
"Sayang apa kamu sudah tidur. Bisa bangun sebentar tidak. Mama membuatkan minuman untukmu." ucap Gabriel saat itu, mencoba untuk membangunkan Nandini. Padahal Nandini saat itu baru saja memejamkan matanya.
Karena merasa dipanggil, Nandini pun kemudian membuka mata.
"Ada apa Mas. Aku baru saja mau tidur.".
"Mama membuatkan kamu minuman."ucap Gabriel sambil menunjukkan satu kelas minuman yang ada di tangannya.
"Apa itu?" tanya Nandini penasaran.
"Entar aku juga tidak tahu. Kata Mama ini obat untukmu. Obat herbal. Mama tahu kamu tidak enak badan kemarin. Makanya Mama membuatkan kamu ini. Kata Mama kamu harus meminumnya. Kalau tidak Mama akan marah. Karena kamu tidak tidak dihargai niat baik Mama."
Mendengar itu, Nandini pun kemudian bangkit dari tidurnya. Lalu ia meraih gelas yang ada di tangan sang suami. Sebelum meminum, Nandini menciumnya minuman itu sejenak.
"Apa sih ini.Tumbenan Mama perhatian sama aku. Setelah tujuh bulan lamanya aku di sini. Baru kali ini Mama perhatian."
"Mungkin Mama merasa bersalah atas sikapnya tadi saat di meja makan."
"Mama, merasa bersalah pada ku. Hal yang mustahil Mas."
"Jangan berprasangka begitu sayang. Tapi mungkin juga kan. Aku selama ini selalu berharap mama bisa berubah sikap terhadap mu."
__ADS_1
"Baiklah aku minum. Setelah ini aku tidak mau di ganggu lagi Mas. Aku mau tidur."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Dan keesokan paginya. Hari itu Nandini kembali merasa pusing.
Dan ia kembali tidak masuk ke kantor. Karena rasa pusingnya terasa jauh lebih sakit daripada kemarin yang ia rasakan.
"Mana istrimu, tidak ke kantor lag" tanya Rohana pada Gabriel yang saat itu makan pagi sendirian di meja makan.
"Dia pusing lagi Ma. Makanya dia izin lagi untuk tidak masuk kerja."
"Dia hanya merasakan pusing. Kemarin niatnya El mau memeriksakan Nandini. El berharap, pusing Nandini itu karena Nandini sedang hamil. Jika benar itu terjadi. El akan sangat senang Ma." Tutur Gabriel antusias.
Mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut putranya membuat Rohana semakin khawatir. Karena jika benar saat ini Nandini sedang hamil. Usahanya akan semakin sulit untuk memisahkan Gabriel dan Nandini.
"Apa semalam Nandini meminum minuman yang sudah Mama buatkan?"
"Iya, dia meminumnya sampai habis. Memang minuman apa Ma. Tumben sekali Mama memperhatikan sama Nandini."
"Kalian terlalu berpikir negatif sama Mama. Itu minuman obat-obatan herbal supaya tubuh nanti segar."
__ADS_1
"Raf, kamu jadi pindahan besok?" tanya Rohana pada Rafael yang pagi itu juga ada di meja makan.
"Iya, Tante. Mungkin besok pagi Rafael sudah mulai menempatinya.
"Padahal jika kamu tinggal di sini terus juga tidak apa-apa loh Raf."
"Saya sudah mendapatkan jatah untuk tempat tinggal dari perusahaan Tante."
"Enak ya kamu sudah sukses. Tante hanya bisa mendoakan kamu tetap sukses dalam berkarir dan jangan lupa cepat-cepatlah untuk mencari pasangan. Karena usiamu ini sudah cukup matang untuk bisa berumah tangga. Seperti El, dia sudah punya istri yang sangat dicintai. Karena seusai kalian kan memang sudah saatnya kalian punya pasangan. Agar bisa selalu mendapatkan belaian seorang wanita. Bagaimanapun kematangan seorang pria tidak lengkap rasanya jika tidak ada wanita di sisinya. Iya kan El."
Gabriel bernampak menaikkan kedua alisnya menanggapi celotehan sang Mama.
"Kalau Rafael belum punya pasangan tidak bisa dipaksakan dong Ma. Memangnya cari pasangan itu gampang. Menikahkan juga harus berdasarkan saling mencintai. Kalau Rafael belum menentukan sosok itu ya buat apa di paksakan menikah." sahut Gabriel.
"Kalau menunggu menemukan seseorang yang dicintai terkadang susah. Bukan kah mencintai itu bisa sambil belajar. Memang seperti apa wanita idaman mu Raf. Tante jadi penasaran."
"Saya tidak terlalu mulut-muluk dalam mencari pasangan. Yang penting kita saling mencintai. Aku menyukai wanita lembut, yang perhatian, yang setia dan juga penyabar." tutur Rafael menjawab pertanyaan Rohana tentang kriteria perempuan yang dicintai yang ingin dinikahi Rafael.
"Persis tu seperti Nandini." ucap Rohana, seketika ucapan Rohana membuat Rafa terperanjat dan dia pun menatap Rohana.
Sedangkan Gabriel sendiri juga sempat kaget saat Istri nya di sebut sebut Mamanya.
__ADS_1