Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Semakin Gila


__ADS_3

PoV Aldi


Hari ini Nilam harus memulai hari pertama bekerjanya di perusahaan. Aku sudah tidak menyukai ide tentang dirinya yang pergi bekerja di sana dan itu bukan karena aku membencinya. Tapi aku masih tidak bisa menerima fakta bahwa dia menerima bantuan dari Papaku walaupun aku tahu bahwa dia ada di sana dengan usaha yang dilakukannya sendiri. Tapi aku masih melihat semuanya dengan cara yang sama.


Pagi ini saat dia tersedak aku lupa bawa aku perlu untuk mengabaikannya dan bertingkah berbeda terhadapnya. Tapi aku tidak bisa menahan diriku karena Nilam memang masih memiliki ruang dalam diriku dan itulah kenapa aku menjadi cemburu saat aku melihat dia memegang tangan Papa di atas meja untuk menenangkan Papa atas pertengkaran kami.


Walaupun itu sebenarnya terlihat seperti perhatian yang dilakukan seorang anak perempuan yang memegang tangan Papa nya, aku tetap tidak bisa menahan diriku untuk cemburu. Aku sudah menolak untuk membawanya ikut bersamaku untuk pergi bekerja. Tapi saat aku melihat adegan itu aku merubah pikiranku dan mau mengajaknya pergi bekerja. Tentu saja perjalanan kami tidak mulus atau terkesan romantis. Seperti biasanya kami berakhir dengan berdebat dan dia meminta aku untuk menghentikan mobil dan aku pun melakukannya.


"Kau tidak mau mengharapkan aku untuk turun dari mobil CEO di hari pertamaku bekerja bukan? Mereka mungkin akan membuat rumor tentang diriku." Ucap Fara dengan kasar.


Aku masih tidak percaya bahwa dia ternyata masih memiliki rasa malu. Itu sama seperti Nilam yang aku temui dan aku kenal atau apapun itu. Itu merupakan sisi lain dari Nilam yang membuat aku jatuh cinta kepadanya.


"Hah, kelihatannya Nilam Yuniarta Widuri masih mempunyai rasa malu. Tapi kau tidak memiliki rasa malu saat kau naik ke atas tempat tidur Papaku." Ucapku kepadanya seraya memegang tangannya dengan erat tapi dia menghempaskan tanganku dengan sangat kasar.


"Aku sudah cukup dengan kata-katamu. Tapi sekarang aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak menghiraukannya." Ucapnya.


"Apa yang kau katakan?" Ucapku marah menarik dia kembali masuk ke dalam mobil.


Kali ini genggamanku kepadanya bahkan jauh lebih erat.


"Lepaskan aku, kau menyakiti aku dan apa yang aku maksudkan adalah sederhana saja. Kau bicara banyak untuk seseorang yang tidak mengetahui sesuatu."


Itu adalah kalimat terakhir darinya yang membuat aku tersadar dan aku sedikit diam setelah mendengarkan hal itu. Dia memang belum menjelaskan apapun kepadaku dan aku tahu bahwa dia tidak akan melakukannya. Aku selalu berpikir bahwa Nilam tengah menyembunyikan sesuatu dariku dan saat itu juga aku hanya bisa berpikir bahwa harapanku semakin membuatku berhalusinasi.


...----------------...


"Sialan kau Nilam."


"Hei Ada apa? Apakah semua itu masih tentang dia?" Ucap Ruben dan jika dia tidak bicara, aku pasti lupa bahwa aku masih berada di dalam ruangan kerjaku bersamanya.


Aku bahkan tidak mengingat bagaimana aku bisa sampai di sini karena pikiranku yang masih saja memikirkan Nilam.


"Apakah kau masih memikirkan tentang dia?"

__ADS_1


"Aku berharap bahwa aku bisa berhenti memikirkan tentang dia. Tapi aku tidak bisa. Setiap kali aku mau untuk mempercayai bahwa dia adalah wanita jahat atau apapun itu. Kenyataannya terus menampar wajahku hari demi hari." Ucapku.


"Aku rasa sikapmu itu karena kau belum bisa move on darinya." Ucap Ruben.


"Aku rasa begitu." Ucapku dengan sedih.


Aku seolah mengakui bahwa itu semua mamang benar dan aku memang tidak punya pilihan lain dalam diriku selain terus memikirkan dia.


"Aku berharap aku bisa melupakan tentang dirinya, tapi aku tetap tidak bisa. Bahkan jika aku menutup mataku sebentar, aku masih bisa membayangkan dirinya dalam pikiranku." Ucapku.


"Bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang." Ucap Ruben.


"Aku sedang tidak ingin melakukan hal itu." Ucapku dan mencoba untuk berkonsentrasi dengan pekerjaanku.


"Ayolah ini bukan tentang mau atau tidak. Ini tentang membantu kau bisa merubah perasaanmu itu." Ucap Ruben.


Tentu saja! Itu sebenarnya bisa membantu aku untuk merubah perasaanku. Jadi aku pun menerima ajakan Ruben untuk keluar ke sebuah klub VIP. Aku berharap dengan pergi kesana setidaknya aku bisa melupakan masalahku. Tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengan seseorang yang familiar di sana.


"Hai Aldi, senang bertemu denganmu di sini. Apakah kau masih mengingat aku?"


"Lila sungguh suatu kebetulan bertemu denganmu di sini." Ucapku.


