
PoV Nilam
"Nilam kau bisa pergi meninggalkan aku bersama dengan Om Romy. Leon tengah menantikan dirimu." Ucap Aldi.
Aku sejujurnya lebih melihat ucapan Aldi itu seperti sebuah perintah untukku. Tapi aku senang karena dia bisa melepaskan aku dari genggaman yang dilakukan seseorang yang dia panggil sebagai Om nya itu.
"I... Iya..." Balasku.
Aku lalu segera pergi setelah Aldi memintaku untuk melakukannya. Aku pergi meninggalkan mereka berdua dengan cepat karena aku tidak mau dekat dengan seseorang yang bertingkah seperti seorang psycho.
"Lihat siapa yang kita punya di sini? Bukankah ini adalah Nyonya Erfandi? Nyonya besar dari rumah ini dan juga merupakan orang yang sama yang menikah dengan seorang pria tua?"
Seolah hariku belum cukup buruk, aku malah harus menghadapi Sarah dan masalah yang dia buat juga untukku. Terakhir kali aku harus sampai membuang tenagaku untuk mendengarkan dan juga bicara dengannya dan itu semua berakhir dengan aku yang dituduh sebagi pelaku yang menyebabkan dia terjatuh dari tangga.
"Sarah, jika kau tidak memiliki urusan apapun yang penting untuk kau katakan padaku, maka aku permisi dulu. Anakku tengah menunggu aku." Ucapku.
"Oh anakmu, maksudmu adik kecil Aldi."
"Apa?" Ucapku kesal.
"Kenapa kau begitu terkejut? Kau menikah dengan seorang pria tua untuk mendapatkan kekayaannya dan sekarang kau juga mencoba untuk menggoda putranya. Siapa yang bisa mengetahui jika anakmu itu benar-benar anak dari Tuan Erfandi. Mungkin dia hanyalah anak haram dari....."
Sebelum Sarah bisa menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memberikan sebuah tamparan keras yang membuat telapak tanganku berbekas di wajahnya.
"Kau.... kau, beraninya kau... Kau menampar wajahku." Teriak Sarah padaku seraya memegang pipinya yang merah.
"Aku akan menampar wajahmu lebih dari itu jika kau berani menyebut putraku seperti itu, atau mengatakan hal lain yang tidak pantas terhadap dirinya." Ucapku garang.
"Beraninya seorang wanita murahan sepertimu...."
Sekali lagi aku tidak ragu untuk menamparnya sebelum dia bisa menyelesaikan ucapannya. Mungkin aku bukan hanya menghukumnya karena ucapannya yang kasar terhadap Leon dan juga diriku. Mungkin aku tengah menumpahkan semua amarahku kepadanya.
Semua kemarahan yang aku punya, benar-benar aku tumpahkan kepadanya. Karena sejak pertama kali kami bertemu, dia selalu memperlakukan aku dengan buruk sementara aku sendiri selalu mencoba bersikap baik dan sopan kepadanya.
Hal baik tentang tamparan yang aku berikan kepada Sarah adalah hal itu membuatku menyadari bahwa dia tidak memiliki masalah apapun dengan kakinya. Dia lupa jika dia mengalami kecelakaan palsu dan mencoba untuk menyerang ku dengan skenario yang dia buat. Tapi aku bukanlah seorang wanita yang bisa dengan mudah dibully orang lain. Aku pun dengan cepat menendang dia.
"Kau begitu pembohong. Kau membuat aku menjadi tertuduh karena mendorongmu dan sekarang kau berpura-pura dengan menyebutkan bahwa kakimu terluka." Ucapku.
"Memangnya kenapa jika kau sudah tahu tentang hali itu? Toh tidak akan ada orang yang mempercayai dirimu." Ucap Sarah bicara kepadaku.
Semuanya terjadi begitu cepat karena detik berikutnya dia pun kembali menjatuhkan dirinya dan menangis dengan keras dan wajahnya tampak merasakan begitu kesakitan. Dia menangis yang membuat seolah alarm tentang keberadaan Aldi yang ada di dekatnya atau mungkin saja semua itu memang sudah di rencanakan olehnya dengan matang.
Aku merasa bahwa Aldi memang sudah ada di dekat sana. Jadi Sarah kembali membuat perangkap lainnya untukku dan membiarkan aku menjadi seseorang yang terlihat idiot.
"Sarah apa yang terjadi?" Ucap Aldi mendekat ke arahnya.
