Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Dilihat Leon


__ADS_3

PoV Nilam


Setelah aku sukses melakukan interview, aku berjalan perlahan ke arah ruangan presiden perusahaan, di mana itu seharusnya menjadi ruangan Aldi. Jika itu bukanlah perintah dari Tuan Erfandi yang meminta aku untuk pergi ke ruangannya, aku tidak akan suka untuk bertemu dengan Aldi. Apalagi setelah apa yang hampir terjadi kepada kami di ruangan belajar kemarin.


'Aku adalah anak tiri mu sekarang Nilam, bukan kekasihmu. Kau merusak hatiku dan sekarang aku hanya ingin merusak hatimu.'


Tidak peduli apapun yang aku lakukan, kata-kata itu tidak bisa menghilang dari pikiranku. Bagaimanapun aku selalu mencoba yang terbaik untuk menghapus semua pikiran itu dari dalam kepalaku karena aku sudah lama menerima, jika Aldi dan aku tidak akan mungkin bisa bersatu.


Aku mengambil nafas dan menghembuskan nya perlahan sebelum aku melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang merupakan ruangan milik Aldi itu. Apa yang aku lihat adalah hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Itu adalah Aldi dan Sarah, mereka tampak tengah berciuman di ruangan Aldi dan mereka tampak begitu dekat. Mereka langsung memisahkan diri, mungkin karena kehadiranku. Tapi aku merasa begitu terluka dengan apa yang aku lihat itu.


"Kau.... apa yang kau lakukan di sini?"


Aku mendengar suara Sarah, tapi saat itu tiba-tiba telingaku menjadi tuli. Pada saat itu aku tidak bisa mendengar suara apapun selain berdengung di telingaku.


"Aku datang kemari hanya untuk menyerahkan beberapa dokumen." Ucapku akhirnya tidak memikirkan apa yang dikatakan Sarah kepadaku.


Aku hanya mau pergi dari ruangan itu dengan cepat. Tapi aku tidak mau melihat mereka mengetahui bagaimana terlukanya aku saat itu. Tidak di depan Sarah, tidak juga di depan Aldi.


"Tuan Erfandi meminta aku memberikan ini kepadamu." Ucapku dengan cepat lalu menaruh dokumen itu di atas meja Aldi tanpa melihat ke arah mereka.


Aku langsung berjalan keluar secepat yang aku bisa karena jika tidak, aku mungkin saja akan menangis di depan mereka berdua. Tentu saja hal itu akan memalukan bagiku.


'Nilam, kau tidak bisa menangis. Kau harus menjadi lebih kuat.'


Beberapa kali aku mengulang kalimat yang sama untuk diriku sendiri. Tapi aku rasa itu sama sekali tidak bisa bekerja.


Air mataku hanya ingin terus terjatuh. Aku merasa bahwa aku begitu putus asa saat itu dan hatiku ingin terjatuh ke dalam sebuah kolam. Kolam yang mungkin saja itu adalah air mataku. Aku pikir bahwa aku sudah move on dan karena aku masih memiliki perasaan kepada Aldi tidak berarti bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya. Tapi aku salah dan aku tahu hatiku terluka. Hatiku sangat terluka saat ini.


"Lila, bisakah kau datang kemari?" Ucapku menelpon Lila saat aku berada di bawah sebuah pohon dengan air mata yang terus terjatuh ke pipiku.


"Nilam, apa yang terjadi?" Tanya Lila.


"Lila ini sangat menyakitkan. Hatiku terluka parah." Ucapku.


"Nilam, katakan kepadaku di mana kau dan aku akan menjemputmu." Ucap Lila.


Aku mengatakan kepada Lila di mana aku berada dan setelah 5 atau 10 menit, aku tidak bisa mengetahuinya dengan pasti, Lila datang dengan begitu cepat menemui ku.


"Nilam....." Teriak Lila.


"Lila...." Ucapku menangis dan langsung memeluknya.


Aku benar-benar membutuhkan sebuah pelukan darinya saat ini. Aku butuh hal ini lebih dari apapun.

__ADS_1


"Nilam, apa yang terjadi? Siapa orang yang sudah menyakiti dirimu?" Tanya Lila.


"Aku kehilangan dia Lila. Aku benar-benar kehilangan dia sekarang." Ucapku menangis dengan keras dan mengatakan kepada Lila semua yang baru saja terjadi padaku.


Butuh waktu hampir satu atau dua jam sebelum aku bisa menenangkan diriku dan mengambil botol air yang ditawarkan Lila kepadaku.


"Apakah kau baik-baik saja sekarang?" Tanya Lila dengan begitu penuh perhatian padaku.


"Iya, aku rasa aku benar-benar butuh menangis sedikit. Aku perlu untuk akhirnya menyadari bahwa aku benar-benar kehilangan Aldi." Ucapku.


"Nilam...." Ucap Lila.


