
"Bagus kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Seharusnya itu kamu lakukan dari dulu. Sekarang kamu sudah 6 bulan di rumah ini tapi sikap kamu kayak ratu. Kenapa baru sekarang sadar."
"Mama akan bicara pada art dan menyuruh mereka untuk tidak mengurusi keperluan kamu. Mama akan lihat bukti dari ucapan kamu. Dan ingat, jangan mengadu lagi sama Gabriel. Jika Gabriel melihatmu mencuci pakaian, memasak atau kamu sedang melakukan tugas-tugas mu sebagai istri. Buatlah alasan yang bisa diterima Gabriel. Jangan lagi melibatkan Mama. Nanti dikira Mama sudah jahat sama kamu."
Perkataan sang mertua masih terngiang-ngiang di telinga Nandini. Ketika ia terbaring di sisi tempat tidur membelakangi Gabriel.
Tidak ada daya dan kekuatan bagi Nandini untuk bisa melawan kata-kata sang mertua.
Iya sudah berusaha untuk menjelaskan kepada sang mertua. Kenapa ia tidak melakukan apa yang sudah di suruh oleh Mama mertuanya. Karena Gabriel sendiri sudah menjelaskan kepada dirinya jika ia tidak akan dibiarkan untuk melakukan tugas-tugas pekerjaan irt. Karena pekerjaan mengurus rumah dari a sampe z sudah diurus dan di serahkan pada art.
Tapi apa boleh dikata jika sang mertua ternyata masih mengintimidasi dirinya untuk bisa memberikan bukti jika Nandini adalah seorang istri yang baik
Karena tidak ingin mendebat sang Mama mertua. Nandini akan membuktikan jika dirinya bisa melakukan apa yang di suruh sang Mama mertua.
Dan malam itu, Nandini tengah berpikir apa yang akan ia lakukan esok pagi.
Mungkin setelah ia melakukan salat subuh dia akan pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk sang suami.
Tapi akan buat apa ia besok. Tidak mungkin ia hanya memasak sarapan untuk Gabriel saja kan.
Karena banyak anggota keluarga lain yang ikut duduk di meja makan.
__ADS_1
Memikirkan itu membuat Nandini pusing.
Ketika ia tengah berpikir menu apa yang akan ia buat besok. Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.
Siapa lagi kalau bukan Gabriel.
Malam itu Gabriel hanya memakai celana training panjang dan tidak memakai baju atasan. Ia ikut merebahkan tubuhnya di sisi Nandini dan mendekap tubuh sang istri dari belakang dengan begitu eratnya.
Hingga saking eratnya, membuat tubuh Gabriel melekat sempurna dari belakang di tubuh Nandini.
"Aku tahu kamu belum tidur sayang. Apa yang kamu pikirkan? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu? bisik Gabriel tepat di tengkuk sang istri.
Merasa sedikit geli dengan hembusan nafas dan juga suara yang lembut Gabriel suarakan di tengkuknya. Membuat Nandini tidak tahan untuk tidak berbalik dan menatap pria yang sangat ia cintai itu.
"Ada apa sayang ku? Katakan padaku apa yang kau pikirkan. Berbagilah denganku apa saja." ucap Gabriel yang selalu merasa kawatir pada sang istri.
"Tidak ada apa apa Mas. Hanya ada masalah sedikit tentang pekerjaan di kantor. " Tutur Nandini berbohong.
Padahal saat ini ia tengah memikirkan apa yang akan ia lakukan esok hari.
"Apa masalahnya berat. Kamu berhenti bekerja saja ya."
__ADS_1
"Tidak Mas, jangan sekarang. Kalau aku tidak kerja. Aku akan bosan di rumah yang nggak ngapa-ngapain. Aku tidak bisa seperti itu."
"Tapi janji ya. Kalau kamu sudah hamil. Kamu akan berhenti bekerja."
"Iya aku janji." jawab Nandini patuh.
"Bagaimana kabar ibu dan bapak di kampung? Apa mereka semua baik-baik saja. Maaf, aku kurang berkomunikasi dengan mertuaku. Tapi besok aku akan menelepon mereka."
"Terima kasih sudah ingat dengan bapak dan ibu di kampung. Mereka semua baik-baik saja. Kemarin juga aku habis mengirimkan uang untuk keperluan mereka. Kau tahu kan kedua adikku masih sekolah. Ibu dan bapak juga sehat. Seperti biasa mereka masih bertani di kampung."
"Syukurlah. Bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi ke kampung halamanmu. Dari Jakarta kita road trip ke kampung halaman mu. Aku akan cari waktu untuk bisa mengunjungi ibu dan mertuaku." ucap Gabriel yang pada saat itu terlintas ide untuk mengajak Nandini pulang kampung.
"Itu rencana yang bagus Mas. Aku setuju." ucap Nandini langsung antusias dan ceria.
Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Gabriel.
Melihat senyum sempurna Nandini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Gabriel.
"Aku bahagia melihat mu tersenyum seperti itu. Nandini, terkadang aku takut tidak bisa membuatmu bahagia. Karena aku tahu, bagaimana sikap keluargaku terhadap dirimu."
Saat Gabriel sudah membicarakan keluarganya. Wajah Nandini yang tadinya tersenyum. Kini sedikit berubah.
__ADS_1
Tapi Nandini berusaha menutupi itu semua. Ia ngin apa yang ia rasakan semua tidak diumbar kepada sang suami.
"Mas, asal Mas El tetap mendukungku dan ada untukku. Aku akan kuat Mas. Satu-satunya orang yang membuat aku kuat untuk tinggal di rumah ini dengan Mas hanya karena Mas El juga. Yang selalu membela ku. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Sudah selalu ada untukku. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan keluarga Mas tentang aku. Yang penting bagiku adalah sikap Mas El." jelas Nandini menatap dengan tatapan intens pada sang suami.