
PoV Aldi
Sudah 3 tahun sejak aku memiliki tidur yang nyenyak dengan memeluk Nilam dalam pelukanku dan bangun tidur dengan dia berada di dalam pelukanku. Aku bangun lebih pagi dibandingkan Nilam dan melihat wajahnya yang manis saat dia masih tertidur nyenyak. Dia biasanya selalu bangun pagi, tapi saat aku melihat dia saat ini, sepertinya dia tidak akan bangun dengan cepat pagi ini.
Itu semua terlihat karena aku sudah membuat dia sangat lelah sepanjang malam. Aku tidak bisa menahan diriku karena sudah 3 tahun lamanya dan aku akhirnya bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuhnya di tubuhku.
Dia masih sama, dengan menunjukkan ekspresi yang sama seperti 3 tahun yang lalu saat aku naik di atas tubuhnya atau saat dia memberikan keperawanannya kepadaku. Dengan melihat ke arah wajahnya yang tertidur seperti malaikat, aku begitu bahagia.
Aku masih tidak bisa mengerti kenapa dia putus denganku dan malah menikahi Papa ku.
Saat dia gemetar dan merintih di bawah tubuhku semalam, aku bisa merasakan bahwa dia masih mencintai aku dengan perasaan yang sama seperti tiga tahun yang lalu.
Sekarang saat aku memikirkan hal yang terjadi di masa lalu, aku mengingat bahwa Nilam saat itu telah menghilang selama 3 hari. Itu semua karena dia berada di rumah Tante nya, tapi aku juga mengingat bahwa dia tidak diperlakukan dengan baik oleh Tante nya itu. Maka bisa saja bahwa dia dipaksa oleh Tante nya putus denganku dan menikah dengan Papaku.
Tapi bahkan jika itu memang semua yang terjadi, lalu kenapa Papaku setuju untuk menikah dengannya? Bagaimana dengan Leon? Apakah dia kemungkinan adalah putraku?
Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku. Tapi aku tidak dapat menemukan jawaban apapun. Tidak peduli berapa kali aku bertanya kepada diriku sendiri, namun jawabannya tetap tidak ada.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku Nilam?" Ucapku kepada diriku sendiri dengan sedih karena aku tidak mau membangunkan dia.
Hari sudah menjelang pagi, jadi aku mengendap-endap keluar dari dalam kamar Nilam dan kembali ke kamarku. Aku pun mandi dan kemudian aku keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan celana panjang. Aku tidak menyangka bahwa aku akan melihat Sarah duduk di tempat tidurku.
"Sarah, kenapa kau ada di sini?" Tanyaku padanya.
Aku datang kemari hanya untuk melihat dirimu. Aku ada di sini kemarin malam, tapi kau tidak ada. Apakah kau tidur di luar?" Tanya Sarah.
'Tentu saja aku tidak ada di kamarku karena aku menghabiskan sepanjang malam ku bersama Nilam.' Ucapku dalam hati.
"Aku tengah sibuk di tempat lain." Balas ku.
"Di mana?" Tanya Sarah.
"Kau tidak perlu tahu." Ucapku.
Aku tidak bermaksud untuk bersikap dingin kepada Sarah. Tapi itu semua mulai menjengkelkan bagiku, saat dia terus bertanya kepadaku. Dia itu bersikap seolah dia adalah istriku. Bahkan Nilam tidak pernah mecoba untuk mengintrogasi diriku dengan banyak pertanyaan seperti yang tengah dilakukan Sarah saat ini.
"Aldi, ada apa? Kenapa kau begitu dingin kepadaku?" Ucap Sarah lalu melingkarkan tangannya di pinggangku memegang tangannya satu sama lain.
Aku merasa risih hingga membuatku dengan cepat melepaskan tangannya dari tubuhku.
"Sarah kau seharusnya beristirahat lebih banyak."
