
Memeluk Rindu
Bab. 12
“Ayolah sayang, kita turun yuk,” ajak Tania dengan nada suara mendayu merayu begitu mobil yang dikendarainya berhenti di depan One Taste Food and Resto. Sudah lama setelah Danny sembuh, mereka jarang lagi makan malam romantis di resto-resto berbintang. Ia sangat merindukan saat-saat itu. Untuk itulah ia memaksa, bahkan harus membujuk Danny agar mengikuti keinginannya.
Danny yang duduk di sebelah kursi kemudi itu bergeming. Jangankan merespon ajakan Tania, bahkan menoleh pun seakan enggan.
Namun hal itu tak menyurutkan semangat Tania untuk melancarkan bujuk rayunya. Percuma saja bila ia merajuk, sebab mereka telah tiba di tempat yang dituju.
“Sudah lama loh sayang aku ingin mengajak kamu makan di tempat ini. Kamu tahu tidak, resto ini tuh punya seorang chef yang terkenal itu loh sayang. Chef Arga. Kamu pasti pernah mendengar namanya kan? Katanya makanan di sini tuh enak-enak. Ayo, kita turun yuk.” Sekali lagi Tania membujuk. Ia berusaha menyembunyikan kekecewaan dan sakit hatinya akan sikap dingin Danny terhadapnya. Harus ia akui perubahan Danny sangat signifikan belakangan ini. Danny yang dahulu agresif kini menjadi dingin dan kaku. Semenjak Sara pergi dari hidupnya.
Menghembuskan napasnya pelan, Danny pun akhirnya menoleh. Lalu melayangkan pandangan sekilas ke luar jendela. Memandangi restoran itu dengan tatapan datar. Anehnya, jantungnya mendadak berdebar-debar ketika memandangi restoran tersebut.
“Sesuka itu kamu sama chef itu?” tanya Danny menyindir.
“Bukan seperti itu, sayang. Kata teman-temanku yang pernah makan di tempat ini, makanannya tuh enak-enak. Nah, aku penasaran saja seenak apa makanan di sini. Makanya aku mengajak kamu. Karena aku mau kamu juga ikut merasakannya.”
Kali ini Danny meniupkan napasnya panjang. Jika ditanya ia sungguh enggan menuruti keinginan Tania. Namun debaran di jantungnya seolah menghadirkan firasat yang tersirat. Rasanya seperti rindu yang hendak tertunaikan.
....
“Wow.” Spontan saja kata itu terucap dari mulut Arga saking terpana melihat sosok jelita yang tengah berdiri di samping Oma Widya.
Namun dahinya berkerut ketika mengenali sosok jelita tersebut. Sosok yang sering dipanggilnya gadis kampungan itu kini menjelma menjadi sosok yang ...
“Perfect.” Sekali lagi spontan kata itu terucap dari bibir Arga ketika sosok jelita itu mengulum senyuman manisnya. Membuat paras jelitanya tampak mempesona, memukaunya dalam sekejap. Dalam balutan dress berwarna putih itu membuat kulit kuning langsatnya seperti pualam yang bersinar. Ditambah lagi riasan tipis dengan polesan gincu berwarna soft pink, serta rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, membuat sosok jelita itu terlihat sempurna di matanya.
“Dia terlihat berbeda. Aku hampir tidak mengenalinya,” gumam Arga membatin. Tak memungkiri kata hatinya, bahwa gadis kampungan itu terlihat cantik dengan dress putih itu.
“Ehem ... Ehem!” Suara deheman Oma Widya pun mengagetkan Arga, mengembalikan kesadarannya yang semula melayang-layang, saking terpesona melihat sosok Sara dalam tampilan yang sungguh jauh berbeda itu.
__ADS_1
“Duduklah di sini, sara,” ujar Oma Widya sembari menepuk kursi di sebelahnya, berhadapan tepat dengan Arga.
“Baik, Oma.” Sara pun mendudukkan dirinya. Dengan malu-malu ia menundukkan wajahnya. Ia merasa risih oleh pandangan Arga yang masih tertuju kepadanya. Ekspresi chef tampan itu seperti baru melihat hantu saja.
“Gimana, kamu sudah melihat-lihat semua bagian tempat ini?”
“Sudah, Oma.”
Begitu sampai di tempat ini, Oma Widya mengajak Sara berkeliling restoran, mengenalkan Sara pada seluk beluk restoran itu. Sebab ia berkeinginan untuk mempekerjakan Sara di tempat itu, sebagai asisten koki.
One Taste Food and Resto memiliki beberapa koki yang handal. Namun ada satu koki utama yang hanya bekerja sewaktu-waktu bila dibutuhkan, yaitu Arga sendiri.
Nah, Oma Widya berencana untuk menjadikan Sara sebagai asisten Arga.
Wanita paruh baya itu memang memiliki kuasa untuk melakukannya. Lihat saja, hanya dengan mengangkat satu tangannya saja, seorang pelayan restoran telah datang menghampirinya.
