
PoV Nilam
"Auuu....!!!"
Aku terjatuh karena didorong oleh seseorang yang tidak aku kenal. Aku tidak bisa melihatnya. Tapi dia menggunakan high heels yang membuatnya tampak begitu tinggi dan gaun pendek yang dia kenakan membuat dia tampak begitu seksi. Dia tampak sangat cantik dengan matanya yang indah. Dia bahkan terlihat seperti seorang superstar.
"Pelayan bodoh. Tidak bisakah kau melihat di mana kakimu berjalan?"
Aku mendengar gadis itu berteriak kepadaku dan melihat ke arahku dengan tatapan yang seolah merasa jijik padaku. Dia memang cantik, tapi ekspresi di wajahnya terlihat seperti memiliki dua kepribadian. Dan aalah satunya dia sembunyikan dengan begitu baik. Dia melihat ke arahku seolah matanya itu penuh dengan kecemburuan.
"Bagaimana mereka bisa memperkerjakan seseorang pekerja di sini seperti dirimu itu." Ucapnya lagi merendahkan aku.
"Permisi Nona... apapun namamu." Ucapku dan berdiri menghadap dirinya dan dia sedikit terkejut saat aku bicara dengannya. "Aku tengah berjalan di jalan yang tepat menuju tujuanku dengan tidak ada rasa khawatir sedikitpun, sampai seseorang seperti dirimu menabrak ku dan membuat aku jatuh. Bukankah seharusnya aku lah orang yang menerima permintaan maaf darimu?" Lanjut ku.
"Beraninya seorang perayaan rendahan seperti dirimu bicara melawan aku." Ucapnya dan mencoba untuk menamparku.
Tapi aku langsung menangkap tangannya dan melemparnya menjauh.
"Belajarlah untuk menghargai orang lain dan mungkin kau akan dapat dihargai juga. Aku tidak peduli siapapun dirimu, tapi jangan berani-beraninya kau mencoba untuk berlaku kasar kepadaku." Ucapku.
"Kau.... beraninya kau." Ucapnya semakin marah.
"Aku belum melakukan apapun. Tapi jika kau berani mendekat padaku lagi, aku akan membuatmu menyesal bertemu denganku." Ucapku padanya dan kemudian berjalan menuju tujuanku.
Tapi aku merasa ada aura dingin di belakangku, mungkin karena wanita yang ada di belakangku. Tapi aku tidak peduli kepadanya dan terus berjalan menuju kamarku.
Aku sudah sangat kesal dengan sikap Aldi kepadaku dan sekarang aku harus menghadapi orang yang tidak aku kenal yang menabrak aku seolah aku ini seekor kucing. Tanpa ada sopan santun atau permintaan maaf apapun, dia malah mempermalukan aku. Aku menghela nafas dan memutuskan untuk menyiapkan interview yang akan aku lakukan besok. Tapi aku memerlukan beberapa barang dari ruangan belajar.
Aku lalu beranjak menuju ruang belajar. Ruang belajar itu tampak begitu indah dengan tema klasik di dalam rumah. Tuan Erfan sudah memberikan aku akses untuk pergi kemanapun di area di dalam rumah. Jadi aku bisa dengan bebas pergi ke ruang belajar dan mengambil beberapa buku di sebuah rak berwarna putih.
"Aku rasa ini sudah cukup." Ucapku dan melihat sekeliling.
Ruangan belajar itu memang sangat indah.
"Kau benar-benar membuat aku kagum Nilam...."
Aku begitu terkejut saat mendengar suara dari arah belakangku dan itu ternyata adalah suara Aldi.
"Aku pikir aku mengenalmu. Tapi ternyata masih ada banyak hal yang mengejutkan darimu yang perlu aku ketahui." Ucapnya lagi.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Ucapku berbalik menatapnya.
Dia mengenakan sebuah pakaian berwarna navy dan jeans warna putih. Dia tampak bersandar di pintu dengan senyuman di wajahnya. Wajahnya begitu mendominasi dengan aura dingin, sama seperti saat kami masih kuliah dulu dan hal itulah yang membuat aku jatuh cinta kepadanya dan sampai sekarang pun aku masih mencintainya.
"Aku menyaksikan kejadian kecilmu bersama Sarah dan bagaimana kasarnya dirimu bicara padanya." Ucap Aldi.
'Sarah?'
Aku bertanya kepada diriku sendiri berpikir siapa yang dia bicarakan itu. Kemudian pikiranku beralih kepada wanita yang baru saja aku temui beberapa saat yang lalu.
"Sarah adalah tamuku, wanita yang kau marahi di ruang tamu tadi." Ucap Aldi.