Itulah apa yang aku katakan kepadanya. Tapi sejujurnya aku ingin mengatakan hal yang lebih kepadanya. Aku mau dia untuk menjaga jarak dariku. Akhir-akhir ini Sarah mulai bersikap sedikit agresif kepadaku dan aku menyesal kenapa aku harus memilih dia untuk membuat Nilam cemburu.
__ADS_1
Sekarang sudah waktunya sarapan, tapi Nilam belum juga turun ke lantai bawah dan aku harus duduk bersama dengan Sarah yang selalu mencoba mendekat padaku. Kami duduk bersama dengan Leon dan juga Papaku.
"Selamat pagi semuanya, maaf aku terlambat." Ucap Nilam dan dengan tiba-tiba meminta maaf kepada kami semua.
Dia masih terlihat lelah, tapi dia mencoba untuk menyembunyikan itu semua sama seperti dengan tanda merah yang aku tinggalkan di tubuhnya.
Aku tidak tahu kenapa seharusnya aku merasa simpati dan juga kasihan kepadanya. Tapi semua itu malah membuat senyuman di bibirku mengembang.
Bagaimanapun sepanjang waktu sarapan dan sepanjang hari ini, Nilam terus mencoba untuk menghindari aku.
'Apakah itu karena dia menyesali apa yang terjadi semalam?'
Aku tidak tahu pasti. Tapi pikiran ku mengatakan bahwa dia mungkin saja menyesali malam yang kami lewati dan hal itu membuat aku kesal dan aku tidak mau memberikan ruangan baginya untuk merasa menyesali apa yang sudah kami lakukan.
"Apa? Siapa kau? Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu dariku."
Aku mendengar suara teriakan Nilam, saat aku hendak pergi ke ruang belajar. Aku dengan perasaan panik langsung bergegas untuk memeriksa dirinya. Kemudian aku melihat seseorang yang terlihat begitu familiar memegang Nilam dengan sangat erat. Nilam lalu tampak mencoba untuk melepaskan diri dari pegangan orang itu menggunakan kemampuan bela dirinya.
Itu semua adalah kemampuan bela diri yang aku ajarkan kepadanya dimasa lalu. Tapi aku takut jika itu tidak berguna untum melawan Om ku yang memang sudah menjadi master dari ilmu beladiri itu.
"Om.... Apakah Om harus menjadi pria yang begitu macho di hari pertama kedatangan Om?" Ucapku akhirnya menatap ke arah tangannya yang berada di tubuh Nilam.
Nilam tiba-tiba berhenti memberontak melawan Om Romy, mungkin karena aku yang mengatakan hal itu kepada Om ku sendiri.
"Om, kenapa Om tiba-tiba ada di sini dan kenapa Om tidak menginformasikan kepada kami tentang kedatangan Om?" Ucapku seraya mendekat ke arah Om Romy.
Aku berharap bahwa Om Romy akan melepaskan genggaman tangannya dari Nilam. Tapi dia tidak melakukannya dan Nilam masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari genggaman tangan Om Romy.
"Oh, aku hanya mencoba untuk memberikan kejutan kepada kalian. Tapi itu semua berbalik karena aku lah orang yang merasa terkejut." Ucap Om Romy.
"Om, bisakah Om melepaskan Nilam?" Ucapku.
"Nilam? Maksudmu harimau cantik yang buas ini?" Ucap Om Romy, tapi dia tetap tidak melepaskan tangan Nilam dan malah menginginkan untuk mengusap wajah Nilam tepat di hadapanku.
Om Romy sebenarnya bukanlah tipe pria yang mau menggoda wanita manapun. Tapi sekarang dia tengah menggoda Nilam atau dia hanya tengah mencoba untuk mengganggu Nilam saja dan mengerjainya. Tapi apapun alasannya itu, aku tidak menyukainya. Jadi aku dengan cepat menarik Nilam dari genggaman tangan Om Romy.
