
PoV Nilam
Setelah menghabiskan beberapa saat melakukan apa yang aku inginkan di kantor dan mengikuti apa yang Alex lakukan di perusahaan juga, aku tetap tidak bisa merasa jauh lebih baik dibandingkan sekarang.
Tak lama hari ini pun sudah berakhir dan aku harus pergi meninggalkan Alex karena sebagai senior dan juga sahabat baikku, dia memutuskan untuk menyelesaikan sebagian pekerjaanku. Aku sedang berada di jalan keluar dari perusahaan saat ponselku berdering tepat saat aku masih berada di lobi. Aku dengan cepat menjawab panggilan telepon itu tanpa ragu.
"Halo sayang." Ucapku kepada Alex dengan manis dan mungkin terlalu manis karena orang-orang lain pasti berpikir bahwa aku tengah bicara kepada seseorang yang aku cintai. Tapi aku tidak peduli akan hal itu.
"Jadi kau sudah pergi?" Tanya Alex.
"Belum. Aku masih di lobi. Apakah ada sesuatu yang kau membutuhkan bantuan dariku?" Tanyaku.
"Tidak, sebenarnya aku hanya ingin memeriksa keselamatanmu dan tidak ada orang yang mengganggumu." Balas Alex.
"Tentu saja tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja, jadi kau bisa berhenti untuk mengkhawatirkan aku." Ucapku kepada Alex.
"Baiklah, pulanglah ke rumah dengan selamat dan kita akan bertemu besok seperti yang sudah kita jadwalkan." Ucapan Alex.
"Baiklah." Balas ku.
"Aku mengandalkan dirimu. Kita akan bertemu besok dan tidak ada jalan bagimu untuk mundur."
Aku tertawa dan membalasnya dengan senyuman.
"Baiklah Alex. Sampai bertemu lagi besok." Ucapku dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Tapi aku begitu terkejut saat aku mengakhiri panggilan telepon dan mataku melihat sosok Aldi yang tengah memeluk wanita yang bernama Sarah itu.
Sekali lagi hatiku merasa begitu terluka dan aku tidak bisa mengalihkan tatapan mataku ke arah pasangan yang penuh cinta di hadapanku itu.
"Aku sangat merindukanmu Aldi. Bagaimana denganmu? Tidakkah kau merindukan aku."
Saat itu juga aku berharap dia bisa mengatakan kepada Sarah untuk pergi menjauh darinya. Tapi aku merasa sebuah luka mengenai dadaku saat aku mendengar balasan dan tingkah yang Aldi tunjukkan kepada Sarah.
"Tentu saja aku sangat merindukanmu."
"Itu bagus. Bagaimana jika kau mentraktirku makan siang." Ucap Sarah.
"Tentu, seperti yang kau inginkan." Balas Aldi.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak bisa berdiri di sana untuk melihat Aldi bermesraan dengan cinta pertamanya di depanku. Iya dia adalah cinta pertama Aldi, dan aku hanyalah cinta yang hanya merupakan sebuah pengalaman satu semester bagi Aldi dan berakhir dengan cepat seperti bagaimana cepatnya hubungan kami dimulai dan pada saat itu aku hanya bisa menahan amarahku dan menahan rasa sakitku.
Aku berjalan keluar dari dalam perusahaan dan langsung kembali ke rumah. Aku begitu kesal karena Aldi hingga aku tidak makan malam dan mengunci diriku sendiri di dalam kamar sampai larut malam dan sekarang aku menyesalinya karena aku tidak bisa melihat anakku Leon, dan membisikkan ucapan selamat malam kepadanya
Tapi aku tidak bisa menghukum anakku itu hanya karena serigala jahat yang besar itu (Aldi).
Pagi harinya, aku pergi ke kamar Leon dan dia tampak tengah tertidur dengan sebuah buku di tangannya. Aku rasa bahwa Tuan Erfandi membuat dia belajar dengan keras lagi dan aku adalah seorang ibu yang jahat karena mementingkan karirku dibandingkan kebahagiaan anakku sendiri.
__ADS_1
"Mama minta maaf sayang." Ucapku dan mengusap rambutnya dengan lembut.
