
Setelah 1 jam lamanya Nandini berada di rooftop dan tidak ada sama sekali balasan pesan maupun telepon dari sang suami. Membuat Nandini benar-benar merasa sangat kecewa dengan sikap sang suami.
Karena suaminya tidak menggubris apa yang di niat baik kan oleh Nandini.
Sambil menghela nafas berat, Nandini bangkit dari duduknya untuk berniat kembali ke ruangannya.
Saat ia berjalan menuju ruangannya. Dalam hati, ia sudah memiliki keputusan untuk hidupnya.
Saat menaiki lift turun ke lantai bawah. Nandini mampir ke kafetaria dan membeli sesuatu. Nandini membeli satu buah box yang berisikan makanan dan satu botol minuman mineral.
Sebelum ia kembali ke ruangannya. Nandini ingin mampir keruangan sang suami dan memberikan makanan siang yang ia sudah beli.
Nandini mengetuk pelan ruang kerja Gabriel dan kemudian ia membuka pintu tersebut.
Saat ia membuka pintu ruang kerja sang suami. Gabriel ada di sana, berdiri di sisi jendela dengan tatapan mata memandang ke arah luar jendela. Yang kala itu tengah hujan deras.
Dari bau parfum yang tercium oleh Gabriel. Ia tau, yang datang adalah Nandini sang istri.
Karena ia sudah tau, makanya Gabriel tidak menoleh kearah sang istri yang datang.
Memahami jika sang suami tidak peduli dengan kedatangannya. Nandini kemudian berpasrah diri.
"Mas, aku bawakan makan siang untuk mu. Aku tau kamu belum makan. Aku letakkan di atas meja ya Mas." ucap Nandini dengan suara lembut.
Sedikit ragu, Nandini kemudian berjalan ke arah Gabriel.
Dari bekang, Nandini kemudian memeluk sang suami. Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari kedua matanya.
__ADS_1
Sampai-sampai, Gabriel merasakan punggungnya basah oleh cairan bening air mata sang istri.
Sejenak, Nandini menempel kepalanya ke punggung Gabriel. Gabriel tetapi diam membeku.
"Jangan lupa di makan makanannya ya Mas." ujar Nandini, dan sejurus kemudian ia pergi meninggalkan ruang kerja sang suami.
Sepeninggal Nandini pergi. Barulah Gabriel menoleh ke belakang. Tapi sang istri sudah tidak ada di sana. Yang tertinggal hanyalah wangi parfumnya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Kini Nandini sudah kembali ke ruangannya dan ia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Nandini kemudian meraih ponselnya yang ia geletakkan di dekat komputer. Lalu ia mengecek apakah sang suami mengirimkan ia pesan.
Tapi nihil, tidak ada balasan apapun dari Gabriel seperti harapannya. Gabriel benar benar mengacuhkan pesan-pesannya.
Jam kini telah menunjukkan tepat pukul lima sore. Dimana saat itu jam pulang kantor telah tiba.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat. Dengan penuh keseriusan dan kemantapan. Nandini kembali mengirimkan pesan kepada Gabriel.
Mas, aku akan pulang telat. Jika Mas mau pulang, pulang saja duluan. Tidak usah menungguku. Aku bisa pulang dengan naik taksi. Aku ada pertemuan dengan direktur dulu. Makasih Mas.
Itulah pesan yang ditulis oleh Nandini untuk Gabriel.
Gabriel yang saat itu sedang berada di kursi kebesarannya. Langsung meraih ponselnya ketika ia mendengar suara bunyi notif pesan masuk. Kemudiaan ia membuka isi pesan tersebut.
Setelah membaca isi pesan yang Nandini tulis. Gabriel kembali menaruh ponselnya begitu saja. Dan kembali fokus pada laptop untuk meneruskan pekerjaannya.
__ADS_1
Tak berselang lama. Ponselnya kembali terdengar suara pesan.
Gabriel kembali meraih ponselnya dan membaca isi pesan tersebut.
Bro Bisa kita bertemu sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku katakan terhadap dirimu. Ini penting.
Bukannya membalas pesan singkat dari Rafael. Gabriel malah langsung memblokir nomor Rafa.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Flashback on
"Katakan padaku Bik. Apa yang sebenarnya sudah kalian lakukan dan rencanakan." selidik Rafael. Yang pagi itu sengaja mengikuti Tini ke pasar dan ia ingin mengintrogasi Tini perihal peristiwa seminggu yang lalu.
Yang membuat dirinya dituduh selingkuh dengan Nandini.
Awalnya Tini mengelak. Tapi setelah Tini di ancam akan di laporkan ke polisi oleh Rafael dengan tuduhan pencemaran nama baik. Akhirnya Tini mengaku dan jujur pada Rafael tentang apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa mati lampu pada seminggu lalu.
Tini membongkar semuanya. Dan kini, Rafael akhirnya tau jika Rohana lah yang telah merancang dan merencanakan semuanya.
"Ini uang 10 juta untuk Bibik. Anggap ini imbalan karena Bibik sudah jujur." ucap Rafael pada Tini. Yang kala itu juga membantu memuluskan rencana Rohana.
Tanpa di ketahui Tini. Rafael ternyata telah merekam pembicaraan mereka. Dan hal itu memang Rafael lakukan demi bisa menjelaskan kesalahan pahaman yang terjadi antara dirinya dan Gabriel.
Satu bab lagi novel ini akan end....yang masih mau membaca kisah Gabriel dan Nandini bisa favorit kan Novel ini yang akan rilis InsyaaAllah besok ππ₯° Terimakasih
__ADS_1