Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 17


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 17


Karena nasi goreng buatannya keasinan, alhasil Danny kehilangan selera makannya. Pagi ini ia pergi bekerja tanpa mengisi perutnya. Padahal Bi Minah sudah menyiapkan sarapan untuknya, menu kesukaannya pula, seperti pesan Sara sebelum meninggalkan rumah itu.


Namun sayangnya, selera makannya telah menguap di udara. Andai Sara masih ada, ia tentu akan menghabiskan apa pun sarapan yang dibuatkan Sara.


Meniupkan napasnya resah, ia menyandarkan punggung di sandaran kursi kerjanya. Hari menjelang siang, perutnya pun mulai berdemo. Jika saja ada Sara ia tidak akan kelaparan seperti ini. Sara paling mengerti apa yang ia inginkan.


“Aku lapar,” kata Danny melalui sambungan telepon pada suatu hari. Setelah itu ia kembali fokus pada layar komputer. Ia tengah asik bermain game online favoritnya. Ia enggan meninggalkan game itu disaat sedang seru-serunya.


Tak berapa lama, Sara datang dengan membawa nampan yang penuh berisi beberapa menu makanan.


Sara lantas menarik satu kursi untuk duduk di samping Danny. Lalu mulai menyuapi Danny yang tengah serius dengan gamenya.


“Anak kecil saja masih lebih pintar dari kamu. Masa kamu yang sudah besar seperti ini masih saja disuapi. Dengar ya Danny, aku ini bukan ibumu.” Sara sengaja menyindir agar Danny sedikit merubah kebiasaan buruknya itu.


“Kamu lebih dari ibuku. Kamu itu segalanya untukku.” Danny berujar tanpa menoleh kepada Sara sekali pun.


“Aku tahu, aku segalanya untukmu karena hanya aku yang bisa kamu perlakukan seperti ini bukan?”


“Kamu itu istimewa, Sara.”


Sara tersenyum, sembari menyuapi Danny. “Pelayan istimewa maksudmu?”


Danny melirik sejenak. Kemudian kembali fokus ke layar komputer. “Asisten istimewa. Bukan pelayan,” ujarnya mengulum senyuman tipis.


“Ya, ya, asisten. Asisten yang selalu siap melayani tuannya.”


Mengulurkan tangan kanannya, Danny mengacak rambut di puncak kepala Sara, sembari tersenyum. “Jadilah asisten yang penurut. Karena tuanmu ini sedikit bawel.”


Sepenggal kenangan itu pun berakhir lantaran perut Danny yang mulai keroncongan.


Sebenarnya Danny bisa meminta Melly, sekretarisnya menyiapkan makan siang untuknya, dengan mengambil menu dari bufet hotel. Atau bisa saja ia memesan makanan via online, namun hari ini ia ingin pergi makan siang di tempat lain.


Ngomong-ngomong tempat lain, Danny pun teringat restoran yang didatanginya kemarin malam bersama Tania. Tempat dimana ia bertemu kembali dengan Sara. Yang kata Tania restoran itu adalah milik seorang chef terkenal. Chef yang sempat berkenalan dengannya sebagai ...

__ADS_1


Ah!


Danny membuang napasnya kesal. Ia tak ingin mengingat perkenalannya dengan chef muda itu. Yang membuat dadanya sesak tiba-tiba.


Mengingat perutnya yang sedang berdemo ria meminta perhatiannya itu, Danny pun tak ingin membuang waktu. Ia bergegas ke restoran itu.


Duduk menunggu pelayan mendatanginya, di meja seberang, ada tiga orang gadis yang sedang mengobrol sambil memperhatikan layar ponsel milik seorang gadis yang duduk ditengah. Mereka histeris sendiri sambil menyuarakan satu nama yang tak asing di telinganya.


“Arga!” seru mereka berbarengan dengan wajah semringah, sambil tetap memperhatikan layar ponsel.


“Yah, ternyata chef Arga sudah punya calon istri. Bisa patah hati masal nih kita. Aku kecewa dong.” Gadis yang duduk di tengah sambil memegang ponsel itu memasang wajah cemberut.


“Siapa tuh calon istrinya?” tanya yang satu lagi.


“Waaah ... Cantik ya?” ujar yang satunya lagi.


Otomatis Danny memasang telinga begitu mendengarnya. Walaupun ia terlihat acuh tak acuh.


“Namanya Sara. Yaaah ... Aku kecewa, sumpah. Padahal aku udah bela-belain hampir setiap hari makan di sini biar bisa ketemu chef Arga. Eh, ternyata dia sudah punya calon istri.” Gadis yang berada ditengah itu mengutarakan kekecewaannya dengan wajah super cemberut.


Danny yang mendengarnya pun serba salah, ia salah tingkah sendiri. Padahal tidak ada yang memperhatikannya.


Namun ternyata Arga serius dengan ucapannya. Bahkan pria itu berani memberitahu khalayak ramai jika Sara adalah calon istrinya. Yang artinya Danny tak memiliki kesempatan lagi. Jangankan untuk meminta Sara kembali, bahkan untuk berharap saja, kesempatan itu sudah tertutup untuknya.


“Mau pesan apa, Pak?” Seorang pelayan bertanya begitu menghampiri meja Danny. Membuat Danny terkejut, sontak menoleh.


