Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 19


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 19


“Ayo, sana.” Oma Widya mendorong Arga pelan, memintanya untuk menghampiri Sara yang tengah membantu Darmi menyiapkan makan malam.


Arga ragu-ragu, masih belum berani menghampiri. Apalagi kalau harus mengajak Sara mengobrol berdua. Jujur saja ia belum mempunyai topik yang bisa dijadikan bahan obrolan.


“Ayo, sana, Arga. Masa yang begini saja harus Oma yang turun tangan.” Oma terus mendesak Arga. Sebab menurutnya segala sesuatunya harus jelas. Sebelum ke jenjang yang lebih serius, setidaknya Arga dan Sara benar-benar sudah saling mengenal. Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.


Arga menggaruk kepala. “Tapi, Oma.” Ia masih saja ragu. Ia bukan perayu ulung, yang selalu punya topik menarik untuk dibahas. Alih-alih berbincang, ujung-ujungnya malah merayu. Ia adalah tipe yang realistis, apa adanya, tidak pandai merayu, suka mengikuti kata hati, namun juga pencemburu. Itu pun jika ia telah benar-benar melabuhkan hati pada pilihannya.


“Ah, payah kamu.” Oma mengibaskan tangan, kemudian melangkah menghampiri Sara yang tengah sibuk di dapur.


“Kamu masak apa, Sara? Baunya enak sekali,” ujar Oma memuji. Sembari menghidu aroma kari yang sedang di aduk Sara.


“Kari ayam, Oma. Kata Bi Darmi, Oma paling suka kari.”


“Iya, tapi kamu tidak perlu serepot ini. Kan ada Darmi. Kenapa kamu harus capek-capek.”


“Tidak apa-apa, Oma. Aku senang kok bisa membuatkan sesuatu untuk Oma. Anggap saja ini sebagai ungkapan terima kasihku pada Oma.”


“Ya sudah. Sekarang, kamu tinggalkan saja ini. Biar Darmi yang melanjutkan. Kamu ikut Oma dulu sebentar. Ayo.” Meraih pergelangan Sara, Oma lantas mengajak Sara ke halaman belakang, dekat kolam renang. Di mana Arga sedang menunggu, duduk seorang diri sambil memaku pandangan pada kolam renang.


“Oma, maaf, ada sesuatu yang harus aku ceritakan ke Oma. Aku belum pernah menceritakan ini sebelumnya. Aku rasa mungkin sudah seharusnya Oma tahu tentang diriku,” ujar Sara ketika Oma Widya menghentikan langkah di tempat di mana Arga sedang duduk.


Hati kecil Sara berkata jika Arga mungkin sudah menceritakan perihal tentang kebenaran dirinya pada Oma Widya. Dan mungkin saja Oma marah ketika tahu tentang dirinya yang sebenarnya.


“Bukannya aku bermaksud menutup-nutupi, Oma. Hanya saja aku_”


“Oma sudah tahu. Arga sudah cerita ke Oma. Kamu mau tahu apa tanggapan Oma tentang masa lalu kamu?” Oma menyela ucapan Sara, meninggikan kedua alis demi meyakinkan Sara. Agar Sara tidak merasa risih dan merasa bersalah karena menyembunyikan statusnya yang seorang janda.


“Bagi Oma, siapapun kamu, seperti apapun masa lalu kamu, sedikitpun tidak akan mempengaruhi penilaian Oma terhadap kamu. Setiap orang memiliki masa lalu, Sara. Tidak terkecuali kamu,” sambung Oma Widya. Kemudian meraih jemari Sara ke dalam genggamannya.

__ADS_1


Sementara Arga bangun dari duduknya. Menyimpan kedua tangan ke dalam saku, sambil menatap Sara. Memperhatikan wajah bersalah Sara, yang terlihat sedikit memprihatinkan.


“Kamu tahu kenapa Oma membawamu kemari?” tanya Oma Widya sembari mengulum senyum.


Sara pun menggeleng pelan.


“Sebenarnya Arga ingin bicara sama kamu. Tapi dia terlalu malu memanggil kamu ke sini.”


Arga pun salah tingkah seketika begitu Sara beralih menatapnya. Yang otomatis mempertemukan tatapan keduanya tanpa sengaja. Mengusap tengkuknya, membasahi bibir, Arga lantas tersenyum. Membenarkan apa yang dikatakan Oma Widya.


“Kamu ini.” Oma menepuk lengan Arga gemas.


“Lain kali usaha sendiri dong,” sambungnya tertawa kecil.


“Ya sudah. Oma tinggal dulu ya? Tapi jangan lupa, ngobrolnya jangan lama. Sebentar lagi kita makan malam. Seumpama masih ada yang kalian bicarakan, nanti dilanjut lagi setelah makan malam. Ya? Oma ke dalam dulu.” Sembari menggeleng, Oma kemudian bergegas kembali ke dalam rumah. Menyisakan Arga dan Sara dalam kecanggungan.