Aku menatap wajahnya yang tampak begitu menggemaskan saat tertidur. Tapi aku merasa bahwa aku juga membangunkannya karena dia mengedipkan matanya tiga kali kemudian membukanya dan melihat ke arahku.
"Mama....." Ucapnya dan langsung bangun kemudian mengusap matanya dengan punggung tangannya.
"Maaf sayang, Mama membangunkan mu." Ucapku.
"Mama...." Ucapnya lagi.
Aku tidak menyangka bahwa dia langsung melompat ke dalam pelukanku dan memeluk aku dengan sangat erat.
"Sayang ada apa? Apakah seseorang membully dirimu?" Tanyaku kepadanya.
"Tidak Mama, aku hanya merindukan Mama." Balasnya.
Dia hanya merindukan aku dan aku mengerti kenapa itu. Aku benar-benar tidak memiliki waktu untuknya sepanjang hari ini dan aku bahkan tidak menyadari cara bicaranya dan penyebutan kata-katanya menjadi begitu baik. Sebagai seorang ibu, aku bahkan tidak bisa mengetahui bagaimana perkembangan anakku sendiri.
"Maaf sayang, mama memiliki hari yang buruk." Ucapku.
"Tidak, Mama selalu yang terbaik. Mama hanya butuh bantu... bantu..."
"Apa maksudmu bantuan?" Tanyaku kepadanya.
Dia benar-benar sudah mulai memperbaiki kosakatanya sekarang. Tapi aku tetap merasa anakku ini bagaimanapun masihlah bayi kecil.
"Kesayangan Mama sudah menjadi anak yang baik sekarang. Bagaimana jika mama membuatkan dessert terlezat hari ini?" Ucapku kepadanya.
Creamy cake adalah favoritnya dan aku ingat bahwa itu juga adalah favorit dari Aldi.
Setidaknya butuh waktu 30 menit bagiku untuk membersihkan Leon dan memegang tangan kecilnya saat kami berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan baginya, dan tebak siapa yang kami temui di dapur.
"Bro!!"
Bagi Leon, Aldi adalah sahabatnya. Tapi bagiku dan di dalam hatiku, dia tidak lebih dari seorang teman dan seseorang yang tinggal bersamaku. Memang ada hal lainnya, ada sebuah cerita diantara kami yang tidak akan pernah bisa aku lupakan dan walaupun kami masih terikat satu sama lain oleh sesuatu hal yang tidak pasti, kami hanya menjadi orang asing sekarang.
"Hai bro! Apakah kau tidur dengan nyenyak?" Tanya Aldi berjongkok di hadapan Leon dan mulai mengobrol dengannya.
"Iya, aku tertidur seperti bayi." Ucap Leon.
Leon terlihat tampak seperti begitu bersenang-senang dengan Aldi. Jadi aku membiarkan mereka dan membuat sarapan untuk kami berdua. Mereka masih tampak mengobrol seperti dua orang teman baik sampai Leon akhirnya dipanggil oleh gurunya untuk melakukan tugas paginya.
Aku merasa terhibur melihat anakku bersenang-senang dengan Aldi dan sekarang aku harus beradaptasi dengan sikap Tuan Erfandi yang memberikan tugas kepada Leon. Walaupun aku masih berpikir bahwa Leon masih terlalu muda dan dia seharusnya bermain dan bersenang-senang seperti anak lain seusianya. Di saat yang bersamaan mungkin Tuan Erfandi tidak salah. Aldi mungkin mengikuti aturan yang sama dulu dan sekarang giliran Leon.
"Huh lihat siapa yang aku lihat menghalangi jalanku."
Sebuah suara familiar dan menyebalkan menyadarkan aku dari pikiranku. Aku bahkan tidak tahu kapan dia datang ke ruang tamu. Tapi hanya dengan mendengar suaranya, terasa sangat menyebalkan. Karena aku sudah tidak senang, aku tidak menghiraukan nya dan berjalan menjauh dari tempat duduk ku. Tapi dia malah menarik aku kembali.
