
PoV Aldi
"Ah kepalaku..." Ucapku merasa kesakitan dengan memegang kepalaku dengan tanganku.
Semalam aku minum begitu banyak dan aku bahkan tidak bisa mengingat kapan aku kembali ke rumah dan apalagi mengingat bagaimana aku bisa sampai ke kamarku.
"Ini sup Anda Tuan Muda." Ucap Bibi Ana menaruh semangkuk sup di depanku.
Tapi aku benar-benar tidak mengingat bahwa aku meminta untuk dibuatkan sup.
"Ini baik untuk anda Tuan Muda." Ucap Bibi Ana.
Aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk menjawabnya. Jadi aku mulai memakan sup itu dan rasanya begitu familiar bagiku.
"Bibi Ana, siapa yang membuat sup ini?" Tanyaku berpikir bahwa aku sudah mengetahui siapa yang membuatnya.
"Emmm.... Tuan Muda...."
"Aku yang membuatnya." Balas Nilam yang secara tiba-tiba menaruh sebuah piring makanan di depan Papaku yang duduk di sisi lain meja.
Dia terlihat menjaga Papa dengan baik dan aku benar-benar membenci kedekatannya dengan Papa seperti itu.
"Jika kau tidak suka maka...."
Aku menyela ucapannya dengan cepat.
"Tentu saja aku suka. Mama tiri kesayanganku membuatnya dengan begitu penuh hati untuk ku. Aku tentu akan menghargainya." Ucapku dengan menyeringai dan kembali memakan sup itu.
"Lezat seperti biasanya bukan Nilam?" Ucapku sekali lagi dan Nilam tampak membeku saat aku melihat ke arahnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Apa maksudmu dengan biasanya? Papa mengingat bahwa Nilam tidak pernah menyajikan mu sup sebelumnya, jadi..."
"Tapi aku rasa dia menyajikan apapun untuk mu jauh lebih baik. Jadi dia pasti sudah terbiasa melakukannya dengan baik atau mungkin saja dia sudah sering menyajikan makanan untuk pria lain, khususnya pria yang lebih tua dan yang lebih muda darimu." Ucapku kepada Papa.
"Aldi jaga bicaramu." Ucap Papa berteriak memukul meja makan.
__ADS_1
Tapi mataku tidak teralihkan sedikitpun menatap ke arah Nilam yang tiba-tiba melihat ke arah bawah seolah dia sudah terjatuh ke kubangan lumpur yang kotor. Tapi aku tidak peduli bagaimana perasaannya karena itulah yang dia lakukan kepadaku di masa lalu. Dia membuat aku bahagia dan dia lalu mencampakkan aku begitu saja dan sekarang aku akan melakukan hal yang sama padanya. Aku akan membuat perasaannya menjadi terluka sedikit demi sedikit seperti yang aku rasakan saat dia berpisah denganku untuk menikah dengan papaku.
"Aku tahu bahwa kau tidak menyukai Nilam, tapi berikan rasa hormat kepadanya. Itu bukanlah cara bagaimana kau memperlakukan seorang wanita." Ucap Papa.
"Hah memangnya aku peduli?" Ucapku kepada Papa dan alis Papa tampak mengkerut.
Tapi saat aku menatap Nilam lebih dalam, aku menyadari bahwa Nilam memang terlihat kehilangan selera makannya. Aku masih mengingat di masa lalu bagaimana dia sangat suka makan. Tapi sekarang, kelihatannya makanan sudah tidak cocok lagi untuknya dan aku menyadari bahwa dia kehilangan berat badannya dan dia juga tampak begitu kurus.
Seperti wanita lain yang sudah melahirkan, dia seharusnya setidaknya bertambah berat badannya. Namun kenyataannya, dia berhasil mempertahankan tubuhnya yang indah dan juga kecantikannya itu. Tapi ada sesuatu yang ada di dalam dirinya yang menghilang dan aku tidak tahu apa itu sebenarnya.
"Terserah..." Ucapku yang keluar dari dalam pikiranku sendiri.
Setelah Papa bicara, aku menyumpahi diriku sendiri saat itu karena sudah kehilangan diriku dalam pikiranku yang disebabkan oleh Nilam. Sekali lagi aku benar-benar teralihkan olehnya.
"Aku rasa kau akan mengambil alih perusahaan sebagai presidennya." Ucap Papa.
