
Memeluk Rindu
Bab. 11
Suara alarm terdengar nyaring, menggema memenuhi ruangan. Membangunkan Danny dari tidur lelapnya. Tangannya menggapai-gapai, meraih ponsel di nakas. Lantas mematikan alarm.
Sengaja Danny memasang alarm di ponselnya, karena sekarang ia harus terbiasa sendiri. Jika dahulu selalu ada Sara yang akan datang membangunkannya, menyiapkan air hangat untuknya, pakaiannya, sampai sarapan pun sudah tersaji untuknya.
Ada Sara dalam hidupnya, ia tak perlu bersusah payah. Segalanya mudah. Sara itu sudah seperti asisten pribadinya saja. Oh, bukan. Tapi Sara itu sudah seperti istrinya saja.
Apa?
Istri?
Danny bangun dalam sekali gerak cepat. Bukannya bergegas turun dari tempat tidur, ia malah termangu dengan tatapan kosong.
Detik berikutnya, ia meniupkan napasnya kasar. Lagi-lagi dadanya terasa sesak kala teringat Sara.
Ya. Sara.
Bayang-bayang Sara sering datang mengganggunya. Kali ini lebih parah. Bahkan setiap malam ia kerap memimpikan Sara. Apakah ini adalah balasan dari Tuhan untuknya karena telah menyakiti Sara?
Ah, bodoh amat!
Menyibak selimut, ia lantas turun dari tempat tidur. Kemudian bergegas ke kamar mandi. Tak berapa lama ia telah selesai dengan kegiatannya membersihkan diri. Sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, ia berjalan menuju walk in closet. Membuka lemari pakaian, mencari-cari pakaian yang hendak ia pakai.
“Di mana kemeja itu?” Namun beberapa menit mencari, kemeja yang menjadi andalannya tak kunjung ia temukan di lemari pakaiannya itu.
“Sara menaruhnya di mana? Kenapa susah sekali mencarinya?” tanpa disadarinya lagi-lagi nama Sara terucap dari lisannya. Hampir setiap hari hal seperti itu terjadi. Sadar tidak sadar, meskipun wujud tiada, Sara selalu hadir dalal hidupnya. Ia masih belum bisa terlepas dari Sara sepenuhnya.
Sudah tiga lemari pakaian dibukanya, mencari si kemeja favorit yang tak kunjung ketemu. Ia berkacak pinggang, meniupkan napasnya panjang. Lalu tanpa sadar ...
“Sara ... Di mana kamu menyimpan kemejaku?” ia memekik, memanggil Sara. Padahal ia tengah berusaha hidup mandiri saat ini, tapi tetap saja ia masih membutuhkan bantuan.
“Sara ...” kembali ia berteriak memanggil Sara, karena Sara tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
“Sara ...” Kesal, ia pun beranjak hendak keluar kamar sambil menggerutu. Sara yang tak kunjung datang itu membuatnya jengkel. Sehingga membuatnya berinisiatif menemui Sara di kamarnya.
Tampilannya dengan handuk yang melilit di pinggang itu pun membuat Bi Ijah terkejut. Refleks Bi Ijah menoleh, sembari menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
“Bi, Sara ke mana?” tanyanya pada Bi Ijah setelah tak menemukan keberadaan Sara di kamarnya. Ia masih tak sadar jika Sara sudah tidak tinggal di rumah itu lagi. Saking jengkelnya karena Sara tak kunjung datang, padahal ia membutuhkan gadis ifu.
“Loh, Tuan Danny lupa ya, kan Non Sara sudah tidak tinggal di rumah ini lagi.” sahut Bi Ijah keheranan. Sebab ini bukan yang pertama kalinya Danny bersikap seperti ini.
Danny pun terhenyak, dibangunkan oleh kenyataan dari ketidaksadarannya. Sara memang sudah tak di sisinya lagi, namun terkadang ia seolah merasakan kehadiran Sara. Apakah ini yang dinamakan ...
“Tidak. Aku tidak merindukanmu,”gumamnya memungkiri perasaannya untuk yang kesekian kali. Dan sialnya, dadanya terasa sesak setiap kali kata rindu itu terucap.
__ADS_1
“Tuan Danny, Tuan butuh sesuatu? Biar Bibi bantu.” Bi Minah menawarkan. Masih dengan posisi berpaling muka lantaran menghindari melihat pemandangan yang terpampang nyata di hadapannya itu.
“Tidak, Bi. Biar aku lakukan sendiri saja,” tolaknya halus, kemudian beranjak kembali ke kamarnya.
“Kasihan Tuan Danny. Setelah Non Sara pergi, dia jadi seperti orang tidak waras. Apa jangan-jangan ini balasan atas perbuatannya dulu terhadap Non Sara?” gumaman Bi Minah itu pun sampai ke telinga Mayang yang berdiri di belakangnya.
“Apa kamu bilang?”
Bi Minah tersentak. Menoleh cepat ke belakang.
“Eh, Nyonya. Maaf, Nya. Bibi kembali ke dapur dulu ya, Nya. Banyak kerjaan soalnya.” Bergegas Bi Minah meninggalkan Mayang yang berwajah kesal sebelum ia terkena semburan lahar kemarahan majikannya yang satu itu.
***
Menuruti keinginan Oma Widya, Sara tak menyangka jika wanita tua itu malah mengajaknya ke sebuah butik ternama. Yang memiliki koleksi gaun-gaun elegan nan glamor, anggun dan berkelas. Yang harganya terbilang cukup fantastis itu.
