Mencintai Anak Suamiku

Mencintai Anak Suamiku
Bersama Ke Kantor


__ADS_3

PoV Nilam


"Tunggu sebentar Aldi."


Tuan Erfandi membuat Aldi menghentikan langkahnya saat ingin meninggalkan ruang makan untuk segera berangkat ke kantor. Tapi aku tidak terlalu mempedulikan hal itu. Jadi aku melanjutkan menikmati sarapanku dengan tenang.


"Ada apa?" Ucap Aldi dengan suara yang dingin dan itulah yang memang aku harapkan darinya.


Dia selalu bersikap dingin sejak dia kembali dari perjalanannya selama 3 tahun yang lalu. Tatapannya begitu memperlihatkan aura yang dingin sama seperti hatinya yang tidak ada kehangatan lagi, melainkan hanya sebuah bongkahan es yang besar.


"Kau dan Nilam memiliki tujuan yang sama. Jadi aku mau kau memberikan dia tumpangan."


"Apa??"


Aku hampir saja menyemburkan kopi yang aku minum di dalam mulutku. Aku memang tidak menyemburkannya, tapi aku malah hampir saja tersedak sampai mati.


"Nilam ada apa? Apakah kau baik-baik saja?"


Aku terus saja batuk dan Aldi mengisi sebuah gelas dengan air dan memberikannya kepadaku dan membantuku untuk meminumnya.


"Apakah kau baik-baik saja sekarang?" Tanya Aldi kepadaku dan aku sedikit merasa bahwa dia benar-benar tengah peduli kepadaku.


Mungkin itu hanya tebakanku saja dan juga harapanku karena perhatiannya itu hanya bertahan beberapa detik saja dan kemudian dia tiba-tiba berubah menjadi dingin lagi kepadaku.


"Karena kau sudah baik-baik saja, maka aku akan pergi sekarang." Ucap Aldi seraya menarik tangannya menjauh dariku dan berbalik.


"Tunggu sebentar Aldi. Tidak kah kau merasa bahwa kau melupakan sesuatu?" Ucap Tuan Erfandi lagi.


"Jika kau bicara tentang istrimu, maka jangan libatkan aku. Jika kau begitu peduli pada keselamatannya, kenapa kau tidak memberikan dia tumpangan sendiri atau mungkin memberikan dia seluruh perusahaan dan...."


"Cukup Aldi...!!! Kau bisa bicara dengan orang lain sesuai keinginanmu, tapi ingatlah bahwa aku ini masih Papa mu."


Tuan Erfandi berteriak kepada Aldi dan saat itu juga, aku merasa sangat tidak nyaman. Semuanya terlihat seolah aku lah penyebab dari masalah yang dialami oleh seorang Papa dan hubungan dengan anaknya menjadi tidak baik. Bukan hanya itu saja, tapi aku sebenarnya memang terlibat dengan mereka. Tapi aku tidak mau menjadi masalah dari menurunnya kesehatan Tuan Erfandi yang memang sedang tidak stabil. Jadi aku memegang tangan Tuan Erfandi, seperti seorang anak perempuan baginya yang ingin mencoba menenangkan Papa nya karena aku memang menganggap Tuan Erfandi hanya sebagai Papa ku saja.


"Sudahlah tidak apa-apa Tuan Erfan. Aldi tidak perlu untuk memberikan tumpangan kepadaku. Aku bisa naik taksi nanti." Ucapku kepada Tuan Erfandi.


"Nilam, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu. Kau harus membiarkan Aldi memberikan tumpangan kepadamu atau aku sendiri yang akan mengantarmu ke perusahaan." Ucap Tuan Erfandi.


"Tidak, tidak, tidak... Itu tidak diperlukan Tuan Erfan." Ucapku melambaikan tanganku karena tidak setuju.


Sangat sulit untuk bisa membayangkan bahwa Tuan Erfandi yang ingin mengendarai mobil untuk mengantar aku sendiri. Lagi pula walaupun menggunakan sopir sekalipun, aku tidak akan mau diantar pergi ke perusahaan dengan menggunakan sebuah mobil mewah. Apa yang akan dikatakan oleh para karyawan lainnya jika mereka melihat hal itu? Mungkin saja mereka akan berpikir bahwa aku memiliki seorang sugar daddy atau aku ini menjadi seseorang yang dipanggil dengan sebutan wanita simpanan.

__ADS_1


"Aldi kau..."


Tuan Erfandi hendak bicara, tapi Aldi menyela ucapannya.


"Aku sudah terlambat. Jadi aku tidak punya waktu atau tenaga untuk berdebat denganmu."


"Eh!" Ucapku masih tidak percaya kenapa Aldi tiba-tiba menyerah.


'Apakah dia benar-benar...'


"Berhentilah melamun, aku tidak mau terlambat karena dirimu." Ucap Aldi dan melihat ke arahku kemudian melangkah mendekat ke arahku.


"Ah..." Ucapku karena dia menarik ku dengan kasar keluar dari dalam rumah.


Dia berjalan begitu cepat sehingga aku hampir saja terjatuh. Untungnya aku bisa berdiri dengan tegap.


"Masuklah ke dalam mobil. Jangan berharap bahwa aku akan menjadi pria yang baik dan membuka pintu untukmu. Ini sudah cukup dan aku harus mengendarai mobil untuk mengantarmu." Ucap Aldi tamak kesal.


