
Memeluk Rindu
Bab. 38
“Mama minta maaf baru cerita hal ini ke kamu sekarang. Tapi Mama tidak punya pilihan lain untuk menggagalkan rencana papamu. Mama tahu Mama salah, seharusnya Mama beritahu ini ke kamu sejak awal. Tapi Mama bisa apa selama Hilman mengawasi Mama. Jika tidak, mana mungkin Venus Hotel bisa jatuh ke tangan kita.” Mayang berkata sembari menghampiri Dhani yang tengah duduk di tepian tempat tidur.
Memang sedari awal hal itulah yang menjadi tujuan Danny mau menikahi Sara. Hanya demi merebut Hotel Venus dari tangan Sara. Entah mengapa pula mendiang ayahnya malah mengalihkan kepemilikan hotel itu atas nama Sara. Sungguh Danny tak habis pikir.
Namun, seiring waktu berjalan, tak bisa Danny pungkiri. Ia mau menikahi Sara bukan hanya sekedar demi Hotel Venus. Tetapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia menyimpan perasaan untuk Sara. Perasaan yang tak ingin ia akui dan terhalang ego.
“Tolong tinggalkan aku sendiri, Ma,” pinta Danny tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kamar. Pikirannya kalut, perasaannya kacau. Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika ternyata Sara adalah adik kandungnya.
Tak berkata banyak, Mayang pun bergegas keluar kamar, meninggalkan Danny seorang diri dengan kekalutan hati dan pikirannya. Mayang memberi ruang sejenak kepada Danny untuk berpikir dan kemudian mengambil keputusan akan hubungannya dengan Sara.
“Cukup seperti itu saja yang kamu tahu. Kamu tidak perlu tahu yang sebenarnya, Danny.” Mayang bergumam lirih dari balik pintu, mengintip Danny yang duduk termenung, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
Danny menatap kosong ke arah jendela yang tak jauh dari tempat tidurnya. Kemesraannya bersama Sara beberapa saat lalu masih terbayang-bayang di pelupuk matanya. Kemesraan yang kini malah menghadirkan sakit di dalam dadanya.
Bukannya tak ingin menerima kenyataan. Namun nalarnya masih sulit menerima, batinnya menolak keras. Tak pernah Danny sesakit ini. Wanita yang dicintainya, yang begitu ingin dimilikinya ternyata adalah adik kandungnya.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin.” Hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan sekarang. Sampai detik ini pun ia masih terlalu syok. Terlalu sulit baginya untuk memahami keadaan. Terlebih disaat hatinya benar-benar telah jatuh hati.
....
Arga membawa langkahnya cepat memasuki pantry resto ketika salah seorang karyawannya memberitahu jika Sara sudah kembali. Sedari tadi hatinya dibuat tak tenang saat Danny datang membawa Sara. Berbagai pikiran buruk pun berkecamuk dalam kepalanya. Sehingga begitu mendapat kabar jika Sara sudah kembali, bergegas ia ke pantry ingin menemui Sara.
Di pantry Arga melihat Sara yang sedang memotong-motong sayuran dengan wajah lesu. Tangannya bergerak tapi Sara terlihat seperti tak fokus. Tatapan wanita itu tampak kosong.
Perhatian Arga pun berubah menjadi kepanikan ketika dilihatnya bukan sayuran, melainkan jemari Sara sendiri yang teriris. Akan tetapi wanita itu masih saja terus memotong-motong sayuran meski jemarinya berdarah.
“Sara!” Arga memanggil dengan meninggikan nada suaranya, sehingga lamunan Sara pun buyar seketika. Cepat ia mendekat. Lalu meraih jemari Sara yang terluka.
“Apa kamu mau memotong semua jari-jarimu?” Dengan wajah marah Arga menunjukkan kepada Sara jemarinya yang terluka.
__ADS_1
Sara terkejut. Perih pada lukanya pun baru terasa begitu kesadarannya kembali. Saat jemarinya teriris, tak sedikitpun ia merasakan perih, sebab kesadarannya telah terbawa jauh oleh lamunannya. Dan ketika kesadarannya kembali, rasa perih itu pun menusuk.
Tak menunggu sepatah kata pun dari Sara, Arga melepas apron yang dikenakannya juga apron yang dikenakan Sara. Kemudian ia merih pergelangan Sara. Menariknya, mengajaknya keluar dari pantry menuju ke ruangannya.
Arga segera mengambil kotak P3K yang tersimpan di laci bawah mejanya. Kemudian ia mengobati luka Sara dengan hati-hati. Sara meringis menahan perih.
Menghela napasnya panjang, Arga menatap Sara dengan seksama begitu ia selesai mengobati Sara. Baru saja ia dibuat khawatir karena Danny. Dan kini kekhawatirannya bertambah melihat kondisi Sara. Bagaimana bisa Sara tidak menyadari jemarinya teriris pisau. Apa yang terjadi kepada Sara sampai Sara seperti itu?
“Kamu kenapa?” tanya Arga bernada lembut. Manik matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Sara menelan ludah. Ia bingung harus menjawab apa. Mengingat beberapa saat lalu, ketika ia hampir saja berbuat hal diluar kendalinya bersama Danny, menimbulkan rasa bersalahnya kepada Arga. Sebagai calon istri seorang Arga Pratama, tak seharusnya ia berbuat demikian.
Namun, apa mau dikata. Ia terlanjur terbawa suasana hati dan perasaannya. Sehingga ia lupa diri dan malah terbawa arus romansa yang diciptakan Danny. Bahkan hampir saja ia terjerembab ke dalam lembah dosa jika saja Tania tak datang tepat waktu.
