Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Anak Tiri


__ADS_3

PoV Author


Nilam melihat ke arah jendela dengan pikirannya begitu kosong. Dia terus mengingat masa lalunya. Masa lalu yang terus diingatnya selama 3 tahun yang lalu. Tapi dia tidak bisa melepaskan masa lalunya itu.


Setelah putus dari Aldi yang bukan merupakan keinginannya itu, dia berpikir dengan menghindari Aldi akan membantu dia untuk bisa move on. Tapi itu semua berbalik dari yang dia inginkan, karena takdir yang masih bermain dengannya.


Pria yang coba dia lupakan dan berlari menjauh darinya, sekarang malah menjadi anak tirinya. Apakah semua itu sebuah kecelakaan ataukah memang sudah menjadi takdir bagi Nilam? Dia idak bisa mengatakan apapun karena semuanya terlihat sama saja baginya.


Aldi adalah cintanya dan sekarang dia menjadi anak tirinya dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk merubah hal itu, tidak sekarang ataupun nanti. Takdir Nilam sudah terkunci dan dia pun terikat untuk tidak bisa hidup bahagia dalam hidupnya, karena sejak sangat lama dia sudah menerima takdirnya yang selalu saja hidup sedih. Dia bukanlah tipe dari seorang Cinderella.


Nilam melihat ke arah sebuah cincin yang begitu cantik dengan berlian berwarna biru sebagai matanya. Itu adalah cincin yang diberikan kepadanya oleh Aldi 3 tahun yang lalu. Tapi Nilam merasa begitu sedih karena permintaan yang diberikan Aldi kepadanya di hari itu tidak bisa menjadi kenyataan.


Tok! Tok! Tok!


Nilam tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara ketukan di pintu. Jadi dia dengan cepat menyembunyikan cincin itu dan mengusap air mata yang terjatuh ke wajahnya. Jika bukan karena ketukan pintu itu, dia mungkin tidak akan menyadari bahwa dia sudah menangis sejak tadi.


"Iya silakan masuk." Ucap Nilam akhirnya.


Seorang wanita dengan rambut berwarna coklat yang terikat masuk ke dalam kamar Nilam.


"Nyonya Muda..." Ucap wanita itu.


"Iya Bi Ani? Apakah ada masalah?" Tanya Nilam.


"Makan malam sebentar lagi. Apakah kami akan mulai mengatur mejanya?" Tanya Bibi Ani.


"Oh ya, aku akan datang untuk membantu." Balas Nilam.


"Oh tidak Nyonya Muda. Nyonya seharusnya membiarkan kami yang melakukannya. Nyonya sudah bekerja sepanjang hari untuk menyiapkan semuanya bagi kedatangan Tuan Muda. Jadi Nyonya harus membiarkan kami yang melakukannya. Di samping itu Nyonya juga baru saja sembuh dari sakit. Akan lebih baik jika Nyonya beristirahat dan biarkan kami yang melakukan semuanya." Ucap Bibi Ani.


"Tidak apa-apa Bibi Ani. Aku mau menyibukkan diriku sendiri. Leon masih tertidur jadi aku..."


"Nyonya harus tetap istirahat. Saya datang hanya untuk mengatakan hal itu kepada Nyonya. Itu saja." Ucap wanita itu.


"Aku sangat ingin membantu. Bibi Ani, ayo kita lakukan semuanya bersama. Pasti akan lebih menyenangkan." Ucap Nilam tersenyum saat dia memegang tangan Bibi Ani.

__ADS_1


Sejak hari di mana Nilam menginjakkan kakinya di rumah keluarga Erfandi, Bibi Ani sudah menjadi seperti Ibu bagi Nilam. Tentu saja Nilam juga begitu ramah dengan para pelayan lainnya. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa dicintai oleh semua orang.


...****************...


Di saat yang bersamaan, Aldi tengah menatap sebuah foto Nilam yang dia ambil sejak 3 tahun yang lalu. Ada banyak foto yang begitu ingin untuk dihapus oleh Aldi. Tapi itu semua terasa sangat sulit baginya. Di saat yang seperti ini, dia tidak bisa menyadari bagaimana perasaannya untuk Nilam. Apakah itu benci, jijik cinta, atau perasaan yang lainnya yang tidak bisa dia jelaskan.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu Aldi..."


Alis Aldi tampak mengkerut saat dia kembali mendengar suara itu di dalam pikirannya yang terdengar seperti sebuah lagu. Kemudian dia marah dan melempar foto yang ada di tangannya itu.


"Pembohong...." Teriak Aldi kepada dirinya sendiri dan mencoba untuk menghapus semua kenangan menyakitkan yang terlihat terus memburu dirinya itu.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa di sana?" Teriak Aldi dengan marah kepada orang yang tengah mengetuk pintu kamarnya.


Hal itu membuat orang yang berada di balik pintu tampak terkejut karena teriakan darinya itu.


"Ini.... ini saya Tuan Muda. Papa... Papa anda dan Nyonya Muda tengah menunggu kedatangan anda di ruang makan untuk makan malam bersama." Ucap pelayan itu kepada Aldi.


