
PoV Nilam
Setelah bersenang-senang begitu lama dengan Alex di klub, aku pun pulang ke rumah dan itu sudah larut malam. Jadi aku pun pergi ke kamar Leon hanya untuk memeriksa bayi kecilku itu. Leon sudah tertidur dengan nyenyak. Jadi aku memberikan ciuman lembut di pipinya dan berjalan dengan perlahan keluar dari dalam kamarnya agar tidak membangunkannya.
Aku hendak berjalan ke arah kamarku saat Alex menelpon ku. Tapi aku tidak bisa menjawab panggilannya karena Aldi tiba-tiba muncul. Ponselku hampir saja rusak saat aku menjatuhkannya ke lantai karena terkejut akan kehadiran Aldi.
"Aku hanya akan bertanya satu kali kepadamu ke mana saja kau pergi?"
Aku pikir awalnya untuk memberikan penjelasan kepadanya, kemana saja aku pergi. Namun kemudian sebuah ide melintas di dalam pikiranku bahwa aku tidak punya alasan untuk memberikan penjelasan kepadanya. Dia selalu memperlakukan aku dengan buruk dan bukan hanya sekali saja. Dia bahkan tidak pernah percaya dengan apapun yang aku katakan, jadi aku pikir untuk apa aku harus memberikan penjelasan kepadanya tentang hidupku.
Aku tidak menghiraukan pertanyaannya dan mengambil ponselku di lantai dan hendak pergi karena aku tidak mau memiliki pertengkaran lain dengannya di tengah malam seperti ini. Tapi aku tidak menyangka saat aku hendak membuka pintu kamarku, si pria gila itu hampir saja menjepit jemariku di pintu.
"Aaahh! Apakah kau sudah gila? Kau hampir saja menjepit jemariku di pintu." Ucapku.
Tentu saja pria gila itu tidak peduli dan malah mendorong ku untuk menahan ku. Tapi kali ini aku tidak mau membiarkan dia membully aku lagi. Kenapa tidak? Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku bukanlah wanita lemah yang selalu bisa di perlakukan dengan buruk.
Aku tidak menyimpan semua itu dalam pikiranku karena aku langsung menarik dia mendekat ke arahku dengan menarik kerah pakaiannya dan membuat kami sangat dekat sehingga bibir kami hanya berjarak beberapa inci saja.
"Dan kau dengan semua orang tahu bahwa aku paling benci diperintah oleh orang lain. Jadi berhentilah bersikap arogan kepadaku. Kau tahu bahwa aku menikah dengan Papa mu dan bukan dirimu. Jadi kau tidak punya kewenangan untuk mengatur hidupku. Bukankah kau sendiri yang mengatakannya beberapa hari yang lalu? Aku adalah Mamamu sekarang dan kau adalah putraku. Jadi jagalah jarak mu dariku karena kau bukan kekasihku."
Setelah itu, saat aku melihat ke arah matanya, aku tidak menunjukkan sedikitpun ketakutan. Tapi aku meninggalkan ekspresi dominan yang dipenuhi dengan kemarahan setelah memberikan peringatan kepadanya. Aku melepaskan kerah pakaiannya dan melambaikan rambutku ke arah wajahnya dan meninggalkan dia tanpa ketakutan sedikitpun. Tapi sejujurnya aku sendiri sedikit terkejut karena aku bisa melakukan hal itu kepadanya.
Jika seseorang bertanya kepadaku dari mana aku mendapatkan keberanian itu, aku hanya akan mengatakan ini adalah bagian diriku yang lainnya yang terpengaruh karena alkohol. Walaupun sebenarnya aku masih penuh kesadaran saat ini.
Aku berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pakaian yang aku gunakan satu persatu yang diberikan oleh Alex. Aku mandi cukup lama dan menggosok tubuhku dari aroma bau para pria brengsek yang tidak bisa berhenti menyentuh aku saat di klub tadi.
Setelah menghabiskan sepanjang waktu di dalam kamar mandi, laku pun menggunakan pakaian mandi berwarna putih dan berjalan keluar untuk tidur. Aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya lagi saat dia terlihat sibuk memegang ponselku.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?"
Aku tidak membuang waktu untuk mengambil ponselku darinya. Tapi dia tidak mau memberikan aku begitu saja. Bagaimanapun cara dia melihat ke arahku benar-benar menakutkan dan sama seperti saat aku melihat dia di depan kamarku tadi.
"Siapa Alex?"
__ADS_1
"Apa?" Ucapku terkejut karena aku tidak mengingat bahwa aku sudah membicarakan tentang Alex kepadanya dan kenapa dia menatapku dengan cara seperti itu.
"Katakan kepadaku siapa Alex?" Ucapnya lagi.
"Itu bukan urusanmu. Jadi sekarang keluarlah dari dalam kamarku." Ucapku padanya.
"Aku tidak akan mau pergi sampai kau mengatakan kepadaku siapa Alex itu. Apakah dia adalah orang lain yang kau cintai? Jadi Papa ku dan aku bukanlah salah satunya pria yang sudah menyentuh tubuhmu dan sekarang bertambah dengan orang yang bernama Alex itu lagi?"
