Memeluk Rindu

Memeluk Rindu
MR Bab. 13


__ADS_3

Memeluk Rindu


Bab. 13


Merasa tak nyaman mendengarkan Tania yang terus mengoceh sejak tiba dan mendaratkan pantat di salah satu tempat duduk berskala VIP di One Taste Food and Resto ini.


Dahulu, Danny nyaman-nyaman saja mendengar kecerewetan Tania. Bahkan di matanya gadis itu menggemaskan dengan tingkah manjanya. Tetapi kini, jangankan Tania bermanja. Bahkan bersama Tania walau hanya sebentar saja ia sudah tak betah.


Merasa pusing, ia pun beranjak ke toilet. Pikirannya bercabang-cabang, entah ke mana, sampai ia tak memperhatikan jalan. Alhasil, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toilet wanita.


“Maaf, maafkan saya, Pak,” Seorang gadis cantik dalam balutan dress putih yang ia tabrak itu meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangan. Dengan memasang wajah memelasnya.


“Maaf katamu? Matamu kamu taruh di mana? Seenaknya saja ka_” namun kalimatnya terhenti ketika menatap wajah gadis itu.


“Sara?” gumamnya mencoba mengenali gadis itu. Wajah gadis itu seperti tak asing di matanya.


“Sara?” Ia kembali memastikan, sebab gadis itu tak meresponnya sedikitpun.


“Maaf, Anda salah mengenali orang. Permisi.” Gadis itu gegas berbalik, hendak beranjak, namun terhenti ketika ia melontarkan kalimat yang mungkin membuat gadis itu terkejut.


“Sara, aku merindukanmu.”


Ayunan langkah gadis itu terhenti. Danny pun menghampiri.


“Aku tahu kamu Sara,” ujar Danny menatap lekat gadis itu. Yang ia yakini adalah Sara. Namun dalam penampilan berbeda. Cantik dan anggun. Bahkan ia sampai berdebar-debar begitu gadis itu mengangkat wajahnya yang tertunduk, lalu membalas tatapannya.


Gadis itu pun mengulum senyum tipisnya. Hanya setipis tisu, namun mampu membuat dada Danny serasa sesak, diberondong rindu yang teramat. Apalagi melihat penampilan Sara yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya, membuat Danny semakin berdebar-debar. Debaran itu berbarengan dengan aliran darahnya yang berdesir hebat, mengalir di seluruh nadinya.


“Sara?” Hampir saja ia menjatuhkan bulir-bulir air matanya, lantaran didera haru akan rindunya yang memenuhi ruang dadanya.


“Bagaimana kabarmu, Danny?” tanya Sara sembari mengulum senyuman. Dahulu, matanya kerap berbinar-binar ketika menatap Danny. Tetapi kini, binar-binar di matanya itu meredup seiring bergulirnya waktu.


“Aku ... Aku ...” Bohong bila ia berkata bahwa ia baik-baik saja. Karena pada kenyataannya ia tidak baik-baik saja. Terlebih dengan hatinya. Danny kebingungan, memilah kata yang hendak ingin diutarakan.


“Aku baik-baik saja. Ya, aku baik. Keadaanku baik.” Ia bahkan sampai salah tingkah dipandangi Sara. Padahal dahulu, dengan angkuhnya ia selalu menjatuhkan tatapan remehnya kepada Sara. Dan kini, ditatap Sara membuatnya salah tingkah juga berdebar-debar.

__ADS_1


Melihat penampilan Sara yang kini jauh berbeda itu diam-diam  menyusupkan perasaan berbeda ke dalam relung hatinya. Perasaan yang dahulu hampir tak ada. Perasaan itu kini hadir dalam jiwanya. Perasaan mendamba dan ingin memiliki.


Dahulu Sara adalah miliknya. Lalu salahkah jika kini ia ingin memiliki kembali apa yang pernah dimilikinya itu?


“Kamu ke sini bersama siapa? Tania?” tanya Sara kemudian.


“Iya, eh, bu-bukan. Bukan itu maksudku. Aku ke sini_” Danny bahkan sampai tergagap, saking gugupnya bertemu Sara. Gadis yang belakangan ini selalu memenuhi ruang pikirnya.


Sara mengulum senyumnya. Terlihat seolah tengah menguasai diri.


“Kamu pasti sedang bersama Tania.” Sara menundukkan wajahnya sembari menghela napas pelan. Ada perubahan di raut wajahnya yang sedang ia sembunyikan dari Danny.


“Aku memang ke sini bersama Tania. Tapi itu bukan atas keinginanku. Tania yang memaksaku datang ke sini.” Entah mengapa Danny tak ingin membuat Sara kecewa. Sehingga berbagai alasan ia lontarkan untuk membendung kekecewaan Sara. Ia hanya tak ingin Sara berpikiran buruk tentangnya saja.


