
Memeluk Rindu
Bab. 34
“Danny ada di dalam kan? Terus kenapa ruangannya dikunci?” Tania bertanya dengan wajah curiga, berdiri di depan pintu ruangan Danny yang terkunci rapat dari dalam. Tidak biasanya Danny mengunci ruangannya seperti itu walaupun dia berada di dalam ruangannya. Sehingga menimbulkan beragam pertanyaan dalam benak Tania.
Melly, sekertaris Danny yang mengetahui Danny sedang bersama siapa di dalam sana tengah memutar otak mencari alasan yang tepat untuk membohongi Tania dan mengusirnya dari hotel ini.
“Pak Danny tidak ada di dalam Nona Tania. Pak Danny sedang ada urusan di luar sejak pagi tadi. Dan Pak Danny memang sering mengunci ruangannya belakangan ini. Alasannya saya juga tidak tahu.” Melly berkilah. Sebab Danny adalah atasannya, sudah merupakan kewajibannya untuk melindungi atasannya. Apalagi sebelum-sebelumnya, Danny pernah berpesan kepadanya agar tidak mengijinkan Tania masuk ke dalam ruangannya.
“Apa kamu mau menipuku? Kamu pikir aku tidak tahu Danny sedang bersama siapa di dalam?” Tania sungguh sedang menahan emosinya saat ini. Ketika memasuki gedung Venus Hotel ini, tanpa sengaja ia mendengar beberapa karyawan yang sedang bergosip jika Danny membawa mantan istrinya. Tentu saja ia tahu betul siapa mantan istri Danny tersebut.
Begitu sampai di depan ruangan Danny, Tania malah semakin dibuat geram. Lantaran pintu ruangan Danny yang tak bisa dibuka. Biasanya ia tak perlu meminta ijin ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia bebas keluar masuk ruangan Danny sesuka hatinya. Tetapi kali ini, Danny malah sengaja mengunci pintu ruangannya.
“Cepat, ketuk pintunya untukku! Kamu tahu siapa aku bukan? CEPAT!” titah Tania memberikan penekanan dengan wajah penuh amarah.
Melly ragu-ragu, antara takut juga was-was. Ia takut karirnya akan jadi taruhan jika sampai Danny marah. Namun Tania jauh lebih menakutkan. Melihat ekspresi wajah Tania saja Melly jadi merinding.
....
“Please, jangan tinggalkan aku lagi Sara. Aku benar-benar butuh kamu di sisiku,” ucap Danny setengah berbisik, menaruh dagunya di pundak Sara.
Dengan mempererat pelukan, Danny berharap Sara pun bisa merasakan getaran yang sama seperti yang ia rasakan saat ini. Ia berharap Sara memahami sedalam apa perasaannya.
Sementara Danny tak ingin melepas dekapannya, di luar sana suara ketukan pintu terdengar berkali-kali. Disertai suara Melly yang memanggil-manggil nama Danny.
Namun Danny tak mempedulikan hal itu. Yang lebih ia pedulikan adalah hubungannya dengan Sara. Hampir saja ia berhasil merebut Sara kembali ke dekapannya jika saja suara pekikan Tania tak terdengar mengganggu.
__ADS_1
“Danny, tolong lepaskan aku. Aku harus pergi. Calon suamiku sedang menungguku.” Padahal Danny sudah memberitahu kebenaran kepadanya jika perceraian mereka hanyalah rekayasa, tapi Sara masih juga tak mempercayainya dengan mudah.
Mendengar kalimat Sara itu Danny pun akhirnya melepaskan pelukannya. Memegangi pundak Sara, Danny kemudian memutar tubuh Sara pelan-pelan untuk berhadapan dengannya.
“Kamu perlu bukti yang seperti apa lagi, Sara. Aku ini masih suamimu. Please, aku minta sama kamu, pulanglah ke rumah bersamaku. Berikan alamat kamu, dan aku akan menjemput kamu. Atau kita ke sana sama-sama.”
“Kamu bilang akta cerai kita palsu, kenapa tidak kamu rubah menjadi asli saja? Gampang kan? Lagian untuk apa aku pulang ke rumahmu. Bukannya kalian sudah mengusirku?” Sara masih sakit hati jika teringat kejadian hari itu, hari dimana Mayang mengusirnya dari rumah dan memintanya menceraikan Danny. Sampai detik ini pun Sara masih tak mengerti dan bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Mayang membencinya.
Danny menggeleng. Di raut wajahnya tersirat penyesalan yang teramat dalam. Ia tak tahu apa yang telah terjadi kepadanya juga kepada Sara selama ia dalam keadaan koma. Tapi satu yang pasti yang ia sadari ketika ia terbangun dari koma itu, yakni perasaannya terhadap Sara.
Perasaan yang dahulu sering ia pungkiri itu ternyata adalah cinta. Ketergantungannya kepada Sara, lambat laun menumbuhkan cinta di hatinya. Namun ia tidak menyadari dan tertutup oleh egonya yang tinggi. Sehingga ketika Tania hadir dalam hidupnya, ia lantas mengartikan ketertarikannya kepada Tania yang hanya dilandaskan rasa penasaran saja, cepat ia artikan sebagai cinta.
