
Memeluk Rindu
Bab. 35
“Danny, buka pintunya!”
Suara pekikan Mayang itu terdengar bersamaan dengan pintu yang digedor-gedor. Dhanny dan Sara yang berada dekat dengan pintu itu pun otomatis menghentikan aktifitas mereka yang mulai memanas itu.
Bersikap santai, Danny lekas mengayunkan langkahnya menuju ruang rahasia. Menyambar kemeja yang teronggok mengenaskan di lantai, ia segera mengenakan kembali kemeja itu. Kemudian menghampiri Sara dan tak lupa menutup kembali ruang rahasia itu.
Berbeda dengan Sara. Sara justru terlihat panik. Apalagi Mayang tak henti-hentinya memanggil Danny. Meminta Danny membuka pintu itu.
“Danny. Cepat buka pintunya. Mama tahu kamu ada di dalam. Dan Mama juga tahu kamu bersama siapa sekarang. Cepat buka pintunya atau Mama akan meminta satpam untuk mendobrak pintunya.”
Sara semakin panik. Pasalnya Mayang terdengar tak sabaran dengan amarah yang meletup-letup. Meski kini Danny menggenggam jemarinya erat, tetap saja ia tak bisa untuk tak mencemaskan keadaan. Sebab sewaktu-waktu Mayang bisa menjelma menjadi singa betina kelaparan yang siap menyerang kapan pun.
“Sara, aku tahu Mama sudah menyakiti kamu. Selama aku koma, aku bahkan tidak tahu apa yang sudah kamu lalui. Tapi, Sara ... apapun yang terjadi, mulai sekarang aku akan selalu bersamamu,” kata Danny memberi keyakinan kepada Sara, sembari mengeratkan genggaman.
“Tapi, Danny ...”
“Sara, kamu itu masih istriku. Kamu adalah tanggung jawabku. Aku tidak peduli seberapa kerasnya mama menentang kita, aku akan tetap mempertahankan hubungan kita. Aku tidak mau mengecewakan almarhum papa. Aku sudah berjanji di depan papa untuk menjaga kamu sepenuh jiwaku.”
“Tapi, Danny. Ini tidak akan mudah seperti yang kamu bayangkan. Tante Mayang sangat membenciku. Bukan hanya sekarang, tapi sejak dulu, sejak aku kecil. Aku sangat tahu, Tante Mayang hanya terpaksa menyetujui perjodohan kita karena paman yang meminta. Tolonglah Danny, aku tidak mau kamu bertengkar dengan Tante Mayang gara-gara aku. Biarkan saja aku pergi.” Bertahun-tahun lamanya Sara merasakan sebah di dada sejak Jayadi mengadopsinya, membawanya tinggal bersama keluarganya. Padahal, sama seperti anak-anak lainnya, walaupun Jayadi dan Mayang bukan orang tua kandungnya, tetap saja ia mendambakan kasih sayang orang tua. Ia butuh kasih dan sayang dari Jayadi dan juga Mayang.
Namun entah kesalahan apa yang ia perbuat, sehingga Mayang sangat membencinya. Mayang tak pernah bersikap hangat dan penuh kasih kepadanya. Sikap Mayang kepadanya selalu dingin dan tak bersahabat. Beruntung ketika itu masih ada Jayadi. Sehingga ia masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Hari-hari yang dilaluinya pun menjadi berwarna ketika ia mulai memiliki perasaan kepada Danny. Sosok Danny adalah penyemangat juga sebagai penghiburan bagi dirinya yang sebatang kara. Yang terkadang dirundung lara akibat kerinduan yang tak bertepi akan sosok kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sejak kecil hingga dewasa, ia hanya bisa memeluk rindunya erat. Rindu yang tak kan pernah bermuara. Danny hadir dalam hidupnya, mengisi hari-harinya yang sepi dan hampa.
Menjadi bayangan Danny, selalu berada di dekat Danny sebagai pesuruhnya sudah merupakan suatu kebahagiaan tersendiri baginya. Meski kelihatannya seperti pembantu pribadi Danny, ia pun tak mengapa. Asalkan bisa selalu berada dekat dengan Danny, ia rela.
“Sara, tolong jangan rusak kebahagiaanku hari ini,” pinta Danny, menatap Sara dengan tatapan berbeda.
Namun jika ditanya, sesungguhnya Sara tak ingin berhadapan dengan Mayang. Bertemu muka dengan Mayang sama seperti menyiramkan air garam ke dalam luka yang masih menganga. Tapi meski begitu, tak hilang rasa terima kasihnya kepada wanita yang telah merawatnya sedari kecil itu. Walau merawatnya tak sepenuh hati. Setidaknya Mayang masih berbaik hati memberinya tempat untuk berteduh.
“Danny, buka pintunya Danny. Kalau kamu tidak mau membukanya, Mama dobrak sekarang.” Suara Mayang terdengar mengancam.