"Tapi Tuan Muda, anda...."


"Aku bilang pergi." Teriak Aldi sekali lagi yang membuat pelayan itu langsung berlari setelah dia di gertak oleh Aldi.


Pelayan itu langsung melaporkan semuanya kepada Papa Aldi yang sudah duduk di meja makan bersama dengan Nilam. Nilam merasa lega saat itu karena dia masih sedih tentang Aldi. Aldi melakukan perjalanan yang panjang untuk sampai ke rumah dan mungkin saja dia tengah kelaparan. Tapi karena kehadiran dirinya yang tidak diinginkan, Aldi pun harus melewati makan malamnya.


Papa Aldi tampak menghela nafas.


"Anak inilah Putraku." Ucap Papa Aldi pada Nilam.


"Maafkan aku Tuan Erfandi, ini adalah salahku." Ucap Nilam.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku seharusnya sudah menyadari hal ini. Tidak apa-apa jika Aldi tidak menyukaimu sekarang. Aku percaya bahwa kalian berdua akan bisa membaik nantinya." Ucap Papa Aldi tersenyum kepada Nilam.


Nilam pun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membalas senyuman Papa Aldi.

__ADS_1


Nilam tidak pernah memiliki perasaan apapun untuk pria yang sudah menikah dengannya itu. Tapi karena Papa Aldi selalu menghargai dan menjaga dirinya lebih dari sebuah keluarga, Nilam pun memberikan rasa hormat kepada Papa Aldi.


Nilam tidak mungkin mengatakan kepada Papa Aldi bahwa Aldi dan dirinya sudah pernah memiliki hubungan 3 tahun yang lalu bahkan Aldi sendiri tidak mungkin berani untuk mengakui hal itu. Bukan karena dia menghargai memori dari masa lalu mereka atau menghargai Papa nya tapi karena Aldi pasti merasa jijik dengan hal itu. Semuanya terasa sangat menyedihkan, tapi Nilam harus menyadari kenyataannya sekarang bahwa Aldi benar-benar membenci dirinya.


"Kau seharusnya makan lebih banyak. Kau kehilangan berat badanmu beberapa hari ini. Tentu tidak akan baik jika kau kembali sakit lagi." Ucap Papa Aldi kepada Nilam.


"Iya tentu Tuan Erfandi." Balas Nilam.


Tapi Nilam tidak punya nafsu makan hari ini. Meski begitu untuk menghormati Papa Aldi, Nilam mencoba untuk makan lebih banyak walau sebenarnya perutnya benar-benar menolak akan hal itu.


"Nilam, kau harus membawa sesuatu ke kamar Aldi. Dia belum makan dan aku tidak mau dia tidur dengan perut yang kosong." Ucap Papa Aldi.


"Bukankah lebih baik untuk mengirim orang lain. Anda tahu bahwa putra anda itu tidak menyukai aku." Ucap Nilam dengan sedih.


"Aku tahu, tapi itulah kesempatan yang baik bagimu untuk mulai mendekat dengannya. Mungkin butuh beberapa waktu, tapi kau seharusnya mulai mencoba kapanpun. Tolong jadilah gadis yang baik dan lakukan permintaanku." Ucap Papa Aldi.


"Tentu Tuan Erfandi." Balas Nilam.


"Bagus, aku akan berada di kamarku jika kau membutuhkan sesuatu." Ucap Papa Aldi lagi.


Papa Aldi kemudian pergi meninggalkan Nilam dengan tugas yang berat. Tapi bagaimanapun, Nilam harus melakukan hal itu. Dia pun pergi ke dapur dan membuat puding untuk Aldi.


Nilam menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Jadi Aldi tidak akan makan yang lainnya. Jadi puding akan selalu lebih baik bagi Aldi. Nilam membuat puding yang sama seperti yang selalu disukai oleh Aldi di masa lalu dan Nilam pun menyajikannya ke dalam sebuah mangkuk kecil. Kemudian dia menaruhnya di atas sebuah nampan dengan segelas air.


Butuh keberanian yang cukup bagi Nilam untuk mengetuk pintu kamar Aldi. Tapi setelah mengetuk pintu beberapa saat, tetap tidak ada balasan dari dalam. Jadi Nilam pun masuk begitu saja ke dalam kamar Aldi.


"Al.... Aldi, Papa mu meminta aku untuk membawakan makan malam untukmu. Aku akan menaruhnya di meja ini." Ucap Nilam.


Sebenarnya dia melihat ke sekeliling, tapi dia begitu beruntung karena Aldi tidak ada di sana beberapa saat karena dia terdengar tengah berada di dalam kamar mandi karena Nilam bisa mendengar suara shower. Jadi Nilam pun dengan cepat menaruh puding itu di atas meja dan dia memegang gagang pintu untuk bisa keluar dari dalam kamar Aldi.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Nilam membelalak dan langsung membeku di posisinya beberapa saat setelah mendengar suara Aldi yang bicara dari belakangnya.


'Sekarang bagaimana?' pikir Nilam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2