
PoV Author
"Lama tak bertemu Nilam."
"Itu.... itu memang kau." Ucap Nilam tampak gugup bahkan suaranya terdengar tidak jelas.
Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi karena tubuhnya gemetar dan suaranya juga terdengar gemetar. Tapi dia tidak takut dan matanya tidak menunjukkan sedikitpun kesedihan, tapi melainkan air mata kebahagiaan yang menggenang di matanya dan tubuhnya gemetar karena rasa bahagia.
"Alex itu dirimu... Itu benar-benar kau." Ucap Nilam.
"Halo Nona Manis, ini memang benar. Aku bukanlah hantu, jadi kenapa kau menangis?"
Teman Nilam itu bicara dengan nada yang menggodanya. Sudah 5 tahun dan dia tidak pernah berubah. Wanita itu tetap tomboi yang suka bermain-main dan melompat ke sana dan kemari seperti seekor kelinci. Tingginya 169 cm dengan tubuhnya yang langsing dengan rambut yang pendek dan memiliki mata berwarna coklat.
5 tahun sudah berlalu sejak Nilam mendengar suara dari sahabatnya itu dan juga sikap tomboi nya itu.
"Mmmm.... Smoothies di kantin ini sangat lezat, mungkin aku harus membeli lebih banyak dan membawanya pulang bersamaku. Jadi aku bisa menikmatinya di rumah." Ucap Alex setelah meneguk smoothies yang dia pesan di kantin tadi.
Sementara Nilam terus saja melihat ke arahnya dengan tatapan masih tidak mempercayai bahwa dia akhirnya bertemu dengan teman lamanya setelah begitu lama.
Alex bukan hanya seorang teman atau teman lama bagi Nilam, dia juga sama seperti saudara bagi Nilam. Tapi karena adanya perselisihan konyol diantara mereka berdua, Nilam pun kehilangan temannya itu.
"Kau tahu, jika kau tidak menginginkan smoothies mu itu, aku bisa membantumu meminumnya." Ucap Alex.
"Oh kau bisa mengambilnya. Aku tidak terlalu menyukainya." Balas Nilam.
"Oh Nilam ku, selalu menjadi yang terbaik." Ucap Alex begitu bahagia mengambil smoothies itu dari hadapan Nilam dan langsung meminumnya dengan sekali tegukan.
"Kelihatannya kau sangat menyukai smoothies itu." Ucap Nilam.
"Yaa, kau tahu aku masih tomboi seperti dahulu dan tidak begitu mudah bagiku untuk bisa berubah. Tidak heran para lelaki bahkan tidak melihat ke arahku. Tapi siapa yang peduli kepada mereka." Ucap Alex dengan begitu santai.
"Bagaimanapun kau sendiri sudah banyak berubah." Lanjut Alex.
"Eh bagaimana aku bisa berubah? Apakah aku menjadi sedikit tua dan gendut?" Tanya Nilam.
"Berhentilah berkata bodoh. Bagaimana kau bisa menjadi gendut atau tua. Tentu saja kau sudah berubah, tapi kau malah berubah menjadi jauh lebih cantik dan seksi." Ucap Alex.
Alex tampak menatap tubuh Nilam dari kepala sampai kaki walaupun beberapa bagian tubuh Nilam tertutup dengan meja yang memisahkan mereka.
"Dan kau bahkan memiliki bentuk tubuh yang indah. Aku pasti akan tergoda jika Aku adalah seorang pria." Ucap Alex.
Nilam tertawa dan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa teman baiknya itu masih sama seperti dulu.
"Hei jangan hanya memikirkan semuanya dalam pikiranmu katakan saja kepadaku semuanya tentang dirimu. Seperti bagaimana kehidupanmu beberapa tahun ini, apakah kau merindukan aku?" Ucap Alex.
"Tentu saja aku sangat merindukanmu dan tentang hidupku beberapa tahun ini...."
Nilam terdengar mengambil nafas dalam dan menghelanya. Dia menggunakan garpu untuk memainkan makanan yang ada di piringnya.
"Ada banyak hal yang terjadi beberapa tahun ini sejak kau pergi dan hidupku menjadi begitu rumit." Ucap Nilam.
