Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 22


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 22


Menunggu gelisah, mengintip arloji di pergelangan kiri berkali-kali. Juga sesekali melongokkan kepala, memindai keadaan sekeliling untuk memastikan apakah yang ia tunggu sedari tadi telah tiba di lokasi pertemuan. Danny didesak rasa tak sabar ingin segera bertemu. Baru kali ini ia seperti ini. Jantungnya berdegup kencang membayangkan pertemuannya hari ini dengan Sara.


Bi Minah pun terlihat sama gelisahnya. Duduk seorang diri di salah satu tempat duduk di pojok ruangan kafetaria yang didatanginya bersama Danny. Sementara Danny sendiri, bersembunyi dibalik dinding sambil sesekali mengintipnya.


Sudah tiga puluh menit berlalu dari waktu yang dijanjikan Sara untuk bertemu. Bi Minah masih setia menuggu walau dilanda gelisah yang tak menentu. Sebab jika Mayang mengetahui pertemuan Danny dan Sara dengan melibatkan dirinya, sudah tentu ia akan terkena amukan Mayang. Atau bahkan mungkin Mayang akan memberhentikannya dari pekerjaan yang telah menghidupinya selama bertahun-tahun itu.


Lumayan lama menunggu, sosok yang dinanti pun akhirnya menampakkan diri.


“Bi?”


Bi Minah otomatis berdiri menyambut kedatangan Sara. Padahal Sara baru saja datang, namun ia harus segera beranjak. Sebab kehadirannya akan digantikan oleh seseorang. Seseorang yang sedang mengintip dari balik dinding.


“Maaf ya, Non kalau Bibi ngerepotin Non Sara,” ujar Bi Minah.


“Tidak apa-apa, Bi. Kebetulan aku juga sedang ada keperluan tadi.”


“Non Sara sekarang berbeda ya, cantik sekali. Bibi sampai pangling, hampir tidak bisa mengenali.” Bi Minah mencoba berbasa-basi. Sebab sebetulnya tidak ada yang ingin dibicarakannya dengan Sara. Ia meminta Sara bertemu atas permintaan Danny saja. Danny bahkan sampai memohon kepadanya untuk membantunya bertemu dengan Sara.


“Makasih, Bi.” Mengulum senyumnya malu-malu sembari menyelipkan sebagian rambutnya yang tergerai ke belakang telinga.


“Oh ya, katanya Bibi ada yang mau diomongin? Bibi mau ngomong apa sih sebenarnya sampai minta ketemuan di tempat seperti ini segala. Lewat telefon kan bisa, Bi.” Sara berkata sambil menelisik wajah Bi Minah yang terlihat mulai tak tenang.


“Em, anu Non. Non Sara sebaiknya duduk dulu. Mau Bibi pesankan minum, Non?”


“Tidak usah, Bi. Aku belum haus.”


Sementara dibalik dinding yang tak jauh dari tempat Sara dan Bi Minah mengobrol, Danny tengah menahan kesal lantaran sejak tadi Tania tak henti menghubunginya.

__ADS_1


Tak puas mengirimkan pesan chat yang menanyakan tentang keberadaan dirinya, Tania kini menghubunginya via video call. Jelas Danny tak suka. Lekas ia pun menolak panggilan itu lalu menonaktifkan ponselnya. Sementara dilihatnya di seberang sana Sara dan Bi Minah masih berbincang. Ia pun memutuskan untuk menghampiri segera. Sebab dilihatnya Bi Minah seperti tak bisa menguasai keadaan.


“Sara.” Danny memanggil lirih. Namun masih sampai ke telinga Sara. Membuat Sara menoleh, dan terkejut melihatnya.


Melihat kehadiran Danny, otomatis Sara langsung berdiri. Sara mulai terlihat tak nyaman, juga bertanya-tanya.


“Ini apa maksudnya, Bi? Jadi Bibi ke sini tidak sendiri?” Sara bertanya, sangat jelas tergambar di wajahnya ia tak suka dengan kehadiran Danny.


“Maafin Bibi ya Non. Sebenarnya Tuan Danny ingin bertemu dengan Non Sara. Tapi tidak berani mengatakannya pada Non. Takut Non menolak. Sekali lagi maafin Bibi ya Non. Bibi permisi dulu.” Panik sekaligus merasa bersalah, Bi Minah pun bergegas meninggalkan Sara dan Danny berdua.


“Sara, aku minta maaf sudah mengganggu waktumu.” Danny berkata sambil menatap Sara sayu.


Sara membuang pandangannya ke sembarang arah hanya demi menghindari bertemu pandangan dengan Danny. Yang malah akan membuat hatinya goyah. Antara sakit hati atas perbuatan Danny dahulu dan cintanya untuk pria itu hanya setipis tisu. Jadi sebisa mungkin ia memperkuat pertahanannya agar tak runtuh.


“Kenapa harus dengan cara menipu seperti ini? Aku pikir kita sudah tidak punya urusan lagi,” ujar Sara masih menoleh, tak ingin menatap wajah Danny.


“Aku terpaksa Sara. Jika bukan dengan cara seperti ini kamu mungkin tidak akan mau bertemu denganku.”


“Apa itu artinya kita masih bisa bertemu setelah hari ini?” Danny bersemangat, mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk bisa kembali merengkuh Sara. Membawanya kembali ke dalam hidupnya.


