Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Ingin Percaya


__ADS_3

PoV Aldi


Saat aku melihat Sarah berada di lantai dan dia mengatakan bahwa Nilam yang sudah mendorongnya, itu membuatku berpikir. Hatiku menolak untuk percaya bahwa Nilam bisa melakukan hal seperti itu. Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu, apakah aku harus percaya atau tidak kepadanya.


"Itu semua bohong. Aku tidak mendorongnya." Teriak Nilam mencoba untuk membuktikan ketidak salahannya dan aku rasa mungkin itu hanyalah sebuah kecelakaan.


Aku tidak bisa percaya bahkan sekarang aku masih saja percaya apapun yang dikatakan Nilam.


"Aldi ini sakit." Ucap Sarah dengan suara yang terdengar begitu kesakitan dan membuatku menyadari bahwa dia masih terluka.


Aku memang sudah putus dengan Sarah sejak lama dan sekarang aku tidak memiliki perasaan apapun yang tersisa untuknya. Tapi dia tidak pernah berselingkuh dariku seperti yang sudah dilakukan Nilam. Hatiku tidak pernah merasa begitu terluka karena aku memutuskan untuk mencintai seseorang.


Hatiku masih terluka dengan semua pikiranku saat aku menggendong Sarah dan meminta Bibi Ana untuk menelpon seorang dokter. Aku melewati Nilam dan berjalan ke arah kamar tamu di mana Aku membaringkan Sarah.


Kamarku begitu penting bagiku dan bahkan semua gadis yang pernah aku kencani tidak pernah aku bawa ke kamarku bahkan Sarah sekalipun.


Nilam juga tidak pernah masuk ke kamarku karena aku selalu membawanya ke apartemen di mana itu juga merupakan kamar yang paling penting bagiku.


"Aldi ini sakit, sangat sakit." Ucap Sarah lagi dengan menangis dan aku mencoba yang terbaik untuk membuat dia tenang.


Tapi dia terus saja memelukku dan aku tidak bisa mendorongnya menjauh, tidak peduli bagaimana aku berharap untuk bisa menjauh darinya. Aku tidak tahu kenapa, tapi sejak aku bertemu Nilam, aku merasa sentuhan wanita lain terasa menjijikkan. Aku tidak tahu apakah itu adalah kutukan dari Nilam. Tapi aku benar-benar benci dengan perasaan yang aku miliki kepadanya.


"Aldi, wanita itu benar-benar serigala jahat. Dia hampir membunuhku." Ucap Sarah.


Aku tidak bisa mengatakan bahwa Nilam adalah binatang buas. Tapi bagiku dia hanya seekor kucing liar dan aku sangat mencintainya dan aku bahkan masih sangat mencintainya sampai saat ini.


"Aldi kau harus memecatnya. Dia tidak pantas bekerja di sini." Ucap Sarah lagi.


"Nilam bukanlah pelayan di sini." Ucapku.


"Kalau begitu siapa dia? Kenapa kau tidak bisa memecatnya?" Ucap Sarah.


"Nilam, dia adalah......"


Kenyataannya membuatku begitu terluka dan begitu sulit bagiku untuk mengatakan semuanya. Aku tahu apa status Nilam di rumah ini. Tapi aku hanya tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa menerima fakta bahwa dia menikah dengan Papa ku.


"Aldi....."


Sarah kembali menyadarkan aku dari pikiranku dan momen saat aku hendak bicara, dokter keluarga kami masuk ke dalam kamar itu. Jadi aku tidak perlu memberikan penjelasan apapun kepada Sarah.


Dokter lalu mulai memeriksa Sarah dan kelihatannya dia terjatuh yang menyebabkan kakinya terkilir menurut dari Ucapan dokter. Untungnya itu tidak terlalu serius dan Sarah akan membaik beberapa hari lagi.


"Dia akan sembuh beberapa hari lagi. Tapi dia harus beristirahat. Aku akan memberikan obat yang dia butuhkan untuk dia minum beberapa hari ini." Ucap dokter.

__ADS_1


Setelah itu, dokter itu pun pergi dengan diantar oleh Bibi Ana keluar. Tapi saat aku hendak pergi, Sarah langsung menarik pakaianku.


"Aldi kumohon tetaplah disini bersamaku. Jangan tinggalkan aku sendirian." Ucap Sarah dengan suara yang sedih dan wajahnya penuh dengan ekspresi terluka.


Tapi aku tidak mau tetap diam di sana. Aku hanya ingin bertemu dengan Nilam. Ada beberapa hal yang ingin aku katakan kepada Nilam saat ini. Ada begitu banyak, sehingga aku tidak bisa menghitungnya.


"Kau akan tinggal di rumahku sampai kau benar-benar sembuh." Ucapku kepada Sarah.


"Terima kasih atas kebaikanmu Aldi." Ucap Sarah.


"Tidak masalah, sekarang istirahatlah." Balasku.


"Hmmm..." Balas Sarah.


Dia akhirnya mau melepaskan pakaianku dan aku pun keluar dari dalam kamar itu. Saat aku bisa keluar, aku menghela nafas, rasanya seolah aku bisa terlepas dari sebuah tekanan.


"Baiklah Alex, aku mengerti. Aku akan bertemu denganmu di luar."


Aku mendengar suara Nilam dan itu adalah Alex yang sama lagi. Dia sudah berpakaian rapi dengan celana pendek warna putih dan sebuah kaos oblong. Dia memegang sebuah tas di tangannya dan dia bersiap untuk keluar rumah. Tanganku mengepal saat aku mendengar percakapannya dengan Alex.


