Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 28


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 28


Berat hati rasanya memenuhi permintaan Arga. Sebab, tidak bertemu lagi dengan Danny sama seperti separuh jiwanya pergi.


Akan tetapi, kenyataan kembali menyadarkannya jika Arga adalah calon suaminya. Dengan berbagai pertimbangan ia telah menerima lamaran Arga. Termasuk ia ingin move on dari Danny.


Tak ingin membohongi diri sendiri, hingga kini, sakit hati akan perbuatan Danny dahulu masih sedikit terasa. Terlebih ketika mengingat malam pertamanya bersama Danny. Yang malah ia habiskan di dalam toilet dan mendengar suara dessahan wanita lain.


Refleks, ia pun menutup telinganya, ingin melenyapkan suara erangan feminim Tania yang masih terngiang di telinganya hingga kini. Tiada yang lebih menyakitkan selain luka yang diberikan Danny di malam pertama itu.


Melihat tingkah Sara itu menumbuhkan tanya di benak Arga. Tetapi mungkin Sara tidak akan merasa nyaman jika ia mencecar Sara dengan beragam pertanyaan yang berbeda.


“Maaf, Sara, kalau aku membuat kamu merasa tidak nyaman. Abaikan saja permintaanku. Mungkin memang aku harus terbiasa dengan rasa cemburu. Kalau begitu mulai sekarang aku akan berteman dengan cemburu. Agar aku tidak akan merasa sakit melihat calon istriku masih sering menemui mantannya.” Rasa yang berbeda yang sesekali mencubit hatinya ketika melihat Sara bertemu Danny itu lekas Arga simpulkan sebagai cemburu.


Sara pun menggeleng, menurunkan kembali kedua tangan yang menutup telinga.


“Kamu benar, tidak semua tentangku aku ceritakan padamu. Aki dan Danny memang dijodohkan oleh mendiang ayah Danny. Tapi,  aku yang memiliki perasaan padanya. Sedangkan dia tidak pernah mencintaiku.” Sara berkata pelan, kemudian menghela napasnya sejenak. Ia pun lantas mengungkap bagaimana perasaannya selama ini terhadap Danny. Hingga rasa sakit yang Danny beri di malam pertama mereka yang berakhir menyedihkan.


Arga menyimak dengan keprihatinan. Kini ia memahami mengapa Sara lebih banyak diam dan selalu menjaga sikap, bahkan kadang terkesan menjaga jarak darinya. Mungkin saja Sara sedang memproteksi diri, atau mungkin saja Sara tidak ingin hal yang sama terulang kembali melalui orang yang berbeda.


Sara ini tidak memiliki kepercayaan diri. Sara menganggap dirinya berada di bawah garis standar tipe wanita idaman pria. Sehingga ada kemungkinan Sara menganggap tidak akan ada pria yang akan mencintainya dengan tulus. Kini Arga pun mengerti harus berbuat apa. Arga hanya harus menunjukkan kesungguhan serta ketulusan hatinya untuk meyakinkan Sara.


“Aku bisa memahami seperti apa perasaanmu.” Arga membuang napasnya pelan. Ia tersenyum getir ketika tahu perasaan Sara yang sebenarnya untuk Danny. Ia tahu, untuk seorang wanita yang pernah terluka dan dikecewakan itu tidak akan mudah menambal keretakan dalam hatinya. Tetapi ia akan mencoba.


Hubungan Arga dengan Sara tak jauh berbeda dengan hubungan Sara dan Danny. Namun Arga bukan Danny. Berbeda dengan Danny, meski awalnya dijodoh-jodohkan, tetapi Arga memiliki perasaan kepada Sara. Dan mungkin, perasaannya lah yang bertepuk sebelah tangan.


“Cinta bertepuk sebelah tangan itu memang menyakitkan. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi Sara, bersamaku kamu tidak akan sesakit itu. Karena bersamaku perasaanmu tidak akan bertepuk sebelah tangan. Mungkin saja aku yang akan mengalaminya. Aku tahu, cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat kamu percaya. Aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku,” sambung Arga.


Membawa langkahnya lebih mendekat, Arga kemudian meraih jemari Sara, membawa jemari itu ke dalam genggamannya. Berharap Sara bisa ikut merasakan getar-getar rasa melalui sentuhannya. Tak ingin kalah langkah, ia harus bisa memberanikan diri menunjukkan perasaannya. Termasuk melewati batas-batas norma yang ia buat sendiri demi menghormati Sara.


“Sara,” panggil Arga lirih, menatap lekat-lekat wajah Sara.

__ADS_1


Sementara Sara sendiri, kedua matanya tak berani menatap Arga sebab rasa bersalahnya kepada pria itu. Pria yang baik seperti Arga ini tak seharusnya ia sakiti.


“Bisakah kamu menatapku?” sambung Arga meminta.


Sara pun mengangkat pandangannya perlahan. Arga mengulum senyuman tipis.


“Aku ini bukan pria romantis seperti yang kamu bayangkan. Tapi, jika aku mengatakan ini, apa kamu percaya?”


“Ka-kamu ingin mengatakan apa?” lantaran gugup mendera, suara Sara bahkan terdengar parau.


“Kamu mau mendengarnya?”


Sara mengangguk ragu. Ia hanya tak ingin mengecewakan Arga yang sudah sangat baik kepadanya.


