Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Kekawatiran Nandini


__ADS_3

Nandini POV


Apanya hanya perasaan aku. Aku merasa sahabat Mas El, Rafael sering memperhatikan diriku secara diam-diam.


Aku heran dengan cara Rafael jika ia sedang menatap ku.


Tatapannya aneh setiap kali ia berada di dekat ku. Seperti seolah-olah, ia selalu memperhatikan diriku.


Pandangan matanya aneh. Netra nya selalu terpaku pada mataku jika aku tanpa sengaja melirik nya. Saat aku melihatnya, dia pasti sudah menatapku.


Apa itu hanya perasaan aku saja. Tapi kenapa dia selalu ada di saat waktu yang tepat saat aku sedang memerlukan bantuan


Seperti sesaat tadi saat aku hendak terjatuh. Dengan sigapnya ia tau tau sudah ada di harapan ku dan menangkap ku. Jika tidak ia menolong, Aku sudah terjengkap tadi.


Tidak hanya saat tadi yang tiba-tiba ia muncul. Ketika aku dan Mas El sedang pergi ke kantor bersama, saat tiba-tiba mobil Mas El mogok. Ia pun tanpa sengaja datang dan memberikan pertolongan kepadaku


Ia memberikan aku tumpangan dan mengantarkan aku sampai di tempat aku sedang melakukan meeting penting pagi itu.


Saat aku masuk ke dalam gedung perkantoran pun. Aku bisa melirik dengan mata ekorku dia memandangiku sampai aku benar-benar sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.


Saat makan malam pun sama.

__ADS_1


Meskipun aku tidak pernah mencuri-curi pandang terhadap dirinya. Karena aku juga tahu diri. Tapi aku bisa memastikan dan bisa tahu jika dia selalu memperhatikan aku.


Ada apa dengan apa dia. Apa dia menyukai aku.


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Karena itu akan menjadi masalah yang serius.


Sebaiknya aku menjaga jarak terhadap dirinya. Ini akan menjadi sebuah hal yang tidak baik jika Mama Rohana tau. Karena mama Rohana pasti akan memanfaatkan celah itu untuk membuat aku salah di mata Mas El. Aku harus waspada.


"Permisi Non Dini. Saya mau membersihkan pecahan gelas di kamar Non Nandini." ucapan sang art yang baru saja masuk ke kamar mengagetkanku.


"Oh, iya Bik. Tolong bersihkan ya. Maaf tadi aku tidak sengaja memecahkannya. Karena kepalaku tadi sangat pusing. Tadi aku berniat untuk minum obat. Tapi saat aku memegang gelas itu, tidak sengaja gelasnya terjatuh."


"Tidak apa-apa Non. Tidak usah minta maaf. Non sudah makan siang apa belum? Kalau belum saya ambilkan."


"Oh ya sudah kalau begitu. Saya bersihkan dulu ya Non, pecahan gelasnya."


"Iya Bik."


Ku biarkan Bibik untuk membersihkan pecahan gelas yang tadi aku jatuhkan.


"Mama kemana Bik. Tumben rumahnya sepi tidak ada orang?" tanya ku pada Bibik menanyakannya Mama.

__ADS_1


"Nyonya sedang pergi dari pagi sesuai sarapan Non. Saya tidak tahu ke mana Nyonya pergi. Tadi sih sepertinya ditelepon seseorang. Nyonya menyebutkan nama Clarissa. Saya tidak tahu mereka pergi ke mana. Biasa Nyonya kasih tau mau kemana agar orang rumah tau Nyonya pergi kemana dan sama Siapa."


"Oh begitu ya Bik." kata ku pada Bibik.


Carissa, nama itu lagi. Sepertinya Mama sedang dekat kembali dengan wanita tersebut.


Apa Mama tetap ingin menjodohkan Clarissa dengan Mas El. Sepertinya Mama mau dekatkan lagi mereka berdua.


Jika benar seperti itu. Sepertinya aku harus bersabar lagi untuk menghadapi Mama.


Aku tahu seberapa bencinya Mama terhadapku.


Mama tidak pernah menganggap ku sebagai menantunya.


Mama sepertinya telah merencanakan sesuatu yang besar. Dan aku hanya bisa berharap. Mas El tetap setia padaku dan tetap teguh cintanya untukku.


Satu-satunya yang bisa membuat aku bertahan di rumah ini dan juga satu hal yang membuat aku bisa bertahan di sisi Mas El adalah cinta Mas Gabriel.


Kesetiaannya lah dan juga bagaimana cara dia membela ku membuat aku bertahan di sisinya.


Jika itu sudah tidak ada dalam diri Mas El. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

__ADS_1


Kau hanya bisa berdoa suami ku di pihak ku.


__ADS_2