
PoV Nilam
Semalam Aldi tidak datang ke kamarku dan aku juga tidak pergi ke kamarnya juga. Tapi itu semua lebih baik bagiku karena aku bisa menjalankan rencana ku dengan bantuan dari Tina yang bertugas untuk menyiapkan alat mandi Sarah. Aku tidak pergi memeriksa Leon ke kamarnya karena Bibi Ana sudah mengatakan kepadaku bahwa Leon menghabiskan malamnya bersama Papanya. Aku sangat senang mengetahui bahwa Leon lebih banyak menghabiskan waktu dengan Papanya. Walaupun tidak ada dari mereka yang mengetahui bahwa mereka berhubungan satu sama lain.
"Aku sudah selesai Bibi Ana. Bisakah Bibi Ana memanggil Tuan Erfandi dan Tuan Romi? Aku akan memanggil Aldi dan Leon." Ucapku.
"Tidak perlu Mama. Bro dan aku sudah ada di sini." Ucap Leon yang tiba-tiba berbicara dari belakangku.
Leon tampak berdiri berdampingan dengan Aldi dan memegang tangan Aldi. Mereka terlihat menggemaskan bersama. Mereka sudah bersih dan wangi karena sudah mandi.
"Mama lihatlah, aku sudah mandi dengan Bro." Ucap Leon.
"Itu bagus sayang." Balas ku dengan tersenyum.
Aku lalu menunduk ke arah Leon dan mengusap kepalanya lembut.
"Inilah anak kesayangan Mama. Ayo kemari lah, Mama akan menyajikan sarapan favoritmu." Ucapku.
Aku lalu membantu Leon untuk duduk di kursinya dan tidak menghiraukan Aldi yang datang bersamanya. Aku bisa menebak bahwa Aldi tidak menyukai hal itu karena dia langsung membuat semuanya tampak jelas kepadaku bahwa aku melupakan dia.
"Hei.... Bagaimana denganku? Tidakkah aku pantas disajikan makanan juga?" Ucap Aldi.
"Eh tentu." Balas ku dan langsung menyeka rambutku ke arah belakang telingaku. "Biarkan aku mengurus Leon lebih dulu, setelah itu aku akan menyajikan sarapan untukmu." Lanjut ku.
Saat itu aku menyajikan sarapan untuk Leon dan Aldi. Semuanya terlihat seperti kami tiba-tiba menjadi sebuah keluarga. Bagaimanapun rasa bahagia itu tidak bertahan lama karena Tuan Romi datang dengan Tuan Erfandi datang.
"Selamat pagi semuanya." Ucap Tuan Erfandi saat dia tiba di meja makan dan langsung duduk.
Aku belum selesai menyajikan sarapan untuk Aldi. Jadi aku melanjutkannya, sementara Bibi Ana yang membantu untuk menyajikan sarapan untuk yang lainnya.
"Dimana Sarah, apa dia tidak akan sarapan bersama kita?" Tanya Tuan Erfandi melihat ke arah Aldi.
"Nona Sarah bangun terlambat. Tapi dia akan ada di sini secepatnya." Ucap Bibi Ana.
Aku tidak tahu berapa lama Sarah akan mengetahui semua rencana yang aku siapkan untuknya. Tapi dia benar-benar membuat kedatangannya begitu spektakuler pada saat dia mendekat ke arah Aldi hanya dengan menggunakan sebuah handuk di yang menutupi tubuhnya yang gemetar karena ketakutan itu.
"Aldi ada..... ada monster di dalam kamarku." Ucapnya.
Tidak ada orang yang tahu tentang monster yang dia sebutkan itu. Tapi sekarang rahasianya sudah terbongkar dan tidak ada jalan baginya untuk menyembunyikan semua hal itu lagi.
"Sarah kaki mu.... Kau..." Ucap Aldi terbata.
Semua orang tampak terdiam pada saat mereka melihat Sarah berjalan tanpa menggunakan tongkat bantu dan kakinya tampak tidak ada masalah apapun.
"Aldi aku....."
"Apa maksud dari semua ini Sarah? Bukankah kakimu terluka kemarin?" Ucap Aldi.
"Aldi aku aku bisa menjelaskan...."
Sarah langsung mendekat ke arah Aldi dan memegang tangan Aldi mencoba untuk menjelaskan semuanya. Tapi Aldi langsung menghempaskan tangan Sarah dengan sangat kasar.