Sara pun menahan napasnya kuat dengan hati berdebar tak menentu ketika Danny membuka pintu itu. Begitu pintu terbuka, tampaklah Mayang dan Tania berdiri di depan pintu itu dengan raut wajah yang sulit dijabarkan. Karena ada perasaan yang campur aduk, yang tengah berkecamuk di balik raut wajah itu.
Sedangkan Melly, bergegas menjauh ketika Danny menggulir tatapan kepadanya. Dari sorot mata Danny, Melly sudah mengerti dengan keinginan Danny.
“Jadi ini alasannya kenapa kamu mengunci pintunya?” Tania berang, menghampiri dengan wajah geramnya.
“Ternyata benar, ****** ini sedang berusaha merayu kekasih orang,” sambung Tania dengan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun.
“Jaga bicaramu, Tania. Sara ini adalah istriku,” kata Danny berusaha melindungi Sara. Tak terima wanita terkasihnya dikatai ******.
“Mantan istri. Apa kamu sudah lupa dengan itu, Danny.”
“Aku tidak pernah lupa, Tania. Tapi sayangnya, aku dan Sara masih suami istri.”
“Masih suami istri? Apa maksud kamu?” Tania semakin berang diantara kebingungannya. Terlebih lagi ketika menurunkan pandangan dan melihat tangan Danny yang menggenggam jemari Sara itu membuat amarahnya semakin menjadi.
“Apa-apaan ini? Lepas.” Tania menarik tangan Danny yang menggenggam jemari Sara itu dengan kuat. Tapi sayangnya masih kalah kuat. Jemari Sara tak mudah terlepas dari genggaman Danny.
__ADS_1
“Danny, lepaskan Sara.” Mayang datang mendekat. Pun tak kalah berangnya dengan Tania. Tatapannya menusuk tajam penuh kebencian terhadap Sara.
“Dia ini istriku, Ma. Kenapa aku harus melepaskannya? Sara akan ikut pulang bersamaku. Sara akan tinggal bersamaku lagi,” kata Danny.
“Danny, dengarkan Mama. Lepaskan Sara sekarang!” Mayang menghardik. Ditatapnya geram jemari Sara dan Danny yang saling menggenggam itu. Tak tahan melihatnya, ia pun meraihnya, melepas secara paksa kedua tangan yang saling menggenggam itu.
“Mama!” bentak Danny sampai Mayang terlonjak kaget.
“Kamu berani membentak Mama, Danny? Hanya karena perempuan ini kamu sudah berani membentak Mama?” Raut wajah Mayang terlihat kecewa menerima perlakuan sang putra.
“Sara istriku, Ma. Sudah kewajibanku melindungi istriku.” Jika dahulu Danny diam saja ketika Sara diperlakukan buruk, bahkan Danny harus membutuhkan bantuan Mayang untuk menjauhkan Sara dari hidupnya, namun kini semua berubah. Ia akan berada di garda terdepan untuk menjaga dan melindungi Sara. Menyesalnya, mengapa tidak sejak dahulu ia melakukan hal ini. Andai saja ia mengambil sikap yang sama sejak dahulu, mungkin hubungannya dengan Sara tidak akan seperti sekarang ini.
“Dari dulu Mama tidak pernah setuju sewaktu Papa kamu menjodohkan kalian. Kamu tahu kenapa? Karena dia ini anak dari orang yang paling Mama benci.” Mayang meninggikan nada suaranya pada kalimat terakhir. Membuat Sara terkejut seketika.
Seolah dunia Sara berhenti berputar sejenak ketika kalimat itu terlontar dari mulut Mayang. Pantas saja selama ini Mayang membencinya. Rupa-rupanya ada sebuah kisah masa lalu yang tidak diketahuinya.
Sama halnya dengan Sara, Danny pun terkejut mendengarnya. Terkecuali Tania. Karena seperti apapun kisah mereka, baik itu masa lalu dan masa sekarang, Tania tak peduli. Yang Tania pedulikan adalah Danny harus menjadi miliknya. Telah lama Tania bersabar, menunggu Danny jatuh ke tangannya. Setelah kesempatan terbuka lebar, sebuah aral baru pun telah melintang menghalangi jalannya tanpa terduga.
“Orang yang paling Mama benci? Bukannya Sara diadopsi Papa dari panti asuhan?” Danny bertanya dengan raut wajah menelisik curiga. Mungkinkah ada sebuah rahasia yang sedang disembunyikan Mayang selama ini?
Mayang salah tingkah. Seperti baru menyadari perkataannya barusan.
“Apa ini alasannya kenapa Tante membenciku selama ini?” tanya Sara. Kesedihan pun mulai merundungnya.
“Andai kamu bukan anak Julia. Mungkin Tante tidak akan membencimu.” Membuang muka, Mayang kemudian beranjak pergi. Namun ia menghentikan langkahnya sejenak diambang pintu.
“Ini untuk terakhir kalinya Mama peringatkan sama kamu, Danny. Ceraikan Sara atau kamu akan kehilangan Mama untuk selamanya,” ujar Mayang sebelum akhirnya mengayunkan kakinya tergesa meninggalkan tempat itu dengan ancaman.
__ADS_1
*