__ADS_1
"Kau pikir ke mana kau akan pergi ******?" Ucapnya kepadaku.
"Aku sedang tidak ingin bicara dengan orang menyebalkan seperti dirimu. Jadi kumohon temukan orang lain yang bisa bermain denganmu." Ucapku.
"Jangan sampai kau beraninya untuk tidak menghiraukan aku pelayan bodoh." Ucapnya.
Dia dengan agresif menarik aku dan aku hampir terjatuh di lantai. Untungnya aku tidak sampai terjatuh, tapi aku merasakan sakit di siku ku karena terhempas di tembok.
"Hisss... Apa masalahmu?" Teriak ku.
"Apa masalahku? Tidakkah kau tahu ada apa dengan semua ini?"
Bagaimana aku bisa tahu ada apa dengannya? Pertama kali aku bertemu dengannya, kami mulai berdebat dan aku berargumen dengannya karena cemburu akan hubungannya dengan Aldi. Bagaimanapun hari ini semuanya sudah berbeda karena tidak peduli bagaimanapun, aku akan mencoba untuk menghindari pertengkaran diantara kami karena dia terus saja membuat masalah antara aku dan dia.
"Dengarkan aku Nona pencari masalah. Aku tidak mau melawan mu atau bahkan membuat masalah denganmu. Tapi jika kau terus menyebabkan masalah kepadaku, maka jangan salahkan aku untuk menjadi serigala yang jahat." Ucapku.
"Hei wanita ******! Beraninya kau bicara denganku seperti itu." Ucapnya.
Aku tidak menghiraukan ucapannya dan berjalan ke arah tangga. Tapi dia mengikuti aku dan membuat semakin banyak masalah dengan memegang tanganku dan menarik aku turun.
"Lepaskan tanganmu dari ku Sarah." Ucapku.
"Bagaimana jika aku tidak mau? Apa yang akan kau lakukan? Sekarang kau akan mendapatkan kesalahan karena sudah mencelakai aku." Ucapnya.
"Apa?" Ucapku mulai mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Sarah melepaskan tanganku dan semuanya terjadi begitu cepat. Tapi pandangan yang pertama kali jika seseorang melihat hal ini adalah mereka bisa menyalahkan aku karena dia yang terjatuh.
Sekarang aku mengerti apa yang dia maksudkan. Tapi aku jauh lebih mengerti untuk apa dia melakukan hal itu tepat saat Aldi tiba.
"Sarah apa yang terjadi? Apa kau terluka?" Ucap Aldi terdengar begitu khawatir terhadap kondisi Sarah.
"Aku hanya Bertanya kepadanya tentang dirimu. Tapi dia... dia... mendorong aku tanpa alasan apapun." Ucap Sarah.
Mataku membelalak saat aku mendengar apa yang Sarah katakan. Dia benar-benar menyebabkan aku mendapat masalah dan menyalahkan aku karena dia terjatuh. Pada saat itu, aku tidak peduli jika orang lain percaya kepada kata-katanya. Aku hanya berharap Aldi tidak akan percaya.
"Itu semua bohong. Aku tidak mendorongnya." Teriakku mencoba untuk menjelaskan diriku sendiri.
Tapi semua itu tampak tidak berguna.
"Aldi ini sakit." Ucap Sarah dengan suara yang terdengar seperti sudah sekarat.
Tapi aku malah takut dengan ekspresi yang ada di wajah Aldi. Dia tidak mengatakan apapun, tapi aku bisa menebak bahwa dia percaya kepada Sarah dan bukan kepadaku. Aku seharusnya sudah mengetahui hal itu sejak tadi. Aldi tidak pernah bisa percaya kepadaku.
Aldi lalu meminta Bibi Ana untuk menelpon dokter dan dia membawa Sarah naik ke lantai atas dan biar aku tebak, pasti dia membawanya ke kamarnya.
'Kenapa.... kenapa dia tidak bisa mempercayai aku? Kenapa dia mempercayai bahwa aku mendorong wanita itu?'
__ADS_1
Aku merasa air mataku tidak bisa aku tahan lagi dan aku tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali menangis.
Bersambung....