Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Salah Kamar


__ADS_3

PoV Nilam


Momen saat aku melihat Aldi bermain dengan Leon dan mereka terlihat begitu akrab satu sama lain membuat jantungku tiba-tiba berdetak begitu kencang dan hatiku dipenuhi dengan rasa bahagia. Bahkan aku tidak bisa menjelaskan semuanya, tapi itu adalah perasaan yang penuh kelegaan bagiku. Tentu saja Aldi masih membenci aku tapi aku akan membiarkan dia lebih membenci aku dibandingkan dia harus membenci Leon.


"Nyonya Muda, Tuan kecil sekarang sudah tidur di kamar." Ucap Bibi Ana dengan cepat.


Setelah dia mengambil Leon dari Aldi, dia memang langsung pergi membawa Leon dan menidurkannya di kamarnya.


"Terima kasih Bibi Ana. Makan siang sudah siap, tolong bantu aku menata meja. Aku akan mengajak Tuan Erfandi untuk makan." Ucapku.


"Tentu saja Nyonya Muda." Balas Bibi Ana.


Aku lalu melepaskan apron yang aku gunakan saat menyiapkan makan siang tadi, dan kemudian pergi ke kamar Tuan Erfandi, tapi dia tidak ada di sana.


Setelah beberapa saat mencari keberadaan Tuan Erfandi, aku akhirnya menemukan dia tengah berdiri di samping tangga. Dia seolah hendak ingin naik ke lantai atas, tapi aku bingung untuk apa Tuan Erfandi pergi ke sana, karena kamarnya dan ruang kerjanya berada di lantai bawah. Sementara kamarku ada di lantai atas dan dia jarang sekali pergi kesana.


"Tuan Erfan..." Panggilku untuk mendapatkan perhatiannya.


Tuan Erfandi pun berbalik untuk menatapku.


"Tuan Erfan, makan siang sudah siap." Ucapku kepadanya dan dia pun memberikan senyuman hangat kepadaku.


"Baiklah Nilam." Balasnya.


"Biarkan aku membantu Anda." Ucapku dan aku lalu memegang tangannya.


Aku melakukan hal itu karena aku ini adalah istrinya dan meski aku tidak memiliki perasaan cinta kepadanya tapi aku melihat dan menjaganya sebagai seorang ayah bagiku. Dia mungkin saja tahu bagaimana sulitnya hidup ini bagiku, jadi dia memberikan aku ruang dan dia begitu baik kepadaku. Semua yang aku lakukan adalah untuk bersikap baik kepadanya. Aku tidak mau untuk menjadi masalah bagi kematiannya karena stroke yang dialami.


"Aldi kau harus turun ke bawah untuk makan siang juga."


Aku begitu terkejut saat aku mendengar ucapan Tuan Erfandi saat memanggil nama Aldi dan aku melihat ke lantai atas. Aku bahkan tidak tahu bahwa Aldi sudah melihat kami sejak tadi. Aku tahu aku melakukan hal yang salah. Tapi momen saat aku melihat ke arah matanya, di sana aku tiba-tiba merasa semakin begitu bersalah.


"Sekelompok penghianat menjijikkan."


Aku mendengar ucapan Aldi dengan matanya yang penuh kebencian dan rasa jijik padaku. Aku juga merasa ada aura kuat dari kekecewaan dan aku rasa aku tahu itu kenapa, tapi aku tidak bisa menahannya.


"Dasar anak tidak berguna. Bagaimana kau bisa bicara kepadaku dengan cara tidak hormat seperti itu? Tidak peduli apapun itu, aku masih lah Papa mu. Jadi berterima kasihlah kepadaku karena kau bisa terlahir ke dunia ini."


Tuan Erfan berteriak, tapi Aldi tidak menghiraukan dia dan malah berjalan menjauh dari kami. Aku benar-benar benci untuk melihat momen seperti ini, tapi tanganku dan semua yang ada di tubuhku terasa membeku.


"Aku minta maaf Tuan Erfan. Ini semua salahku karena aku, anda dan Aldi...."


Aku mencoba untuk meminta maaf karena merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Nilam. Masalah yang terjadi antara aku dan Aldi tidak ada hubungannya denganmu. Bahkan sebelum kau datang kemari, kami memang sudah memiliki beberapa masalah dan tidak pernah akur." Ucap Tuan Erfandi.