"Iya suatu kebetulan." Balasnya.


Jujur saja, aku tidak bisa memastikan apakah itu memang suatu kebetulan ataukah takdir yang diberikan Tuhan. Jika memang takdir, maka surga memang tidak ditakdirkan untukku, karena aku tidak diizinkan untuk bersenang-senang.


Aku mengobrol bersama Lila dan itu sedikit menarik dan jauh berbeda dari bayanganku. Tapi semua yang aku dapatkan darinya tentang Nilam adalah yang sudah aku ketahui. Setelah mengobrol panjang dengannya, aku pun kembali ke rumah. Tapi Nilam belum juga kembali.


"Bibi Ana, di mana Nilam?" Tanyaku.


"Nyonya Muda belum juga kembali, dia..."


Bibi Ana tidak menyelesaikan kalimatnya karena aku sudah pergi dengan marah. Itu sudah sangat larut dan dia belum juga kembali. Apa yang paling menyakitkan adalah saat aku tahu bahwa dia tidak sedang bersama dengan Lila. Lalu dengan siapa dia sekarang? Aku benar-benar tidak bisa mengetahuinya.

__ADS_1


Aku terus menelpon ponselnya beberapa kali, tapi dia tetap tidak mau menjawabnya. Aku akhirnya menyerah meneleponnya dan memilih untuk menunggunya. Aku tidak tahu berapa lama aku sudah menunggunya. Tapi itu sudah larut malam.


Saat aku menyadari sosok langsing dari tubuhnya tampak berjalan di dalam rumah, aku mulai mengikuti dirinya dan melihat dia tengah berdiri di depan kamarnya.


"Oh ini Alex..."


Saat aku mendengar nama itu, kemarahan ku semakin memuncak dan alisku mengkerut. Tapi aku mencoba menenangkan diriku dan bicara padanya.


"Kau akhirnya tahu bagaimana caranya untuk pulang."


Suaraku tidak terlalu keras, tapi itu membuatnya terkejut hingga membuatnya menjatuhkan ponselnya ke lantai. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi di wajahku saat ini. Tapi aku hanya tahu bahwa aku sangat marah kepadanya. Pertama, karena dia tidak mengangkat telepon dariku. Kedua karena dia pulang larut malam dan aku baru saja mendengar dia memanggil nama seorang pria. Dan itulah alasan kenapa aku terus menatap dirinya dengan penuh kemarahan.


"Aku hanya akan bertanya kepadamu satu kali. Dari mana saja kau?"


Aku akhirnya bertanya kepadanya dan setelah beberapa saat dalam keheningan, dia pun menunduk mengambil ponselnya dari lantai. Dia tidak hanya mengambil ponselnya, tapi dia juga mau pergi dan tidak menghiraukan kehadiranku. Aku dengan cepat menutup pintu dan aku hampir saja menjepit tangannya dengan pintu itu.


"Ah! Apakah sudah gila? Kau hampir menjepit jemariku dengan pintu." Teriak Nilam dan akhirnya dia menatapku dan dia langsung terjebak dengan tubuhku.


"Konsekuensi yang akan kau dapatkan akan jauh lebih dari ini, jika kau terus tidak menghiraukan aku. Kau dan semua orang tahu apa yang paling aku benci. Jadi jangan menguji kesabaran ku." Ucapku kepadanya dengan suara yang begitu dingin dan kali ini aku tahu dia tidak akan berani untuk mengulang kesalahannya lagi.


Namun aku tidak menyangka dengan gerakan yang dia lakukan saat dia tiba-tiba memegang kerah pakaianku dan menarik aku mendekat ke arah wajahnya. Wajah kami hanya berjarak beberapa inci saja saat itu dan aku terkejut bahkan tidak bisa mengatakan apapun.


"Kau dan semua orang tahu bahwa aku paling benci diperintah oleh orang lainnya. Jadi berhentilah bersikap begitu arogan kepadaku." Ucap Nilam.


"Kau....." Ucapku.


"Aku menikah dengan Papamu dan bukan denganmu. Jadi kau harusnya tidak memiliki kewenangan untuk mengatur aku. Bukankah kau yang mengatakan hal itu beberapa hari yang lalu? Aku adalah Mamamu sekarang dan kau adalah putraku. Jadi kau harus menjaga jarak mu denganku, karena kau bukanlah kekasihku."


Dia mengatakan hal itu dengan tidak ada ketakutan sedikitpun di matanya. Tapi aku bisa mencium aroma alkohol dari dalam mulutnya. Kemudian dia mendorong ku dengan keras dan melepaskan tubuhnya dari diriku. Aku harus mengakui bahwa sisi dari dirinya yang seperti ini tetap membuat aku membeku tapi aku sangat menyukainya.


"Sekarang jika kau tidak ingin mengatakan hal yang lainnya, aku pergi." Ucap Nilam mengayunkan rambut hitamnya yang panjang dan masuk ke dalam kamarnya.


Tentu saja aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi ucapanku tidak bisa keluar dan aku benar-benar ingin menyentuhnya, memeluknya dengan sangat erat di tubuhku dan juga menciumnya. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan dengan penuh cinta kepadanya saat ini. Tapi aku tentu tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


"Sial! Wanita ini benar-benar membuat aku semakin menggilai dirinya..."


Bersambung....


__ADS_2