
PoV Author
Nilam dan Aldi membeku saat sebuah suara kecil, lembut dan begitu menggemaskan mengalihkan perhatian mereka. Anak itu melihat ke arah mereka dengan tatapan penasaran dan juga menyelidik. Tidak ada yang bisa mengatakan apa yang sedang dia pikirkan di dalam kepalanya.
Nilam dengan cepat mendorong Aldi dan Aldi melepaskan Nilam dengan cepat juga. Nilam langsung berlari ke arah Leon yang tampak membutuhkan jawaban darinya itu.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini sendirian?" Ucap Nilam dan berjongkok agar bisa menyamai dari tinggi tubuh Leon.
"Mama, apakah Mama di bully olehnya?" Ucap Leon menunjuk ke arah Aldi.
Aldi tidak merasa begitu terkejut saat dia disebut oleh anak itu sebagai seorang pem bully. Tapi dia jauh lebih terkejut karena anak itu bicara dengan jelas. Saat pertama kali Aldi bermain bersama Leon, anak itu hampir saja tidak mengatakan kata apapun dengan jelas, tapi meski begitu Aldi tetap bisa mengerti.
"Tidak sayang. Aldi hanya mencoba untuk menghapus kotoran dari mata Mama dan ngomong-ngomong dari mana kau tahu kata bully itu?" Tanya Nilam kepada putranya itu dengan penasaran.
Nilam sebenarnya tahu bahwa putranya itu terlalu dewasa bagi anak seusianya dan kata-kata yang Leon ucapkan lebih jelas dibandingkan dengan anak lain yang seusianya. Tapi bagi anak seusia Leon untuk mengetahui kata seperti bully itu adalah hal yang besar yang seharusnya tidak bisa ditemukan di dalam sebuah kamus.
"Tuan Erfan." Ucap Leon.
"Maksudmu Tuan Erfandi yang mengatakan kata itu kepadamu?" Tanya Nilam lagi.
Leon pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kepada ibunya itu.
"Jadi, apa lagi yang kau pelajari bersama Tuan Erfandi?" Tanya Nilam.
"Aku belajar bentuk, tapi sekarang aku hanya menghitung dari satu, dua....." Leon berhenti dan mulai menghitung jemarinya tapi dia tidak bisa berhitung lebih dari angka tujuh.
"Maaf Mama aku hanya sampai di angka tujuh." Ucap Leon.
"Tidak apa-apa sayang, Mama tetap bangga kepadamu." Ucap Nilam.
"Bangga? Apa itu bangga?" Tanya Leon bingung.
Tapi Nilam tidak tahu bagaimana caranya dia harus menjelaskan hal itu kepada Leon. Bagaimanapun Leon hanya seorang bayi, bayi milik Nilam. Mungkin dengan mengatakan beberapa kata yang sedikit lebih rumit, tidak akan bisa dengan mudah diterima oleh kepala kecil Leon itu.
"Bangga itu adalah sebuah perasaan puas dan menjadi bahagia dengan sesuatu atau seseorang." Ucap Aldi yang menjawab pertanyaan Leon dengan tiba-tiba.
"Wow, kalau begitu aku juga bangga kepada Mama." Ucap Leon dan wajahnya tampak tersenyum ceria.
Sebuah senyuman tulus yang membuat Nilam merasakan kehangatan di dalam hatinya. Ini adalah bayi kecilnya yang baru saja berusia hampir 3 tahun dan beberapa bulan lalu dia masih hanyalah janin di dalam perutnya. Tapi sekarang dia tumbuh dengan begitu cepat.
"Mama ikutlah denganku. Aku mau menunjukkan sesuatu kepada Mama." Ucap Leon.
"Apa itu?" Tanya Nilam bingung.
"Ikutlah denganku dan kau juga bisa ikut."
