
Memeluk Rindu
Bab. 41
Melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung lancipnya, membingkai pahatan wajahnya yang rupawan, Danny memandangi sebuah gedung dua lantai yang bertuliskan Kantor Pengacara Hilman Hadiwijaya.
Pagi ini, ketika ia masuk ke dalam mobilnya, tanpa sengaja ia menemukan sebuah kartu nama milik Hilman. Yang mungkin saja sengaja ditinggalkan Hilman. Sebab samar-samar ia masih ingat saat ia dalam keadaan mabuk, Hilman menawarinya bertemu di lain hari ketika ia sudah dalam keadaan yang lebih baik.
Danny tak berpikir, bahkan tak punya niatan untuk bertemu Hilman pagi ini. Akan tetapi, ucapan Hilman di malam itu masih terngiang di telinganya. Yang mengusik rasa penasarannya dengan sengaja.
“Mohon tunggu sebentar, ya, Pak. Pak Hilman sedang ada tamu sebetulnya. Karena Anda tidak membuat janji sebelumnya, jadi Anda di mohon untuk menunggu sebentar.” Seorang wanita di bagian resepsionis berkata ketika Danny meminta ijin untuk bertemu Hilman.
Danny mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya di meja resepsionis. Ia terlihat seperti tak bisa menunggu.
“Bisakah kamu beritahu beliau, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya.” Danny memaksa, meminta bertemu Hilman saat itu juga.
“Mohon maaf sekali, Pak. Pak Hilman sedang ada tamu. Anda silahkan menunggu di tempat yang sudah disediakan. Silahkan.” Resepsionis berkata sambil membuka telapak tangan kanannya dengan sopan ke arah kursi tamu.
Danny pun terlihat kesal, hanya bisa mengumpat dalam hatinya. Ia mengira bisa semudah itu ia menemui Hilman tanpa harus membuat janji terlebih dahulu. Betapa bodohnya ia, mengapa pula ia tak sempat memikirkan hal itu.
Tak ingin berdebat dengan resepsionis itu, Danny pun memilih menunggu sebentar di kursi tamu yang sudah tersedia. Sembari menunggu, ia membuka ponsel, berselancar sejenak di dunia maya. Membaca berita online sepertinya menjadi sebuah pilihan yang menarik baginya. Lumayan untuk mengusir rasa bosa disaat menunggu giliran.
....
Sementara di lain tempat. Masih di pagi yang sama.
“Silahkan pergi dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini.”
“Oma menyesal pernah kenal sama dia.”
“Oma sangat kecewa. Oma pikir dia adalah perempuan baik-baik. Tapi ternyata Oma salah.”
__ADS_1
“Padahal, Oma sudah menganggap dia seperti cucu Oma sendiri. Tapi kenapa, Oma malah dikecewakan seperti ini. Oma tidak meminta banyak, Oma hanya ingin melihat cucu-cucu Oma hidup bahagia.”
“Dengan dia pergi dari rumah ini, itu berarti bahwa dia sudah tidak menganggap kita keluarganya lagi. Baiklah, kalau begitu, Oma juga akan menganggap tidak pernah kenal dia.”
“Silahkan pergi.”
Kalimat-kalimat itu terucap lantang dari lisan Oma Widya. Dan masih terngiang jelas di telinga Sara, mengiringi kepergiannya. Sambil menggeret koper, Sara menyeret langkahnya lesu menyusuri trotoar jalanan. Ia tak tahu harus pergi ke mana sekarang ini. Ia tak punya teman, sahabat, ataupun kerabat dekat untuk dimintai pertolongan. Ia sebatang kara di dunia ini.
Hati Sara teriris ketika bayang-bayang Oma Widya terbayang di pelupuk mata. Ia merasa sedih kala teringat Oma Widya menolak permintaan maafnya. Oma Widya tak mau menyentuhnya, bahkan tak mau melihat wajahnya.
Arga telah berulang kali berkata, jika dia bersedia menunda pernikahan sampai Sara dan Danny benar-benar resmi bercerai. Asalkan Sara serius untuk berpisah dari Danny, Arga akan bersabar menunggu. Tapi Sara menolak. Dengan alasan tak ingin menyusahkan Arga.
Sekarang, entah apa yang harus Sara lakukan. Tak ada satu pun tempat di dunia ini yang bisa ia tuju. Entah ke mana langkah kakinya akan membawanya. Sementara mentari di atas sana mulai terik.
....
“Ini sudah lebih dari satu jam aku menunggu. Tolong katakan pada atasan kamu, aku Danny, ingin bertemu dengannya sekarang. Jika tidak, aku akan menerobos masuk.” Danny benar-benar tersulut emosi ketika sudah sejam lebih ia menunggu, tapi tak kunjung jua diperkenankan bertemu dengan Hilman. Bagaimana ia tak marah, sedangkan ini adalah rekor terlama ia bisa bersabar menunggu.