“Iya, Sara,” sahut Danny tanpa sadar. Terlontar begitu saja dari lisannya, saking nama itu memenuhi isi kepalanya.


“Maaf, Pak. Saya bukan Sara.” Pelayan itu tersenyum-senyum.


“Bapak mau pesan apa?” Sambung pelayan itu bertanya, ia sudah bersiap mencatat pesanan Danny.


Namun sayangnya, lagi-lagi Danny malah kehilangan selera makannya. Sehingga ia memilih meninggalkan tempat itu, tidak jadi memesan makanan.


....


Di lain tempat.

__ADS_1


Sara tak bisa berbuat apa-apa ketika Arga memberitahu publik jika ia adalah calon istri Arga. Ia hanya bisa mengembangkan senyumnya, sebab akan mengundang keingintahuan publik jika ia membantah ucapan Arga ketika pria itu berkata di depan kamera dan tengah ditonton oleh berjuta-juta pasang mata.


“Hari ini saya ditemani oleh tamu spesial. Dia cantik, hobi masak juga. Nah, kalian mau tahu siapa dia?” Seperti itu Arga membuka acara Cooking With Arga hari ini. Sementara Sara saat itu masih berdiri di belakang kamera bersama Oma Widya, menyaksikan syuting Arga secara langsung.


“Kalau begitu langsung kita panggilkan saja dia. Sara.”


Sara dibuat terkejut. Ingin menolak, tetapi Arga sudah terlanjur berkata. Arga bahkan tidak meminta ijinnya terlebih dahulu. Terpaksa ia menuruti saja permintaan Arga setelah Oma Widya membujuknya. Padahal tampil di depan kamera merupakan hal yang baru baginya. Tak hanya kaku, ia sungguh malu luar biasa. Keringat dingin pun mulai mengucur dari dahinya.


“Oh ya, ada satu kabar gembira yang ingin saya sampaikan secara langsung melalui Cooking With Arga. Kabar ini mungkin akan mengejutkan kalian semua. Kabar apakah itu? Kalian mau tahu?” Arga melanjutkan pembuka acaranya.


“Sebenarnya aku malu mengatakan ini. Tapi aku ingin berbagi kabar bahagia ini dengan kalian. Dia adalah calon istri saya,” Arga menambahkan. Sembari melirik Sara yang berdiri di sampingnya dengan senyum merekah.


Pun sama halnya dengan Oma Widya yang tersenyum senang menyaksikan Arga dan Sara berdiri berdampingan. Mereka terlihat sungguh serasi.


Sebelumnya, Arga sudah mendiskusikan  schedule dadakan ini dengan kru. Mereka menyetujui saja, sebab hal ini bisa menggemparkan publik. Sebab Arga merupakan pribadi yang tertutup mengenai pasangan hidup. Kabar gembira ini sudah tentu akan menyedot perhatian publik, dan akan menjadi trending topik di berbagai media sosial.


Benar saja, belum sampai setengah jam mereka live, acara itu sudah ditonton puluhan ribu orang. Yang seketika mengejutkan publik. Jarang terdengar kabar kedekatannya dengan seorang gadis, tak tanggung-tanggung Arga langsung memperkenalkan calon istrinya itu secara terang-terangan.


....


“Sebelumnya aku minta maaf, Oma. Bukannya aku menolak. Hanya saja, mengapa mendadak seperti ini?” Sara berkata penuh kehati-hatian ketika ia dan Oma Widya berada di ruang ganti Arga. Tengah menunggu pria itu selesai berdiskusi dengan kru syuting juga manajernya.


“Bukankah Oma sudah pernah bilang sama kamu, bahwa Oma sangat ingin kamu menjadi bagian dari keluarga Oma.”


“Tapi, Oma. Aku dan Arga belum saling mengenal. Bagaimana kalau tiba-tiba ...”


“Tidak ada yang perlu kamu cemaskan mengenai diriku.” Tiba-tiba Arga sudah berdiri di ambang pintu, menyela ucapan Sara. Lantas masuk dan menghampiri setelah menutup pintunya.


Mengerti dengan situasi, Oma Widya pun beranjak setelah berkata, “Sebaiknya kalian bicara dulu berdua. Oma akan menunggu kalian di luar. Hm?”


Sara menundukkan wajahnya risih begitu Oma Widya beranjak pergi. Ia sungguh merasa tak nyaman ditinggal berdua bersama Arga di ruangan yang sempit itu.


“Aku tahu kamu pasti kaget. Aku tidak meminta ijin atau mendiskusikan ini denganmu terlebih dahulu. Tapi, Oma pasti sudah pernah cerita kan sama kamu tentang rencana Oma yang mau menjodohkan kita?”


Memang Oma Widya sempat menyinggung soal keinginannya untuk menjadikan Sara sebagai pendamping hidup Arga. Tetapi Sara tidak menyangkan akan secepat ini.


“Aku juga paham kamu pasti ragu-ragu. Tapi, paling tidak kita saling mengenal dulu, seperti maksud kamu tadi kan? Jadi, ehem ...” Arga mengusap tengkuk, pertanda ia sedang gugup.

__ADS_1


“Maukah kamu jadi pacarku?” sambung Arga memberanikan diri.


*


__ADS_2