“Serius kamu mau mendengarnya?”


Sara kembali mengangguk sembari mengulum senyuman. Ia menelan ludah saat tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia dibuat deg-degan dengan tatapan berbeda Arga.


“Aku mencintaimu, Sara.” Tanpa keraguan lagi Arga mengutarakan perasaannya sambil menatap Sara dalam-dalam. Melalui sorot matanya, ia mengungkap kesungguhan hatinya. Sembari berharap gayungnya bersambut.


Walau bagaimana pun, Arga dan Oma Widya sudah banyak membantunya. Memberinya tempat tinggal, menganggapnya seperti keluarga, bahkan tak segan-segan Arga memberitahu khalayak ramai bahwa ia adalah calon istri Arga. Lalu apalagi yang harus ia ragukan? Bukankah ia ingin move on dari masa lalunya?


“A-aku harus menjawab apa?” gumamnya lirih hampir tak terdengar. Namun masih sampai ke telinga Arga.


“Kamu tidak perlu menjawabnya. Cukup kamu tahu saja seperti apa perasaanku padamu.”


“Tapi bagaimana jika nanti aku mengecewakan kamu?”


“Jangan membahas nanti. Kita hadapi dan jalani saja apa yang ada di hadapan kita sekarang. Jika kamu mencemaskan apa yang belum terjadi, maka kamu tidak akan pernah bisa melangkah maju. Asal kamu tahu, aku ingin sekali menjadi tempat kamu bersandar, tempat kamu berkeluh kesah. Bahu dan dadaku akan selalu terbuka untuk kamu.” Arga mengulum senyuman, sembari mempererat genggamannya. Kemudian perlahan ia membawa kedua jemari tangan Sara untuk dikecupnya dengan lembut.


Sara sungguh tak mengerti dengan perasaannya saat ini. Danny masih mengisi kepalanya meski kini ia sedang bersama Arga. Tetapi balas budi menamparnya halus, mengharuskannya untuk memberikan balasan terbaik akan kebaikan yang telah Arga berikan.


Salah satu balasan terbaik itu Sara berikan ketika Arga merengkuhnya ke dalam dekapannya. Sara tak memberikan perlawanan, Sara tak menolak saat Arga memeluknya. Ia diam saja, namun tak membalas pelukan itu.

__ADS_1


“Sara, ijinkan aku menggantikan Danny di hatimu. Aku janji, aku tidak akan membuatmu kecewa.” Baru kali pertama Arga merasakan hal seperti ini. Memeluk Sara membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Aliran darahnya pun berdesir hebat. Rasanya ia tak ingin melepaskan Sara walau sedetik pun. Jatuh cinta ini sungguh berjuta indahnya. Ia pun lantas mengecup lembut puncak kepala Sara dengan penuh kasih.


....


Sementara di lain tempat.


“Berhenti. Berhenti Pak Eko.” Danny memerintah ketika mobil yang ditumpanginya bersama Mayang melewati sebuah bar. Bukan bar langganannya, tetapi ia butuh pelampiasan malam ini.


“Jalam terus Pak Eko, jangan dengarkan apa katanya,” balas Mayang tak ingin memberi ruang kepada Danny. Ia jengkel dengan tingkah konyol Danny yang ingin mengakhiri hidupnya hanya gara-gara Sara.


“Baik, Nyonya.” Eko terus mengemudi, karena Mayang adalah majikannya. Semua keputusan di kediaman Dharmendra berada di tangan Mayang.


“Aku bilang berhenti, Pak Eko. Jika tidak aku loncat dari mobil.” Mungkin ancaman mempan untuk menakuti Mayang.


“Kamu sudah gila Danny. Jangan konyol kamu. Kalau kamu mati, Sara juga tidak akan peduli sama kamu. Dia sudah berbahagia dengan laki-laki lain.”


“Aku tidak peduli. Cepat berhenti kataku. Atau aku akan melompat sekarang.” Danny sudah menarik tuas hendak membuka pintu mobil.


“Berhenti, Pak Eko. Turuti saja orang gila ini.” Akhirnya Mayang pun tak bisa berbuat apa-apa.


Mobil yang dikendarai Eko berhenti tak jauh dari bar. Danny segera turun. Bar yang tak jauh di depan itu menjadi tujuannya.


Duduk di meja bartender, sudah beberapa gelas wine yang ditenggak Danny. Pikirannya kacau, rencananya gagal total. Nyatanya gertakannya itu sedikit pun tak berpengaruh bagi Sara. Mungkin ia harus memikirkan cara lain untuk bisa mendapatkan Sara kembali.


“Hey, Danny. Kamu sudah sadar dari koma?” Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Danny.


Sontak Danny menoleh. Lalu mengerutkan dahi karena merasa familiar dengan wajah orang itu.


“Kamu tidak mengenaliku? Kamu sudah lupa padaku? Aku Ferdy, pengacara yang menggantikan Pak Hilman, pengacara keluarga kalian.” Ferdy, pengacara muda itu berkata sembari mengulum senyuman.


“Oh ya, bagaimana dengan istrimu?” tanya Ferdy.


“Mantan istri.”

__ADS_1


“Mantan istri gimana, orang kalian belum resmi cerai kok.”


*


__ADS_2