Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Kita


__ADS_3

Saat Gabriel sudah membicarakan keluarganya. Wajah Nandini yang tadinya tersenyum. Kini sedikit berubah.


Tapi Nandini berusaha menutupi itu semua. Ia ingin apa yang ia rasakan semua tidak diumbar kepada sang suami.


"Mas, asal Mas El tetap mendukungku dan ada untukku. Aku akan kuat Mas. Satu-satunya orang yang membuat aku kuat untuk tinggal di rumah ini dengan Mas hanya karena Mas El juga. Yang selalu membela ku. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Sudah selalu ada untukku. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan keluarga Mas tentang aku. Yang penting bagiku adalah sikap Mas El." jelas Nandini menatap dengan tatapan intens pada sang suami.


"Jangan berterima kasih kepada aku Nandini. Justru akulah yang harus berterima kasih kepadamu. Sudah menjadi tugasku untuk bisa melindungi mu sayang ku. Dan harusnya akulah yang harus meminta maaf terhadapmu. Karena kamu kadang tertekan dengan segala sikap Mama. Aku tidak bisa banyak berjanji untuk bisa mengatasi persoalannya dirimu dan Mama. Karena aku juga telah diberikan pesan dan amanat sama Papa. Jika aku harus bisa merawat Mama dengan baik. Karena aku adalah anak pertama. Kau tau sendirikan, kedua adikku belum bisa diberikan tanggung jawab untuk menjaga Mama. Mereka berdua masih kuliah dan tidak begitu paham tentang bagaimana menjaga Mama." jelas Gabriel.


"Tidak apa-apa Mas. Aku tahu dan paham. Apalagi almarhum Papa sudah pernah beramanah seperti itu. Mau tidak mau, Mas pasti tidak bisa meninggalkan Mama kan."


"Meski begitu, aku juga memikirkan dirimu sayang. Mas akan coba bilang sama Mama. Mas punya ide untuk bisa membeli rumah yang berada di komplek sini. Aku akan memberikan alasan pada Mama jika kita ingin tinggal terpisah. Terpisah bukan karena apa. Karena kita ingin hidup mandiri. Kebetulan Mas pernah melihat ada rumah yang di jual di kompleks ini. Jadi meskipun kita tinggal terpisah dari Mama. Aku bisa tetap memantau Mama dari dekat. Jaraknya juga tidak jauh. Hanya perlu jalan kaki beberapa meter dari rumah ini." jelas Gabriel lagi.


"Aku sih terserah Mas aja. Sebagai seorang istri aku hanya bisa nurut ucapan Mas El." Jawab Nandini dengan senyum merekah yang indah.


Dengan sudah saling pandang dan berposisi sangat intens seperti itu. Sejak tadi Gabriel memandangi wajah sang istri tanpa kedip.


Makin lama ia memandangi sang istri yang makin hari terlihat cantik dan mempesona. Membuat gairah Gabriel pada malam itu pun naik.


Dengan perlahan Gabriel, mendekatkan wajahnya ke wajah Nandini.

__ADS_1


Setelah bibir Gabriel mendarat sempurna ke bibir sang istri. Dengan gerakan pelan dan lembut mereka saling berpagutan.


Saling bertukar saliva dan menyenangkan gairah satu sama lain.


Ciuman panas itu berlangsung beberapa menit dan sangat di dinikmati oleh pasangan suami istri yang saling mencintai itu.


Ketika bibir mereka masih saling bertautan. Gabriel kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping dan merubah posisi Nandini di atasnya.


"Sekali kali kau yang di atas sayang." bisik Gabriel yang saat itu sudah berada di bawah Nandini.


Nandini yang saat itu berada di posisi di atas tubuh Gabriel pun menyempitkan kedua matanya.


Sejenak, Gabriel terkekeh.


"Untuk kali ini aku memintamu kau yang di atas ku. Jangan menolak ajakan suami Nandini." ancam Gabriel sambil tersenyum sinis.


"Hemmm." Nandini terdengar mendesah.


"Oke, tapi aku tidak bisa bercinta dengan keadaan lampu terang seperti ini sayang."

__ADS_1


"Gampang, kau hanya perlu mematikan lampunya." jawab Gabriel lagi penuh kemenangan.


Tidak ingin menolak ajakan sang suami. Nandini kemudian turun dari atas tubuh Gabriel.


Ia kemudian berjalan ke arah pintu dan memastikan pintu telah terkunci.


Setelah itu Nandini mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu temaram.


Sebelum ia kembali berada di atas sang suami. Dengan begitu menggoda, Nandini melepaskan gaun malamnya. Melucuti pakaiannya dan membiarkan pakaiannya berjatuhan di lantai.


Setelah itu ia kembali berada di posisi tubuh Gabriel.


"Aku akan menyenangkan dirimu malam ini Mas."


Bisik Nandini, yang ternyata bisa berucap kata kata nakal.


"Aku menyukai itu." Senyum di wajah Gabriel semakin merekah.


Kemudian ia bangkit dari tidurannya dan langsung menangkap tubuh sang istri yang sudah ada di pangkuannya.

__ADS_1


Dan mereka pun kembali berperang ciuman sebelum mereka menuntaskannya dengan aktivitas suami istri yang lebih dalam, lebih panas, lebih menggairahkan dan juga lebih intens.


__ADS_2