Menantu Yang Tak Di Anggap

Menantu Yang Tak Di Anggap
Chemistry


__ADS_3

Dengan sudah sama-sama rapi mengenakan baju kantor. Nandini terlihat begitu modis dan sangat elegan dengan balutan baju kantornya.


Nandini selalu duduk di samping Gabriel ketika mereka sedang berada di meja makan. Ia benar-benar tidak bisa jauh dari sang suami jika berada di rumah.


"Mau nambah Mas lauknya?" tawar Nandini pada sang suami Gabriel ketika mereka sedang menikmati makan pagi kala itu. Bersama dengan anggota keluarga Gabriel yang lain. Termasuk juga ada Rafael.


Semua orang yang berada di ruang makan pun nampak melayangkan pandangan mereka ke arah Nandini. Termasuk juga Rafa.


Rafael merasa tertarik dengan kedekatan yang begitu intens yang terjalin antara Nandini dan juga sahabat karibnya Gabriel.


Sikap Nandini yang begitu manja tapi sangat perhatian terhadap Gabriel sebagai suaminya membuat semua yang berada di dekat mereka akan merasa iri.


Sejenak, Rafa melirik ke anggota keluarga Gabriel yang lain. Termasuk sang Bibik Rohana. Mereka semua melayangkan wajah sinis terhadap Nandini.


Menurut cerita yang Rafa kemarin dengar Tante Rohana. Mereka memang tidak menyukai Nandini.


Tapi menurut Rafa, Nandini terlihat seperti wanita yang baik dan juga punya attitude yang bagus.

__ADS_1


Meski begitu, Rafa tidak ingin ikut campur. Karena itu bukan urusannya.


Yang membuat Rafa tertarik dengan kedekatan pasangan suami istri itu adalah aura kedekatan dan chemistry mereka kuat.


Mereka terlihat sangat dekat dan begitu intens. Sehingga membuat Rafa tertantang untuk segera memiliki pasangan. Benar benar membuat Rafa iri dan insecure.


"Rafa...jangan sungkan untuk nambah. Anggap ini rumah sendiri." ucap Rohana pada Rafa.


"Iya, Tante. Ini juga sudah cukup."


"Ia Tante. Makasih sarannya." jawab Rafael singkat.


Rafael tau, Rohana saat ini sedang menyindir menantunya Nandini, karena ia berasal dari keluarga biasa.


Rafa kemudian melayangkan pandangannya ke arah El dan Nandini.


Nandini yang paham jika sang mertua sedang menyindirnya hanya menghela nafas panjang.

__ADS_1


Ia pun menundukkan kepala mencoba tidak menggubris perkataan sang Mama mertua yang selalu tajam padanya. Bagi Nandini itu sudah biasa.


Sedangkan Gabriel yang ada di sisi Nandini terlihat menenangkan Nandini dengan cara menggenggam erat tangan sang istri.


Saat tangannya di genggam oleh El. Nandini tampak tersenyum. Seolah-olah semua cacian itu tidak berarti dan hanya lewat di telinganya.


Lagi lagi, hal itu menyuguhkan pemandangan yang benar-benar membuat Rafael merasa iri dengan kedekatan sahabatnya tersebut dengan sang istri.


Aku sangat iri denganmu Gabriel. Kamu sepertinya sangat mencintai istri mu. Dan kau sangat beruntung juga di cintai wanita selembut Nandini.


Cinta kalian begitu banyak ujian dan rintangan. Tapi kamu terus maju dan memperjuangkan Nandini agar bisa kau miliki. Kau bahkan mengancam keluargamu dengan cara bunuh diri untuk bisa menikahi wanita itu.


Dan aku bisa melihat bagaimana kalian berinteraksi satu sama lain benar-benar penuh cinta dan kasih sayang.


Aku bisa ikut merasakan bagaimana tatapan kalian berdua selalu menghipnotis satu sama lain.


Kalian sungguh membuat semua orang yang melihat interaksi kalian pasti akan merasa iri, guman Rafael dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2