“Ehem, ehem.” Arga berdehem sebentar, mengusir canggung yang membuat suasana terasa kaku. Sebelumnya Oma terus saja mendesaknya, meyakinkannya untuk tidak memandang status yang melekat dalam diri Sara. Karena yang terpenting adalah kepribadian Sara sendiri.


“Silahkan duduk,” kata Arga, sembari mengambil duduk lebih dahulu. Ya g kemudian disusul oleh Sara. Mendudukkan diri di kursi sebelahnya.


“Maaf aku cerita tentang kamu ke Oma. Kamu mungkin tidak ingin Oma tahu tentang_”


“Tidak apa-apa. Memang seharusnya Oma tahu tentang diriku.” Sara menyela. Membuat Arga mengangguk paham.


Arga menghela napasnya panjang, lantas menghembuskannya perlahan demi menumbuhkan keberanian dalam dirinya. Tak mau munafik, terlepas dari gelar yang disandang Sara saat ini, sejujurnya masih tak mengurungkan niatnya untuk mengenal Sara lebih dekat lagi.


Kepribadian Sara yang terkesan sedikit tertutup itu membuat Arga penasaran. Terkadang bila diperhatikan, Sara seperti sedang menyembunyikan kesedihannya dibalik senyuman yang selalu ditampakkannya. Jangankan kepadanya, bahkan kepada Oma saja, Sara jarang menceritakan kesedihannya itu.


Mungkinkan ada hal lain yang sedang disembunyikan Sara?


“Oh ya, tentang pertanyaanku yang tadi. Sebenarnya aku masih mengharapkan jawabanmu,” ujar Arga.


“Apa kamu tidak malu dengan_”

__ADS_1


“Untuk apa malu. Aku tidak keberatan dengan status kamu. Seperti kata Oma, setiap orang punya masa lalu.” Arga menyela cepat ucapan Sara. Seolah ia telah yakin dengan keputusannya sendiri.


Sara yang mendengarnya pun terkejut. Lalu menoleh, menatap Arga yang justru mengurai senyuman. Sara hanya tak mengerti, entah hal apa yang mendorong Oma Widya menjodoh-jodohkannya dengan Arga. Entah hal apa pula yang membuat Arga tek melihat kekurangan dalam dirinya. Sungguh ia hanya merasa tak pantas saja menjalin kedekatan dengan lelaki seperti Arga.


....


Menghempaskan pantat di tepian tempat tidur, Sara terbayang-bayang kembali obrolannya dengan Arga beberapa saat lalu sebelum mereka beranjak untuk makan malam.


Ia hanya kurang meyakini saja dengan kesungguhan Arga. Tak ingin menutup-nutupi Sara pun akhirnya menceritakan masa lalunya kepada Arga. Bagaimana ia dan Danny menikah, sampai keadaan memisahkan mereka.


Arga terlihat memaklumi saat itu. Namun tak lantas memberinya kepercayaan diri. Pasalnya, mana mungkin lelaki seperti Arga ini tertarik kepadanya. Yang memiliki banyak kekurangan dari sisi manapun.


Menceritakan masa lalunya kepada Arga, membuatnya justru teringat kepada Danny. Ia sungguh merindukan pria itu. Ia rindu manjanya, bawelnya, keusilannya, betapa ia rindu repotnya meladeni segala keinginan Danny.


Namun hatinya seperti tertusuk duri ketika teringat apa yang telah dilakukan Danny kepadanya. Kebencian Danny membuatnya harus mengubur dalam-dalam kerinduan itu.


Menghembuskan napasnya panjang, ia hendak merebahkan diri di tempat tidur itu saat tiba-tiba ponselnya berdering. Urung berbaring, ia lantas meraih ponsel di nakas. Menggeser tombol hijau, ia kemudian berkata.


“Ada apa, Bi? Kenapa Bibi menghubungiku malam-malam begini?”


“Emm ... Non ... Maaf kalau Bibi mengganggu. Bibi cuma mau bertanya.” Bi Minah berkata di ujung telepon.


“Nanya apa Bi?”


“Bibi boleh ya ketemu Non Sara sebentar saja. Ada yang mau Bibi omongin.”


“Tapi ini sudah malam, Bi. Kalau memang ada yang ingin Bibi bicarakan denganku, bicara saja sekarang Bi. Aku akan mendengarkan.”


“Tidak bisa, Non. Bibi ingin membicarakannya secara langsung Non. Bisa ya Non, kita ketemu?”


“Baiklah, Bi.”


Di lain tempat, di waktu yang sama.

__ADS_1


Danny mengulum senyuman tipis di seberang, ketika Bi Minah berhasil meminta Sara untuk bertemu. Ada kelegaan dalam dada, juga tak sabar menanti esok hari.


*


__ADS_2