“Silahkan, Pak. Pak Hilman sedang menunggu Anda. Ruangan Pak Hilman ada di lantai dua. Anda tinggal belok kanan, nah, ruangan Pak Hilman yang paling ujung.” Dengan wajah takut si resepsionis itu mempersilahkan setelah menutup teleponnya.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Danny pun segera pergi ke lantai dua. Gedung itu tidak terlalu luas, sehingga dengan mudah ia bisa menemukan ruangan Hilman Hadiwijaya. Si pengacara kepercayaan mendiang Jayadi, yang telah dipecat Mayang tanpa ia tahu apa sebabnya.
“Danny.” Hilman menyapa, sedikit terkejut melihat kedatangan Danny ke ruangannya. Hilman bangun dari duduknya.
“Silahkan. Maaf sudah membuatmu menunggu,” kata Hilman.
Membuang napasnya kasar, menatap kesal wajah Hilman, Danny membuka dua kancing teratas kemejanya, kemudian menggulung lengan kemejanya sampai batas siku. Sebagai pertanda jika kesabarannya telah habis ketika sedang menunggu. Ia dibuat kesal luar biasa ketika kedatangannya seolah diabaikan.
Hilman tersenyum begitu Danny melangkah masuk, lantas mengambil duduk di depan mejanya.
“Kamu masih sama seperti dulu,” sambung Hilman sembari mendudukkan diri di kursi kerjanya. Hilman masih hafal betul tabiat Danny. Yang suka tak sabaran, bahkan gampang tersulit emosi. Kedua sifat yang sangat bertolak belakang dengan mendiang Jayadi. Bisa dikata, Danny sama sekali tak mirip dengan beliau. Kedua sifat Danny itu lebih mirip dengan Mayang.
__ADS_1
Memangku satu kakinya, Danny kemudian menyandarkan punggung. Ditatapnya tajam Hilman yang tengah tersenyum-senyum melihatnya. Tatapannya pun kemudian memicing, menelisik tajam raut wajah Hilman. Yang tersenyum seolah meremehkannya.
“Siapa sebenarnya Sara,” kata Danny memaku tatapannya pada kedua mata Hilman. Sorot matanya menuntut jawaban segera.
“Kamu ingin tahu siapa sebenarnya Sara?” Bersikap santai, Hilman pun menyandarkan punggungnya.
“Dia adik kandungku atau bukan.”
“Menurut kamu?” Hilman malah menantang Danny. Seolah dia mengajak Danny untuk berpikir dan menggali memorinya tentang masa lalu.
Kening Danny berkerut. Ia mencoba menelaah semua dari sisi yang berbeda. Jika benar Sara adalah adik kandungnya, lantas mengapa mendiang ayahnya malah menjodohkan mereka berdua. Lagipula mana mungkin pernikahan sedarah dibenarkan di dunia. Bahkan di belahan dunia mana pun, pernikahan sedarah sangat ditentang oleh hukum dan agama.
“Apa kamu tidak pernah berpikir kenapa Tuan Jayadi sangat sayang kepada Sara. Bahkan menjadikan Sara sebagai ahli warisnya sebelum beliau meninggal. Aku rasa kamu sudah bisa menebaknya,” kata Hilman mencoba membuka pikiran Danny. Selama ini Danny termakan omongan Mayang, ibunya sendiri.
“Kalau Sara bukan adik kandungku, lalu siapa dia sebenarnya? Kenapa ayahku membawanya ke rumah sewaktu dia masih kecil. Kenapa ayahku tidak membiarkan dia hidup di panti asuhan saja.”
“Ibumu tidak pernah mengatakannya padamu?”
Kening Danny semakin berkerut. Di kepalanya semakin dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan. Benarkah Sara adalah putri dari selingkuhan ayahnya?
“Apa yang kalian miliki saat ini, yang kalian ambil dari Sara, itu adalah memang hak Sara. Sebagai putri kandung dari Tuan Jayadi. Tuan Jayadi tidak memiliki keturunan lain selain Sara. Jadi, Hotel Venus, dan semua aset yang ditinggalkan Tuan Jayadi itu adalah milik Sara. Termasuk rumah yang kalian tempati saat ini.”
Rasa penasaran Danny tergugah. Penjelasan Hilman terdengar ambigu. Jika Sara benar adalah putri kandung Jayadi, lalu siapa dirinya?
“Tidak memiliki keturunan lain selain Sara? Apa maksud Anda?” Danny mulai tegang. Sungguh ia dibuat sangat penasaran. Memori-memori masa lalu pun mulai berkelebatan di kepalanya. Ia teringat bagaimana ayahnya menyayangi Sara sewaktu kecil. Tidak ada yang terlihat aneh di matanya saat itu. Hanya terlihat seperti ayahnya tengah mengasihani seorang anak yatim piatu. Tidak lebih.
“Rupanya kamu masih belum paham, Nak Danny.” Hilman kembali tersenyum. Ia merapikan dasi, lalu berdehem sebentar. Sebelum melanjutkan kembali penjelasannya.
“Danny, kamu bukan anak kandung Tuan Jayadi.”
Danny terdiam. Keterkejutannya membuatnya syok, sampai tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
*