Benar-benar ama seperti yang dia rencanakan dan aku berdiri di depan mereka seperti seorang kriminal yang bodoh.
"Aldi ini sakit. Ini sangat sakit sekali." Ucap Sarah.
"Apa yang terjadi? Bukankah kau seharusnya ada di kamarmu?" Balas Aldi.
"Aku.... Aku... hanya ingin mengambil air. Tapi dia.... dia mendorong ku Aldi." Ucap Sarah terisak.
'Benar-benar seorang Ratu drama!'
Air matanya benar-benar cukup untuk membuat orang lain berpikir bahwa aku memang membully dia dan mendorongnya terjatuh dan tentu saja dia berharap jika aku mencoba untuk menjelaskan bahwa diriku tidak bersalah dan menangis untuk membuat Aldi percaya kepadaku. Tapi aku tidak begitu bodoh untuk membuat diriku terlihat rendahan di hadapannya.
"Aldi ini sangat sakit. Kenapa dia begitu membenci aku? Aku hanya ingin berteman dengannya." Ucap Sarah lagi.
"Hah benar-benar Ratu drama!" Ucapku dengan senyuman di bibirku dan memainkan ujung rambutku.
"Aku memang mendorongnya, lalu kenapa?"
Saat itu semua orang yang hadir di sana tampak terkejut dengan apa yang aku ucapanku.
"Kau... kau..." Ucap Sarah dan aku langsung memotong ucapannya dengan cepat.
"Kau tidak berharap bahwa aku akan mengatakan hal itu bukan? Tapi biarkan aku mengatakan ini kepadamu Nona Sarah, Sang Ratu Drama yang jelek. Aku tidak akan berdiri dengan begitu rendahan untuk mendapatkan perhatian orang lain. Kau mengatakan bahwa aku mendorongmu, lalu memangnya kenapa?" Ucapku.
"Nilam...." Ucap Aldi.
__ADS_1
Dia seolah tampak tengah mencoba untuk menghentikan aku atau mungkin dia benar-benar percaya bahwa aku memang sudah mendorong Sarah. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang dia pikirkan saat ini.
"Aku tidak akan membuat pengumuman apapun untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Jika kalian semua percaya bahwa aku sudah mendorongnya, maka terserah kalian saja." Ucapku mengakhiri semua bicaraku.
Aku lalu melayangkan rambutku dengan penuh percaya diri dan berjalan menjauh dari semua orang yang memandangku. Tapi aku bisa mengatakan bahwa Sarah masih mencoba untuk memainkan drama kepolosannya di hadapan Aldi.
"Aldi, wanita itu sangat kejam. Dia mendorongku dengan sangat keras dan kasar." Ucap Sarah.
"Ayo biarkan aku membawamu ke kamarmu." Ucap Aldi dan menggendong Sarah ke dalam kamarnya.
Sarah mungkin menang untuk membuat orang lain berpikir bahwa aku benar-benar mendorongnya saat itu semua memang tidak benar terjadi. Tapi aku tidak akan berhenti begitu saja. Aku akan membuat dia menyesali apa yang sudah dia lakukan.
Rahang ku mengeras dan tanganku juga mengepal dengan keras. Aku berdiri di depan kamarku kemudian aku tiba-tiba merasa sebuah tangan menyentuh tubuhku dengan lembut.
"Mama... Apakah Mama baik-baik saja?"
Suaranya yang kecil dan menggemaskan itu langsung menyadarkan aku dari lamunanku dan aku langsung berjongkok melihat ke arahnya dan menampilkan senyum terhangat ku untuknya.
"Tentu saja sayang, Mama baik-baik saja." Balas ku.
"Apakah Tante tua itu membully Mama?" Tanya Leon.
'Tante tua?' Tanyaku dalam hati.
Aku tidak bisa mengetahui jika Leon tengah membicarakan tentang Sarah, jika aku tidak menanyakan lebih jauh kepadanya.
Aku tidak tahu kenapa Leon menyebut Sarah dengan Tante tua. Tapi aku tidak mau membuat semua itu ada dalam pikirannya. Sarah memang bukan wanita tua, dia juga tidak jauh lebih tua dariku dan dari apa yang Bibi Ana katakan kepadaku, usia Sarah lebih muda 1 tahun dibandingkan Aldi. Walau bagaimanapun, hal itu tetap tidak pantas membuatnya untuk memandang rendah aku karena usiaku yang lebih muda darinya.
Aku mungkin akan membalas dendam nantinya. Tapi sekarang aku ada hanya untuk anakku dan anakku hanyalah untukku.
