
Malam itu, Nandini, Gabriel dan juga Rafa sedang menikmati makan malam bersama di meja makan. Di tengah tengah mereka saat sedang menikmati makan malam sambil asik mengobrol. Rohana rupanya telah pulang dari seharian ia pergi.
"Wah wah, ada makan malam spesial rupanya. Kok masak nasi gorengnya cuman 3 piring Din. Memangnya kamu tidak masak untuk yang lain. Mama tadi belum sempat makan malam. Jadi bisa tolong buatkan Mama nasi goreng juga. Mama lapar!" seru Rohana, yang saat itu sudah duduk di kursi makan dan meminta Nandini untuk membuatkan nasi goreng.
"Nandini baru saja mau makan Ma. Sebaiknya Mama minta tolong ke art untuk di buatkan nasi goreng." ucap Gabriel, yang tidak ingin sang istri diperlakukan seperti pembantu. Karena sang Mama yang baru saja datang dan menyuruh Nandini untuk membuatkan nasi goreng.
"Memangnya kenapa jika Mama menyuruh Nandini untuk memasakkan mama nasi goreng. Dia kan menantu Mama. Salah kalau Mama ingin makan masakan yang dibuat dari menantu Mama sendiri. Mama liat nasi gorengnya sepertinya enak. Makanya Mama pengen."
"Ya sudah, Nandini akan buatkan Mama nasi goreng." ujar Nandini lembut.
"Tapi kalau kamu buat dulu nanti lama Din. Kamu tidak keberatankan kalau nasi goreng mu buat Mama." ucap Rohana. Yang kemudian langsung menarik piring yang berisikan nasi goreng milik Nandini.
"Tidak apa Ma." sahut Nandini pasrah. Karena tidak ada pilihan lain bagi Nandini untuk tidak mengalah.
"Nah begitu dong, bagus itu. Namanya baru menantu. Ayo Rafael nikmati nasi gorengnya."
__ADS_1
Rafael kemudian tersenyum tipis saat Rohana menyapanya.
Rafael merasa kasihan terhadap Nandini. Karena nasi goreng yang baru saja ia akan makan diambil oleh sang mertua.
Rasanya, saat itu juga, Rafael ingin memberikan nasi gorengnya untuk Nandini.
Tapi apalah daya, dia bukan siapa-siapanya Nandini. Jikalau dia memberikan nasi gorengnya untuk Nandini. Itu juga sangat tidak mungkin. Karena Gabriel pasti akan curiga. Akhirnya Rafa hanya bisa diam.
"Kalau masak lagi nasi gorengnya ya Mas. Aku ke dapur dulu." ujar Nandini, baru saja ia akan berdiri membuat nasi goreng. Gabriel menahan langkah Nandini.
"Tidak usah buat nasi goreng yang baru. Kita makan berdua saja. Ini porsinya punya Mas lumayan banyak. Jadi kita bisa makan sama sama. Sini aku suapin." Ucap Gabriel, kemudian ia menyendokkan satu sendok nasi goreng dan mengarahkannya ke mulut Nandini.
"Tidak usah Mas. Aku buat yang baru saja."
"Din, jangan menolak. Kita makan berdua. Buka mulut mu." ucap Gabriel sedikit memaksa.
__ADS_1
Rohana yang satu sedang menikmati nasi goreng pun cuek dan tidak peduli dengan sikap romantis yang ditunjukkan putranya pada Nandini.
Karena sikap romantis yang ditujukan El pada Nandini begitu membuat Rohana tidak suka.
"Tiba-tiba Mama sudah kenyang. Din kalau kamu mau habiskan saja nasi goreng nya. Mama sudah kenyang." ucap Rohana, kemudian ia berdiri dan meninggalkan ruang makan. Padahal nasi goreng yang ada di piring itu masih tersisa lumayan banyak.
Melihat itu Gabriel hanya bisa menahan rasa emosinya. Karena bagaimanapun, wanita yang membuat ia meradang saat ini adalah mamanya.
Rafael yang saat itu menyaksikan sikap Rohana semakin menggelengkan kepalanya. Ia tidak mempercayai jika Rohana benar-benar bersikap kejam pada Nandini dan makin tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.
Tidak enak untuk terus berada di hadapan Gabriel dan juga Nandini. Rafa kemudian buru-buru untuk izin meninggalkan ruang makan setelah nasi goreng yang ada di piringnya sudah habis.
"Terima kasih untuk nasi goreng nya Nandini. Nasi goreng sangat enak sekali. Selamat malam, aku mau ke kamar dulu."
"Ia Rafael, maafkan sikap Mama. Sikap Mama sangat tidak enak untuk di liat."
__ADS_1
"Tenaga saja El."
Setelah makan malam penuh tekanan batin itu kini telah usai. Gabriel segera mengajak sang istri untuk naik ke lantai dua ke kamar mereka.