“Tergantung. Jika calon suamiku mengijinkan.”


Satu pukulan halus yang memukul telak langkah Danny. Sara sudah tak seperti dulu lagi. Danny akui hal itu. Ia sudah tak bisa menguasai Sara seperti dulu lagi.


“Calon suami?” Danny mengulang kalimat itu lirih. Yang membuat kalbunya teriris. Rasanya seperti mimpi saja saat Sara telah berpaling darinya. Yang ia sangka, Sara telah tergila-gila kepadanya, sampai rela menjadi bayangannya.


“Lain kali kalau mau bertemu, beritahu dulu hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku. Maaf, Danny, aku tidak bisa lama-lama. Calon suamiku sedang menunggu. Permisi.” Memutar tubuhnya cepat, Sara bergegas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Danny yang termangu dengan pikirannya sendiri.


Namun agaknya, Danny tak ingin menyerah. Melangkah panjang, Danny menyusul Sara yang hendak menuju Alphard hitam yang terparkir di pelataran kafe itu. Berhasil menyusul Sara, cepat Danny mencekal lengan Sara.


“Sara, tunggu. Aku masih ingin bicara denganmu,” ujar Danny cepat, mencoba menghentikan Sara.

__ADS_1


Karena Danny mencekal lengannya, otomatis langkah Sara pun terhenti. Lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Danny.


“Danny, lepaskan,” pinta Sara menarik-narik lengannya.


“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Sara.” Danny sungguh tak rela Sara pergi menjauh darinya. Sehingga hatinya terdorong kuat untuk mengejar Sara. Tak peduli Sara menolak, atau bahkan mungkin Sara membencinya kini. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan menyia-nyiakan Sara. Ia ingin kebersamaan mereka terulang kembali seperti dahulu, namun dalam ikatan yang berbeda. Ikatan yang sempat ia benci. Ia sungguh telah menyesali perbuatannya dahulu, yang kerap menyakiti Sara tak peduli keadaan.


“Danny, lepaskan. Biarkan aku pergi.”


“Sara aku mohon beri aku kesempatan. Aku ingin kita kembali  seperti dulu lagi, Sara.”


“Tidak bisa Danny. Kita sudah resmi berpisah. Jalanilah hidupmu dengan bebas tanpa terikat lagi denganku. Bukankah itu yang kamu inginkan? Lagipula, kamu selalu berkata bahwa aku ini seperti noda bagimu, noda yang ingin kamu singkirkan. Tanpa kamu lakukan pun, aku sudah menyingkirkan darimu. Sekarang kamu sudah bebas Danny. Untuk apa lagi kamu datang menemuiku.”


“Untuk memintamu kembali padaku. Itu yang aku inginkan, Sara.”


“Danny, lepaskan tanganku.” Sara meronta, menarik-narik tangannya agar terlepas dari cengkeraman Danny. Namun sayangnya Danny mencengkeram lengannya erat, sehingga ia kesulitan melepaskan diri.


“Sara, aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak ingin mengulang lagi kesalahanku. Jujur aku sangat menyesal Sara. Tolong, pahamilah keadaanku. Mengertilah dengan perasaanku, Sara.” Danny mulai memohon dengan memasang wajah menghiba. Sungguh hal seperti ini di luar kebiasaannya dahulu. Memohon-mohon kepada Sara itu sangat menjatuhkan harga dirinya dahulu. Tetapi kini, ia tak peduli lagi. Ia terlambat menyadari perasaannya. Sehingga kini, harga diri tak berarti lagi baginya. Karena yang terpenting adalah perasaannya.


“Setelah apa yang kamu lakukan, sekarang kamu memohon agar aku memahami perasaanmu? Danny, apakah sedikitpun kamu mengerti perasaanku? Berulang kali kamu menyakitiku, tapi aku masih memaafkanmu, Danny. Bahkan di malam pertama kita, kamu memberiku luka yang paling dalam pun aku masih memaafkanmu. Lalu sekarang kamu bilang kamu menyesal? Untuk apa Danny?” Kedua mata Sara mulai berkaca-kaca. Kata penyesalan Danny itu sungguh menggores hatinya. Mengapa baru sekarang Danny menyadari kesalahannya, disaat ia telah terlanjur terluka.


“Maafkan aku, Sara. Aku sungguh minta maaf.”


“Terlambat Danny. Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Kalaupun ada, itu tidak lebih dari bayanganmu saja kan? Selama ini aku ada di sisimu, tapi sedikitpun aku tidak berarti.” Menyentak kasar lengannya, akhirnya terlepas juga. Lekas ia pun memutar tubuh hendak meninggalkan Danny.


Untuk kedua kalinya Danny mencekal lengannya kuat. Bukan hanya satu lengannya, kali ini Danny memegangi kedua lengannya kuat, sambil menatapnya lekat-lekat.


“Sara, please dengarkan aku dulu.”


“Apa lagi yang harus aku dengarkan darimu?”Sara membuang muka. Menatap wajah Danny menghadirkan kembali luka itu. Mengingatkannya kembali akan perbuatan Danny di malam pertama mereka.


“Aku mencintaimu, Sara. Aku sangat mencintaimu.”

__ADS_1


*


__ADS_2