"Sayang, apakah kau mau membantu Mama dengan makan malam nanti?" Ucapku kepada Leon.
"Tentu saja Ma." Balas Leon.
Makan malam pun tiba dengan cepat dan aku mengajak Leon untuk makan malam. Semua makanan sudah tersaji diatas meja dan itu semua tentu saja dengan bantuan dari Leon dan Bibi Ana juga.
"Lezat! Makanan ini sangat lezat. Harimau liar ternyata hebat dalam hal memasak."
"Dia punya nama dan namanya tentu bukan Harimau liar." Ucap Aldi membalas ucapan dari Om nya yang mesum itu untuk membelaku.
"Tentu. Aku hanya ingin membuat candaan kecil saja. Tapi katakan kepadaku Nilam, berapa usiamu?"
Om dari Aldi itu tiba-tiba menanyakan usiaku. Tapi aku merasa sedikit ragu. Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan hal itu kepadanya atau tidak. Tapi jika aku tetap terdiam, itu akan terlihat tidak sopan karena dia adalah merupakan anggota keluarga yang lebih tua.
"Aku.... aku 23 tahun." Balas ku.
"Wow... kau memang masih muda. Tapi aku berpikir bahwa kau lebih muda dibandingkan itu." Ucap pria mesum itu.
Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Kenapa pria yang bernama Om Romy itu terus menanyakan aku semua pertanyaan seperti itu. Tapi lambat laun pria itu terlihat semakin menyeramkan. Bagaimanapun aku tidak mau bersikap tidak sopan kepadanya. Jadi aku pun tetap menjawab pertanyaan yang diajukan seadanya.
"Kalau begitu katakan kepadaku, kenapa kau menikah dengan kakak ipar ku?"
"Hah!" Ucapku.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bahkan Aldi sendiri tidak menghiraukan kenapa aku sebenarnya menikahi Papanya dan sekarang Om nya ini ingin mengetahui hal itu.
'Apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus berbohong atau aku hanya harus mengatakan kebenarannya saja?'
"Aku.... aku..."
"Katakan saja, jangan malu. Apa mungkin itu adalah cinta pandangan pertama?"
'Cinta pandangan pertama? Hah? Bagaimana itu bisa mungkin menjadi cinta pandangan pertama? Orang yang aku cintai adalah putra dari Tuan Erfandi dan bukan Tuan Erfandi sendiri. Aku hanya terikat dengan pernikahan ini. Tapi hatiku selalu bersama Aldi.' Ucapku dalam hati.
"Sudah cukup dengan semua pertanyaan mu Romy. Nilam tidak perlu menjawab semua pertanyaan mu."
Untung saja aku diselamatkan oleh Tuan Erfandi atau aku mungkin akan terus merasa tertekan berada di meja makan itu.
"Ayolah Erfan, jangan begitu egois. Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa mendapatkan seorang istri yang cantik. Siapa yang tahu aku mungkin bisa mengganti situasi ku seperti dirimu." Ucapnya.
"Om Romy, tolong jaga ucapan Om."
__ADS_1
"Aldi benar, tolong bicaralah dengan baik dan berhentilah bertingkah seperti orang yang belum dewasa." Ucap Tuan Erfandi menambahkan ucapan Aldi.
Aku tidak yakin bahwa aku bisa mengerti dengan apa yang dikatakan Om Romy itu. Tapi Tuan Erfandi dan Aldi tidak terlihat menyukai ucapan dari pria itu dan sejujurnya aku tidak suka sikap dari Om Romy itu. Bagiku pria bernama Romy itu, dia terlihat seperti seorang pria yang mesum.
"Oh ya Tuhan! Ayo tenanglah! Kenapa kalian semua begitu serius? Kelihatannya semua orang di rumah ini tidak menyukai bercanda."
Dia mungkin saja menganggap semuanya sebagai candaan. Tapi tindakannya itu terlihat seperti tidak sedang bercanda dan dia malah terlihat seperti tengah mempermalukan aku sebelumnya dan sekarang dia hanya meminta maaf seolah semua itu hanyalah candaan saja.
"Aku sudah selesai. Terima kasih untuk makanannya Nilam. Rasanya sangat lezat."
Akhirnya pria psycho itu pun pergi dan makan malam berakhir dengan mulus. Aku kemudian memeluk Leon untuk tidur dan kembali ke kamarku untuk mandi air dingin.