__ADS_1
"Kau membuat aku terlihat bodoh di depan semua orang Sarah. Jadi bagaimana kau bisa berharap bahwa aku akan mendengarkan penjelasan darimu." Ucap Aldi marah.
"Aldi...." Ucap Sarah yang lagi-lagi dipotong oleh Aldi.
"Karena kau sudah baik-baik saja, aku rasa ini sudah waktunya bagimu untuk kembali ke rumahmu." Ucap Aldi dengan wajah yang serius.
"Tidak Aldi... Ku mohon dengarkan aku." Ucap Sarah lagi.
Sarah memohon dengan terus mengikuti langkah Aldi dari belakang, tapi Aldi tidak menghiraukan panggilan darinya. Dan aku rasa Aldi menutup pintu kamarnya dengan keras tepat di depan hidung Sarah.
Aku sangat ingin tertawa melihat semuanya. Aku begitu puas telah berhasil membalas wanita licik itu.
"Ini sangat menyebalkan. Ana tolong bawa sarapanku ke kamarku." Ucap Tuan Erfandi.
"Tentu saja Tuan." Balas Bibi Ana.
Aku rasa Tuan Erfandi sudah kehilangan selera makannya karena apa yang dilakukan Sarah. Tapi Leon tampak tidak memikirkan semua hal itu karena dia tetap berkonsentrasi dengan makanan yang ada di depannya. Sementara Tuan Romi tampak tersenyum seolah dia sudah melihat sebuah adegan yang sangat menghiburnya.
"Bibi Ana, bisakah Bibi menjaga Leon? Aku harus menyiapkan diriku untuk pergi ke kantor." Ucapku.
"Tentu saja Nyonya Muda. Anda bisa menyerahkan semuanya kepada saya." Ucap Bibi Ana.
Aku langsung berjalan keluar dari ruang makan menuju kamarku dan berganti pakaian dengan cepat menggunakan pakaian kasual untuk pergi ke kantor. Tapi saat aku keluar dari dalam kamarku, Sarah melompat ke arahku. Tapi untungnya aku begitu refleks, jadi aku bisa menangkapnya dengan memegang tangannya dan mendorongnya ke arah lantai menggunakan kemampuan bela diri yang aku punya. Untung saja Aldi mengajarkan aku tentang hal itu di masa lalu.
"Ah kau.... beraninya kau." Ucap Sarah.
"Oh itu ternyata kau? Aku pikir bahwa ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Maaf ya karena sudah menyerang mu secara tiba-tiba." Ucapku.
"Beraninya kau bertingkah tidak bersalah setelah semua yang kau lakukan. Ini semua karena dirimu. Kau yang sudah menaruh kecoa di dalam bak mandi ku." Ucap Sarah dengan wajah yang terlihat begitu marah.
"Memangnya kenapa jika aku lah orang yang sudah melakukannya? Kau mencoba untuk mengganggu aku dan aku hanya membalas dirimu." Balasku santai.
Aku bisa melihat bahwa Sarah tampak begitu marah bahkan murka. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang begitu marah kepadaku dan aku tahu bahwa dia tidak akan berhenti untuk melawanku, tapi itu tidak menakuti aku sedikitpun.
"Kau berani melakukan hal ini kepadaku. Aku akan membuatmu menyesali apa yang sudah kau lakukan." Ucapnya.
"Oh silakan saja. Aku akan menunggu pembalasan darimu itu dengan senang hati." Balas ku.
Setelah itu, aku kemudian berjalan melewati sisinya dan tidak menghiraukan apa yang Sarah lakukan kepadaku.
"Hebat sekali, kau benar-benar memiliki jiwa yang menarik."
Punggungku terasa membeku dan aku langsung berbalik saat aku mendengar suara yang familiar ditelingaku. Tapi itu bukanlah tipe suara yang sangat aku sukai untuk aku dengar.
"Aku sudah melihat semua adegan yang tadi dan aku mengakui bahwa kau benar-benar seorang wanita yang sangat menarik." Ucapnya.
"Terima kasih untuk pujiannya tapi aku tidak mengerti dengan maksud dari ucapan anda itu." Ucapku.
