
"Din." panggil Gabriel, saat dirinya sudah terbangun pagi itu. Sambil mencari-cari sang istri yang semalam tidur lelap di sampingnya setelah percintaan mereka yang begitu bergelora dan luar biasa tadi malam.
Gabriel mengerutkan dahinya saat mencari-cari keberadaan sang istri yang sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Gabriel kemudian bangkit dari tidurannya dan menengok jam kecil yang ada di atas nakas.
Jam saat itu telah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Ia pun kemudian menyibakkan selimut dan kemudian berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah ia selesai membersihkan diri. Gabriel pun siap memakai pakaian kantornya. Satu setel pakaian kantor rupanya sudah di siapkan oleh sang istri di ruang ganti baju. Kebiasaan Nandini yang selalu ia lakukan.
Setelah kini ia sudah rapi. Bebe saat Gabriel menunggu sang istri di kamar.
Tapi Nandini belum juga kembali ke kamar.
"Tumben sekali kamu pagi pagi sudah menghilang. Apa yang kamu lakukan sepagi ini di luar kamar sayang." sergah Gabriel.
Dengan menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Gabriel langsung berjalan menuju dapur. Dan ia ingin bertanya tentang keberadaan sang istri pada art nya.
__ADS_1
Saat Gabriel sudah berada di ruang dapur. Matanya terbelalak kaget ketika melihat sang istri tengah sibuk memasak di depan kompor yang ada di dapur.
Melihat semua itu membuat Gabriel ternganga mulutnya.
"Sayang kamu ngapain di dapur. Kamu masak?" Seru Gabriel pada Nandini.
"Ia, aku sedang masak untuk kamu Mas. Aku masak masakan kesukaan kamu. Aku harap Mas El menyukainya. Tumis brokoli dan udang segar." pamer Nandini sambil mengarahkan telapak tangannya pada wajan di atas kompor.
"Masak bukan tugas mu sayang. Kamu adalah penghuni di rumah ini. Yang juga mendapatkan pelayanan. Masak tugas art. Mereka semua sudah punya tugas masing-masing." jelas Gabriel.
Kemudian pandangan Gabriel terarah pada salah satu art nya ia pekerjakan di rumah.
"Mas, jangan salahkan mereka. Aku sendiri yang mau." bela Nandini pada sang art.
"Maaf Den El, kami semua tadi sudah melarang Non Dini. Bu Dini yang menyuruhnya kami untuk tidak usah memasak. Jadi kami bantu bantu saja."
"Sudah Mas jangan salahkan mereka. Aku yang menginginkan sarapan pagi ini semua menu nya aku yang masak. Aku akan tunjukan sama Mama kalau aku juga bisa masak. Aku sudah selesai masak. Aku ke atas dulu untuk mandi" ujar Nandini, kemudian ia melepaskan celemeknya dan bergegas ke kamarnya untuk mandi.
__ADS_1
Karena Nandini harus bersiap-siap untuk ke kantor.
Tidak bisa berkata-kata lagi. Membuat Gabriel menaikkan kedua pundaknya. Dan Ia melenggang pergi meninggalkan dapur.
Sambil menunggu semua anggota keluarganya datang dan berkumpul di meja makan. Gabriel duduk santai di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Sesaat kemudian, semua anggota keluarga sudah berada di meja makan. Dan mereka tampak asyik menikmati sarapan pagi kala itu.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu itu sebenarnya pandai memasak. Jika kamu pandai memasak seperti ini. Seharusnya kamu selalu masak tiap pagi untuk sarapan kita semua." ucap Rohana, entah itu ia memberikan pujian atau hanya sekedar sindiran pada sang menantu Nandini.
"Ma, kita kan sudah punya art. Kenapa menyuruh Nandini harus masak."
"Memangnya kenapa, semua wanita yang sudah menikah kan memang harus ada kepandaian memasak El. Dan sekarang, istri mu sudah membuktikannya. Masakan enak, Mama suka. Apa salah kalau Mama mau dia masak untuk sarapan kita tiap pagi. Toh saat masak juga di bantu para art."
"Sudah Mas, nikmati saja sarapannya. Jika memang Mama maunya seperti itu. Nandini tidak keberatan untuk masak tiap pagi. Tapi jika untuk makan malam. Nandini tidak bisa Ma. Karena kadang Dini dan Mas El pulang malam."
__ADS_1
"Tidak masalah. Yang penting kamu bisa tujukan sama Mama bahwa kamu ini bisa melakukan apa saja." pungkas Rohana, yang kini di hatinya ia sudah punya rencana jahat untuk mengerjai sang menantu.