Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Kejujuran


__ADS_3

PoV Aldi


"Mama, kenapa Mama berkeringat?"


Nilam langsung membeku pada saat Leon bertanya kepadanya kenapa dia berkeringat. Di antara semua orang dewasa yang ada di meja makan itu, hanya si kecil Leon yang bisa menyadari ada hal kecil yang terjadi kepada Mamanya. Dia benar-benar Putra kesayanganku.


"Emmmm.... Sayang Mama sebenarnya...."


"Sebenarnya makanan Mamamu sedikit pedas dan dia mungkin berkeringat karena dia menikmati makanannya, bukan begitu Nilam?" Ucapku.


"I... Iya." Balas Nilam canggung dan gugup tapi dia masih menatap ke arahku karena aku masih mengusap pahanya yang lembut.


Sangat sulit bagiku untuk melepaskan tanganku darinya, tapi aku tetap melakukannya dan juga makan dengan tenang.


"Aku sudah selesai. Aku akan melakukan beberapa pekerjaan di kamarku, aku permisi dulu." Ucapku tidak lupa untuk melirik dengan cepat ke arah Nilam, seolah mengingatkan dia bahwa kami akan bertemu di ruang belajar nanti.


Aku akhirnya bisa melepaskan diriku dari tatapan Maria dan beristirahat di kamarku di mana aku mulai melakukan pekerjaanku seperti yang aku katakan di meja makan pada semua orang tadi. Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku.


Aku berpikir bahwa itu pasti Bibi Ana atau pelayan yang datang membawa kopi untukku. Aku pun meminta pelayan itu untuk masuk.


Aku tidak mengalihkan mataku dari laptop yang ada di depanku, tapi suaranya langsung mengalihkan aku.


"Tuan Muda Aldi." Ucap Maria berdiri di pintu kamarku dengan menggunakan gaun malam berwarna merah yang aku akan memberikan nama gaun itu sebagai gaun merah yang menggoda.


Bagaimanapun tidak peduli bagaimana dia membuat dirinya terlihat menggoda, aku masih tetap tidak bisa tergoda kepadanya. Aku hanya bisa tergoda terhadap Nilam yang memang secara natural selalu membuat aku tergoda.


"Nona Eleanor... Kenapa kau ada di sini? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Ucapku.


"Aku membawakan kopi untukmu." Balasnya.


"Oh terima kasih, kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri. Bibi Ana dan yang lainnya bisa melakukannya." Balas ku.


"Iya itu karena mereka meminta tolong kepadaku." Ucapnya.


"Baiklah, aku masih punya pekerjaan." Ucapku.


"Aku tidak akan mengganggumu lebih lama lagi." Ucap Maria berbalik.


Dia hendak pergi tapi dia tiba-tiba tersandung dan terjatuh di atas ku di sofa. Tapi aku langsung menangkapnya dan menghindari sentuhan yang terlalu dekat. Aku tahu trik lama seperti ini yang selalu digunakan para wanita untuk membuat diri mereka jatuh pada seorang pria dan mencium mereka, kemudian membuat itu seolah sebagai sebuah kecelakaan.


"Apa kau baik-baik saja Nona Eleanor?" Tanyaku.


"Ii.... Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya tersandung lalu terjatuh. Terima kasih karena sudah menangkap ku." Balasnya.


"Nona Eleanor, kau seharusnya kembali ke kamarmu sekarang. Kau mungkin kelelahan karena perjalananmu datang kemari. Itulah yang membuatmu kehilangan keseimbangan mu." Ucapku.


Untungnya dia akhirnya pergi karena parfum yang dia gunakan benar-benar memuakkan bagiku dan aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Setelah dia pergi, aku kembali mandi dan menggunakan piyama tidurku dan pergi ke ruangan di mana aku akan bertemu dengan Nilam.


Aku sudah menunggu Nilam hampir 30 menit atau lebih dan saat aku pikir bahwa dia tidak akan datang, pintu terdengar terbuka dan aku melihat dia menutup pintu di belakangnya. Tapi saat dia berbalik dari pintu aku langsung menahan tubuhnya di tembok.


"Kenapa kau datang terlambat? Kau pantas untuk dihukum." Ucapku langsung menutup mulutnya.


Aku menciumnya dengan kasar tapi aku juga melakukannya dengan lembut agar tidak menyakitinya. Kemudian aku mendengar suara rintihannya diantara ciuman kami saat dia mencoba untuk melepaskan dirinya dariku. Tapi aku tidak mau melepaskannya dan aku malah semakin memperdalam ciuman kami setelah aku memegang dan mengangkat Tangannya di atas kepalanya menciumnya dengan penuh hasrat sampai dia terlihat kehabisan napas. Kemudian aku melepaskannya dan kami berdua mencoba untuk mengambil nafas kami.