“Gimana, kamu suka dengan gaunnya?” tanya Oma Widya ketika seorang pegawai butik menunjukkan salah satu koleksi eksklusif butik mereka.
Sara sungkan menjawab. Gaun hitam panjang tanpa lengan itu terlihat elegan dan memberikan kesan glamour bagi yang mengenakannya. Tetapi bagi Sara, gaun itu terlalu berlebihan untuk sebuah ajakan makan malam dari Oma Widya.
“Gaunnya bagus. Tapi Oma, apa gaun itu tidak terlalu berlebihan untuk makan malam?” Sara hanya merasa tak cocok saja dengan gaun itu. Sadar diri, ia tak pantas mengenakannya.
“Ya sudah. Ganti yang lain.” Memerintahkan pegawai butik.
Pegawai butik itu pun menunjukkan koleksi lain yang mereka miliki. Tidak seperti gaun sebelumnya, gaun yang satu ini terlihat santun. Gaun selutut berwarna putih polos itu memikat hati Sara dalam sekejap. Namun ia sungkan mengutarakannya.
Mau tak mau, demi menyenangkan Oma Widya, Sara pun harus mengakui ketertarikannya pada gaun itu.
“Iya, Oma. Aku suka.” Mengembangkan senyumnya, ia mengangguk.
“Ya sudah, kita ambil yang ini saja. Tolong bungkus.” Sembari menoleh ke pegawai butik.
“Baik, Nyonya.”
“Oh ya, tolong perlihatkan juga koleksi sepatu yang kalian punya.”
“Baik, Nyonya. Tapi Nyonya akan dilayani oleh pegawai yang lain. Mari Nyonya, ikut saya.” Sambil menenteng gaun putih, pegawai itu mengambil langkah lebih dulu. Diikuti oleh Oma Widya dan Sara mengekor di belakangnya.
Menyayangi Sara seperti cucunya sendiri, Oma Widya tak hanya membelikan Sara banyak gaun-gaun cantik, sepatu, tas, bahkan sampai dengan perintilannya. Oma Widya juga mengajak Sara ke sebuah salon kecantikan terbaik di kotanya.
Awalnya Sara menolak. Namun berkat bujuk rayu Oma Widya, bahkan sampai merajuk, yang pada akhirnya Sara pun mau.
****
Malam harinya. One Taste Food and Resto menjadi pilihan Oma Widya mengajak Sara makan malam. Oma Widya memiliki alasan mengapa ia memilih restoran miliknya dibanding restoran lainnya. Selain untuk mengenalkan Sara pada restoran yang tengah dikelola Arga saat ini, memperkenalkan Sara kepada semua pegawai restorannya, juga ia memiliki tujuan lain yang lebih pribadi. Yaitu untuk mendekatkan Arga dengan Sara.
“Oma kenapa tidak bilang-bilang kalau mau makan malam di sini?” Arga bertanya panik sembari mengambil duduk di depan Oma Widya.
__ADS_1
“Memangnya tidak boleh?”
“Bukan begitu Oma. Masalahnya, malam ini aku sibuk.” Arga terlihat enggan memenuhi permintaan Oma Widya. Ia sibuk mencari-cari alasan yang tak kunjung ketemu. Pasalnya, Oma Widya sudah meminta jadwal syutingnya pada manajernya langsung. Sehingga ia tak bisa berkelit.
“Sibuk cari alasan maksud kamu? Bukannya tiga hari ke depan ini kamu tidak punya jadwal syuting?” Bukan Oma Widya namanya jika tak punya cara menghadapi sang cucu bandel ini. Bandel dalam mencari pasangan hidup.
Arga pun mendengus kesal. “Lagian Oma kenapa sih ngotot sekali ingin menjodohkan aku dengan gadis kam_”
“Kampungan maksud kamu?” balas Oma Widya telak. Membuat Arga hanya bisa meringis.
Sembari mengulas senyuman sinis, Oma Widya mengangkat tangan kanannya, memanggil salah seorang pegawainya.
“Nyonya memanggil saya,” ujar pegawai resto.
“Tolong kamu panggilkan Sara. Dia sedang bersama David di pantry sekarang,” titah Oma Widya.
“Baik, Nyonya.” Bergegas pegawai itu menuju pantry, hendak memanggil Sara yang sedang bersama manajer resto.
“Oma mengajak gadis kam_”
“Kampungan?” sela Oma Widya cepat melebarkan kedua matanya.
Arga pun salah tingkah. Dan hanya bisa menelan ludahnya kelat melihat ekspresi wajah sang nenek yang terlihat kurang senang mendengarnya memanggil Sara kampungan.
“Oma ingin lihat, seperti apa kampungan yang kamu maksud itu.” Sekali lagi Oma Widya tersenyum sinis. Ia ingin melihat seperti apa reaksi Arga ketika melihat Sara dalam tampilan yang berbeda.
“Oma, apa tidak sebaiknya kita bat_”
“Oma memanggilku?” Namun suara merdu itu menghentikan kalimat Arga tiba-tiba. Sontak Arga pun menoleh. Dan ia terpaku detik itu juga, dengan mata yang tak berkedip memandangi sosok jelita dalam balutan gaun putih yang tengah berdiri di sebelah Oma Widya.
“Wow.” Kata itu pun meluncur bebas dari mulut Arga begitu melihat sosok jelita tersebut.
*
Hai hai hai bestie ☺️☺️
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya biar othor abal² ini semangat updatenya.
Salam sayang dari Author GaJe😘
Sara Abimanyu
__ADS_1