Sekali lagi Leon menunjuk ke arah Aldi. Kata 'kau' yang disebutkan oleh anak itu sebenarnya merupakan orang asing baginya. Mungkin beberapa hari yang lalu Aldi memang merasa asing dengan anak itu. Tapi hari ini semuanya berbeda, karena bagaimanapun mereka itu adalah saudara. Aldi berharap bahwa mereka bisa baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamar ini sangat...."
Nilam begitu terkejut saat dia dibawa ke dalam kamar Leon. Semuanya tampak begitu berubah dibandingkan apa yang sudah ada sebelumnya. Leon sudah tertidur di kamar Nilam untuk selama waktu 2 minggu dan Nilam sudah terbiasa untuk tidur dengan Leon di sisinya dan Nilam bahkan lupa tentang kamar bayinya yang diminta oleh Tuan Erfandi untuk direnovasi.
Sekarang semuanya sudah direnovasi menjadi sebuah kamar yang tidak memiliki tempat tidur yang besar. Tai hanya tempat tidur untuk anak kecil yang akan tidur sendirian.
"Leon...." Ucap Nilam.
"Tuan Erfan membuatkan ini untukku. Aku akan pindah hari ini, jadi Mama tidak perlu menjaga aku lagi."
"Tapi Leon... Bisakah kau tidur sendirian? Tidakkah kau akan takut?" Tanya Nilam dengan harapan untuk membuat putranya itu merubah pikirannya.
Nilam tidak mau berpisah dengan Leon, tidak sedikitpun.
"Mama aku sudah besar sekarang karena aku sekarang sudah...."
Anak itu menghentikan bicaranya lagi dan menghitung jemarinya beberapa saat dan kemudian berkata,
"2 tahun tujuh... tujuh... tujuh..."
"Tujuh bulan." Ucap Nilam yang melengkapi kalimat Leon.
Leon memang tumbuh besar dan belajar banyak hal. Tapi Nilam tidak mau bayinya itu tumbuh besar dengan cepat.
"Aku rasa bahwa Tuhan Erfandi juga yang mengatakan hal itu kepadamu." Ucap Nilam.
"Mungkin maksudmu seorang tutor." Ucap Nilam.
"Iya, itu dia." Balas Leon.
"Mama mengerti." Ucap Nilam.
"Huh, pria tua itu benar-benar tidak merubah metodenya dalam hal edukasi. Dia tidak pernah berubah sedikitpun." Ucap Aldi dengan wajah tampak kesal seraya memberikan tatapan terakhir kali kepada Leon dan berjalan pergi.
Saat Aldi pergi menjauh dari mereka berdua, senyumannya berubah menjadi sebuah ekspresi yang begitu penasaran.
"Leon berusia 2 tahun 7 bulan dan dalam hal itu, Nilam hamil selama 2 bulan sebelum kami putus. Nilam Apakah kau baru saja bermain-main denganku?" Ucap Aldi dalam kepalanya dan semakin dia mencoba untuk memikirkan semua hal itu semakin dia merasa begitu marah.
Dia ingin mempercayai bahwa Nilam menikahi Papa nya untuk sebuah alasan tertentu yang Nilam tidak bisa katakan kepadanya dan mungkin saja anak kecil itu adalah alasannya. Bagaimanapun itu hanya tebakannya saja. Jadi saat dia mendengar usia Leon sebenarnya, dia merasa bahwa ada suatu hal yang semakin menusuk dadanya hingga membuat dia merasa semakin terluka.
...****************...
"Masuklah Nilam."
Nilam pun melangkah masuk ke dalam kamar Tuan Erfandi dengan segera setelah dia diberitahukan oleh Bibi Ana bahwa Tuan Erfan ingin bertemu dengannya.
"Selamat sore Tuan Erfandi." Ucap Nilam.
__ADS_1
"Nilam, kau sedikit terlambat. Apakah kau memiliki masalah di perusahaan atau dengan Aldi?" Tanya Tuan Erfandi.
"Tidak, tidak, tidak, bukan seperti itu." Ucap Nilam serata melambaikan tangannya. "Semuanya berjalan sangat baik di perusahaan. Aku akan mulai bekerja besok pagi." Ucap Nilam.
