Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Menantu yang tak di anggap


__ADS_3

"Din kamu pintar banget ya. Sudah bisa mempengaruhi anak Mama. Jadi kamu kemarin ngadu soal apa yang kita bicarakan di dapur? Bisa bisanya kamu ini menyuruh El membuat Mama seolah-olah harus minta maaf sama kamu. Kamu jangan jangan sengaja ya. Membuat imej Mama jadi buruk sebagai Mama mertua untuk mu. Kejam sekali diri mu."


"Mama bicara apa sih?" tanya Nandini bingung dengan kata kata tuduhan sang Mama mertua yang tiba-tiba.


"Tidak usah pura-pura nggak tahu. Kamu ngadukan sama El. Dan cerita kalau Mama kalau menyuruh mu untuk mencuci baju, memasak dan mengurusi diri mu sendiri."


"Tidak Ma. Tidak seperti itu." sanggah Nandini.


"Kamu saja yang tidak mengerti maksud Mama. Sebagai seorang istri, di mata Mama. Mama tidak pernah melihat kamu tuh mengurus suami. Yang ada kamu cuman makan tidur, makan tidur. Pergi pagi pulang malam. Sedangkan semua keperluan kamu dan Gabriel semua sudah diurus sama pembantu. Baju disucikan, makan disediakan, kamar dibersihkan. Lah kamu! Apa tugasmu sebagai seorang istri? Memang salah kalau Mama menasehati kamu." Ujar Rohana, menggurui sang menantu Nandini.


Kata demi kata yang tajam menusuk yang Mama mertuanya katakan terhadap dirinya membuat Nandini menghela nafas panjang.

__ADS_1


Ia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menyahuti kata-kata sang mertua. Karena perkataan sang mertua begitu mengena di hati Nandini.


Nandini tau, ada rasa ketidaksukaan sang Mama mertua terhadap dirinya. Jadi apapun yang ia katakan dan lakukan pasti semua akan salah.


Nandini pasrah jika dirinya di rumah itu dianggap sebagai ratu. Padahal dia tidak merasa dianggap sebagai ratu.


Justru jika bisa memilih. Nandini lebih memilih untuk tinggal terpisah dengan keluarga sang suami.


Nandini tidak akan keberatan melakukan tugas itu. Jika dirinya tingal terpisah dengan keluarga mertuanya.


Tanpa seorang pembantu pun Nandini bisa.

__ADS_1


Tetapi apa daya ia tidak bisa keluar dari rumah itu. Sedangkan kini sang Mama mertua menuduhnya seperti ratu. Padahal kesan itu sama sekali tidak di rasakan oleh Dini.


"Ya sudah, Dini minta maaf ya Ma. Kalau di mata Mama Nandini belum bisa menjadi seorang istri yang baik. Dan yang melakukan tugas-tugas seorang istri sebagaimana semestinya. Baiklah, mulai sekarang. Nandini akan melakukan tugas-tugas itu. Tolong bilang sama ART di rumah ini untuk tidak mencuci baju-baju Mas El dan baju baju ku lagi. Dan untuk sarapan, setiap pagi Dini akan masak juga nanti. Untuk kamar, mulai sekarang biar Dini juga juga bereskan. Jadi nanti Mama bisa lihat, kalau Sini juga bisa melakukan itu. Jika hal itu bisa merubah pandangan Mama terhadap Dini." jelas Nandini lembut.


"Bagus kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Seharusnya itu kamu lakukan dari dulu. Sekarang kamu sudah 6 bulan di rumah ini tapi sikap kamu kayak ratu. Kenapa baru sekarang sadar."


Rohana masih saya berbicara culas.


"Mama akan bicara pada art dan menyuruh mereka untuk tidak mengurusi keperluan kamu. Mama akan lihat bukti dari ucapan kamu. Dan ingat, jangan mengadu lagi sama Gabriel. Jika Gabriel melihatmu mencuci pakaian, memasak atau kamu sedang melakukan tugas-tugas mu sebagai istri. Buatlah alasan yang bisa diterima Gabriel. Jangan lagi melibatkan Mama. Nanti dikira Mama sudah jahat sama kamu."


"Iya Ma. Nandini paham." jawab Dini pasrah.

__ADS_1


__ADS_2