Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Kesabaran Nandini


__ADS_3

"El, jangan naik ke kamar dulu. Mama mau bicara sebentar." ucap Rohana yang saat itu bertemu dengan Gabriel dan juga Nandini yang baru saja pulang dari kantor.


Rohana menahan langkah Gabriel dan Nandini yang saat itu ingin segera naik ke kamar mereka.


"Ada apa Ma?" tanya Gabriel pada sang Mama sambil terus memegang tangan sang istri yang berdiri di sisinya.


"Kamu masih ingat Clarissa nggak? Anak Om Anton."


"Iya, Gabriel ingat. ada apa Ma?"


"Tadi pagi dia menelpon Mama. Katanya dia mau main kerumah. Mama tidak tahu kapan dia akan main ke rumah. Katanya dia ingin main ke rumah karena kangen kamu. Dia baru pulang dari Paris loh. Pekerjaannya di sana sudah habis kontrak. Makanya dia kembali pulang ke Indonesia."


"Oh," ucap Gabriel menanggapi dengan datar cerita sang Mama tentang Clarissa.


"Ko cuma Oh."


"Memangnya harus bagaimana mana Ma. Mama tidak cerita sama Clarissa kalau aku sudah menikah."

__ADS_1


"Mama nggak cerita kalau kamu menikah. Memangnya kenapa? Mama salah. Apa untungnya Mama cerita kalau kamu sudah menikah." tutur Rohana sambil melirik ke arah Nandini dengan sinis. Nandini yang sejak menyimak pun hanya diam saja. Ia paham jika mertuanya memang tidak pernah menganggapnya.


"Ya, tidak apa-apa sih Ma. Ya sudah kalau dia pengen main, main saja. Sudah malam, El dan Dini ke kamar dulu ya Ma. Capek baru pulang dari kantor." tutur Gabriel pada sang Mama.


"Ya sudah, beristirahatlah."


Setelah puas memberitahukan berita tentang Clarissa pada Gabriel. Dan Rohana memang sengaja memberitahu Gabriel tentang Clarissa saat ada Nandini di samping Gabriel membuat Rohana puas. Ia puas telah memanas manasi Nandini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Bukan siapa-siapa, dia hanya anak teman bisnis Almarhum Papa." jawab Gabriel, sambil melepaskan satu per satu kancing kemejanya.


"Apa dia wanita itu. Yang dulu sempat akan dijodohkan sama Mas."


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Soalnya banyak wanita yang akan dijodohkan sama aku dulu. Sampai aku lupa namanya. Tapi kan aku menolak semua wanita wanita itu. Karena di mataku hanya ada kamu. Tidak ada wanita lain." tukas Gabriel, yang kala itu sudah melepaskan kemejanya.


Kemudian Gabriel mendekati Nandini dan memberikan satu ciuman basah di bibirnya wanita yang sangat ia gilai itu.

__ADS_1


Pada saat itu Nandini sedang melepaskan sepatunya.


"Mas jangan mulai manja deh. Kita baru saja pulang. Aku aku capek." ujar Nandini sambil mendorong tautan bibir sang suami yang kala itu masih terpaut pada bibirnya.


"Kau membuat ku gila Nandini. Jangan beralasan capek mulu. Perasaan, sekarang kamu lebih sering capek. Kenapa? Kau tidak enak badan?" tanya Gabriel


"Aku baik-baik saja Mas, memang nggak boleh capek. Kan aku bekerja." sahut Nandini.


Bimasena kemudian duduk di samping sang istri di sisi tempat tidur.


"Din, apa sebaiknya kamu tidak usah bekerja lagi. Untuk membantu perekonomian keluargamu. Aku bisa membantu. Aku akan mengirimkan uang setiap bulannya untuk keluargamu di kampung."


"Nggak Mas, Terima kasih sebelumnya. Aku nggak mau repotin Mas. Nanti di kira aku melorotin kamu lagi. Aku masih ingin bekerja Mas. Lagian kan aku nggak ngapa-ngapain. Pekerjaan aku juga berat."


"Tapi aku kasihan sama kamu Din, kamu kelihatan capek dan letih."


"Capek dan letih kan biasa Mas. Karena aku bekerja. Misal kalau aku nggak kerja, aku ngapain di rumah. Mendekam saja di kamar seharian. Justru itu nanti akan membuat stres. Mas kan tau sendiri, aku sama Mama nggak gitu akur. Jika aku keluar kamar, mau begini salah, begitu pun salah. Kalau tidak ada kerjaan. Nanti aku malah stres. Kalau aku kerja, setidaknya pikiranku masih teralihkan dengan pekerjaan. Yang penting aku enjoy Mas." tutur Nandini, kemudian ia meraih tangan Gabriel dan menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2