Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Bro


__ADS_3

PoV Aldi


Pengkhianatan, hanya itu semua yang aku dapatkan dengan mencintai Nilam lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Aku mengakui bahwa di masa lalu, aku memang memaksa dia masuk ke dalam hubungan kami. Tapi pada akhirnya dia setuju untuk berhubungan denganku tanpa paksaan. Aku benar-benar berpikir bahwa dia tulus memberikan hatinya kepadaku. Tapi itu semua berbalik saat dia juga ternyata berhubungan dengan Papaku.


'Tapi sejak kapan dia memulai semuanya?'


Aku masih tidak bisa mengatakan hal itu dengan pasti, dan sekarang aku menyesal karena kepercayaan kecil yang aku punya mulai aku berikan kepadanya. Aku masih berharap bahwa dia tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa untuk menikahi Papaku. Tapi semua itu menunjukkan padaku bahwa aku salah. Dia melahirkan anak dari Papaku dan bahkan memberikan nama yang sudah kami rencanakan untuk kami berikan kepada anak kami nantinya, jika dia adalah seorang anak laki-laki.


Aku menghela nafas panjang dan menarik rambutku ke belakang dan aku ingin menghentikan rasa sakit di dalam dadaku ini. Aku lalu mengambil sebuah buku dan mulai membalik setiap halamannya, saat aku tiba-tiba melihat sesuatu hal yang aneh. Ada dua buah telinga kelinci kecil yang terlihat di pintu kamarku. Aku melihat lebih dekat dan kemudian melihat dua tangan kecil perlahan membuka pintu. Tapi pintu itu hanya sedikit terbuka.


"Leon? Apakah itu kau ataukah seekor kelinci?" Ucapku.


Leon menunjukkan kepalanya saja pada awalnya dan berdiri di balik pintu seolah dia takut untuk membuat langkah berikutnya.


"Leon, apa yang kau lakukan di pintu? Ayo masuklah, kau tidak perlu takut." Ucapku.


Dia lalu masuk ke dalam kamarku dan berdiri di depanku. Dia tampak menggunakan piyama yang tampak begitu menggemaskan berbentuk kelinci kecil dengan matanya yang terlihat polos itu, dia benar-benar menggemaskan. Sangat menggemaskan, sampai aku tidak memperdulikan bagaimana latar belakangnya yang sebenarnya tidak aku sukai. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak bagaimana menggemaskannya dia untuk bisa tidak menghiraukannya.


"Apa kau membutuhkan sesuatu Leon?" Tanyaku.


"Bisa.... Bisakah aku tidur denganmu malam ini?" Ucap Leon dengan malu dan aku pun hanya bisa tertawa kecil.


"Apakah kau takut untuk tidur sendirian?" Tanyaku lagi padanya.


"Tidak, aku tidak takut." Balasnya dengan suara yang lembut.


"Jadi, kenapa kau ada di sini?" Tanyaku kepadanya berharap bahwa anak kecil dihadapanku ini akan mengatakan sebuah kata, tapi ternyata Leon tidak mengucapkan kata apapun lagi.


Namun aku tahu bahwa Leon terlihat sangat merindukan kehangatan dari Mamanya. Leon sama seperti aku di hari di mana Papa memisahkan aku dengan Mamaku dulu. Aku masih mengingat di masa lalu, aku selalu suka tidur di dalam hangatnya pelukan Mama saat tidur. Leon juga sepertinya sama denganku. Tapi sekarang dia harus mengikuti aturan yang dibuat oleh Papa, sama yang seperti Papa lakukan kepadaku sebelumnya.


"Apakah kau merindukan pelukan Mamamu?" Tanyaku kepada Leon.

__ADS_1


"Tuan Erfan mengatakan bahwa aku harus menjadi seorang anak laki-laki yang kuat, jadi aku bisa melindungi Mama." Balas Leon.


'Tuan Erfan?'


Mereka berdua, Nilam dan Leon terus saja memanggil Papa dengan cara seperti itu. Aku mengerti jika Nilam memanggil Papa dengan cara seperti itu karena dia menghormati Papa. Tapi bagaimana dengan Leon? Bukankah Erfandi itu Papanya juga? Jadi kenapa Leon memanggilnya dengan panggilan Tuan Erfan dibandingkan dengan Papa atau Ayah seperti anak lain di usianya.