"Al... Aldi... Apa yang kau lakukan? Kenapa kau meminta aku untuk datang kemari di tengah malam seperti ini?" Ucapnya.


"Tentu saja karena aku tidak bisa lagi pergi ke kamarmu saat kau membuat saudaramu itu berada di rumah ini." Ucapku.

__ADS_1


"Dia bukan saudaraku." Balas Nilam.


"Aku tahu kau tidak menyukai dirinya dan dekat dengannya. Lalu kenapa Kau membiarkan dia ada di sini?" Tanyaku.


"Andai saja aku punya pilihan lain." Ucap Nilam.


"Apa maksudmu?" Tanyaku.


Pada saat itu dia terdiam dan aku tahu bahwa dalam kebisuannya itu, dia menyembunyikan hal yang lebih dari hanya sebuah kata-kata yang bisa dia ucapkan kepadaku. Tapi aku benar-benar ingin mendengarkan dia mengatakan semuanya kepadaku. Jadi aku mengajaknya duduk di sofa dan aku duduk di sampingnya.


"Katakan kepadaku tentang semuanya." Ucapku.


Nilam lalu mengambil nafas dalam dan menghembuskan nya, kemudian dia mulai bicara.


"Semuanya baik-baik saja sebelum Papa pergi untuk selamanya. Kami dulu tinggal di sebuah rumah yang besar dengan Tanteku bersama suaminya dan juga anaknya. Papa membantu bisnis Om ku dan kami hidup sebagai keluarga yang bahagia. Tapi tiba-tiba Papa meninggal karena sebuah kecelakaan dan Mamaku harus mengalami kebutaan karena kesehatannya yang melemah. Tante dan suaminya mengambil alih semua properti Papa dan aku menjadi pelayan di rumahku sendiri. Aku harus bekerja keras untuk melanjutkan pendidikan ku dan melakukan yang terbaik untuk membuat Tanteku tetap senang, jadi perawatan Mamaku bisa dilanjutkan dan hidup adikku juga bisa baik-baik saja.


Tapi itu semua tidak cukup untuk mereka. Beberapa bulan setelah kita berkencan dan di malam terakhir yang aku habiskan bersamamu di apartemen itu, aku diketahui oleh mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka memanggilku. Hingga sampai akhirnya mereka membicarakan tentang pernikahanku dengan Tuan Erfandi. Sebenarnya itu bukanlah aku yang seharusnya menikah dengan Tuan Erfandi. Tapi mereka tidak mau putri mereka menikah dengan pria tua untuk membayar hutang mereka." Ujar Nilam.


"Jadi mereka memberikan dirimu kepada Papaku?" Ucapku.


"Iya." Balas Nilam.


"Tapi kenapa kau tidak mengatakan semuanya kepadaku. Aku bisa membantumu." Ucapku.


"Aku tidak diberikan pilihan itu Aldi. Aku dikunci di rumah dan diperlakukan dengan buruk. Mereka juga mengancam ku dengan hidup Mama dan juga adikku Alen. Aku tidak punya pilihan lain. Jadi aku menikah dengan Tuan Erfandi. Tapi percaya kepadaku, aku tidak pernah punya keinginan untuk mengkhianati dirimu."


Nilam lalu membalik tubuhnya kearahku, membuat tangannya terangkat dan menaruhnya di wajahku dengan penuh perasaan. Di dalam matanya, aku hanya bisa melihat kata cinta. Aku hanya bisa melihat wanita yang putus asa dan penuh kesedihan, walaupun dia mencoba untuk menyembunyikan semuanya.


"Aku selalu mencintaimu Aldi. Kau adalah orang pertama dan satu-satunya pria yang pernah aku berikan seluruh hidupku, tubuhku dan semuanya hanyalah milikmu dan hanya untukmu. Percaya kepadaku." Ucapnya.


"Tentu... tentu Nilam." Ucapku seraya memegang wajahnya dengan kedua tanganku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Tentu saja aku tahu. Jika tidak, bagaimana bisa aku menjadi Papa dari Leon dan bukannya sebagai saudara tirinya." Ucapku.


"Kau..... Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?" Ucapnya.


"Aku tidak mudah dibodohi Nilam Yuniarta Widuri. Tentu saja aku penasaran dan aku harus menghilangkan semua rasa penasaran ku itu. Jadi aku membuat tes DNA tentang diriku dan Leon."


"Lalu kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?"


Aku tersenyum dan mencubit hidungnya.


"Bodoh! Tentu saja karena aku ingin mendengarkan semuanya darimu lebih dulu." Ucapku.


Saat itu dia tiba-tiba mulai menangis dan aku pun menjadi panik.


"Hei... Nilam kau..."