__ADS_1


Tuan Erfandi seolah mencoba untuk membuat aku nyaman dan sekarang apa yang dia katakan itu membuat aku mengingat dengan jelas bahwa Aldi tidak pernah mengatakan kepadaku apapun tentang Papa nya saat kami masih berhubungan dulu. Aku hampir percaya bahwa Papa Aldi mungkin saja sudah meninggal atau sudah menelantarkan dirinya. Bahkan dengan cara seperti ini aku masih bisa merasakan rasa bersalah dari rasa sakit yang dialami Tuan Erfandi.


Aldi menolak untuk makan siang dengan kami. Jadi aku meminta Bibi Ana untuk mengantar makan siang ke kamarnya, tapi ternyata Aldi tidak ada di sana. Aku tidak tahu ke mana dia pergi, tapi aku merasa mulai khawatir kepadanya.


Sepanjang hari ini tidak ada tanda dari Aldi dan tidak ada yang tahu di mana keberadaannya.


Malam pun datang dan jam tidak berhenti berputar, tapi masih saja tidak ada tanda dari keberadaan Aldi. Aku mulai benar-benar merasa khawatir.


'Saat kau pergi, dia mulai menjadi pemabuk.....'


Ucapan Lila itu membuat aku tersadar. Tapi itu tidak bisa membantu aku untuk bisa semakin tenang. Aku lantas berdiri di dekat jendela dengan menggunakan gaun malam ku. Leon sudah tertidur dengan nyenyak di tempat tidurnya dan tempat tidurku terasa begitu dingin dan kosong. Semua orang di rumah ini pasti sudah tertidur, tapi aku benar-benar tidak bisa tertidur.


Aku masih melihat ke arah bulan purnama yang tampak begitu indah. Malam ini cukup sunyi dan bulan itu sangat indah untuk dilihat. Aku terus menatap ke arah bulan purnama itu dan pintu kamarku tiba-tiba terdengar terbuka. Aku begitu terkejut pada saat aku menyadari bahwa itu adalah Aldi. Rambutnya sedikit berantakan dan tiga kancing atas pakaiannya terbuka dan memperlihatkan dadanya yang begitu seksi.


"Aldi...." Ucapku memanggil namanya.


Tapi dia melihat ke arahku seolah dia begitu terkejut melihat aku.


"Kau.... kenapa kau ada di sini?" Tanya Aldi.


Aku menjadi semakin bingung karena akulah yang seharusnya bertanya kepadanya dengan pertanyaan itu karena dia lah yang berada di kamarku saat ini.


"Apa?" Ucapku semakin bingung.


"Kenapa kau melakukan hal itu dan sekarang kau datang kemari ke kamarku untuk semakin merusak aku." Ucap Aldi.


"Aldi.... Apakah kau mabuk?" Tanyaku kepadanya.


Tapi aku rasa, aku memang sudah tahu bahwa dia mabuk dan itu semua mungkin saja karena kesalahanku.


Aku pikir bahwa dia sudah move on dariku saat dia pergi untuk menyelesaikan pendidikannya. Tapi aku rasa aku juga lah yang sudah membuka luka lamanya.


Aldi semakin mendekat ke arahku dan aku bisa mencium aroma alkohol yang kuat dari nafasnya. Dia melihat ke arahku beberapa saat dan tatapan matanya turun ke arah bibirku. Tangannya mencoba untuk memegang wajahku dan kemudian ke arah bibirku. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Tapi kemudian dia mulai menjatuhkan wajahnya di leherku dan mencium leherku seolah dia tengah mencoba untuk mencium aroma parfum di tubuhku.


"Aldi, apa yang kau lakukan?" Ucapku gugup dan aku tidak bisa mendorongnya menjauh karena dia begitu kuat.


Tapi aku rasa tubuhku juga terpengaruh olehnya. Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dari leherku dan tangannya kembali mengarah ke arah bibirku.


"Cantik." Ucapnya.


"Aldi kau...."


Dia tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara dan dia langsung menutup bibirku dengan mulutnya. Dia menciumku dan ciumannya itu terasa begitu hangat dan juga kasar karena begitu mendominasi. Dia menciumku seolah dia ingin menghisap jiwaku. Aku benar-benar hampir kehilangan nafasku, tapi dia tidak mau melepaskan aku. Tidak peduli jemariku yang kecil ini mendorongnya dan terus mendorong dadanya.


