Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 24


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 24


Lantaran rindu, Danny mencumbu buas Tania yang ia kira adalah Sara. Di salah satu ruang VIP bar itu, Danny hendak mencurahkan kasih dan rindunya dengan wanita yang dalam pandangannya adalah wanita yang teramat dirindukannya.


Melihat tak ada penolakan dari Danny ketika merayunya, bahkan Danny menurut saja ketika dibawanya ke salah satu ruang VIP, Tania pun memanfaatkan keadaan itu untuk merebut kembali perhatian Danny. Yang sempat tergerus waktu dan dicuri darinya.


Mendorong Tania perlahan ke sofa, Danny masih kalap mencumbu. Erangan feminim Tania yang terdengar itu pun  semakin membakar gairahnya. Sembari mengecup disepanjang garis leher Tania, Danny mendesahkan satu nama.


“Sara, aku sangat merindukanmu.”


Kalimat yang terucap tanpa disadari Danny itu pun memadamkan api gairah Tania seketika. Dan berganti dengan kobaran amarah yang mulai menguasai jiwanya. Tania teramat kecewa. Bahkan disaat seperti ini pun, Danny masih saja menyebut nama Sara.


Karena kecewa, Tania pun mendorong kasar tubuh Danny yang sudah memerangkapnya di atas sofa. Yang seketika itu juga mengembalikan kesadaran Danny.


Danny terkejut, menatap keheranan Tania yang tengah memasang wajah penuh amarah sambil menghunus tatapan setajam belati kepadanya.


Dada Tania naik turun oleh letupan amarah yang tak kuasa dikendalikannya lagi.


“Keterlaluan kamu, Danny. Selalu saja Sara, Sara, dan Sara lagi yang kamu sebut. Bahkan disaat seperti ini masih saja nama Sara yang keluar dari mulut kamu. Apa di kepalamu itu hanya ada Sara selama ini?” Tania mengomel, meninggikan nada suara akibat letupan amarah. Ia jengkel, bisa-bisanya disaat sedang memadu kasih dengannya, namun dalam pikiran Danny hanya ada Sara.


Segera Danny bangkit berdiri, menautkan kembali beberapa kancing kemejanya yang telah terbuka, lalu mengusap wajahnya kasar. Hasratnya yang sempat naik sampai ke ubun-ubun itu harus melorot seketika saat kenyataan menghempasnya.


Danny tak menyangka, perasaannya kepada Sara bisa sampai sedalam ini. Sehingga membangunkan sisi naluriahnya sebagai lelaki. Padahal sebelum-sebelumnya tak pernah ia merasa seperti ini. Haru biru dalamnya perasaannya terhadap Sara itu menggelorakan kembali api asmaranya yang telah padam.


Konon katanya cinta akan tumbuh dan bersemi karena kebersamaan. Danny tak tahu entah sejak kapan cintanya kepada Sara tumbuh dan bersemi di hatinya. Mungkin saja semenjak dahulu kala, disaat mereka masih bersama sebagai teman yang dipungkirinya. Tetapi perasaan itu terbunuh perlahan oleh keegoisan dan harga dirinya.


Danny menghela napasnya panjang. Ia pejamkan matanya sejenak. Dan yang terlihat dalam kegelapan adalah bayangan Sara. Membuka mata di detik berikutnya, ia menggeleng pelan.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak bisa kehilangan kamu, Sara. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali. Karena kamu hanya milikku,” gumam Danny tak peduli kehadiran Tania. Seolah wanita itu tak kasat mata di hadapannya.


“Danny.” Tania datang mendekat. Lantas meraih kerah kemeja Danny, mencengkeramnya kuat sambil menatap Danny dengan penuh amarah.


“Kamu sungguh keterlaluan, Danny. Apa kamu tahu, selama kamu koma, akulah yang selalu ada di sisimu. Menjagamu, merawatmu sepenuh hatiku. Kamu sudah berjanji akan menikahiku setelah kamu cerai dari Sara. Lalu sekarang, mana janjimu itu? Hah? Apa kamu mau menguji kesabaranku?” ujar Tania berapi-api saking jengkelnya.


Memang selama Danny dalam keadaan koma, Tania kerap datang mengunjungi Danny. Tetapi Tania hanya sebentar saja menungguinya. Sebab Tania tak betah berlama-lama berdiam diri di dalam ruangan tanpa melakukan apa-apa. Saat itu Sara akan datang menggantikan Tania begitu Tania pergi. Dan Sara akan keluar dari ruang rawat Danny saat Mayang datang.


Selama Danny koma, Sara lah yang merawatnya setulus hati. Sara juga yang sering membersihkan tubuh Danny, mengganti pakaian Danny, menggantikan suster yang bertugas. Sebab Sara adalah orang terdekat Danny.