"Kalau begitu, itu bagus. Aku tahu bahwa kau bisa melakukannya." Ucap Tuan Erfandi seraya berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah tempat tidurnya.
"Nilam, kelihatannya kau memiliki sesuatu yang ada di dalam pikiranmu." Ucap Tuan Erfandi.
"Iya, ini mengenai Leon. Leon mengatakan kepadaku bahwa anda ingin mendapatkan seorang tutor untuknya." Ucap Nilam.
"Memang benar. Aku rasa hal itu akan baik untuknya. Anak-anak yang bertumbuh besar di rumahku selalu mulai pendidikan mereka dari usia 2 tahun dan Leon sudah sangat pintar dengan memiliki ingatan yang begitu kuat. Jadi pendidikan Leon harus dimulai sejak sekarang." Ucap Tuan Erfandi.
"Iya, tapi bukankah terlalu kecil bagi kepalanya untuk membawa semua itu dan di samping itu anda juga membuatkan sebuah kamar untuknya." Ucap Nilam
"Iya, sebagai seorang Erfandi, Leon harus tumbuh lebih cepat untuk menjadi dewasa. Aldi juga mengikuti latihan yang sama. Jadi Leon juga akan melakukannya." Ucap Tuan Erfandi.
Tuan Erfandi sudah membuat keputusannya dan Nilam berpikir bahwa dia tidak akan setuju dengan ide yang meminta Leon untuk menjadi anak yang dengan cepat belajar. Nilam merasa bahwa Leon baru saja berjalan kemarin dan belum terlalu lama Leon baru saja mengucapkan kata pertamanya.
"Apakah kau memiliki masalah dengan keputusanku Nilam?" Ucap Tuan Erfandi.
Nilam benar-benar ingin mengatakan apa yang dia simpan di dalam hatinya. Tapi semakin Nilam ingin mengatakan keberatan, dia tahu bahwa dia tidak akan bisa melakukannya. Tuan Irfandi sudah sangat baik kepadanya dan anaknya dengan menyembunyikan rahasianya. Mungkin sebagai seorang ibu, Nilam hanya terlalu ketat terhadap Leon dan tidak mau untuk membuat jarak sedikitpun dengan Leon. Tapi dia juga harus mengakui bahwa bayinya itu bertumbuh menjadi seorang anak laki-laki remaja dan setiap harinya Leon semakin terlihat seperti Papanya.
"Nilam...." Ucap Tuan Erfandi.
"Tidak Tuan Erfan. Anda sudah melakukan yang terbaik dan aku seharusnya tetap mengikuti keinginan Anda." Ucap Nilam.
"Baiklah, kalau begitu kau bisa kembali ke kamarmu." Balas Tuan Erfandi.
" ya Tuan Erfan." Ucap Nilam.
Nilam pun berdiri dan berjalan keluar dengan cepat setelah Bibi Ana kembali dengan membawa sebuah mangkuk berisi sup untuk Tuan Erfandi.
"Ini sup anda Tuan." Ucap Bibi Ana.
"Kau bisa menaruhnya di sana Ana." Balas Tuan Erfandi.
"Iya Tuan ." Uap Bibi Ana
"Jadi Ana, katakan kepadaku bagaimana hubungan Nilam dengan putraku?" Tanya Tuan Erfandi.
"Mereka terlihat tidak baik-baik saja. Saya merasa mereka memiliki perselisihan."
"Aku mengerti." Balas Tuan Erfandi dengan tenang dan mengambil semangkuk sup miliknya.
"Tuan... Tidakkah lebih baik jika anda mengatakan kepada Tuan Muda kenyataannya?" Ucap Bibi Anna.
"Tidak, ini terlalu cepat. Aldi masih harus tumbuh dewasa sedikit lagi." Ucap Tuan Erfandi.
__ADS_1
Bersambung...