
Nandini terbangun pada siang hari itu dengan merasakan kepalanya begitu sangat berat dan pening.
Begitu pening nya sampai sampai ia tidak kuasa untuk bangkit dari tidur.
Untuk sesaat Nandini tetap berada di posisi tiduran untuk menetralisir pusing yang begitu sangat sakit menderanya. Karena waktu itu sudah siang dan sudah waktunya ia meminum obat. Karena tadi sebelum berangkat bekerja, sang suami sudah menyiapkan obat pusing untuknya di atas nakas di sisi tempat tidur.
Setelah beberapa diam dalam posisi tiduran dan setelah rasa pusing sedikit mereda. Barulah Nandini mencoba untuk membangkitkan tubuhnya.
Kini ia sudah bisa terduduk sambil bersandar pada headboard tempat tidur.
Saat Nandini mencoba ingin meraih gelas yang ada di sampingnya. Tanpa sengaja rasa pusing itu kembali mendera dan akhirnya gelas yang Nandini ingin raih pun terjatuh ke lantai dan pecah.
Karena gelas itu pecah, Nandini kemudian mencoba untuk memanggil art untuk membersihkan pecahan gelas tersebut.
Dengan susah payah berjalan mendekati pintu kamar. Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing yang begitu hebat. Nandini mencoba untuk memanggil art.
Berdiri di ambang pintu, Nandini memanggil-manggil art dari kamarnya. Tapi sepertinya saat itu sang art sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Karena panggilannya tidak dijawab sama sekali oleh art. Membuat Nandini akhirnya menuruni anak tangga ke lantai bawah.
__ADS_1
Saat Nandini menuruni anak tangga. Dan saat ia belum sampai di lantai. Nandini kembali merasakan pusing yang begitu hebat sehingga membuat dirinya terhuyung ke depan.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegangi Nandini dan menahan bobot tubuh Nandini yang hampir saja akan terjengkang ke depan.
"Kamu tidak apa-apa?" sebuah suara maskulin terdengar di pendengaran Nandini.
"Mas." panggil Nandini.
Yang ia pikir, Pria yang sedang menyangga tubuhnya saat ini adalah suaminya Gabriel.
Tapi ternyata pria tersebut bukanlah Gabriel melainkan Rafael.
"Maaf, terima kasih sudah menahan ku. Jika tidak, tadi aku pasti sudah terjatuh." ujar Nandini berterima kasih kepada Rafael.
"Tidak masalah. Apa ada yang bisa aku bantu. Sepertinya kamu tidak baik-baik saja." tanya Rafael dengan raut wajah khawatir.
"Aku sedang tidak enak badan. Kepala ku pusing. Tadi aku menjatuhkan gelas di kamarku. Dan aku mencoba memanggil Bibik untuk membersihkan pecahan gelas di kamar. Tapi saat aku panggil sepertinya Bibik sedang pada sibuk."
Sesaat kemudian, salah satu art sedang melintas. Kemudian ia menanyakan sesuatu pada Nandini.
__ADS_1
"Bu Dini. Ada apa Bu?" tanya sang art tersebut.
"Tadi aku memecahkan gelas di kamar ku Bim. Bisa minta tolong untuk membersihkannya. Aku takut nanti saat Mas El pulang pecahan gelas itu masih ada. Karena tadi Mas El bilang untuk bisa pulang siang ini." jelas Nandini.
"Oh baik Bu, saya akan bersihkan. Saya ambil sapu dan pengki dulu." ucap sang art.
"Terimakasih Bibik."
Nandini kemudian berjalan lagi ke menuju kamarnya.
Dan saat itu Rafael masih setia berisi di bawah tangga.
Rafael merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Nandini. Rafa memperhatikan Nandini sampe wanita itu benar-benar telah masuk kamar.
Entah kenapa Rafael menjadi sangat peduli dengan istri sahabatnya. Ia begitu mengkhawatirkan Nandini.
Satu hal yang seharusnya tidak boleh Rafael rasakan pada Nandini.
Tapi entah kenapa, rasa peduli itu tidak bisa ia bendung.
__ADS_1