"Tentu saja, kecuali kau punya pilihan lain." Balas ku dan meminum jus jeruk yang ada di depanku.
"Tidak, aku hanya memiliki satu syarat." Ucap Papa yang membuat alisku mengkerut pada saat dia mengatakan tentang syarat itu.
"Tidak terlalu sulit. Papa hanya ingin kau mengajak Nilam bersamamu."
"Tuan Erfan...."
Aku mendengar Nilam seolah dia tidak menyangka akan semua hal itu. Tapi Papa membuat dia berhenti bicara dan ingin mengatakan semuanya lebih lanjut.
"Apa maksud semua itu?" Tanyaku.
"Nilam baru saja lulus dan aku mau dia memulai karirnya sebagai seorang desainer. Jadi dia harus ikut untuk bisa berkembang di perusahaan." Ucap Papa.
"Ayolah, yang benar saja? Apakah tidak cukup bagimu untuk menikah dengannya dan sekarang kau ingin aku menjaga dia? Apalagi yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin memberikan properti yang dimiliki Mama ku kepadanya sebagai hadiah pernikahan kalian?"
Aku mengatakan hal itu kepada Papa dengan begitu tajam dan sekarang kemarahan ku benar-benar begitu memuncak dan tampak jelas baginya.
"Kau salah paham pada Papa Aldi. Papa hanya mencoba untuk membantunya, di mana letak kesalahannya?"
__ADS_1
"Kau sudah menyebabkan banyak kesalahan di hari dimana kau mengkhianati Mama dan kau terus melakukannya sampai sekarang." Ucapku.
"Aldi...." Papa berteriak tapi aku tidak memperhatikannya sampai aku mendengar suara Nilam bicara lagi.
"Tuan Erfan, kumohon jangan bertengkar dengan Aldi untuk membuat aku bisa masuk ke dalam perusahaan itu. Aku mau berusaha dengan kemampuanku sendiri." Ucap Nilam.
"Kau tidak perlu melakukannya. Perusahaan itu adalah perusahaan keluarga kita. Jadi kau tidak perlu melewati interview apapun."
"Tapi aku tetap ingin melakukannya. Aku ingin masuk ke dalam perusahaan itu dengan usahaku sendiri dan bukan karena aku adalah istri muda di rumah ini." Ucap Nilam dengan begitu sedih seolah dia tidak bangga dengan mengetahui dirinya sebagai istri dari Papaku.
Sebenarnya aku masih marah padanya dan aku tidak mau mengasihaninya. Tapi ada satu hal yang aku kagumi tentangnya dan itu adalah kepercayaan dirinya. Aku ingat saat di mana kami masih berkencan di masa lalu, dia tidak pernah menerima barang mahal dariku. Dia bukanlah tipe wanita yang suka berfoya-foya. Aku rasa semua itu memang benar sampai dia menikahi Papaku.
Tapi aku masih tidak mengerti kenapa dia bisa menikahi Papa. Apakah itu untuk kehidupannya atau suatu hal yang aku tidak ketahui?
"Baiklah Nilam, kau memaksaku. Besok bagian departemen design akan melakukan sebuah interview. Kau harus menghadiri itu dan jika kau tidak diterima aku akan..."
Nilam langsung menyela ucapan Papa.
"Terima kasih Tuan Erfandi. Aku akan melakukan yang terbaik." Ucap Nilam.
"Huh aku berpikir rencana apa yang akan kau lakukan untuk membuat kami menerimamu." Ucapku kepada Nilam yang masih tidak menghiraukan ucapanku.
Dia seolah tidak mau bertengkar denganku dan lebih memilih untuk menunjukkan kemampuannya.
"Aku sudah selesai sarapan." Ucapku dan berjalan menjauh dari ruang makan.
Aku lalu berjalan ke arah taman dan hembusan angin langsung menerpa diriku. Anginnya tidak dingin tapi sangat sempurna yang membuat semuanya terasa begitu sejuk sekali lagi. Hal itu mengingatkan aku kepada Nilam.
"Aldi...."
Aku langsung tersadar dari lamunanku saat aku mendengar suara yang begitu familiar. Aku berbalik untuk menatap wajah itu dan itu adalah dia.
Mata yang indah dan rambut yang panjang sampai punggungnya. Itu adalah Sarah Nowela, mantan kekasihku dan cinta pertamaku dari masa lalu.
"Sarah...."
__ADS_1
Bersambung....