'Apakah mereka begitu dekat sehingga pria itu bisa datang kemari untuk menjemputnya secara langsung?' pikirku.


"Tunggu di sana, aku akan menemui mu." Ucap Nilam lalu mengakhiri panggilan itu dan bersiap untuk pergi dengan cepat.


"Itu bukan urusanmu." Balasnya.


"Apa?" Ucapku.


"Kenapa kau terus saja ikut campur dengan kehidupanku? Bukankah seharusnya kau menjaga kekasihmu itu?" Ucapnya.


"Hmmmm... aku mengerti, kau pasti cemburu." Ucapku. "Kau cemburu kepada Sarah, itulah alasan kenapa kau sampai mendorong dia jatuh." Ucapku mendekat ke arahnya dengan begitu dekat, bahkan sangat dekat sehingga tidak ada jarak diantara kami, tapi dia langsung mendorong ku menjauh.


"Jaga jarak mu dariku Aldi dan menjauh lah dan jika kau percaya bahwa aku sudah mendorong Sarah, maka terserah padamu saja. Percayalah dengan apapun yang kau pikirkan aku tidak peduli." Ucapnya.


"...."


"Aku sudah mengkhianati cintamu dan kau sudah menemukan cintamu. Jadi mari kita akhiri semuanya di sini."


Saat dia mengatakan hal itu, aku merasa begitu terluka di dadaku. Itu adalah sebuah perasaan yang aneh, seolah dia memutuskan hubungannya denganku. Padahal kami memang sudah putus sejak lama. Tapi kemudian kenapa aku merasakan rasa sakit yang sama saat itu?


"Tetaplah berdiri di sana Nilam. Aku melarang mu untuk bertemu dengan Alex itu." Ucapku.


"Hah, kau tidak berhak untuk melarang ku untuk menemui siapa pun yang ingin aku temui. Aku hanya bisa dilarang oleh Papa mu. Jadi jaga dirimu anakku sayang."

__ADS_1


Aku tidak bisa mengatakan jika ucapannya itu benar-benar menyakiti aku. Tapi sebenarnya itu sangat melukai aku. Tidak peduli bagaimana pun aku meninju tembok, aku tetap tidak bisa merasakan rasa sakit di tanganku.


Aku berjalan mendekat ke arah jendela, mungkin karena aku ingin melihat wajah dari Alex itu. Tapi aku begitu terkejut saat aku melihat seorang wanita muda dengan rambut pendek memeluk Nilam dan mereka berdua terlihat begitu dekat.


"Oh itu Nona Alex yang datang untuk menjemput Nyonya Muda." Ucap Bibi Ana langsung menyadarkan aku dari pikiranku dan aku langsung beralih menatap ke arah Bibi Ana.


"Alex? Maksudmu dia Alex?" Tanyaku kepada Bibi Ana bingung.


"Iya. Dia memang seorang gadis yang sedikit tomboi. Tapi dia teman yang sangat baik bagi Nyonya Muda. Mereka sering keluar bersama akhir-akhir ini dan saya rasa dia juga wanita yang baik." Ucap Bibi Ana lagi.


Aku tidak percaya bahwa Alex yang Nilam temui hanyalah seorang wanita. Aku sudah salah menilainya berkali-kali, tapi dia tidak pernah mencoba untuk menjelaskan semuanya kepadaku.


'Wanita ini... Maksudku sudah berapa kali aku selalu salah berpikir tentang dirinya?'


Aku lalu melihat Nilam yang tampak dengan bahagia masuk ke dalam mobil dan pergi bersama Alex.


"Saya sangat senang melihat Nyonya Muda begitu bahagia. Sejak dia datang kemari, dia tidak sering keluar rumah, bahkan dengan temannya yang lain."


"Maksudmu Lila?" Tanyaku kepada Bibi Ana.


"Iya, saya selalu merasa bahwa dia itu bukanlah teman yang baik bagi Nyonya. Apalagi Nyonya Muda hampir saja keguguran karena dirinya." Balas Bibi Ana.


"Keguguran?" Ucapku bingung.


"Iya. Nyonya Muda hampir saja keguguran. Untungnya Nyonya Muda bisa melahirkan Tuan Kecil, walaupun Tuan Kecil adalah bayi prematur." Ucap Bibi Ana lagi.


"Leon adalah bayi prematur?" Tanyaku lagi.


"Iya, Nyonya muda melahirkan pada usia Tuan Kecil baru 7 bulan dalam kandungannya."


Pada saat aku mendengar jika Leon adalah bayi prematur, itu langsung membunyikan sebuah bel dalam pikiranku. Jika aku menyambungkan waktu saat Nilam hamil pada saat terakhir kali kami bertemu, Leon mungkin saja adalah putraku. Tapi dia memang anak Papa, karena dia juga terlihat seperti Papaku.


Saat ini, hanya ada satu hal yang bisa aku lakukan. Aku harus mengetahui semua kebenarannya. Dimana kebenaran itu, bisa juga menghancurkan aku atau malah bisa menyadarkan semua kecurigaan ku selama ini.


"Halo, bisakah kau melakukan sesuatu untukku?" Ucapku menelpon seorang temanku secara tiba-tiba setelah Bibi Ana pergi dan aku memintanya melakukan sebuah tugas.


"Baiklah, aku akan mendapatkannya dan mengirimkannya kepadamu secepatnya."


Aku mengakhiri panggilan itu dan memikirkan tentang Leon dan Nilam.


Hanya sekali ini saja. Aku ingin percaya kepada Nilam. Hanya sekali saja....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2