Sara tak mau munafik, masih ada cinta di hatinya untuk Danny. Masih begitu besar rasa itu bersemayam dalam kalbunya. Tak semudah itu ia berpaling dari Danny. Terlebih lagi, sedari kecil mereka telah tumbuh bersama. Mengukirkan banyak kenangan yang terpatri indah dalam benaknya dan tak mudah terhapus. Bahkan oleh waktu.
“Apa kamu tahu sebesar apa kekhawatiranku saat ini? Apa kamu tahu setakut apa aku saat ini karena kamu, Sara?” Arga berucap lirih, memaku tatapannya lekat pada kedua bola mata Sara. Membuat lidah Sara semakin kelu saja untuk berkata. Sebab rasa bersalah itu masih mendera hatinya. Terutama rasa bersalah karena telah merusak kepercayaan Arga.
“Kamu tahu ...” Arga meraih jemari Sara ke dalam genggamannya.
“Jangankan dengan jari kamu terluka, saat Danny membawamu pergi saja aku sudah sangat ketakutan, Sara,” sambungnya menatap lekat-lekat kedua bola mata Sara. Ia ingin melalui sorot matanya, Sara mampu memahami perasaannya saat ini. Yang didera cemas juga takut luar biasa.
“Aku takut kehilangan kamu,” sambungnya parau. Baru kali ini ia merasa leluasa bisa mengutarakan isi hatinya kepada Sara. Setelah sebelum-sebelumnya ia gugup dan lidahnya tercekat, malu luar biasa. Tapi kali ini, lidahnya terasa enteng berkata demikian. Mungkin karena ia merasa dekat dengan Sara, sehingga ia tak sungkan lagi mengungkap rasa hatinya.
“Maaf,” ucap Sara lirih, penuh sesal. Namun kilauan genangan air yang mulai mengembun di pelupuk matanya tak mampu ia sembunyikan. Dan Arga bisa melihat itu dengan jelas.
“Apa Danny menyakiti kamu?”
Sara menggeleng. Sambil menahan tangisnya.
“Sara, kamu bisa cerita apa pun padaku. Aku akan selalu ada untuk kamu dalam keadaan apa pun. Aku ini calon suami kamu. Aku berhak tahu kenapa kamu jadi seperti ini. Aku tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan kamu, Sara.”
“Maaf sudah bikin kamu khawatir.”
__ADS_1
“Tolong kasih tahu aku, kamu kenapa? Apa Danny melakukan sesuatu yang buruk sama kamu?”
Pecah sudah tangis Sara begitu mendengar pertanyaan terakhir Arga. Membuat rasa bersalah itu kian menggunung. Danny tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya. Melainkan ia lah yang telah berbuat buruk. Hampir saja ia tergoda rayuan Danny, sampai-sampai akal sehatnya pun hampir raib ketika Danny mencumbunya. Sungguh hal itu adalah perbuatan buruk yang akan melukai Arga.
Melihat Sara menangis, Arga langsung meraih Sara ke dalam dekapannya. Sembari mengusap lembut punggung Sara, Arga berkata,
“Menangislah sepuas hatimu, Sara. Setelah perasaan kamu lega, aku berharap kamu mau berbagi kesedihanmu ini denganku.”
....
Hingar bingar musik klub tak sedikitpun mengusik lamunan Danny. Malam ini ia sengaja memilih klub untuk melampiaskan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Seperti yang sudah-sudah, ia berharap minuman beralkohol mampu meredam rasa itu walau tak hilang sepenuhnya. Setidaknya ia bisa melupakannya meski sekejap.
Entah sudah berapa banyak minuman beralkohol yang ditenggak Danny. Pria itu terlihat sempoyongan berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Begitu masuk ke dalam mobil, segera ia menghidupkan mesin.
Ia hendak meninggalkan tempat itu saat tiba-tiba terdengar bunyi kencang. Refleks kakinya menginjak pedal rem. Bunyi kencang di luar mobil itu mengharuskannya turun dari mobil. Sebab mobil yang berada di depan mobilnya itu menghalangi jalannya.
“Woy! Minggir! Singkirkan mobilmu! Kamu menghalangi jalanku, siallan!” umpat Danny pada pengendara yang baru saja turun dari mobilnya itu.
Pria paruh baya dalam balutan pakaian formal itu membetulkan kacamatanya.
“Kamu sudah merusak mobilku anak muda. Kamu harus bertanggung jawab,” ujar pria paruh baya itu.
“Apa? Aku harus bertanggung jawab? Kamu yang menghalangi jalanku. Kamu yang seharusnya bertanggung jawab, karena kamu sudah membuang waktuku. Apa kamu tahu siapa aku? Aku Danny Dharmendra. Pemilik hotel terbesar di negeri ini.” Danny malah menyombongkan diri dengan tubuh sempoyongan.
Pria paruh baya itu pun melepas kacamatanya. Ditatapnya Danny dengan seksama. Kemudian ia mengulurkan tangannya sambil berkata,
“Kamu masih ingat aku anak muda? Aku rasa terakhir kali kita bertemu saat kamu masuk perguruan tinggi, saat mendiang Jayadi masih hidup.”
Danny menyapukan pandangannya dari ujung sepatu sampai ujung kepala pria paruh baya itu dengan tatapan nanar, berusaha mengenali.
“Aku Hilman. Mantan pengacara keluarga kalian. Pengacara yang menyimpan banyak rahasia tentang keluarga kalian.” Hilman mengulum senyuman tipis menatap Danny.
*
__ADS_1