"Om Romy, tolong jaga sikap Om dan berikan Nilam sedikit rasa hormat." Ucapku.
"Tentu saja aku minta maaf, Nyonya Nilam. Tapi aku hanya terlena dengan kecantikan yang ada di hadapanku dan aku tidak bisa menahan diriku lagi." Ucap Om Romy.
Om Romy memang tampak tidak bisa menahan dirinya dan terlihat begitu terlena karena kecantikan Nilam. Itu adalah ungkapan yang sama yang pernah aku dengar di masa lalu dari beberapa pria. Dan pria terakhir yang mengatakan tentang hal itu, mereka pun berakhir dengan menerima pukulan dariku. Itu semua terjadi karena aku tidak bisa untuk mengontrol diriku sendiri. Nilam pun sangat membenci sikap lamaku yang seperti itu.
"Nilam kau bisa pergi meninggalkan aku dan Om Romy. Leon tengah menanti kedatangan mu." Ucapku kepada Nilam.
__ADS_1
"I... iya." Balas Nilam.
Nilam lantas dengan cepat pergi setelah aku mengatakan kepadanya hal itu.
Aku tahu bahwa dia pasti sedikit penasaran tentang Om Romy. Tapi tetap saja, aku tidak mau dia berada berlama-lama berada di samping Om Romy. apalagi karena aku menyadari bagaimana Om Romy begitu mencoba untuk menggoda Nilam.
"Aldi, dia tampak sangat cantik. Siapa dia?" Tanya Om Romy padaku.
"Nilam berada di bawah pengawasan ku dan tidak ada seorangpun yang bisa mengganggunya."
Suara Papa terdengar dari belakang kami. Tapi aku merasakan hal yang aneh karena dia bahkan tidak memanggil Nilam sebagai istrinya seperti yang dia lakukan pertama kali saat dia memperkenalkan Nilam kepadaku sebagai istrinya.
"Romy, kenapa kau ada tiba-tiba ada di sini?" Tanya Papa.
"Ayolah kakak ipar, ini sudah sangat lama sejak terakhir kita bertemu. Kau seharusnya memberikan sebuah ucapan selamat datang yang hangat kepadaku dan bukannya mengintrogasi aku seperti ini." Ucap Om Romy.
Papa tampak menghela nafas.
"Sudahlah, ayo ikutlah bersamaku ke kamar tamu." Ucap Papa kepada Om Romy.
Papaku dan Om Romy selama ini tidak pernah memiliki hubungan keluarga yang baik.
Bagaimanapun aku tidak pernah melihat mereka bersama secara terus-menerus, jadi akan lebih baik jika mereka bisa berbicara bersama. Ponselku tiba-tiba berdering dan aku langsung menjawab panggilan itu karena itu adalah panggilan yang sudah aku nantikan.
"Halo, apakah kau sudah mendapatkan hasilnya?" Tanyaku dengan cepat.
"Iya." Balasnya.
"Baiklah kalau begitu cepat katakan lebih lanjut tentang hal itu." Pintaku tak sabaran.
Aku lalu mendengar semua apa yang dia katakan via telepon. Dan pada saat aku mendengar bahwa hasilnya, positif keraguanku sudah sirna dan sebuah senyuman mendadak muncul secara tiba-tiba di bibirku.
"Jadi itu semua benar, bahwa Leon itu adalah darah daging ku?" Tanyaku dengan perasaan begitu bahagia.
"99,99 persen benar." Balasnya.
Aku begitu bahagia, tapi kemudian aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
'Kenapa Nilam terus menyembunyikan semua ini dariku dan bagaimana dengan Papaku? Apakah Papa sebenarnya sudah mengetahui semua kebenaran ini?'
Aku tidak yakin apakah Papaku sudah mengetahui hal ini atau tidak. Tapi aku bahagia dengan adanya berita ini yang menyatakan bahwa Leon adalah anak kandungku.
Bersambung...
__ADS_1