Ucapanku terhenti saat dia menjatuhkan dirinya dalam pelukanku. Dia memelukku dengan begitu erat dengan air matanya yang tidak berhenti terjatuh.


"Bodoh! Kenapa kau menangis?" Ucapku.


"Aku sangat merindukanmu selama ini Aldi. Tapi saat kau kembali sebagai putra dari Tuan Erfandi, aku... aku..."


"Jangan katakan lagi. Ini semua adalah salahku karena aku tidak mempercayai dirimu dan aku tidak menjagamu dengan baik. Tapi aku kembali sekarang dan selama aku ada di sini, aku akan membuat semuanya baik-baik saja untukmu." Ucapku.


Nilam tiba-tiba melepaskan dirinya dari pelukanku dan melihat ke arahku dengan ekspresi yang sedih yang membuat hatiku merasa terluka.


"Tapi sekarang aku...."

__ADS_1


Aku langsung menghentikan ucapannya dengan menaruh jemariku di depan bibirnya.


"Jangan mengingatkan aku lagi bahwa kau adalah istri dari Papaku dan aku hanyalah anak tiri mu karena bahkan jika kau adalah saudariku, aku tidak akan melepaskan mu." Ucapku.


"Aldi...." Ucapnya.


"Kau adalah wanitaku." Bisik ku di saat bibir kami hanya berjarak beberapa inci.


Kemudian aku langsung menciumnya seolah tidak ada hari esok lagi yang akan datang.


Saat ini aku hanya bisa berjanji kepada diriku sendiri dan dengan ciuman yang penuh cinta ini, bahwa suatu hari nanti aku akan membuat Nilam menjadi istriku dan Leon akan dikenal oleh dunia sebagai anak kami berdua.


...----------------...


Hari berikutnya kami semua duduk di meja makan untuk menikmati sarapan kami seperti biasanya. Bagaimanapun seorang anggota baru yang menyebalkan bagiku juga ada di sini dan aku hanya bisa berharap bahwa aku bisa menendang dia keluar dari rumah ini dengan cepat.


"Hai Nilam, aku berpikir karena hari ini sangat cerah, bagaimana kalau kita berenang di kolam dan Tuan Muda Aldi juga bisa ikut." Ucap Maria.


"Maaf, tapi aku sedikit sibuk hari ini." Balas ku dengan langsung menolak.


Tentu saja aku tidak akan mau untuk ikut berenang bersamanya.


"Aku bisa ikut jika kau tidak keberatan." Ucap Om Romy tiba-tiba.


Entah kenapa aku merasakan hal yang buruk jika Om Romy berada di dekat Nilam. Tapi aku tidak bisa membalikkan semua yang sudah aku katakan tadi. Tapi aku rasa Maria akan merubah pikirannya dan tidak jadi untuk berenang karena akulah targetnya.


"Tentu saja kami akan senang jika kau bisa ikut."


Aku begitu terkejut saat Maria setuju akan ucapan Om Romy dan bahkan Nilam juga.


Pada saat itu juga aku memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan melakukan semua pekerjaan kantor dari rumah.


Beberapa saat setelah itu, Ruben datang ke rumah dengan membawa beberapa dokumen.


"Aku tidak mengerti kenapa kau mau membawa semua pekerjaan ini ke rumah." Ucap Ruben padaku.


"Tidak ada, aku hanya ingin memutuskan untuk ingin beristirahat sejenak." Balas ku.


"Ini baru saja 3 bulan dan beberapa minggu sejak kau mengambil alih perusahaan dan sekarang kau sudah merasa lelah." Ucap Ruben kepadaku.


Aku tidak menghiraukannya dan kemudian berjalan ke arah teras untuk melihat dokumen yang dia bawa.


Pekerjaan kantor hari ini cukup menyulitkan hanya dengan melihat ke arah dokumen yang dibawa Ruben saja sudah membuatku sakit kepala.


Aku masih melihat ke arah beberapa dokumen itu saat Ruben mulai bicara.


"Wow, sekarang aku mengerti kenapa kau ingin bekerja dari rumah." Ucap Ruben.


"Apa maksudmu?" Tanyaku.


Tapi saat aku melihat ke arah ke mana matanya memandang, aku mengerti apa yang dia maksudkan itu.


Ternyata itu adalah Nilam yang tampak seksi menggunakan pakaian renangnya. Dia terlihat sangat cantik seperti biasanya. Tentu saja hal itu yang membuat para pria akan melihat dirinya. Dia tampak tengah memegang tangan Leon dan mereka tampak mengobrol dan tersenyum.


Nilam tampak sangat cantik. Tapi saat itu aku melihat Om Romy juga mengagumi kecantikannya dan bukan hanya Om Romi, tapi Ruben juga.


"Benar-benar wanita yang cantik." Ucap Romy.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2