Tuan Romy tampak memiliki senyuman yang sedikit menyeramkan di wajahnya. Saat dia berjalan mendekat ke arahku, aku belum juga berpindah. Aku melihat ke arahnya dengan tajam karena aku ingin dia melihat bahwa aku ini bukanlah wanita yang lemah.
"Kau benar-benar wanita yang sangat menarik. Tidak heran kakak ipar ku menikahi dirimu. Kau benar-benar tipe dari wanita yang semua pria ingin untuk dapatkan." Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih untuk pujiannya lagi. Tapi aku minta maaf, aku takut bahwa aku tidak bisa mengobrol denganmu lebih lama." Ucapku dan mencoba berjalan menjauh dari pria aneh itu tapi dia langsung memblokir jalanku.
"Tuan Romy... Apa yang anda lakukan?" Ucapku dengan alisku yang menyatu saat aku menatap ke arah dirinya dengan tajam.
"Santai saja Nilam. Aku adalah teman bukan musuh." Ucapnya dengan tertawa kecil.
"Apa yang anda inginkan?" Ucapku lagi.
"Hanya pertemanan. Maukah kau memberikan itu kepadaku?" Ucapnya.
"Aku tidak bisa setuju dengan mudah dan maaf aku sedikit pemilih tentang berteman dengan orang-orang lain." Ucapku.
"Aku percaya hal itu. Tapi aku tidak keberatan untuk mengantri untuk bisa menjadi temanmu." Balasnya.
"Kenapa itu penting bagimu? Kita tidak terlalu saling mengenal. Aku hanya menghargai dirimu karena kau adalah Om dari Aldi." Ucapku.
Tuan Romy tersenyum dan berjalan mendekat ke arahku. Tapi aku berjalan mundur dan dia semakin mendekat ke arahku dan tembok pun menghalangi langkahku lagi.
"Kenapa? Apakah itu berarti jika aku bukanlah Om dari Aldi, kau akan memperlakukan aku dengan buruk atau bahkan jauh lebih buruk dibandingkan itu?" Ucapnya menyeringai.
Saat itulah aku menyadari jika dia bukanlah pria yang normal. Tapi sekarang aku tidak bisa memaksakan diriku untuk melawannya.
"Santai Nilam, aku bukanlah musuh mu. Aku hanya ingin membuat sebuah hubungan pertemanan yang baik denganmu dan aku juga ingin untuk meminta maaf atas sikapku yang terakhir kali kepadamu." Ucapnya.
"Semuanya sudah aku maafkan tapi kumohon menjauh lah dariku." Ucapku dengan sungguh-sungguh tapi tidak dengan hatiku.
Bagaimana aku bisa menerima permintaan maaf darinya begitu saja. Tapi aku mengatakan semuanya hanya karena aku ingin menjauh darinya.
"Semoga harimu menyenangkan Nilam. Aku yakin kita akan bertemu lagi secepatnya." Ucapnya.
Aku tidak mengharapkan hal itu. Tapi aku harus berpura-pura bahwa aku sebenarnya menghargai kebaikannya. Aku lalu pergi dengan cepat untuk pergi ke kantor dan menyibukkan diriku dengan pekerjaanku dan berharap bahwa itu semua bisa membantuku untuk melupakan semua kekhawatiran ku.
"Kau masih sibuk bekerja? Apa kau tidak akan makan siang?" Ucap Alex yang tiba-tiba ada di sampingku.
Dia lalu mengajak aku untuk keluar makan siang. Tapi kami tidak pergi ke kantin seperti biasanya yang kami lakukan.
"Kita mau pergi ke mana?" Tanyaku kepada Alex dengan penasaran karena dia malah membawaku melangkah keluar dari kantor.
"Aku melihat sebuah restoran yang bagus belum terlalu lama. Jadi biarkan aku membawamu ke sana." Ucap Alex.
"Tentu." Balas ku tersenyum padanya.
Kami berdua lantas berjalan ke arah restoran yang jaraknya hanya beberapa menit dengan berjalan kaki dari kantor. Bagaimanapun aku tidak mengharapkan bahwa perjalanan kami ke restoran itu merupakan jalan kami untuk mendapatkan masalah baru.
"Nilam...." Terdengar suara Lila yang entah datangnya dari mana.
Tiba-tiba dia muncul dan langsung berlari ke arahku. Tapi dia langsung berhenti saat dia melihat Alex.
"Kau....!"
Bersambung....
__ADS_1