"Hah! Memangnya apa yang kau pikirkan? Dia menyerang ku lebih dulu dan aku hanya membalasnya. Apakah kau ingin membunuhku karena apa yang aku lakukan terhadap orang yang kau sebut sebagai tamu mu itu?" Ucapku dan berbalik ke arah buku yang ada diatas meja.
__ADS_1
Aku lantas mengambil buku itu kemudian aku mendengar dia menutup pintu dengan keras, di mana hal itu membuat aku terkejut dan aku berbalik untuk melihat dia yang tengah berjalan mendekat ke arahku dengan begitu elegan.
Matanya dipenuhi dengan perasaan yang bercampur. Tapi aku tidak bisa membaca perasaan atau apa yang tertulis di balik wajah tampannya itu dan semakin dia mendekat dengan perlahan ke arahku, semakin jantungku berdetak begitu kencang di dadaku.
"Kau.... a.... Apa yang akan kau lakukan?" Ucapku.
Tapi aku hanya tidak bisa melangkah mundur darinya. Aku bahkan tidak bisa mundur karena ada meja di belakangku.
"Apa yang kau pikirkan Nilam Yuniarta Widuri?"
Bagaimana aku bisa mengatakan apa yang dia inginkan sejak momen kami bertemu di rumah ini, dia selalu mencoba yang terbaik untuk membuat hidupku sengsara dan sekarang apa yang akan dia lakukan kepadaku? Apakah aku akan merasakan kemarahan darinya.?
"Kau sudah melakukan banyak hal untuk menyakiti aku. Apakah kau akan membunuh aku?" Ucapku dan dia hanya tersenyum dengan senyuman yang tetap sama mempesona, tapi aku rasa itu adalah senyuman mematikannya untukku.
Dia menaruh tangannya di setiap sudut meja dan membuatku terjebak di antara tubuhnya. Kemudian dia mendekatkan kepalanya ke arah telingaku dan berbisik dengan lembut di telingaku.
"Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan kepadamu Nilam Yuniarta Widuri. Tapi bagaimanapun itu, membunuhmu bukanlah bagian dari semua itu."
Aku merasakan ketakutan turun dari kepala sampai kakiku saat nafasnya berhembus di telingaku dengan begitu penuh kuasa dan aku bahkan tidak bisa mendorongnya untuk menjauh dariku.
"Apa yang kau pikirkan yang bisa aku lakukan saat ini?" Ucapnya lagi.
Tapi ini bukanlah sebuah bisikan di telingaku. Nafas yang begitu dekat dengan ucapannya itu.
"Menjauh lah dariku Aldi." Ucapku dan itu seolah menunjukkan aku sudah kehilangan nafasku karenanya.
"Kenapa Nilam?" Ucapnya dan bahkan semakin jauh lebih dekat kepadaku.
"Aku anak tiri mu sekarang Nilam. Bukan kekasihmu. Kau merusak hatiku dan sekarang aku hanya ingin membalas untuk merusak hatimu."
Ucapannya terdengar menyakitkan. Aku bahkan bisa merasakan rasa sakit di balik kata-kata itu dan keputusasaan di matanya. Dan memang benar, seperti apa dia katakan bahwa aku kini menjadi ibu tirinya dan dia menjadi anak tiri ku.
Bagaimana bisa aku melupakan hal itu? Itu adalah kenyataannya, tapi itu juga benar bahwa aku masih cinta dan sangat mengagumi dirinya, sama seperti saat di masa lalu. Tapi sekarang aku hanya bisa melihatnya menutup pintu di belakangnya dan berjalan menjauh ke arahku. Aku memegang dadaku dan aku merasa jantungku terasa begitu sakit di dalam diriku.
"Aldi..."
...****************...
Pov Aldi
"Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan kepadamu Nilam Yuniarta Widuri. Tapi bagaimanapun itu, membunuhmu bukanlah bagian dari semua itu."
Aku membisikkan hal itu di telinga Nilam dan menghembuskan nafasku di telinganya.
Aku harap kata-kata yang aku ucapkan kepadanya itu tidak begitu tulus. Tapi itu sebenarnya jauh lebih tulus dari yang aku pikirkan. Momen saat aku melihat bagaimana dia membela dirinya sendiri dari kemarahan Sarah, saat itu aku melihat sosok dari kucing kecil liar ku yang tengah memperlihatkan cakarnya.
Setelah Sarah pergi, aku lalu pergi mengikuti Nilam ke ruangan belajar dan itulah bagaimana aku bertemu dengannya di ruangan itu dan sekarang kami berdiri dengan posisi seperti ini.
Dia mengenakan sebuah gaun cantik yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Bentuk tubuhnya yang indah yang aku tidak bisa menolak untuk mengaguminya. Dadanya yang indah terlihat jelas dari belahan gaun yang dia gunakan dan aku merasa bahwa itu tampak seksi.