Aku lalu melepaskan pakaianku dan masuk ke dalam kamar mandi membiarkan air dingin jatuh di tubuhku. Aku mengangkat wajahku ke arah shower dengan mataku yang tertutup dan air dari shower yang terjatuh ke tubuhku. Namun tiba-tiba sebuah tangan hangat terasa melingkar di tubuhku dan dada yang berotot terasa di punggungku.
Bayangan pertama yang ada dalam pikiranku adalah pria mesum itu. Jadi aku berbalik untuk melawan dan mencoba untuk memukuli orang yang ada di belakangku. Tapi tanganku langsung ditangkap dan diputar ke atas kepalaku dan mendorong tubuhku ke arah tembok.
"Apakah kau mencoba untuk membunuhku?"
"Al... Aldi.... tapi.... apa yang kau lakukan di sini?" Ucapku.
"Kau... katakan kepadaku..." Ucapnya mendekat ke arah tubuhku dan mulai mencium leherku dan meninggalkan tanda merah di sana.
"Ah... hentikan Aldi. Ini sangat sakit." Ucapku.
"Apa yang kau katakan aku bahkan belum memulainya." Ucapnya.
"Tapi ini sakit." Balas ku.
"Itu adalah hukuman bagimu karena tidak menghiraukan aku hari ini."
Aku pikir aku sudah melakukan hal yang baik dengan menghindari dirinya. Tapi itu semua membuat dia salah paham kepadaku dan membuatnya berpikir bahwa aku tidak menghiraukannya.
"Tidak... itu... Ah.... itu tidak benar. Aku tidak mencoba untuk tidak menghiraukan mu." Ucapku merintih.
"Lalu apa yang kau lakukan? Apakah kau berpikir menyesali apa yang sudah kau lakukan malam itu dengan putramu ini?"
"Tidak, aku... Apa yang baru saja kau katakan?" Ucapku dengan cepat karena aku tidak yakin bahwa aku mendengar dia memanggil dirinya sebagai anakku.
"Aku bilang, apakah kau menyesal memberikan tubuhmu untuk putramu ini?" Ucapnya lagi.
"Apa yang kau katakan? Kau hanya berusia 3 tahun lebih tua dibandingkan aku." Balas ku.
"Bagus kau mengetahui hal itu. Jadi hari ini aku adalah Tuan mu." Ucapnya.
"Jangan sekarang. Bagaimana kalau besok?" Ucapku.
"Besok? Apakah ini sebagai tanda undangan darimu? Apakah Nilam Yuniarta Widuri mengundang aku untuk menghabiskan malam lainnya besok?"
Aku langsung menyesali apa yang sudah aku katakan. Aku sebenarnya mengundang dia untuk datang besok secara tidak sadar.
"Tidak... itu... itu bukan yang aku maksudkan." Ucapku.
"Jadi kau berencana untuk datang ke kamarku kalau begitu?" Ucap Aldi lagi.
Aku tidak mengatakan apapun. Tapi aku hanya ingin dia tidak datang ke kamarku besok dan hari lainnya. Bagaimanapun apa yang kami lakukan ini terlalu beresiko.
"Nilam Ucap Aldi tiba-tiba bicara dan suaranya terdengar begitu serius sama seperti suaranya di masa lalu saat dia ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting padaku.
Aku hanya terdiam, menunggu apa yang akan dia katakan padaku.
"Menjauh lah dari Om ku."
"Om mu?" Tanyaku.
"Jangan tanyakan kenapa. Aku hanya ingin kau menjauh darinya." Ucap Aldi.
"Tapi aku tidak memiliki ketertarikan apapun kepadanya. Kau sendiri yang melihat bahwa dia memegang tanganku dengan paksa. Jika tidak, aku tentu tidak akan untuk mau mendekat dengannya." Ucapku.
"Itu bagus. Kau tidak bisa pergi mendekat kepadanya atau pria lainnya. Kau hanya milikku." Ucap Aldi Aldi langsung mencium bibirku dan menciumku seolah tidak ada hari besok lagi.
Ciuman Aldi terasa begitu hangat dan penuh hasrat. Dibawah air dingin shower itu, tubuh kami begitu panas dan menyatu satu sama lain dan berbagi perasaan yang sama. Kami lupa tentang perbedaan atau bahaya dari tindakan yang tengah kami lakukan. Kami lupa tentang dunia dan semua peraturannya.
__ADS_1
Semuanya seolah hanya ada dia dan aku di bawah dinginnya air shower dan yang tiba-tiba menjadi panas.
Bersambung...