"Jadi, bisakah aku tidur di sini?" Tanya Leon lagi dengan suara yang begitu sopan dan menggemaskan.


Lalu bagaimana aku bisa mengatakan tidak dengan wajahnya yang menggemaskan itu. Aku pun lalu membiarkan Leon untuk naik ke atas tempat tidurku. Kemudian aku melihat ke arah jam di dinding dan di sana menunjukkan sudah pukul 12.00 malam. Nilam pasti sudah tertidur sekarang, jadi dia tidak akan khawatir tentang Leon.


"Bro... Apakah kau membenci Mamaku?"


Aku langsung tersadar dari lamunanku dengan panggilan yang disebutkan Leon kepadaku.


"Bro?" Ucapku.


"Iya, aku tidak tahu bagaimana untuk memanggilmu. Jadi aku memilih Bro. Aku harap kau tidak keberatan." Ucap Leon.


Anak ini benar-benar jenius, tapi setidaknya apakah dia mengerti dengan apa arti dari kata 'Bro' itu.


"Iya, itu adalah seorang teman." Balasnya.


"Apakah Erfan juga mengajarimu hal itu?" Tanyaku.


"Tuan Erfan mengajari aku..... mmm...." Ucap Leon berhenti bicara dan tampak memikirkan sesuatu, mungkin karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi.


"Apakah maksudmu Erfan mengajarimu banyak hal?" Tanyaku padanya lagi.


Leon menganggukkan kepalanya dan kami melanjutkan obrolan kami beberapa saat sebelum akhirnya dia pun tertidur. Aku lantas menarik selimut menutupi tubuhnya. Jadi dia tidak akan kedinginan dan aku harus mengakui itu sekarang bahwa Leon benar-benar anak kecil yang menggemaskan. Aku tidak berpikir bahwa aku akan merasa menyesal bertemu dengan dirinya dan tidak peduli apapun itu. Tapi hanya ada satu penyesalan yang aku punya dan itu adalah tidak menjadi Papa dari anak kecil yang menggemaskan ini, Leon.


Aku terus memandangi wajah mungil Leon yang tertidur dengan begitu lelap. Entah kenapa, aku merasakan ada ketenangan yang mengisi relung hatiku saat menatap wajahnya.

__ADS_1


Tidak peduli bagaimanapun aku membenci Nilam, tapi jujur saja aku tidak bisa mengabaikan Leon.


...----------------...


"Jika kau mencari anakmu, dia tidur di kamarku." Ucapku kepada Nilam pada saat aku melihat dia keluar dari dalam kamar Leon keesokan paginya.


Saat dia mendengarkan hal itu dariku, dia terlihat langsung menghela nafas lega.


"Tapi kenapa dia ada di kamarmu?" Tanya Nilam padaku.


"Kami mengobrol beberapa saat dan akhirnya dia pun tertidur. Jadi aku tidak mau mengganggunya." Ucapku.


"Kau... kau mengobrol dengan Leon?" Tanya Nilam tampak tidar percaya.


"Tentu saja? Apakah kau punya masalah dengan hal itu?" Tanyaku.


"Tentu saja tidak. Hal itu malah membuatku senang mengetahui bahwa kau dan dia bisa dekat." Ucap Nilam.


Nilam pun tampak tersenyum di wajahnya saat dia mendengar bahwa aku mengobrol dengan Leon. Dari wajahnya itu, aku bisa merasakan ekspresi aneh seolah dia merasakan kepuasan. Tapi aku tidak tahu kenapa. Aku tidak menghiraukan fakta itu dan pergi turun ke lantai bawah untuk sarapan.


Aku lalu sarapan dengan Erfandi dan juga Nilam. Atmosfer ruang makan cukup tenang dan kami semua sarapan dengan penuh keheningan.


"Aku selesai. Aku akan pergi bekerja." Ucapku.


"Tunggu sebentar Aldi."


Erfandi menghentikan aku saat aku berdiri untuk pergi. Entah apalagi yang diinginkan oleh pria tua itu.


"Ada apa?" Tanyaku kepadanya.


"Kau dan Nilam memiliki tujuan yang sama. Jadi aku mau kau memberikan tumpangan kepadanya." Ucap Erfandi.

__ADS_1


"Apa?" Ucapku.


Bersambung...


__ADS_2