"Biar aku lihat. Aku rasa ini semua tentang seorang pria yang kau cintai dan hubunganmu yang rumit." Ucap Alex.
Ucapan Alex memang langsung mengenai pikiran Nilam. Tapi apa yang tidak bisa Nilam mengerti adalah bagaimana Alex bisa menebaknya dengan benar.
"Itu memang benar. Tapi bagaimana kamu mengetahui hal itu?" Tanya Nilam.
"Kita sudah berteman selama 5 tahun sebelum kita berpisah. Jadi tentu saja aku akan tahu dirimu dan aku juga bisa menebak karena aku adalah orang yang berpengalaman dalam hal cinta dan hubungan, semuanya bisa aku lewati."
Nilam harus mengakui bahwa Alex tidak bicara omong kosong. Meskipun Alex tidak memiliki hubungan yang lama dengan mantannya, tapi Alex lebih mengerti akan semua masalah seperti itu. Kelihatannya Alex belajar banyak hal tentang hubungan itu sekarang. Memikirkan hal itu, Nilam berpikir bagaimana jika mereka berdua tidak pernah berpisah di masa lalu. Mungkin Nilam tidak akan bisa menemukan dirinya berada di hubungan yang begitu rumit. Memang benar Lila juga adalah teman yang baik bagi Nilam, tapi Alex, dia begitu berbeda.
__ADS_1
"Hei kenapa kau tampak melamun?" Ucap Alex yang akhirnya membuat Nilam tersadar kembali..
"Maaf Alex, ini hanya...." Nilam berhenti bicara beberapa saat.
Dia tidak bisa memproses apa yang akan dia katakan. Dan apa yang dia ingin katakan itu masih ada di dalam kepalanya.
"Hei jika kau memikirkan tentang bagaimana untun meminta maaf atas apa yang terjadi 5 tahun yang lalu, lupakan saja. Tidak, kau tidak perlu meminta maaf." Ucap Alex.
"Alex...." Ucap Nilam.
"Aku juga bersalah. Aku seharusnya tidak pergi dan meninggalkanmu begitu saja tanpa menyelesaikan semuanya." Ucap Alex.
"Jadi...."
"Jangan salah mengerti akan diriku. Aku masih teguh dengan apa yang aku katakan 5 tahun yang lalu dan aku tidak akan mengubahnya. Aku akan menjadi temanmu sama seperti sebelumnya. Jika kau mau membuat aku untuk...."
"Aku tidak akan melakukannya." Ucap Nilam menyela ucapan Alex sebelum dia bisa melanjutkan kalimatnya karena Nilam sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Alex.
"Lila adalah temanku dan kau adalah teman baikku juga. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan bisa memaksamu untuk menyukai dia seperti aku menyukainya." Ucap Nilam.
"Dengan ucapan mu itu, aku rasa dia masih menjadi temanmu." Ucap Alex.
"Tebakan mu benar. Tapi tolong jangan ucapkan hal buruk tentangnya lagi. Lila sudah membantu aku di setiap waktu sulit ku." Ucap Nilam.
Alex menghela nafas dan menggigit steak miliknya, sementara Nilam menyesap kopi yang ada di cangkir di hadapannya itu.
"Iya itu memang pikiranmu dan opinimu tentang dia. Tapi bagiku, dia tidak akan pernah berubah. Aku masih berpikir tentang dirinya sama seperti 5 tahun yang lalu. Bagaimanapun saat ini aku tidak akan membuat sebuah kesalahan yang akan mengacaukan semuanya denganmu. Aku akan selalu berada di sisimu sama seperti seorang teman yang seharusnya dan mengatasi masalah pertemanan kita ini." Ucap Alex.
"Terima kasih Alex." Balas Nilam.
Apa yang terjadi 5 tahun yang lalu, bagaimana bisa Nilam melupakannya begitu saja. Itu semua karena pikiran Alex tentang Lila yang menciptakan masalah di antara mereka semua.
Nilam mengenal Lila 1 tahun sebelum dia bertemu dengan Alex dan sebelum kedatangan Alex, Nilam tidak memiliki banyak teman dan bahkan dia sering dibully oleh beberapa gadis lainnya. Tapi dia begitu beruntung memiliki Lila yang selalu mendukungnya.
