Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Butuh Penjelasan


__ADS_3

PoV Nilam


Saat aku masuk ke dalam kamar Aldi di untuk menaruh makanan yang diminta oleh Tuan Erfandi, Aldi tidak ada di dalam kamarnya. Aku pun merasa lega, namun aku mendengarkan suara air dari dalam kamar mandi jadi aku berpikir bahwa Aldi mungkin saja berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Itu adalah kesempatan yang baik bagiku untuk pergi sebelum dia keluar dari dalam kamar mandi dan melihat aku berada di sana.


Aku tahu Tuan Erfandi memiliki ekspektasi yang tinggi berharap bahwa aku mungkin akan bisa dekat dengan putranya. Tapi setelah apa yang sudah kami lalui di masa lalu dan dengan hubungan kami itu, aku takut bahwa tidak ada jalan yang bisa membuat kami akan mendekat satu sama lain lagi.


Aku lalu menaruh puding yang aku buat untuk Aldi itu di atas meja dan bersiap untuk membuka pintu dan pergi secepatnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Suara Aldi terdengar dari belakangku dan aku langsung membeku di posisiku berdiri. Aku merasa ingin berlari pergi, namun pikiranku berputar di situ saja. Aku tidak bisa mengatakan satu patah katapun.


Setelah beberapa saat terdiam, Aldi juga tidak mengatakan apapun. Aku akhirnya mulai berbicara.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu lebih lama. Aku akan pergi secepatnya." Ucapku dan mencoba untuk membuka pintu agar bisa kabur darinya.


Tapi tangan Aldi yang berotot itu menutup pintu membuat aku tidak bisa pergi dari kamarnya itu.


"Maaf, maaf, dan maaf.... Kau mengatakan hal yang sama 3 tahun yang lalu saat kau memutuskan untuk memutuskan hubungan kita dan menikah dengan pria tua itu. Aku butuh penjelasan darimu Nilam Yuniarta Widuri." Ucap Aldi kepadaku.


Tentu saja aku mengerti bahwa dia membutuhkan penjelasan dariku. Siapa yang tidak butuh penjelasan saat kekasihnya atau seseorang yang sudah seperti keluarganya atau lebih tepat adalah tunangannya, tiba-tiba memilih putus hubungan dengannya dan secara tiba-tiba ditemukan menikah dengan Papan nya sendiri.


"Nilam Yuniarta Widuri, kau tahu benar apa yang paling aku benci. Jadi jangan membuat aku kehilangan kesabaran ku."

__ADS_1


Aku mendengar dia berteriak dan punggungku terasa membeku. Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan hal apa yang paling di benci oleh seorang Aldi Erfandi. Dia tentu saja membenci saat tidak dihiraukan dan saat ini dengan punggungku yang menghadap dirinya dan terus terdiam dalam setiap pertanyaan yang diajukan, itu berarti aku sedang tidak menghiraukan dirinya.


Aku pun menghela nafas dengan tidak ada pilihan lain aku berbalik untuk menatap dirinya dan sungguh sial, Aldi malah memperlihatkan diriku dengan sosok dirinya yang hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Dadanya yang bidang itu terlihat sangat jelas dengan perut sixpack nya. Rambutnya dan tubuhnya masih terdapat air yang mengucur karena dia baru saja selesai mandi.


Aku bukanlah orang yang mesum, tapi aku tidak bisa menolak bahwa tubuhnya terlihat begitu seksi dan aku tidak bisa mengalihkan mataku dari tubuh nya.


"Apa itu? Apakah kau menyukai apa yang kau lihat sekarang?" Ucap Aldi dengan menyeringai dan hal itu membuatku tersadar.


Aku menyumpahi diriku sendiri fan bertanya sudah berapa lama aku terus menatap tubuhnya? Sudah berapa lama aku mengagumi bentuk tubuhnya itu?


Aku tidak bisa mengatakan apapun, tapi aku dengan segera mengalihkan wajahku dan berpura-pura untuk tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan itu.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan itu. Tapi kau seharusnya menggunakan pakaianmu lebih dulu. Kau mungkin akan kedinginan dan bahkan flu dan tidak baik berbicara dengan kondisi seperti itu." Ucapku kepada Aldi.