"Huh dasar narsis." Ucapku saat aku masuk ke dalam mobil dan mencoba mengenakan seat belt.


"Apa yang baru saja kau katakan?" Ucap Aldi dengan suara yang terdengar dingin.


"Apakah apa yang aku katakan sangat penting bagimu?" Ucapku.


Aldi terdiam dan rahangnya tampak mengeras saat menatapku. Tapi kemudian dia pun menyerah dan mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, semuanya terasa sunyi dengan tidak ada di antara kami yang mengganggu satu sama lain dengan kata-kata apapun. Aldi benar-benar fokus dalam mengendarai mobil dan aku bersandar untuk melihat mobil-mobil lain yang melewati kami dalam kecepatan tinggi melalui jendela mobil. Kemudian aku tiba-tiba tersadar dalam lamunanku saat aku menyadari bahwa kami hampir tiba di tujuan kami.


"Hentikan mobilnya Aldi. Hentikan mobilnya sekarang...!!" Ucapku.


Aldi langsung dengan cepat menginjak pedal rem dan mobil langsung berhenti dengan tiba-tiba setelah aku yang memang memintanya.


"Sekarang ada apa lagi?" Tanya Aldi.


"Aku akan turun di sini." Ucapku dan tanpa ragu membuka seat belt yang aku gunakan dan mencoba untuk keluar dari dalam mobil, tapi Aldi menarik ku.


"Apa yang kau lakukan? Kita bahkan belum sampai di kantor." Ucap Aldi.


"Tentu saja aku tahu. Aku tidak bodoh oke." Ucapku.


"....."

__ADS_1


Aldi tidak dapat mengatakan apapun.


"Kau tidak berharap bahwa aku akan keluar dari dalam mobil CEO di hari pertamaku bekerja bukan? Orang-orang pasti akan membuat rumor tentang diriku." Ucapku pada Aldi dan mencoba turun dari dalam mobil, tapi dia kembali menarik ku lagi.


"Hah, kelihatannya bahwa Nilam Yuniarta Widuri masih memiliki rasa malu. Tapi sungguh kasihan karena kau tidak punya malu sebelum merangkak naik ke atas tempat tidur Papaku." Ucap Aldi.


Alisku mengkerut dan aku menghempaskan tangan Aldi dari tanganku.


"Aku sudah cukup kebal dengan kata-kata darimu itu. Tapi aku tidak lagi mau terganggu olehmu." Ucapku.


"Apa yang kau katakan?" Ucap Aldi dengan marah menarik aku lagi.


Tapi aku dengan cepat mendorongnya menjauh dariku.


"Lepaskan aku, kau menyakiti aku dan apa yang aku maksudkan adalah seharusnya kau bicara tidak banyak bagi seseorang yang tidak tahu apapun."


Ucapanku mungkin saja menyadarkan Aldi. Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya karena aku sudah berjalan keluar dari dalam mobilnya dan memanggil sebuah taksi yang akan membawa aku ke perusahaan.


Di hari pertama bekerja, aku tahu bahwa semuanya akan terasa sulit dan aku mungkin akan mencoba yang terbaik untuk beradaptasi. Tapi pikiranku benar-benar teralihkan untuk Leon yang ada di rumah. Aku pun bekerja dengan sangat keras.


"Baiklah Nilam, di sinilah ruangan mu. Kau sudah tahu di mana untuk menemukan aku. Jadi jika kau punya pertanyaan atau masalah..."


"Terima kasih direktur." Ucapku langsung membalas ucapan direktur itu dan dia kemudian pun pergi.


Teman-teman kerjaku kemudian mulai menatapku tiap menit. Sebenarnya aku merasa bahwa aku tidak melakukan apapun atau mengerjakan apapun yang salah. Tapi itu tetap saja terasa begitu canggung bagiku. Aku juga tidak berpikir bahwa itu ada masalahnya dengan pakaian yang aku kenakan. Aku tidak mengenakan pakaian yang terlalu berlebihan. Aku hanya menggunakan sebuah gaun kasual berwarna pink dengan belt putih yang melingkar di pinggangku.


Aku menghela nafas dan berpikir bahwa hari ini akan menjadi jauh lebih lama dibandingkan dengan yang aku harapkan dan aku akan mulai merindukan Leon.


Beberapa saat setelah itu, waktu makan siang pun tiba, dan seperti para karyawan lainnya aku pun pergi ke kantin dan memesan sedikit makanan karena aku sebenarnya tidak terlalu lapar. Aku lalu membawa makananku untuk duduk di mana aku memilih tempat yang tidak terlalu ramai oleh orang lain karena, dan tentu saja aku tidak mau melihat tatapan mata mereka yang penasaran terus melihat ke arahku.


"Aku masih berpikir siapa ini sebenarnya? Tentu saja Ini adalah Nilam Yuniarta Widuri."


Aku tersadar dari lamunanku dengan suara yang terdengar begitu familiar di telinga dan mataku yang tampak membelalak karena rasa yang begitu terkejut, saat aku melihat seseorang yang ada di depanku.


"Sudah lama tidak bertemu Nilam."


"Itu.... itu kau...."


"...."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2