Tubuh kami begitu dekat dan dia terlihat tidak bisa bergerak dari diriku. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan kepadanya pada saat ini. Tapi bisakah aku melakukannya?
"Menjauh lah dariku Aldi."
__ADS_1
Aku mendengar suaranya yang sedikit ketakutan dan tangan kecilnya mencoba untuk mendorong aku. Tapi itu terasa begitu lemah bagiku dan semakin dia mencoba untuk mendorongku dengan tangannya yang lemah itu di dadaku, semakin aku menginginkannya.
Aku mendekat padanya dan merasakan nafasnya menyatu dengan nafasku. Aku ingin mencium bibir merah mudanya yang lembut itu. Tapi saat bibirnya menyentuh bibirku, aku langsung menolak dan menarik diriku menjauh darinya.
"Aku anak tiri mu sekarang Nilam, bukan kekasihmu. Kau merusak hatiku dan sekarang aku hanya ingin merusak hatimu." Ucapku kepadanya dan berjalan menjauh darinya.
Sebenarnya aku sangat ingin menciumnya pada saat itu. Tapi aku tidak bisa dan aku tidak akan bisa melakukannya lagi.
...****************...
Keesokan harinya aku pergi ke kantor dan hal itu sudah aku putuskan dan itu juga sudah diputuskan oleh Nilam yang ingin pergi untuk interview.
Aku duduk di ruangan ku melihat kamera CCTV pribadi dari laptopku. Hanya dari ruangan ku aku bisa melihat Nilam melakukan interview itu, dan dari apa yang terlihat, aku bisa mengatakan bahwa para dewan yang melakukan interview itu tampak terpesona dengan tampilan dan desain yang ditunjukkan Nilam kepada mereka. Aku harus juga mengakui bahwa aku sedikit terpesona dengan performa Nilam. Tapi alisku mengkerut saat aku melihat tatapan para pria di lorong kantor. Saat itu aku merasa bahwa aku ingin menghilangkan mata dari para pria yang terus menatap dirinya.
Di masa lalu aku ingat bahwa aku selalu bertingkah marah dan memukuli para pria. Aku selalu benci saat pria lain menggunakan mata mesum mereka menatap Nilam. Tidak peduli bagaimana kesalnya aku kepadanya saat ini, perasaanku tidak berubah bahkan sedikitpun.
Aku tidak bisa menahan diriku sendiri dan berdiri dari kursi ku. Tapi setelah dua langkah berjalan, aku mendengar sebuah ketukan di pintu ruangan ku.
"Siapa itu?" Tanya ku dengan dingin.
Tapi perasaanku berubah dengan cepat saat aku melihat dia sekali lagi.
"Sarah! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku padanya.
Tapi dia memberikan sebuah senyuman kepadaku dan berjalan mendekat ke arahku.
"Aku datang untukmu Aldi." Ucapnya.
"Sarah, kita sudah lama putus dan aku tidak memiliki keinginan untuk kembali bersamamu lagi. Aku rasa kita sudah bicara tentang hal itu kemarin. Jadi kenapa kau terus saja datang padaku?" Ucapku.
"Aku tahu, tapi aku hanya tidak bisa melupakanmu. Aldi aku masih mencintaimu." Ucapnya.
"Tapi aku tidak." Ucapku.
"Aku tidak percaya itu." Ucapnya.
Dia langsung mencium bibirku, dan juga memeluk leherku. Tapi aku dengan cepat mendorongnya menjauh dariku dan memegang lengannya dengan erat.
"Sarah, kau...."
Kata-kataku terhenti saat aku melihat Nilam berdiri di pintu. Sudah berapa lama dia berdiri di sana? Aku tidak bisa memastikannya. Tapi aku bisa melihat ada rasa terkejut di matanya seolah dia baru melihat cintanya berselingkuh darinya. Jika saja dia tidak mencampakkan aku demi Papa ku, aku bisa mengatakan bahwa dia tampak terluka. Tapi tidak, aku tahu bahwa dia tidak terluka sedikitpun.
"Aku... aku . hanya datang untuk memberikan beberapa dokumen." Ucap Nilam mendekat dan memberikan kepadaku beberapa dokumen yang dibawanya itu.
"Tuan Erfandi meminta aku untuk memberikan kepadamu dokumen ini." Ucap Nilam dan kemudian dia pergi menjauh dari pandanganku.
"Tapi siapa wanita itu..." Ucap Sarah yang memandangku.
Jika saja ini masih berada di masa lalu, aku bisa mengatakan bahwa dia adalah cintaku. Tapi sekarang dia hanyalah Mama tiri sialan ku.
"...."
Bersambung....
__ADS_1