
"Sudah selesai mengobrolnya?" tanya Nandini, begitu melihat Gabriel sudah masuk ke dalam kamar sekitar jam 01.00 dini hari.
"Kenapa belum tidur sayang."
"Aku tidak bisa tidur jika kau tidak ada di ranjang bersama ku." Mendengar perkataan manis itu langsung membuat wajah Gabriel merah padam. Ia selalu menyukai bagaimana cara Nandini menghargai dirinya.
"You so sweet sayang." ucap Gabriel, yang kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan memberikan satu kecupan di kening Nandini.
"Aku melepas kangen dengan teman masa kecil ku. Aku dan Rafa dulu sering dikira saoudara kembar. Karena kami punya tinggi badan yang sama dan akrab. Saat dia pindah ke Amerika. Barulah kami berpisah. Tapi kami kembali ketemu saat aku melanjutkan kuliah di Amerika. Dan di Amerika aku tingal di rumahnya. Orang tua Rafael dan keluarga ku punya hubungan yang sangat baik. Kamu sudah seperti saoudara."
"Oke, sudah malam. Besok kita harus berkerja. Mas ganti baju dan ayo kita tidur. Aku sudah sangat mengantuk."
"Ya sudah kalau begitu. Aku ganti baju dulu ya. Tunggu aku, aku akan menemanimu tidur." ucap Gabriel, kemudian ia bergegas ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya dan setelah itu menganti baju santai untuk tidur.
Dengan wajah penuh senyum. Gabriel menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur tepat di sisi Nandini.
Sambil memeluk tubuh sang istri dengan posesif dari belakang. Gabriel begitu tergila-gila dengan wanita yang sudah ia nikahi itu. Meskipun pernikahannya penuh rintangan karena tidak mendapatkan restu dari orang tuanya kala itu.
Tapi karena Gabriel mengancam dan bahkan ia sempat ingin melakukan tindakan bunuh diri. Barulah saat itu keluarga akhirnya memberikan ia restu.
Jika sampai kini hubungan Nandini dan keluarganya belum sepenuhnya baik. Gabriel bisa memakluminya.
Tapi apapun yang terjadi. Ia akan selalu ada dan membela wanita yang saat ini sudah pasrah berada di dekapannya tersebut.
"Sayang, bermain dulu yuk sebentar." bisik Gabriel di tengkuk sang istri.
"Aku dari tadi menunggu mu sayang. Aku sekarang sudah mengantuk." ucap Nandini dengan nada manja.
__ADS_1
Melihat sikap sang istri yang manja seperti itu justru malah semakin membuat libido Gabriel naik.
"Kau makin hari makin cantik sayang. Aku semakin mencintai mu." ucap Gabriel, yang kini bibirnya sudah merajalela menyusuri tengkuk sang istri dan menciumi pundak Nandini yang terbuka.
Nandini yang kala itu mengenakan baju dengan potongan terbuka di bagian punggungnya. Merasa tergelitik ketika Gabriel menciumi punggungnya yang terbuka. Karena bulu-bulu halus yang ada di dagu sang suami terasa menggelitik di kulitnya.
Dan hal itu membuat Nandini terkesiap. Kemudian Nandini membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah sang suami.
Wajah mereka kini saling bertatapan dengan begitu intens.
"Mas selalu saja bisa mengusik tidur ku. Kalau boleh tau, sebesar apa sih cinta Mas El untuk ku. Karena hanya cinta Mas El saja lah yang membuat aku bertahan berada di rumah ini Mas. Dan kamar ini adalah satu satunya ruangan terbaik untuk ku di sini."
"Terimakasih sudah sabar sayang. Cintaku terhadapmu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Sayang dan cinta ku untuk mu sungguh besar. Dan sangat besar, sampai mas tidak bisa mendiskriminasi seberapa besar cinta Mas untuk mu."
"Dan, sekarang aku sedang ingin bercinta dengan mu. Mas tidak bisa membendungnya. Padahal Mas tadi lelah sekali. Begitu melihatmu, kau bagaikan energi yang membuat rasa lelah mas hilang seketika. Please sayang, bermain ya sebentar denganku. Setelah itu kita sama-sama tidur." Nandini kemudian menyempitkan kedua matanya. Dan memperhatikan wajah sang suami yang sedang di bahar api hasratnya.
"Aku senang melihat mu dengan wajah yang seperti itu Mas. Kau pasti tersiksa."
Dan akhirnya, dengan tidak sabar. Gabriel langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Nandini.
Ia melahap dengan begitu lembut bibir ranum sang istri.
"Sabar Mas, matikan dulu lampunya. Aku tidak suka bercinta dengan keadaan lampu terang seperti ini." proses Nandini.
Tanpa banyak bicara, Gabriel bangkit dari tubuh Nandini dan ia kemudian mematikan lampu terang dan mengantikan nya dengan lampu temaram.
Setelah itu ia kembali berjalan ke arah ranjang dengan sudah melucuti bajunya.
__ADS_1
Setelah melucuti baju-bajunya dan membuangnya dengan asal. Gabriel kemudian naik kembali ke tempat tidur. Dan ia bergerak mendekati sang istri yang terlihat sudah siap untuk ia ajak bersenggama.
Dengan menatap wajah Nandini dengan tatapan penuh hasrat. Perlahan Gabriel melucuti pakaian yang masih melekat di tubuh Nandini.
Dan Nandini sendiri sepertinya membiarkan saja apa yang dilakukan sang suami terhadap dirinya. Nandini tampak pasrah.
Setelah kini keduanya sama-sama tidak mengenakan apapun. Gabriel langsung berada di atas Nandini dan ia mulai melampiaskan semua hasratnya kepada sang istri. Yang selalu pasrah jika diajak untuk bercinta.
Suatu hal yang sangat disukai Gabriel adalah. Kepasrahan Nadine untuk selalu mau untuk menuruti apa yang ia inginkan.
Ia selalu memasrahkan dirinya di saat Gabriel sedang ingin bersenggama kapanpun itu.
Sebagai seorang Pria, hal itu semakin membuat Gabriel mencintai Nandini. Karena Wanita itu telah melayaninya dengan baik.
Tidak hanya melayani dengan baik di ranjang. Nandini juga melayani Gabriel dengan baik untuk hal lain.
Seperti menyiapkan keperluan Gabriel dan lain lain.
Saat seluruh keluarganya memusuhinya Nandini pun, wanita itu sangat sabar.
Dengan nafas yang masih terengah-engah. Keduanya benar-benar menikmati percintaan pada malam itu.
Gabriel benar benar meluapkan hasratnya kepada Nandini. Setelah keduanya sudah mendapatkan puncak gairah pada titik di mana mereka sudah benar-benar mendapatkan klimaksnya. Gabriel meraih tubuh Nandini dan membawanya ke dalam dekapannya.
Kemudian El meraih selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Terimakasih sayang. Sudah melayani ku dengan baik. Sekarang tidurlah." bisik Gabriel pada wanita yang begitu ia cinta itu.
__ADS_1
"Sama sama Mas." jawab Nandini yang sudah setengah memejamkan kedua matanya.