Padahal, yang sesungguhnya terjadi, Tania hanyalah pelariannya saja. Demi untuk menepis perasaan yang sering datang mengganggunya. Tania dijadikannya alasan untuk menutupi perasaannya kepada Sara. Yang pada akhirnya, tanpa ia sadari, ia telah membohongi dirinya sendiri selama bertahun-tahun.
“Jadi, mari kita wujudkan perceraian kita menjadi kenyataan. Sekarang giliranku yang akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan,” sambung Sara. Kemudian cepat ia memutar tubuhnya serta membawa langkahnya tergesa menuju pintu. Tangan kanannya telah terulur hendak meraih handel pintu itu. Namun urung lantaran Danny mencegahnya.
Perlakuan Danny yang seperti itu membuat Sara terkejut. Wajah Danny yang terlalu berada dekat dengan wajahnya itu pun membuatnya harus menahan napasnya kuat. Danny benar-benar telah berubah, baik dari sikap, perkataan, bahkan perlakuannya. Dahulu Danny tak pernah mau peduli dengan perasaannya. Tetapi kini ia sungguh melihat Danny yang berbeda.
“Aku tahu kamu tidak serius, Sara. Aku bisa melihat itu dengan jelas dari matamu,” ujar Danny dengan napas yang memburu.
Sara mengulum senyuman sinisnya. Padahal baru beberapa saat lalu ia dibuat terhanyut oleh sentuhan lembut Danny. Bahkan pertahannya hampir saja jebol. Dan kini ia memungkiri kembali kata hatinya. Meski berkali-kali Danny menyakitinya, ia takkan pernah bisa membenci pria itu.
“Kamu masih mencintaiku,” sambung Danny menegaskan. Sebab ia sangat yakin jika Sara masih mencintainya. Hatinya bahkan bisa merasakan itu.
Sara menggeleng pelan. “Tidak!”
“Kamu bohong. Aku tahu kamu bohong, Sara. Tolong jujurlah padaku. Jangan bohongi dirimu sediri, Sara. Aku tahu kamu masih mencintaiku.” Sembari membawa kedua tangannya menyentuh wajah Sara, Danny semakin menggebu. Raut wajah Sara teramat jelas menunjukkan sesuatu yang berbanding terbalik dengan perasaannya saat ini. Walau tidak sepenuhnya benar, namun hatinya sangat yakin Sara masih memiliki perasaan yang sama.
__ADS_1
Sara masih saja menggeleng. Namun kali ini matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu salah. Aku tidak mencintai kamu. Aku bahkan sangat membencimu. Aku benci kamu, Danny. Aku benci.”
“Baik. Tolong katakan itu sekali lagi. Aku ingin mendengarnya. Kalau memang benar kamu membenciku, aku janji aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku janji aku akan pergi dari hidupmu. Katakan, Sara. Katakan kamu membenciku.” Masih dengan napas yang memburu, Danny menatap lekat-lekat kedua mata Sara yang telah memerah dengan genangan air yang mulai mengkristal di pelupuk matanya itu.
“Aku benci kamu.”
“Sekali lagi.”
“Aku benci kamu, Danny.”
“Sekali lagi, Sara. Katakan itu sekali lagi.”
“Aku_” Sara tak sanggup lagi mengutarakan kalimat itu. Lidahnya terasa kelu, dadanya terasa sesak. Dan kini ia malah terisak menahan tangisnya.
“Katakan Sara. Yakinkan aku kalau kamu membenciku. Setelah ini, aku janji aku akan pergi jauh dari hidupmu. Dan aku tidak akan pernah kembali lagi. Aku akan merelakan kamu bahagia bersama orang lain. Ayo, Sara ... Katakan.” Danny terus mendesak Sara. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Tumbuh bersama sejak kecil, sedikit banyak Danny mengenal Sara dengan baik. Sara bukan orang yang pandai berbohong. Jika ia terus mendesak Sara seperti ini, dengan sendirinya Sara akan berkata jujur.
“Aku ... Aku ...” Sara semakin terisak. Tak sanggup lagi ia membohongi perasaannya.
“Aku mencintaimu, Danny. Aku mencintaimu.”
Dan siapa sangka, Danny benar. Danny pun tersenyum puas. Lalu cepat melabuhkan kecupan manis di bibir Sara. Menyesapnya penuh kelembutan, dengan rasa yang syahdu.
Sara pun tak tinggal diam. Dirangkulnya pinggang Danny, juga membalas kecupan Danny dengan sama lembutnya. Mencurahkan segenap rasa di jiwanya yang sekian lama terpendam hingga ia dirundung rindu yang mendalam.
Keduanya telah tenggelam semakin dalam ke dalam buaian asmara. Saling mencumbu penuh kasih. Sampai akhirnya cumbuan itu pun harus terhenti ketika terdengar suara melengking Mayang dari balik pintu ruangan itu.
“Danny, buka pintunya!”
__ADS_1
*