Nilam tentu saja tidak bisa menerima hal itu. Dia tidak tahu kenapa Alex mengatakan hal itu tentang Lila yang selalu baik kepadanya. Tapi sekarang Nilam mencoba untuk kembali bersama sahabatnya ini dan mungkin pertemanan mereka akan menjadi lebih baik dibandingkan di masa lalu.
"Nilam, karena kita sudah lama tidak bertemu, bagaimana jika kau menemani aku pergi ke suatu tempat?" Ucap Nilam.
"Hah ke mana?" Tanya Nilam.
"Ke sebuah tempat yang menyenangkan. Tapi kau tidak diperbolehkan untuk mengajak Lila." Ucap Alex.
"Tentu saja. Ini sudah sangat lama, jadi aku akan sangat senang untuk menghabiskan waktuku bersamamu." Ucap Nilam
"Tentu saja kita akan pergi setelah kita selesai bekerja. Bagaimana menurutmu?" Tanya Alex.
Nilam pun langsung setuju dan melupakan tentang Tuan Erfandi dan bahkan putranya Leon, Aldi dan orang lain dalam hidupnya. Saat itu Nilam hanya perlu memikirkan tentang dirinya sendiri. Dia mau untuk bersenang-senang dan melupakan masalahnya dan menikmati hidupnya.
...----------------...
"Selamat datang di rumahku, istanaku." Ucap Alex menyambut Nilam ke dalam rumahnya yang memiliki dua ruangan.
Itu bukanlah sebuah apartemen yang besar tapi itu sudah cukup baginya.
"Wow ini sangat indah dan nyaman." Ucap Nilam.
"Mungkin ini tidak sebesar rumah yang dimiliki suamimu, tapi ini tetap nyaman..."
"Suamiku? Tapi bagaimana kau tahu aku sudah menikah?" Tanya Nilam.
"Aku memang tidak tahu. Tapi kau sendiri yang baru saja mengatakan kepadaku." Ucap Alex.
__ADS_1
"Apa? Kapan? Aku tidak pernah..."
Nilam berhenti bicara dan mengerti Alex hanya bicara dengan sembarangan untuk melakukan sebuah trik kepadanya dan mengakui sendiri semuanya.
"Aku mengerti, kau mengerjai aku lagi." Ucap Nilam.
"Yap, aku sekarang tahu satu hal tentang dirimu. Aku akan menunggu sampai waktu di mana aku bisa bertemu suamimu nanti. Aku mau tahu seperti apa pria beruntung yang mendapatkan dirimu." Ucap Alex.
"Iya tentu saja." Ucap Nilam dengan raut wajah yang tampak sedih.
Kesedihan di wajah Nilam menunjukkan ekspresi sedih yang sama seperti yang dirasakan oleh seorang janda yang baru saja kehilangan suaminya dan juga hidupnya.
"Hai kenapa dengan wajahmu yang sedih itu? Jangan katakan kepadaku bahwa suamimu tidak memperlakukanmu dengan baik dan jika itu masalahnya, biarkan aku meninjunya dengan sangat keras di wajahnya. Bagaimana dia bisa memperlakukan sahabatku ini dengan buruk." Ucap Alex dengan mengepalkan tangannya ke udara.
"Tidak, bukan seperti itu. Dia memperlakukan aku dengan sangat baik dan dia memberikan aku kehidupan layaknya seorang putri. Tapi anaknya..." Ucapan Nilam terhenti.
"Apa-apaan itu? Jangan katakan kepadaku bahwa kau itu sebenarnya adalah seorang ibu tiri?" Ucap Alex.
"Iya memang seperti itulah kenyataannya. Semuanya menjadi sedikit rumit dalam hidupku." Ucap Nilam.
"Terserah saja. Kita semua memiliki waktu untuk membicarakan hal itu nanti. Jadi malam ini ayo kita pergi bersenang-senang." Ucap Alex.
"Ya tentu." Ucap Nilam dengan suaranya yang terdengar begitu bahagia.