"Hah..." Tanyaku bingung.


"Apakah kau takut kehilangan kontrol dirimu dan terjatuh ke dalam pelukanku? Aku akan mengerti gestur darimu itu." Ucap Aldi dan mendekat ke arah telingaku.


Tapi aku tidak bergerak sedikit pun. Aku hanya membeku di posisiku sejak tadi.


"Aku akan mengerti karena bagaimanapun akulah yang melakukan hal itu pertama kali denganmu. Akulah pria pertama yang menggoda mu yang merasakan tubuhmu itu." Ucap Aldi berbisik di telingaku lagi.


Aku harus mengakui bahwa dia memang benar. Dia adalah orang pertama yang sudah melakukan hal itu denganku. Tapi dia mengatakan hal itu dengan nada yang mengejek, seolah hari di mana aku kehilangan kesucian ku itu hanyalah sebuah permainan baginya dan aku seharusnya malu kepada diriku sendiri. Tidak ada satu hari pun yang aku lewati dengan menyesali hari itu. Tapi ucapan darinya itu menyakiti aku. Aku mendorong dirinya untuk membuat ada celah di antara kami.

__ADS_1


"Aku mengingat hari itu dengan jelas, tapi kumohon hargai aku dan menjauh lah sedikit dariku, saat kau bicara tentang hal itu." Ucapku kepada Aldi.


"Menghargai mu? Hah! Apakah kau sebenarnya bisa berpikir hal yang sama saat kau merangkak di atas tempat tidur Papaku dan membuka kakimu itu untuknya? Pria mana lagi yang kau goda di tempat tidurmu seperti seorang wanita ****** di luaran sana?"


Detik berikutnya suara tamparan terdengar dalam kamar Aldi. Iya, aku menamparnya karena aku tidak bisa menahan diriku lagi atas ucapannya itu, karena semuanya sudah cukup kelewatan.


"Sudah cukup Aldi. Aku setuju bahwa aku memang menyakitimu karena putus denganmu untuk menikah dengan Papa mu. Tapi kau sudah terlalu keterlaluan." Ucapku.


Setelah itu aku lari keluar dari dalam kamar Aldi. Dia membiarkan aku pergi tanpa berdebat lagi. Mungkin dia merasa bersalah atau terlalu terganggu untuk mengatakan apapun atau bereaksi apapun padaku. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun, tapi air mataku terus saja terjatuh sampai aku tiba di kamarku di mana aku langsung menjatuhkan diriku di atas tempat tidur berukuran besar dan menangis dengan rasa sakit di dadaku.


Aku terus saja menangis saat dua buah tangan kecil menyentuh tubuhku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat anakku tengah melihat ke arahku dengan matanya yang tampak sayu. Aku merasa bahwa dia memiliki banyak hal yang ingin dia katakan kepadaku, tapi dia tidak tahu bagaimana untuk mengatakannya.


Dia bisa saja berjalan tapi dia memutuskan untuk merangkak ke arahku dan mengusap air mataku.


"Terima kasih sayangku, Mama baik-baik saja." Ucap ku kepadanya jadi dia bisa merasa lega, tapi dia tidak terlihat lega. Dia pun langsung memeluk aku, dia mungkin memang sangat kecil tapi dia memiliki jiwa yang dewasa dibandingkan bayi lain yang seusia dengannya. Walaupun dia sebenarnya baru berusia 2 tahun.


"Terima kasih sayang. Mama sangat membutuhkan hal ini." Ucapku.


Aku lalu memeluknya dengan sangat erat dan membiarkan aroma tubuhnya membuat aku merasa tenang, kemudian aku kembali memeluk bayi kecilku itu untuk bisa tidur. Tapi aku tahu bahwa besok pasti akan menjadi lebih sulit lagi.


Hari-hari seperti ini mungkin akan terulang kembali lagi. Tapi apakah aku sudah siap untuk menghadapi semuanya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2