Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Cemburu buta


__ADS_3

Di tengah di bakar rasa cemburu, tidak terima dan rasa marah yang berapi-api dalam dirinya. Gabriel kemudian mengurusi Nandini yang saat itu tengah pingsan. Ia mengeringkan tubuh Nandini dan juga memakaikan Nandini pakaian.


Beberapa saat kemudian, Nandini terbangun dari pingsannya.


"Mas, kamu sudah pulang." ujar Nandini begitu Ia membuka mata. Karena sang suami sudah ada di sampingnya.


"Iya aku sudah pulang. Selesai meeting aku merasa khawatir dengan keadaan kamu. Makanya aku tidak mau berlama-lama, aku segera pulang. Aku ingin segera membawa mu ke dokter." jelas Gabriel sambil mengulas senyum tipis.


"Sebentar Mas." ucap Nandini, nampak berfikir.


"Kok aku sudah pakai baju? Siapa yang membawaku ke tempat tidur tadi. Seingat aku, tadi aku sedang berada di kamar mandi Mas. Listrik nya tiba tiba padam dan aku terjatuh. Kepalaku tadi terbentur dinding kamar mandi. Karena disaat aku mandi tadi lampunya mati. Entah hanya perasaan aku atau apa. Aku merasa ada seseorang yang menarik kakiku dan aku terjatuh. Dan setelah itu aku tidak ingat lagi." jelas Nandini pada suaminya. Berusaha mengingat apa yang terjadi.


Gabriel yang mendengar ceritanya sang istri pun nampak menganggukkan kepalanya. Mencoba untuk memahami cerita sang istri.


Walau tetap saja, hal itu masih membuat Gabriel menyimpan rasa tidak senang pada Rafael. Karena pada saat itu Rafael telah melihat tubuh sang istri. Meskipun dengan alibi menolong.

__ADS_1


"Mas siapa yang membawa aku ketempat tidur? Mas kan yang tadi menolong aku? Karena pada saat itu aku tidak memakai apapun Mas. Mas kan yang menolongku." ujar Nandini, yang ingin tahu siapa yang telah membawanya ke atas tempat tidur.


"Iya, tadi Mas menolong mu. Mas yang memakaikan baju untukmu. Kita ke dokter ya. Aku kawatir kamu kenapa napa."


Setelah Nandini berpakaian rapi. Gabriel kemudian menggandeng tangan sang istri menuruni tangga. Dengan perhatian, Gabriel membukakan pintu mobil untuk Nandini. Kemudian Gabriel mengendarai mobilnya menuju ke sebuah tempat praktek dokter langganan keluarganya.


Di sepanjang perjalanan, Gabriel hanya terdiam. Ia tidak sama sekali berbicara sepatah kata pun pada Nandini.


Nandini melirik ke samping ke arah sang suami yang saat itu terlihat bersikap sangat dingin terhadap dirinya.


Karena tidak biasanya sang suami bersikap dingin seperti itu. Pada dirinya, Nandini berpikir positif.


Mungkin saja sikap dingin sang suami tidak ada kaitannya dengan dirinya. Mungkin Gabriel sedang memikirkan pekerjaan.


Oleh sebab itu, Nandini juga tidak terlalu banyak bertanya.

__ADS_1


Tak lama berselang. Mereka telah sampai di tempat praktek dokter pribadi.


Setelah bertemu dengan seorang dokter wanita langganan keluarga, Nandini pun diperiksa.


Gabriel yang dalam suasana hati kurang yang baik itu tidak ikut masuk ke dalam ruangan praktek sang dokter. Ia membiarkan saja Nandini diperiksa oleh dokter di dalam.


Beberapa saat kemudian, Nandini telah selesai di periksa.


Nandini kemudian bercerita pada sang suami tentang keadaannya.


"Katanya aku hanya kelelahan dan kurang darah. Makanya aku sering pusing." cerita Nandini pada Gabriel.


"Kalau begitu mintalah cuti selama satu mingguan kepada atasanmu. Kau harus tetap di rumah untuk beristirahat. Kamu tidak boleh bekerja. Ini perintah dari ku agar kamu kembali pulih." ucap Gabriel pada Nandini.


"Iya Mas." jawab Nandini patuh dan tidak ingin membantah perintah sang suami.

__ADS_1


__ADS_2