
Author PoV
Setelah sarapan seorang diri tanpa kehadiran Nilam dan juga Papa nya, Aldi memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku yang dia ambil dari ruangan belajarnya. Dia berusaha menyibukkan dirinya dengan belajar, karena tidak ada hal penting lagi baginya. Aldi terlihat hanya ingin tenggelam ke dalam dunia buku yang dia baca jadi dia bisa melupakan semua hal yang menyebabkan masalah dalam pikirannya itu.
Saat dia benar-benar sudah fokus dengan buku yang tengah dia baca tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang mengusap lututnya. Awalnya dia tidak menghiraukan hal itu karena dia berpikir bahwa itu hanya pikirannya saja. Tapi usapan itu tidak berhenti begitu saja. Sekali lagi dia merasakan ada sentuhan di lututnya.
"Apa-apaan i...."
Aldi lalu mengalihkan perhatiannya dari buku yang dia pegang dan melihat ke bawah, kemudian dia melihat ke arah sosok anak kecil laki-laki berambut hitam dengan tatapan mata yang begitu indah.
Sangat jelas bahwa mata dari anak itu terlihat seperti mata Mama nya yang begitu dikenal Aldi dan anak kecil itu juga memiliki kemiripan seperti dirinya. Aldi tidak merasa heran karena bagaimanapun dia tahu bahwa anak kecil itu adalah putra kecil dari Tuan Erfandi.
Aldi terdengar menghela nafas panjang.
"Apa yang kau inginkan dan kenapa kau ada disini sendirian?" Tanya Aldi kepada anak kecil laki-laki yang terus menatap dirinya itu.
Tapi Aldi tidak bisa bertingkah dingin atau kejam kepada seorang anak kecil itu, tidak seperti apa yang selalu dia pikirkan jika dia akan menghadapi anak kecil.
Bagaimanapun anak kecil itu tidak bersalah dan juga berdosa. Aldi berpikir bahwa anak kecil itu hanyalah hasil dari kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Mama nya dan Aldi tidak bisa menyalahkan semua yang terjadi kepada anak kecil itu.
"Ain.... (Main)..." Ucap anak kecil itu seraya memberikan mainannya kepada Aldi.
Kata yang diucapkan anak kecil itu memang tidak terlalu jelas, tapi Aldi bisa mengerti bahwa anak itu butuh seseorang untuk menemaninya bermain.
"Aku sibuk, aku tidak bisa bermain denganmu. Pergilah cari orang lain." Ucap Aldi dan mau kembali fokus membaca bukunya.
__ADS_1
Namun saat Aldi menolak ajakan anak itu, mata anak itu tiba-tiba berair dan wajahnya dipenuhi dengan ekspresi yang terlihat begitu sedih. Setelah itu saat Aldi menatap ke arah mata anak itu, hatinya pun menjadi luluh. Dia pun merasa begitu bersalah karena sudah menolak ajakan anak itu. Aldi lantas menghela nafas panjang.
"Baiklah aku akan bermain denganmu." Ucap Aldi lalu menaruh bukunya di atas meja dan Leon tidak membuang waktunya dengan cepat dia pun duduk bersama dengan Aldi.
Tindakan tiba-tiba yang dilakukan Leon itu membuat Aldi tersadar karena dia masih merupakan orang asing bagi anak itu. Tapi anak itu bertingkah begitu akrab dengannya seolah mereka itu sudah saling mengenal dengan sangat baik.
"Baiklah, ayo kita bermain." Ucap Aldi memegang mainan anak itu yang terlihat seperti sebuah tablet yang cukup mudah untuk di mainkan.
Sebuah permainan yang akan meningkatkan kepintaran anak kecil, tapi permainan itu lebih cocok dimainkan oleh anak berusia 4 tahun. Aldi masih mengingat bahwa dia menerima mainan yang sama dari Papa nya saat dia berusia 4 tahun. Sejak saat itu lah mainan itu menjadi mainan favorit Aldi. Leon memang masih berusia 2 tahun dan dia terlihat tahu bagaimana caranya untuk memainkan permainan itu. Walaupun dia masih membutuhkan beberapa bantuan.