Begitu kejam ucapannya itu dan begitu sakitnya yang dia ucapkan itu kepadaku karena dia selalu berpikir bahwa aku ini adalah seorang wanita murahan. Seorang wanita yang siap untuk menjual tubuhnya kepada semua pria yang dia temui. Seorang wanita yang tidak memiliki nilai atau bahkan harga dirinya. Aku ingin menjelaskan semuanya kepadanya. Tapi sekarang aku begitu terluka dan kesal untuk bahkan melihat kehadirannya di hadapanku.
"Apakah itu yang kau pikirkan tentangku?" Ucapku.
"Apalagi yang bisa aku harapkan darimu? Kau mengejutkan aku dengan tingkah mu yang terlihat setiap hari dalam hidupmu ini." Balasnya.
"Baiklah. Percaya saja dengan apa yang kau pikirkan dan sekarang keluar dari dalam kamarku." Ucapku.
"Nilam kau...."
Tapi dia bahkan tidak bergerak sedikitpun dan aku berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu untuknya.
"Sekarang keluarlah dari dalam kamarku." Ucapku saat berdiri di pintu.
Aku tidak melihat ke arahnya dan menunggu dia untuk pergi dan seperti yang aku harapkan, dia pun berjalan mendekat ke arahku. Tapi dia tidak melakukan apapun seperti yang aku pikirkan. Aku pikir dia akan pergi, tapi dia malah menarik aku menjauh dari pintu dan menutup pintu itu di belakangku dan mendorong aku ke arah pintu.
"Kaa.... kau.... a.... apa yang kau lakukan? Aku katakan kepadamu untuk..."
Bibirku ditutup. Bibirku sekarang sudah ditutup olehnya dan aku bahkan tidak bisa bereaksi apapun. Dia menciumku dengan sangat penuh hasrat, mengambil kontrol atas seluruh tubuhku. Dia menciumku sampai bibirku terasa terluka. Kemudian dia semakin menggigitku dan itu terasa sangat sakit. Tapi aku tidak mengeluh sedikitpun dan dia tersenyum menyentuh luka di bibirku. Kemudian dia mendekat ke arah telingaku dan berbisik dengan suaranya yang kejam.
"Kau bisa memiliki semua pria yang kau inginkan di dunia ini. Tapi tidak ada dari mereka yang bisa membuatmu merasakan bagaimana rasa nikmat yang selalu aku berikan kepadamu. Tidak ada satupun."
Dia berbisik begitu lembut dan aku bisa mendengar nafasnya di telingaku. Aku mencoba untuk menolak semua itu. Tapi hatiku mengatakan apa yang dia katakan itu memang benar. Dia tidak salah sama sekali karena aku tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan bersamanya dengan orang lain. Aku tidak bisa merasakan hal itu dengan orang lain karena dia adalah orang pertama yang melakukannya kepadaku dan satu-satunya orang yang pernah menyentuh aku. Tapi aku jamin bahwa dia tidak akan percaya jika aku mengatakan hal itu kepadanya.
"Brengsek!" Ucapku.
__ADS_1
Tapi dia tidak akan mendengarkan aku karena dia sudah tidak ada di sana untuk mendengar ku menyumpahi dirinya.
Ponselku berdering dan aku tidak menyadari bahwa aku langsung mengangkat telepon itu karena ponsel itu masih ada di tanganku dan saat aku melihatnya, itu ternyata dari Aldi.
"Halo..."
"Aaahhhh!!!"
Mendengar suara itu, aku hampir saja menjatuhkan ponselku. Tapi suara teriakan itu juga merubah perasaanku.
"Oh ya Tuhan suara seksi yang aku dengar tadi sangat menakjubkan. Apakah itu suara suamimu karena aku benar-benar tergila-gila kepada suaranya." Ucap Alex.
'Suamiku?'
Aku rasa Alex memikirkan tentang Aldi karena dialah orang terakhir yang menyentuh ponselku dan aku berharap aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa dia adalah suamiku. Tapi tidak, dia bukan suamiku dan mungkin saja tidak akan pernah menjadi suamiku.
"Tidak Alex, itu adalah anak tiri ku." Ucapku.
"Apa? Aku pikir dia adalah..."
"Tidak. Aldi bukanlah seperti yang kau pikirkan. Aldi bukanlah suamiku." Ucapku.
Mungkin saja dia masih menjadi kekasihku, temanku dan mungkin juga suamiku saat ini, jika semua insiden ini tidak pernah terjadi padaku.
"Ini sangat rumit dan aku benar-benar tidak sabar untuk mendengarkan semuanya. Jadi ayo kita bicarakan ini besok, oke." Ucap Alex.
"Baiklah...." Balas ku.
Tut... tut... tut...
Aku pun mengakhiri panggilan telepon itu dan duduk di lantai dengan memeluk lutut ku, mencoba untuk memikirkan hal lainnya. Tapi apakah itu akan mungkin bisa aku lakukan?
Bersambung....
__ADS_1