau aja deh, Bi.”
“Sedang mencemaskan apa sih? Cerita dong ke Oma,” kata Oma Widya.
“Emm ...” Arga terlihat gugup. Ia mengusap tengkuk berkali-kali.
“Boleh Oma tebak?”
Arga pun terlihat malu-malu. Ia malu mengutarakan secara langsung niatnya. Ia berharap sang Oma memahami tingkahnya. Padahal baru semalam ia mengutarakan keinginannya itu kepada sang Oma via telepon.
“Ini pasti tentang Sara kan?”
Arga mengangguk malu. Hatinya berdebar kencang. Sejujurnya baru kali ini Arga merasakan getaran-getaran aneh seperti ini. Hampir setiap hari ia bertemu banyak wanita-wanita cantik. Tetapi yang membuatnya gugup bahkan sampai berdebar-debar seperti ini hanya Sara seorang. Menatap mata Sara selalu saja membuatnya terhipnotis.
“Aku ... Aku ingin segera menikahi Sara, Oma. Segera. Oma ngerti kan?” Arga berwajah tegang namun juga gugup. Sungguh ia sangat berharap, impiannya ini akan segera terealisasi.
“Oh, tentu saja Oma mengerti, sayang. Oma sangat, sangat mengerti maksud kamu. Jadi, kamu maunya kapan. Sekarang, besok, atau lusa? Oma akan bantu kamu menyiapkan semuanya.” Dengan wajah semringah, Oma Widya menghampiri Arga.
“Tapi, apa bisa kita menyiapkan semuanya dalam waktu yang singkat?”
Membusungkan dadanya, Oma Widya menepuk-nepuk dada itu dengan bangga. “Serahkan sama Oma. Semuanya pasti beres. Oma sudah berpengalaman dalam hal ini.”
“Benarkah? Kalau besok, gimana?”
“Besok? Wah, wah, rupanya cucu Oma ini sudah kebelet nikah ya? Oma bisa saja menyelenggarakan pernikahan kalian hari ini juga. Tapi, apakah kamu sudah membicarakan hal ini dengan Sa_” Panjang umur. Baru saja Oma Widya mau menyebut nama Sara, wanita itu sudah berdiri di seberang dengan raut wajah yang berbanding terbalik dengan Arga. Jika Arga terlihat bahagia, tidak demikian dengan Sara. Wajahnya suram tak bercahaya.
__ADS_1
*