Pada awalnya Aldi sedikit merasa enggan untuk bermain dengan anak itu, tapi semuanya berakhir dengan Aldi yang merasa begitu bersenang-senang bermain bersamanya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Leon pun tertidur dalam gendongan Aldi.
"Sangat menggemaskan." Ucap Aldi dan dengan lembut lalu mencium kepala Leon tidak menghiraukan rasa sakit di dalam hatinya.
Mata Aldi tiba-tiba dipenuhi dengan cinta dan perasaan bahagia untuk anak kecil menggemaskan yang tertidur dalam gendongannya itu dan kehangatan tubuhnya membuat hati Aldi yang membeku menjadi mencair.
Di sisi lain Nilam yang berdiri dalam bayangan kejauhan menyaksikan semuanya dengan mata yang berair. Semua yang dilihatnya itu mengingatkan dia bagaimana kenangan indah yang dia lewati bersama Aldi, dan juga mengingat bagaimana mereka saling membicarakan tentang masa depan mereka dan anak-anak mereka setelah menikah nantinya. Sayangnya semuanya berjalan tidak seperti yang dia inginkan dan sekarang Nilam hanya bisa membayangkan semua mimpi masa depannya itu.
"Oh Tuan kecil tertidur di dalam gendongan Tuan Muda." Ucap Bi Ana.
Nilam langsung kembali kepada kesadarannya saat Bibi Ana mendekat ke arah sisinya.
"Nyonya Muda, Tuan Kecil sudah tertidur. Tidakkah anda akan..."
__ADS_1
Nilam langsung menghentikan ucapan Bibi Ana dan mencoba untuk menyembunyikan air yang menggenang di matanya.
"Aku rasa akan lebih baik jika Bibi yang melakukannya untukku. Aldi sangat tidak menyukai aku." Ucap Nilam.
"Tapi Nyonya Muda, anda...."
"Aku akan pergi menyiapkan makan siang. Bibi Ana, tolong bantu aku jaga Leon." Ucap Nilam lagi memotong ucapan Bi Ana.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Bibi Ana pun menerima perintah yang diberikan Nilam padanya untuk membawa Leon pergi ke kamarnya.
"Tuan Muda, Tuan Kecil sudah tertidur. Biarkan saya yang membawanya." Ucap Bibi Ana kepada Aldi yang melihat ke arah anak kecil yang tidur itu pulas dalam gendongannya itu.
Sekarang, saat anak kecil itu sudah tertidur pulas dalam gendongannya, Aldi malah merasa begitu berat untuk melepaskannya.
"Baiklah, tapi hati-hatilah agar tidak membangunkannya." Ucap Aldi.
"Tentu Tuan Muda, saya akan sangat berhati-hati." Ucap Bibi Ana.
Aldi merasa begitu berat untuk memberikan anak laki-laki itu yang tengah memegangi pakaiannya seolah dia tidak membiarkan Aldi untuk melepaskannya. Aldi juga sebenarnya tidak mau melepaskan anak itu. Tapi dia tahu bahwa dia harus melakukannya. Jadi dia dengan lembut melepaskan tangan kecil anak itu dari pakaiannya dan membiarkan Bibi Ana untuk membawanya pergi.
Untuk beberapa saat, bahkan meski itu hanya sebentar Aldi merasa kehilangan kebahagiaannya dan kembali ke dalam hidupnya yang menyedihkan karena kepergian anak kecil laki-laki itu. Aldi ingin untuk bisa berada di sisinya walaupun sebenarnya Aldi ingin menjauh dari anak itu. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa melakukannya.
"Anak itu dia memiliki daya tarik yang sama seperti dirinya. Dia membuat aku terpesona sama seperti yang dia lakukan."
Bersambung....
__ADS_1
"Dia? Siapa dia itu?" Tanya Aldi tersadar saat mendengar suara Papa nya dari belakangnya.
Bersambung....