“Apakah yang aku minta sudah di siapkan?” tanya Oma Widya.
Seperti permintaan sang pemilik restoran, ada banyak menu istimewa telah tersaji di meja bundar bertaplak putih. Dan dilengkapi dengan lilin yang menyala.
Mereka pun kemudian mengambil duduk di tempat masing-masing.
“Oma pesan sebanyak ini? Bisa tekor nih nanti,” ujar Arga terheran-heran sembari memindai setiap menu yang tersaji di hadapan. Ia tahu betul menu yang dipesan sang nenek itu adalah menu terlaris di restoran mereka, yang harganya tidak main-main. Ia tahu itu karena ia sendiri yang menciptakan menu andalan itu.
“Untuk makan malam spesial dengan orang yang spesial, menunya tentu juga harus spesial dong.” Oma Widya tersenyum-senyum sembari melirik Sara yang terlihat malu-malu. Melihat reaksi Sara seperti itu, membuatnya yakin jika rencananya untuk mendekatkan Sara dengan Arga akan berjalan mulus.
“Iya, tapi Oma keterlaluan. Apa Oma mau bikin kita bangkrut?” Arga setengah memelototi Oma Widya. Namun melirik ke sebelah sesekali. Sebab makhluk manis di sebelah Oma Widya itu teramat merayu mata. Sangat menarik untuk dilewatkan pandangan.
“Alaaah, alasan. Kamu pikir Oma memesan semua ini gratis? Oma juga tahu aturannya kali. Biar tua begini, Oma juga tahu etika. Kamu mau menantang Oma?”
“Bercanda Oma. Jangan nyolot gitu juga kali.” Arga meringis, salah tingkah ketika dipelototi Oma Widya. Apalagi ketika dilihatnya Sara tersenyum-senyum. Senyuman Sara itu mampu menghipnotis pandangannya sesaat.
__ADS_1
“Sekarang, Oma mau dengar pendapat kamu tentang penampilan Sara yang sekarang. Gimana?” Oma Widya mengalihkan topik dengan segera.
“Gimana apanya?” Arga mengusap tengkuk. Ia mencoba melawan kata hatinya, berusaha menjaga agar lidahnya tidak keterlaluan. Ia tahu, Oma Widya sedang menantangnya, karena tak terima ia mengatai Sara kampungan. Memang ia akui, gadis kampungan itu kini terlihat berbeda, namun ia tak ingin mengakuinya di depan Oma Widya. Karena gengsi.
Mungkin Arga bisa menahan lidahnya memuji Sara. Namun lirikan matanya mampu menyiratkan apa yang tak bisa terucap dari lisannya. Dan Oma Widya bisa memahami hal itu. Karena ia mengenal betul tabiat sang cucu yang terkadang suka gengsi.
“Oh ya, Oma, maaf, apa aku bisa permisi ke toilet sebentar?” tanya Sara. Sedari tadi ia merasa risih ketika Arga mencuri-curi pandang kepadanya.
“Silahkan, Sara. Tapi jangan lama-lama ya?”
“Iya, Oma.” Bergegas Sara beranjak, bangun dari kursinya, berjalan pelan menuju pintu. Heels yang ia kenakan cukup membuatnya kesulitan berjalan, sebab ia belum terbiasa. Walaupun sebelumnya ia sudah berlatih dengan dibantu Oma Widya.
Sementara sepasang mata Arga terus mengikut sampai Sara menghilang dibalik pintu ruang VIP yang menutup.
“Katanya kampungan, tapi itu mata kok tidak bisa dikondisikan?” Terdengar Oma Widya menyindir. Dengan lirikan mata serta senyum mengejek. Membuat Arga salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Pertanyaan Oma yang tadi belum dijawab,” sambung Oma Widya. Yang malah mendapat cebikan dari Arga. Membuat Oma Widya gemas sendiri melihat tingkah sang cucu. Yang diyakininya telah terpesona akan kecantikan Sara.
...
Meniupkan napasnya panjang, Sara menatap pantulan dirinya di cermin toilet. Ia sendiri bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Mungkin ia terlihat aneh, sampai Arga sesekali melirik ke arahnya. Membuatnya kehilangan kepercayaan diri seketika.
Tak ingin Oma Widya dan Arga menunggunya lama, ia pun bergegas keluar dari toilet. Namun ayunan langkahnya harus terhenti saat tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Mungkin terlalu kencang ia menabrak sehingga seorang pria yang tak sengaja ditabraknya itu sampai terhuyung.
“Maaf, maafkan saya, Pak,” ia meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangan. Pertanda dengan sangat ia memohon.
“Maaf katamu? Matamu kamu taruh di mana? Seenaknya saja ka_” namun kalimat pria itu terhenti ketika menatap wajahnya.
“Sara?” Pria itu pun bergumam, menatap Sara lekat.
*
__ADS_1