Itulah sebabnya mengapa Danny bisa merasakan kehadiran Sara meski dirinya dalam keadaan koma. Bukan Tania, bukan pula Mayang, melainkan Sara lah yang senantiasa menjaga, merawat, dan menunggui Danny sepanjang hari. Mayang mengira, setelah Tania pergi, suster jaga yang menunggui Danny. Tetapi sebetulnya Sara lah yang senantiasa berada di sisi Danny.


Mengetatkan rahang, sembari menatap tajam Tania, Danny pun menurunkan kedua tangan Tania yang mencengkeram kerahnya.


“Silahkan kamu marahi aku sepuas hatimu. Kamu boleh memaki atau memukuliku. Silahkan kamu tumpahkan semua kekesalanmu padaku hari ini. Akan aku terima apapun yang akan kamu lakukan padaku. Tapi maaf, Tania. Aku tidak bisa menikahi kamu,” ujar Danny dengan wajah serius. Yang membuat Tania terkejut bahkan tak percaya.


“Kenapa? Beri aku alasannya.”


“Aku tidak mencintaimu.”


Ingin tertawa, tetapi hatinya terlanjur sakit. Tania tersenyum kecut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Tidak mencintaiku kamu bilang? Lalu bagaimana dengan hubungan kita selama ini? Apa selama ini kamu hanya berpura-pura mencintaiku, begitu? Jadi selama ini kamu hanya memanfaatkan aku?”


“Maaf Tania. Perasaanku padamu selama ini ternyata keliru. Apa yang aku rasakan padamu selama ini tidak lebih hanya hasrat semata, bukan cinta. Dan sekarang, aku ingin mengejar cintaku. Cinta yang telah aku sia-siakan selama ini hanya demi harga diriku. Sekali lagi maaf Tania. Mulai saat ini, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.” Setelah berkata demikian, Danny kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Tania yang mematung karena syok.


Apa yang terjadi terlalu cepat dan serasa sulit diterima nalar. Tania tak bisa menerima Danny memutuskan hubungan begitu saja. Padahal hubungan mereka terjalin sudah bertahun-tahun lamanya. Selama itu pula ia selalu melayani kebutuhan Danny di atas ranjang. Lantas sekarang Danny berkata jika perasaannya selama ini keliru? Oh, jelas Tania tidak bisa menerimanya. Ia merasa seperti kelinci bodoh yang dimaanfaatkan.


....

__ADS_1


“Selamat malam, Oma. Tidur yang nyenyak ya.” Sara memberi ucapan sebelum tidur ketika Oma Widya hendak menuju kamarnya. Mereka baru saja kembali dari restoran.


“Selamat malam juga, Nak. Semoga tidurmu juga nyenyak. Oma ke kamar dulu ya? Oh ya, kalau masih ada yang ingin kamu tanyakan, tanya langsung saja sama Arga ya. Oma capek.” Sembari mengulum senyum, Oma melirik Arga.


“Iya, Oma.”


“Ya sudah. Oma ke kamar dulu ya?”Menyisakan Sara dan Arga, Oma Widya kemudian beranjak ke kamarnya. Ingin segera ia mengistirahatkan tubuh lelahnya itu. Sekaligus ingin memberi kesempatan pada Arga untuk mendekati Sara.


“Selamat malam, Chef,” kata Sara, menyunggingkan senyuman tipis kepada Arga, kemudian hendak beranjak ke kamarnya.


Namun tiba-tiba Arga malah mencegahnya.


“Sara, tunggu.”


Otomatis Sara pun menghentikan langkahnya. Lalu menoleh.


“Emm ... Aku ingin bicara sebentar dengan kamu. Bisa?” pinta Arga sungkan, sambil mengusap tengkuknya gugup.


“Bisa. Mau bicara tentang apa?”


“Sebaiknya kita bicara di teras samping saja. Di sini rasanya kurang nyaman.” Arga gugup. Mendekati wanita seperti Sara ini sungguh sangat menguji keberaniannya. Pasalnya Sara hampir tak pernah memberikan respon lebih. Membuatnya kesulitan untuk mendekat. Apalagi jika harus mengutarakan isi hatinya.


“Silahkan, kamu ingin bicara apa denganku,” ujar Sara begitu mereka berada di teras samping. Tempat yang lebih aman menurut Arga.


Menghela napasnya sejenak, Arga tengah mengumpulkan keberaniannya. Sekarang ia akan mencoba tak memedulikan seperti apa pun reaksi Sara. Karena seperti kata Oma, kesempatan tidak akan datang kedua kali. Sebagai lelaki ia harus bergerak cepat sebelum terlambat.


“Sara, mungkin kamu akan terkejut mendengar ini. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar serius ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Jadi, Sara, maukah kamu menikah denganku?”


*

__ADS_1


__ADS_2