“Memangnya kenapa kalau kalian datang atas keinginan kalian berdua? Wajar kan jika sepasang kekasih pergi makan malam berdua?” Sara mengangkat wajahnya, lalu mengembangkan senyumnya. Terlihat kaku, karena ada perasaan getir yang tengah ia redam.


“Bukan seperti itu, Sara. Kedatangan kami ke sini memang atas keinginan Tania.” Danny masih berusaha membela diri. Entah didasari oleh hal apa sehingga ia tak ingin terlihat buruk di mata Sara.


“Tapi kamu sekarang ada di sini. Kamu datang juga bukan karena terpaksa kan? Bagiku wajar jika kamu mengikuti keinginan Tania. Karena dia itu adalah_”


“Untuk apa?”


“Aku ingin bicara denganmu.”


“Bukankah sekarang kita sedang bicara?”


“Maksudku, mengobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Termasuk ... pernikahan kita.” Danny memelankan nada suaranya pada kalimat terakhir. Serasa ada malu ketika ia mengutarakan kalimat itu.


“Memangnya ada apa dengan pernikahan kita. Bukannya itu sudah berakhir? Apa lagi yang harus kita bicarakan. Sekarang kita berdua sudah menjalani kehidupan masing-masing. Memang kita dulu pernah saling mengenal. Tapi sekarang, kita berdua tidak lebih dari orang asing. Lagipula, bagiku, masa lalu tetap masa lalu. Seperti apa pun keadaan kita sekarang, itu tidak akan pernah bisa merubah masa lalu.”


Ada getir berbeda merasuk ke dalam relung dadanya. Perkataan Sara membuat goresan yang tak terlihat di hatinya. Danny hanya bisa menghela napasnya panjang.


“Sara, kamu ... Terlihat sangat berbeda,” ujar Danny.


Sara tak menggubris dengan kata. Ia cukup mengangkat kedua alisnya, kurang paham dengan maksud Danny.

__ADS_1


“Kamu ... Kamu sangat cantik, Sara.” Ah, ya ampun. Danny sampai berdebar-debar mengutarakan kalimat itu. Bahkan tanpa sadar senyumnya terkembang sempurna, sambil menghujani Sara dengan tatapan berbinar-binar. Harus ia akui, Sara sangat cantik malam ini. Menyesalnya, mengapa baru sekarang ia bisa melihat hal itu.


“Terima kasih.” Sara pun tersenyum, menatap lekat sepasang mata berbinar Danny yang juga menatapnya.


“Sara, aku serius meminta waktumu. Aku ingin sekali membahas tentang kita. Jujur, aku sangat terkejut saat tahu kalau ternyata kita sudah berpisah. Sampai sekarang aku mungkin belum bisa menerima kenyataan ini. Aku_”


“Sara ...”


Sayangnya kalimat Danny harus terhenti ketika terdengar suara seorang pria yang memanggil Sara. Danny pun sontak menoleh pada seorang pria berparas tampan yang datang menghampiri Sara.


Bukannya Danny tidak mengenal pria itu, namun wajah rupawan pria itu terlihat hampir di setiap sudut kota ini. Ia mungkin jarang sekali membuka akun sosial medianya. Tetapi wajah pria itu bisa ia temukan di papan-papan iklan di setipa sudut jalan. Siapa lagi kalau bukan chef muda yang tengah naik daun saat ini.


“Kamu lama sekali. Makanya aku menyusul kamu ke sini. Jangan salah paham dulu. Oma yang minta,” ujar Arga begitu menghentikan langkah di samping Sara.


“Chef?” gumam Sara.


Arga pun tersenyum. Kemudian mendekatkan wajahnya perlahan untuk berbisik di telinga Sara.


“Bisa tidak jangan memanggilku seperti itu. Panggil Arga saja.”


Sara tersenyum malu sembari mengangguk pelan. “Iya, Arga.”


“Oh ya, ayo, Oma sedang menunggumu.”


“Emm ...” Sara melirik Danny sejenak. Ada enggan ia rasakan untuk meninggalkan Danny. Namun ia pun tak ingin terlihat lemah di mata Danny.


“Sara, dia siapa?” Danny pun melontarkan tanya pada akhirnya. Selain penasaran akan hubungan Sara dengan chef itu, ada perasaan kecewa yang juga menyergap relung hatinya tiba-tiba.


Arga terhenyak, baru menyadari kehadiran Danny diantara mereka. Membenahi jaketnya, menyisir rambut dengan jemari, ia lantas mengangsurkan tangan kananya kepada Danny, hendak memperkenalkan diri.


“Ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya Arga, calon suami Sara.” Arga berkata selancar jalan tol, dengan penuh percaya diri. Tak hanya membuat Sara terkejut, Danny lebih terkejut lagi.


Danny bahkan sampai kehilangan kata-kata. Ia terpaku di tempatnya, menatap Arga dengan wajah terkejut. Namun tak menyambut uluran tangan Arga. Ada rasa sakit yang mendera secara bersamaan dengan kekecewaannya yang mendalam.


*

__ADS_1


__ADS_2