Aku benar-benar tidak bisa menahannya karena semakin aku mencoba untuk berusaha mendorongnya semakin kuat ciumannya dan genggaman tangannya kepada tubuhku.

__ADS_1


Saat dia akhirnya melepaskan ciuman itu. Dia lau mendorongku ke arah tempat tidur.bKemudian tangannya mulai menyentuh tubuhku dan berakhir dengan memegang dagu ku dengan erat dan mendekat ke arahku dengan semakin dekat. Tapi aku tiba-tiba menutup mataku saat aku mencoba untuk menahan dirinya. Tapi setelah itu, dia tidak melakukan apapun padaku dan hanya membaringkan kepalanya di dadaku.


"Jantungmu benar-benar berdetak kencang. Tapi ini tidak berdetak untukku. Aroma tubuhmu yang wangi dan tubuhmu yang indah ini, semua kecantikan mu ini tidak nyata." Ucapnya.


Saat itu juga aku berhenti untuk melawannya dan aku malah merasa begitu bersalah dan juga begitu terluka. Aku ingin mengatakan kepadanya tentang apa yang aku rasakan dan semua yang terjadi saat ini memang nyata. Tapi aku tidak bisa dan dia mungkin saja tidak akan percaya kepadaku.


"Aldi...."


Aku memanggilnya beberapa kali. Tapi sepertinya dia sudah tertidur lelap. Jadi aku langsung memeluknya. Aku mau membuat dirinya berada dalam pelukanku hanya beberapa saat. Aku ingin memberikan kehangatan kepadanya.


"Maafkan aku..." Ucapku.


...****************...


Setelah berusaha begitu keras, akhirnya aku bisa membawa Aldi kembali ke kamarnya dan membaringkan dia di atas tempat tidurnya. Aku membuka sepatunya dan pakaiannya kemudian celananya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Aku menghela nafas lega saat aku melihat dia tertidur dengan nyenyak. Aku sebenarnya ingin menyentuhnya, tapi aku langsung menarik tanganku menjauh. Tubuh kami bisa saja bertemu kapanpun, tapi aku takut jika hati kami tidak akan pernah bersatu lagi.


Aku lalu berjalan keluar dengan sedih dari kamar Aldi. Aku menutup pintu di belakangku dengan lembut agar tidak membuatnya terbangun karena suara yang bising.


"Nilam....!"


Aku begitu terkejut saat sebuah suara memanggil namaku dan jantungku terasa hampir saja keluar, saat aku mengetahui bahwa itu adalah suara Tuan Erfandi yang memanggil aku.


"Tu... Tuan Erfan..." Ucapku gugup.


"Kenapa kau ada di kamar Aldi?" Tanya Tuan Erfandi padaku.


Aku sebenarnya tidak melakukan hal yang salah. Tapi aku memang berciuman dengan Aldi dan sekarang aku baru keluar dari kamarnya. Apa yang akan Tuan Erfandi pikirkan tentang aku?


"Tu... Tuan Erfan. Aa.... aku.... aku... Tadi Aldi pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan salah masuk ke kamarku. Aku hanya membawanya kembali ke kamarnya." Ucapku.


Tapi Tuan Erfandi tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus melihat ke arahku dan aku berpikir apakah dia bisa percaya kepadaku atau tidak. Aku tidak berbohong walaupun aku memang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Baiklah, kau bisa kembali ke kamarmu." Ucap Tuan Erfandi.


Aku pun menghela nafas lega.


"Ini bukan pertama kalinya Aldi kembali ke rumah dengan mabuk. Aku mengerti semuanya. Sekarang kembalilah ke kamarmu." Ucap Tuan Erfandi.


"Baik Tuan Erfan." Ucapku dan berjalan kembali ke arah kamarku.


Saat aku menutup pintu kamarku, aku pun bisa menghela nafas lega dan kemudian menyentuh bibirku yang mengingatkan aku akan ciuman Aldi tadi. Aku melihat wajahku ke arah cermin dan bibirku ternyata tampak berdarah.


"Oh ya Tuhan, aku harap Tuan Erfandi tidak melihat hal ini." Ucapku dengan ketakutan saat aku menyadari bahwa bibirku terluka karena ciuman kasar yang dilakukan Aldi tadi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2