Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Me time di rumah


__ADS_3

"Hai sayang." sapa Gabriel, yang baru saja menyembulkan kepalanya kedalam kamar. Pada saat itu Nandini masih tidur di atas ranjangnya.


Gabriel langsung menghampiri sang istri dan kemudian memberikan kecupan manis kekeringan Nandini.


Nandini yang pada saat itu masih tiduran pun kemudian membuka matanya dan ia langsung tersenyum manis saat sang suami sudah pulang.


"Mas." sapa balik Nandini dengan suara lemah.


"Liat, apa yang aku bawa." ucap Gabriel sambil memperingatkan bawaannya pada sang istri.


"Aku membawakan makanan yang kamu pesankan. Katanya kamu ingin makan soto yang dijual di pinggir jalan kan. Aku belikan untukmu. Aku membeli dua bungkus. Satu untuk mu dan satu untuk ku. Aku akan temani kamu makan." Ucap Gabriel dengan nada suara sangat lembut terhadap Nandini.


Mendengar jika Gabriel telah membawakan makanan yang sangat ia ingin makan pada saat itu. Nandini kemudian mencoba untuk bangkit dari tidurnya.


Sesaat Nandini sudah bangkit. Ia terhuyung kedalam pangkuan sang suami Gabriel.


"Pusing lagi? Kamu sudah minum obat belum? Obat yang sudah aku siapkan tadi pagi."


"Sudah Mas. Tapi pusing ku belum sepenuhnya sembuh."


"Kalau gitu kamu makan dulu. Setelah makan, kita ke dokter ya. Kita periksakan dirimu ke dokter."

__ADS_1


"Paling pusing biasa Mas. Aku kan jarang sakit. Sekali merasa pusing pasti seperti ini."


"Jangan bantah. Setelah selesai makan aku akan bawa kamu kedokter." ucap Gabriel tegas.


Mendengar perkataan sang suami yang sudah tegas seperti itu mau tak mau membuat Nandini harus nurut.


"Apa jangan jangan, kamu pusing ini karena kamu lagi hamil Din?" sergah Gabriel. Nandini kemudian berfikir.


"Entahlah Mas. Aku juga tidak tahu. Tapi aku baru selesai menstruasi dua minggu yang lalu."


"Kita kan selama dua Minggu terakhir sering berhubungan badan Sayang. Bahkan hampir setiap hari kita berhubungan intim."


"Kenapa. Kita di kamar kok." ucap Gabriel tersenyum. Karena Nandini merasa malu jika sudah membahas tentang bersenggama.


"Akhirnya akhir ini kita sama sama berselera dalam berhubungan intim. Aku harap, aku bisa membuat mu hamil kali ini." ujar Gabriel makin tak terkendali. Nandini hanya bisa memelototi sang suami. Yang sepertinya senang menggodanya.


"Habis makan pokoknya kita pergi ke dokter ya. Kita cek, apakah pusing mu ini ada kaitannya dengan kamu positif hamil. Kalau benar kamu hamil. Aku akan senang sekali Din. Aku akan sangat merasa bahagia."


"Memangnya kalau aku hamil cuman Mas sendiri yang bahagia. Aku juga bahagia Mas. Sudah-sudah, bahas lagi nanti soal itu. Aku sudah lapar Mas." ucap Nandini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Pasangan suami istri itu pun kemudian turun ke lantai bawah untuk makan siang bersama.


Dengan penuh perhatian. Gabriel melayani sang istri.


Rasanya, untuk sesaat mereka benar-benar menikmati waktu mereka.


Karena Rohana sedang tidak ada di rumah saat itu. Sehingga tidak ada kata kata nyinyiran dari Rohana. Yang kadang selalu saja mengusik ketenangan Gabriel dan Nandini yang sedang asik berduaan.


Gabriel yang saat itu melirik ke arah sang istri yang duduk di sampingnya. Terlihat bahagia. Karena sang istri terlihat lepas dan bahagia juga.


Dan Gabriel tau. Apa yang membuat sang istri terlihat lepas bahagianya.


"Kau pasti senang karena di rumah tidak ada Mama." kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Gabriel.


Nandini kemudian menoleh ke arah sang suami.


"Mas, jangan berfikir negatif pada ku." sergah Nandini.


"Tidak sayang ku. Aku tidak berfikir negatif. Aku berfikir positif ko. Maksudnya aku, kamu pasti merasa tenang bisa duduk di meja makan dan menikmati waktu bersama ku tanpa di ganggu Mama." jelas Gabriel.


"Aku hanya menyukai kedamaian ini Mas. Bukan berarti aku benci Mama." sahut Nandini bijak.

__ADS_1


__ADS_2