"Baiklah kalau begitu ambil ini dan cepat pakai ini sekarang juga." Ucap Alex.
Alex memberikan sebuah gaun berwarna biru dengan model yang tidak memiliki lengan dan juga jaket berwarna biru kepada Nilam. Semuanya berwarna biru dan tampak indah, tapi Nilam terus saja menatap ke arah gaun itu tanpa melangkah ke hadapan Alex.
"Ada apa? Kenapa kau tidak mau mengganti pakaian mu?" Tanya Alex pada saat dia menyadari jika Nilam belum juga melangkah ke hadapannya.
"Bukankah kau menyukai gaun?" Tanya Alex lagi.
"Tentu saja gaun itu sangat indah. Tapi aku tidak tahu apakah itu cocok untuk aku kenakan saat ini." Ucap Nilam.
"Oh ayolah Nilam. Kita akan pergi ke klub bukan pergi meeting. Kau memiliki tubuh yang indah, jadi gunakanlah ini. Pasti akan sangat indah di tubuhmu." Ucap Alex.
Saat itu juga Nilam tidak memiliki pilihan lain. Dia pun menggunakan gaun itu dan kemudian pergi bersama Alex.
Nilam memiliki malam yang indah bersama dengan Alex dan melupakan waktunya. Dia begitu bersenang-senang bahkan seolah melupakan semua masalah yang tengah dihadapinya. Meski Nilam seolah sudah lupa waktu untuk pulang ke rumah, untungnya dia sudah menginformasikan hal itu kepada Bibi Ana lebih dulu. Jadi dia pun tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi Leon yang ditinggalnya karena Bibi Ana pasti menjaga Leon dengan sangat baik.
Setelah bersenang-senang sepanjang hari, Nilam pun akhirnya pulang ke rumah. Perasaannya jauh lebih baik setelah menghabiskan waktu bersenang-senang dengan Alex.
Saat dia tiba di rumah, semua orang kelihatannya sudah tertidur. Nilam lebih dulu melangkah ke arah kamar Leon. Dia mendapati Leon tertidur dengan begitu lelap di atas tempat tidurnya. Nilam merasa sedikit bersalah karena sudah meninggalkan Leon sepanjang hari. Dia tersenyum menatap wajah Leon yang tertidur dengan wajah yang tersenyum.
Nilam lalu mencium pipi Leon, kemudian setelah itu dia berjalan keluar dari kamar Leon dan menutup pintu kamar Leon itu dengan perlahan agar tidak membangunkan anak kecil yang tertidur dengan lelap itu.
Nilam hendak berjalan ke arah kamarnya. Namun dia kembali berhenti melangkah karena ponselnya terasa bergetar.
"Oh ini dari Alex." Ucap Nilam dengan suara yang terdengar pelan dan mencoba untuk menjawab panggilan itu.
Dia tersenyum bahagia setelah mendapatkan panggilan telepon dari Alex, mengingat bagaimana mereka yang sudah bersenang-senang tadi.
"Kau akhirnya tahu bagaimana caranya untuk pulang ke rumah."
Nilam tampak ketakutan dengan suara yang terdengar familiar yang membuat tubuhnya terasa gemetar juga dingin. Di belakangnya ada suara seseorang yang tiba-tiba membuat Nilam membeku dan begitu terkejut hingga sampai membuatnya melepaskan ponselnya dan untungnya ponselnya itu tidak rusak. Hanya saja ponselnya itu langsung mati saat bersentuhan dengan lantai.
Momen saat mata Nilam bertemu dengan mata orang itu, Nilam bisa merasakan aura dingin dan tatapan mematikan yang dia berikan kepada Nilam. Nilam tidak tahu untuk mengatakannya apa. Tapi Nilam merasa bahwa dia sepertinya tidak akan bisa melewati malam ini dengan nyaman melihat aura mematikan yang diberikan oleh Aldi kepadanya pada saat itu.
"Aku akan bertanya kepadamu sekali saja." Ucap Aldi dengan suara yang terdengar begitu dingin yang seolah membuat tubuh Nilam terasa membeku. "Ke mana saja kau pergi?" Tanya Aldi.
"......"
__ADS_1
Bersambung....