Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Batas sabar


__ADS_3

Nandini langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah ia seharian ini tidak ke kantor.


Hal yang membuat dia kembali merasa sedikit jengah adalah sikap sang Mama mertua yang semakin hari semakin tidak mengenakan hatinya.


Sikap sang Mama mertua yang semakin hari semakin semena mena pada dirinya makin mengikis batas kesabaran Nandini.


Sikap Rohana juga sepertinya sudah tidak ada punya rasa malu lagi pada orang orang sekitar saat dia mempermalukannya.


Rohana makin terang terangan merendahkan dan mengatai dirinya di depan orang lain tanpa rasa malu.


Nandini nampak terdiam sambil memeluk guling di atas ranjang. Ia tiduran miring belakangi Gabriel yang saat itu masih asik membaca sebuah buku.


Berapa lama lagi aku bisa bertahan di rumah ini. Seberapa luas lagi kesabaran yang harus aku luaskan untuk menghadapi Mama.


Tujuh bulan aku menahan kesabaran.

__ADS_1


Tujuh bulan aku menahan semua rasa caci maki. Dan aku tidak pernah membalas apa yang sudah Mama lakukan terhadap diriku.


Sudah selama ini aku bertahan di sisi Mas El. Tapi terkadang aku juga merasakan sisi jenuh. Sampai kapan aku bisa menahan kesabaran ku lagi.


Jika satu-satunya kebahagiaan yang aku rasakan di rumah ini hanyalah perhatian dan cinta Mas El. Serta juga perlindungan yang sudah Mas El berikan pada ku.


Tapi bagaimana seandainya nanti mas El berubah. Apakah bisa aku tetap mempertahankan rumah tanggaku dengan mas El.


Bukannya aku berprasangka buruk untuk hubungan aku dan Mas Gabriel.


Bahkan Mama menawari aku makanan bekas dia makan. Dan Mama menarik piringku di saat aku sedang ingin makan. Itu sudah keterlaluan.


Sebagai anak, aku tau Mas El sudah benar dalam bersikap. Mas El tidak mungkin bisa melawan mamanya sendiri.


Sebagai seorang istri yang tidak di perlukan baik oleh keluarga suami. Sepertinya kesabaran ku sudah mulai menipis.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gabriel pada sang istri Nandini saat ia memperhatikan sang istri diam tak bicara dengannya.


Gabriel kemudian meletakkan bukunya di atas nakas. Lalu ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup dengan lembut pipi mulus Nandini yang saat itu tengah tiduran miring.


"Aku capek Mas. Aku mengantuk. Aku mau tidur awal." jawab Nandini yang sepertinya tidak ingin diganggu. Kemudian ia mulai mencoba memejamkan matanya.


"Apa kamu terluka dengan kata-kata Mama tadi saat di meja makan. Maafkan Mama ya Din. Mas tahu apa yang kamu sedang rasakan. Mas tadi juga merasa sakit hati dengan sikap Mama. Aku bahkan tidak terima dengan semua perlakuan Mama sama kamu. Tapi aku juha bingung Din. Harus bersikap bagaimana. Karena bagaimanapun dia tetaplah Mama ku." ucap Gabriel, yang ingin menghibur sang istri dengan menunjukkan jika dirinya juga memahami apa yang dirasakan sang istri Nandini.


"Terima kasih sudah selalu memahami ku Mas. Tapi ya sudahlah. Kita dari dulu sampai sekarang harus bersikap sabar,sabar, dan sabar kan. Apa lagi yang bisa kita lakukan. Tidak ada kan Mas. Pergi dari rumah ini saja kita tidak bisa." sindir Nandini halus pada sang suami.


"Sudahlah mas, aku ingin istirahat. Aku ingin tidur dulu. Jangan ganggu aku." Nandini kemudian mencoba untuk menutup matanya dan tidur.


Gabriel membiarkan sang istri tidur. Ia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Nandini yang saat itu mengenakan gaun malam.


Gabriel menyelimuti sang istri dan kemudian memberikan satu kecupan ke kepala Nandini.

__ADS_1


"Selamat beristirahat sayang ku. Mas sangat mencintaimu." Bisik Gabriel.


__ADS_2