Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Nandini sakit


__ADS_3

Bagaimana Gabriel tidak semakin menggilai wanita yang saat ini sudah menjadi miliknya itu. Karena setiap tindakan dan tingkah laku Nandini selalu bisa membuatnya semakin bangga memperistri Nandini.


"Kau wanita wanita hebat Din. Sifat mu lah yang dari dulu membuat ku jatuh cinta dengan mu. Kau menyukai sifat mu yang lembut dan jiwamu juga kuat. Aku tau perlakuan keluarga ku terhadap diri mu masih buruk. Tapi kamu sabar. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada di sisi mu. Terimakasih untuk semua kesabaran mu dalam menghadapi keluarga ku Din. Aku yakin, suatu saat. Keluarga ku pasti akan menerima mu."


"Aamiin, semoga ya Mas."


"Ya sudah, aku bersih bersih dulu ya Mas. Badan ku lengket."


"Kita mandi sama-sama ya."


"Jangan mulai deh Mas. Nanti bukanya mandi kamu malah ngerjain aku di kamar mandi. Gantian saja." ucap Nandini, kemudian ia berdiri dan berlalu dari sisi Gabriel. Gabriel kemudian mengulas senyum tipis pada istrinya itu yang makin membuatnya gemas.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Din, badan kamu panas. Benar kan feeling ku semalam. Kamu pasti tidak enak badan." Tutur Gabriel yang kala itu sudah bangun dan mendapati sang istri tampak masih asik tiduran di tempat tidur. Karena curiga, Gabriel kemudian mengecek kondisi sang istri dengan menyentuh kening Nandini.


Dan benar, Nandini ternyata sedang demam.

__ADS_1


"Iya Mas, tiba-tiba aku merasa pusing. Dan badan ku terasa sakit semua." tutur Nandini.


"Kalau begitu kamu tidak usah ke kantor ya. Nanti aku akan infokan jika kamu tidak enak badan."


"Iya Mas, aku minta tolong ya."


"Aku kebawah duluan kasih tau Bibik untuk bulatkan kamu sarapan yang hangat-hangat."


"Iya Mas."


Sesampainya di bawah, Gabriel langsung ke dapur. Menyuruh artinya untuk membuatkan sarapan untuk sang istri.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Nandini mana El. Tumbenan ngk ikut makan pagi." tanya Rohana dengan wajah sinis.


"Nandini sedang tidak enak badan Ma. Dia demam. Aku menyuruhnya untuk istirahat saja di rumah. Kalau pagi ini El tidak ada meeting penting. El tidak akan ke kantor hari ini."

__ADS_1


"Memangnya kenapa tidak ke kantor. Demi jaga in istri mu. Tidak usah di manja. Paling cuma kecapekan biasa. Manja banget minta di temenin. Urusan pekerjaan mu lebih penting El. Dari pada kamu di rumah saja mengurusi istri mu." Jika sang mama sudah mengoceh seperti itu. Gabriel hanya diam tak menjawab kata kata sang Mama. Karena kalau di jawab urusan akan makin pajang.


"Bik, sarapan untuk Nandini sudah siap?"


"Sudah Den."


"Tolong siapkan di nampan. Aku akan bawa ke atas." perintah Gabriel pada artnya.


"Baik Den." jawab sang art patuh.


Setelah selesai sarapan. Gabriel langsung beranjak dari tempat duduknya dan ia kemudian membawa nampan yang sudah berisikan makanan untuk sang istri Nandini.


Tanpa mempedulikan ocehan sang Mama. Gabriel langsung naik ke lantai atas ke kamar nya.


"Jangan di tiru ya Rafa. Selera El sungguh tak berkelas. Yang buat Tante muak itu El terlalu bucin dengan Nandini. Tante tidak suka itu." celoteh Rohana pada Rafael. Yang saat itu masih ada di ruang makan. Rafael tak menyahuti perkataan Rohana. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi.


"Jangan sekali kali jatuh cinta dengan wanita seperti Nandini Raf. Jika tidak mau kata El. Gabriel sudah di butakan dengan akting cinta tulus penuh muslihat Nandini." imbuh lagi Rohana yang selalu berapi-api jika sudah membicarakan sang menantu yang ia benci.

__ADS_1


__ADS_2