Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Keegoisan


__ADS_3

"Din, leher mu kenapa? Kok di tutupi dengan syal. Pergelangan tanganmu juga terlihat memar. Kenapa? tanya Rohana, ia berpura-pura peduli dengan Nandini ketika mereka sedang bersarapan bersama di meja makan pagi itu.


Nandini masih duduk di sebelah Gabriel. Tetapi sikap mereka tidak seperti biasanya.


Baik Gabriel maupun Nandini sama-sama terdiam. Bahkan mereka tidak saling berinteraksi satu sama lain.


Biasanya Gabriel sangat manis dan melayani sang istri. Tapi tidak untuk saat ini.


"Tidak apa-apa Ma. Hanya sedikit gatal. Sepertinya sedikit iritasi." jawab Nandini berbohong, yang kala itu menutupi lehernya dengan mengunakan syal yang agak tebal untuk menutupi tanda-tanda kemerahan bekas kecupan yang di lakukan sang suami terhadap dirinya semalam.


Gabriel yang mendengar itu hanya hanya terdiam sambil melirik sejenak ke arah Nandini.


Padahal Ia tahu, tanda kemerahan yang ada di leher Nandini dan juga memar yang ada di pergelangan tangan sang istri akibat perbuatannya.


"Oh, kirain ada apa." ucap Rohana, kemudian ia kembali melanjutkan makannya.


Beberapa hari ini Rohana sengaja bersikap manis terhadap Nandini. Karena ia tidak ingin semua rencana dan juga skenario yang sudah ia buat disadari oleh menantu dan juga anaknya.


Jika semua kejadian yang menimpa antara Nandini dan Rafael adalah rencananya. Rohana justru memperlihatkan kepedulian terhadap Gabriel dan Nandini. Agar mereka berdua tidak terlalu menyudutkannya.


Setelah selesai sarapan. Gabriel dan Andini tetap berangkat ke kantor bersama-sama.

__ADS_1


Hari itu sebenarnya Nandini tidak ingin ke kantor. Karena tubuhnya sangat tidak memungkinkan untuk pergi.


Tapi karena pada hari itu ada meeting penting yang mengharuskan Ia ada di kantor. Membuat Nandini akhirnya memaksakan diri untuk ke kantor.


"Di sepanjang perjalanan menuju kantor pun keduanya hanya diam. Pasangan suami istri itu tidak terlibat percakapan apapun.


Bahkan saat mereka sampai di kantor mereka masih saling membisu.


Saat berada di lift, kedua bagaikan seperti orang asing yang tidak kenal.


Biasanya Gabriel selalu mengatakan Nandini ke ruangannya. Tapi sepertinya Gabriel tidak akan melakukan itu. Ia masih gengsi dan sakit hati dengan prasangka yang menurutnya benar.


Setelah mereka keluar dari lift, mereka sama-sama keluar dan berjalan berlawanan arah untuk menuju ruangannya masing-masing.


Saat di pertengahan langkah menuju ruangannya. Gabriel mengehentikan langkah dan menolehkan kepalanya ke belakang.


Kearah sang istri yang saat itu masih berjalan. Gabriel menatap sang istri yang berjalan dengan langkah pelan tersebut.


Sebenarnya hari nurani Gabriel merasa iba dengan wanita itu. Tapi ego nya seolah telah menenggelamkan mata hati Gabriel.


Setelah memastikan sang istri sudah berbelok ke arah koridor menuju ruangannya. Barulah Gabriel melanjutkan kembali langkahnya untuk menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Sikap dingin nampak sama sama ditunjukkan oleh kedua pasangan suami istri tersebut.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Saat jam makan siang tiba. Biasanya Nandini dan juga Gabriel selalu makan siang bersama.


Jika tidak makan siang keluar dari gedung perkantoran. Mereka akan makan di cafetaria yang ada di gedung tersebut.


Siang itu Nandini duduk terdiam di kursi kerjanya sambil memperhatikan ponselnya yang ia letakkan di atas meja.


Ia ingin mengirimkan pesan terhadap sang suami Gabriel. Tapi sepertinya ia ragu-ragu untuk mengirimkan pesan pada pria yang saat ini sedang mendiamkannya tersebut.


Tidak tahan dengan perang dingin yang terjadi di antara dirinya dan Gabriel. Membuat Nandini akhirnya gatal dan kemudian ia meraih ponsel dan mengirimkan pesan terhadap Gabriel.


Mas aku perlu bicara dengan mu. Aku perlu penjelasan untuk semua yang sudah kamu lakukan terhadap diriku.


Jika ada waktu sekarang, aku tunggu Mas di rooftop gedung. Datanglah Mas, aku ingin kita bicara baik-baik.


Aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Katanya apa apa salah ku dan letakkan di mana. Aku tidak bisa di diamkan seperti ini Mas.


Mas juga telah melukai ku secara fisik. Aku tunggu di rooftop sekarang. Kita hanya punya waktu satu jam. Jika dalam satu jam itu Mas tidak datang. Itu artinya Mas sudah tidak peduli lagi denganku. Aku mohon Mas, datanglah, dan mari kita bicara.

__ADS_1


Kata kata itulah yang Nandini tulis untuk sang suami Gabriel.


__ADS_2