"Tidak apa-apa Lila. Aku baik-baik saja sekarang. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang aku." Ucapku mencoba yang terbaik untuk meyakinkan Lila dengan memberikan Lila senyuman terhangat dan yang paling cerah dari bibirku.


"Apakah kau yakin karena...."


"Iya aku yakin akan hal itu." Ucapku memotong ucapan Lila. "Aku terluka saat aku melihat Aldi dengan wanita itu dan itu karena aku hanya menyadari bahwa aku belum bisa move on darinya." Lanjut ku.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Lila.


"Sekarang aku rasa, aku memang masih mencintainya. Tapi aku akan lebih baik setuju dengan hatiku bahwa tidak ada masa depan bagi kami. Bahkan jika Aldi memaafkan aku dan meminta aku untuk kembali kepadanya, aku tetap hanya bisa mengatakan tidak. Itu semua demi kebaikan adikku dan anakku karena hanya merekalah keluargaku." Ucapku.


"Nilam..."


"Sudah berakhir Lila. Semuanya sudah berakhir antara aku dan Aldi." Ucapku.


Iya, semuanya memang benar. Semakin cepat aku menerima fakta ini semakin baik semuanya untukku. Leon dan hidup adikku masih dikekang oleh seseorang yang tidak aku ketahui yang mendukung tanteku yang jahat dan juga keluarganya.


"Nilam...." Ucap Lila lagi.


"Oh ini sudah terlambat. Leon pasti merasa khawatir jika aku tidak pulang secepatnya. Terima kasih karena sudah datang Lila. Aku akan bertemu denganmu lain kali." Ucapku.


Aku berjalan menjauh dari Lila dengan cepat setelah memberikan pelukan hangat kepadanya. Perjalananku ke rumah cukup sunyi. Aku hanya ingin kembali ke rumah dan mandi air dingin. Aku tengah berada di jalan menuju kamarku saat aku bertemu dengan Aldi di ruang tamu. Saat itu aku hanya ingin menjauh darinya dan tidak mengatakan apapun. Tapi dia langsung memegang pinggangku.


"Tunggu...!!" Ucapnya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Ucapku dan dengan cepat menyesali kenapa aku bicara lebih dulu.


"Kenapa kau meninggalkan perusahaan dengan tiba-tiba?" Tanya Aldi.


"Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku pergi dengan tiba-tiba? Aku hanya ada tugas disana jadi aku pergi setelah tugasku selesai." Ucapku.


"Oh jadi karena itu." Balas Aldi.

__ADS_1


"Sekarang lepaskan tanganmu dariku. Aku lelah dan aku butuh istirahat di kamarku." Ucapku.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Balas Aldi.


"Aldi Erfandi, kau sudah memiliki seorang kekasih. Jadi kenapa kau masih mau mendekati aku?" Ucapku.


"Hah kekasih!"


Aku tidak tahu kenapa, tapi aku bisa merasa bahwa Aldi baru saja menyeringai padaku. Bagaimanapun sebelum aku bisa bereaksi, Aldi tiba-tiba menarik aku mendekat ke arahnya dan mendorong aku ke tembok.


"Ah Aldi, kau brengsek." Ucapku.


"Hah, aku memang selalu menjadi pria brengsek bagimu Nilam." Ucapnya.


Mataku membelalak saat aku mendengar dia mengatakan hal itu. Hanya saja sudah berapa lama aku tidak mengatakan hal itu darinya. Aku sangat merindukan hal itu hingga aku ingin dia mengatakan hal itu kepadaku lagi.


"Nilam.... Apakah kau menangis?"


Mataku membelalak dan aku ingin pergi menjauh darinya. Tapi genggaman tangannya begitu erat di tubuhku.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Ucapku.


"Kenapa kau menangis? Apakah itu karena...."


Dia melihat ke arah mataku dengan begitu tajam.


"Jangan berpikiran yang terlalu tinggi atas dirimu sendiri Aldi. Aku tidak menangis karena mu." Ucapku dan dia tersenyum.


Senyumannya itu tampak begitu menyeringai padaku.


"Kau membohongi dirimu sendiri Nilam. Aku bahkan tidak mengatakan apapun dan kau...."


"Pergilah... Pergilah menjauh dariku, kumohon..." Ucapku.


"Apakah kau yakin itu yang kau inginkan?" Ucap Aldi memegang daguku dan kemudian dia memegang tanganku di belakang punggungku.


Hal itu membuatku tidak mungkin untuk melepaskan diri darinya dia begitu dekat kepadaku sehingga aku merasa bahwa nafasku sudah diambil olehnya. Aku merasa lumpuh karena genggaman tangannya itu.


"Mama..."


Aku langsung membeku atau lebih tepatnya sebenarnya kami berdua begitu terkejut setelah mendengar suara kecil yang mengalihkan perhatian kami. Leon tampak berdiri di lorong melihat ke arah kami dengan memegang mainannya. Matanya yang sayu menatap ke arah kami penuh rasa penasaran.


"Mama sedang apa?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2